Perasaan
“Hati-hati lo itu kalau jalan,” ucap Sheila
Gue memutar bola mata malas, gue tau dia perhatian kaya gini pasti gara-gara bokap nyuruh dia jadi mata-mata gue, cih! Dasar cewek matre. Pasti bokap udah ngasih cek ke dia, gue yakin 100%. Gue gak nyangka, gue kira Sheila itu cewek baik yang beda dari cewek lainnya. Kenyataannya dia gak jauh beda sama bunga Raflesia, cantik tapi busuk. Liat aja lo Sheil, gue bakalan balas dendam.
“Gausah pegang-pegang tangan gue,”
Gue berjalan memegang tiang infus sendiri menuju kamar mandi, gue ngelirik sekilas, bokap gue menenagkan Sheila yang kaget tiba-tiba hari ini gue jadi galak sama dia. Gue tau Sheila pasti bingung kenapa gue kaya gini. Gue pengen hidup bebas tanpa terkekang, gue pengen ngelakuin apa aja yang gue mau. Dia kira siapa? Mau mata-matain gue di sekolah, jangan harap!
“Selamat sore ... “
Gue denger suara Bumi, sebelum gue masuk kamar mandi gue ngintip. Ternyata bener satu geng gue lengkap. Iya lengkap sama parsel buah dan gue gak tau apalagi yang dibawa ditangan Ivan bungkusan plastik putih berlabel ‘Indoapril’. Gue lanjut masuk ke kamar mandi tanpa jawab salam mereka, udah gak kuat, kebelet.
Samar-samar gue bisa denger bokap gue yang bicara sama mereka, entah kenapa gue takut aja bokap bakalan ngamuk sama mereka.
“Kalian lagi, ngapain kesini?” suara bokap gue.
“Kita.. kesini mau jenguk Radja om,” ucap Mars
Gue langsung keluar kamar mandi setelah nyelesaiin hajat gue. Sebelum perang dimulai. Bokap gue orang yang perfeksionis dan khawatiran udah kedengeran ngomelin mereka, gila aja kan baru aja mereka dateng udah marahin temen gue.
“KALIAN SEMUA PULANG! RADJA ENGGAK BUTUH TEMAN SESAT KAYA KALIAN!” teriak bokap gue
“Pah..” panggil gue dan sontak semua noleh. Kepala gue masih agak pusing sih tapi kalau soal geng gue, gue harus ada di paling depan
“Kamu enggak usah ikut campur! Sana kembali naik keatas kasur!” ucap papa dengan nada tinggi
Sheila bantu gue buat naik ke atas kasur, merapikan sedikir sprei gue yang berantakan. Gue enggak tau lagi harus gimana. Kenapa sih papa kalau liat geng gue kayanya negative thingking terus. Ada masalah apasih? Bukannya masalah gue yang lalu udahlah biar berlalu? Ini udah lebih dari dua tahun sejak kejadian kaki gue patah, kenapa masih diinget sih, lagi pula kaki gue sekarang baik-baik aja.
“Pa, biarin lah Pa mereka jenguk aku, mereka kan temen aku Pa,” ucap gue merengek.
“Oke, kali ini Papa biarin kamu sama temen kamu bergaul! Tapi ingat kalau sampai papa ngelihat kamu berulah lagi, papa gak akan segan buat mindahin sekolah kamu!” ucap papa gue.
Papa gue cuma menghela napas dan keluar dari kamar. Mungkin papa juga capek sama gue yang bandel. Iya gue emang sayang sama temen-temen gue, sahabat yang selalu ada buat gue, ya cuma mereka. Gue tersenyum sama mereka semua dan nepuk-nepuk kasur gue, nyuruh mereka masuk, gue udah gak sabar makan apa yang mereka bawa.
***
Gue benci saat di mana gue gak pernah di hargai, selalu di kekang dan yang lebih parahnya apapun cita-cita serta hobi gue gak pernah di dukung. Mereka selalu ingin di mengerti tapi mereka tidak pernah mau mengerti. Gue sebenarnya udah nyerah, gak tau mau bersikap gimana lagi sama mereka. Sikapnya membuat gue tutup mata dan kelakuannya membuat gue kunci hati yang gak tau kapan gue bisa membukanya kembali.
"Kamu buktiin dulu ke papa kalau temen-temen kamu itu emang gak berandalan, bisa papa percaya dan mereka bisa membawa kamu dalam prestasi yang baik. Bukan seperti sekarang, nilai kamu anjlok, gak pernah dapat rangking lagi. Kamu semakin memburuk sejak SMA, tidak seperti SMP dulu. Kenapa ekspetasi papa selalu kamu runtuhkan?!"
"Nilai aku begitu bukan karena mereka! Itu karena diri aku sendiri!"
"Iya, karena diri kamu sendiri dan teman-temanmu itu! Kamu jadi gak pernah belajar karena balapan terus, karena main ps terus sama mereka. Itu real bukan?"
"Terserah papa! Aku bakal buktiin kalau aku bisa menang olimpiade bareng mereka!"
"Buktiin kalau kamu mampu. Kalau kalah, kamu gak boleh berteman lagi dengan mereka."
Gue langsung pergi meninggalkan papa tanpa kata pamit. Rada ada rasa menyesal dalam hati gue karena asal ceplos kalau gue bisa menang olimpiade. Jangankan menang, materi dan team aja belum gue susun. Sedangkan 1 minggu lagi olimpiade segera di mulai.
Besok gue harus segera mencari partner. Mau tidak mau harus dari adek kelas, agar kriteria terpenuhi. Apa gue harus melakukan seleksi untuk memilih dan memilah guna mendapatkan partner yang sepadan dengan gue? Okelah, itu gampang, gue bisa melakukannya karena gue seorang ketos. Tapi yang menjadi halangannya sekarang adalah dimana dan darimana gue harus memulai untuk mencari materinya? Gue bukan anak yang ber IQ tinggi, rangking gue di kelas lagi itu juga pas-pasan. Gue cuman bisa berharap semoga saja partner gue adalah orang yang kritis, berambisi dan cerdas. Semoga realitanya tidak melenceng dari ekspetasi gue.
***
Sebelum gue melakukan seleksi, seperti biasa gue selalu membicarakannya terlebih dahulu atau dalam istilah lainnya adalah rapat. Tapi bedanya, kini gue hanya rapat dengan waketos, yaitu Agam dan bu Rima sebagai guru Bk.
"Assalamualaikum semuanya. Maksud saya mengumpulkan Agam, Elvina dan bu Rami dalam ruang osis ini adalah untuk menyeleksi peserta-peserta yang akan ikut dalam olimpiade nanti. Tapi hanya boleh diikuti oleh adek kelas atau hanya anak kelas 10 yang boleh mengikutinya."
"Waalaikumsalam. Teknis pelaksanaannya gimana Ja?" Tanya Agam
"Nanti akan dibagi dalam 2 test. Yang pertama di kasih soal-soal sebanyak 100 soal dalam waktu 2 jam. Nanti kalau lolos bakal masuk dalam test interview."
"Oke baik, mengenai waktunya kapan?" bu Rami melanjutkan pembicaraan
"Seleksinya akan dimulai besok lusa. Saya bersama Agam akan membantu menyeleksi di test interview. Ibu dan guru-guru mata pelajaran yang terkait bisa membantu di test tertulis. Sedangkan Elvina, akan membantu merekap data peserta seperti biasa. Oiya, untuk pengurus Osis juga boleh ikut dalam seleksi. Apakah ada yang belum jelas atau ingin ditanyakan?"
"Oke, saya paham." Jawab Agam
"Untuk spesifiknya jam berapa ya?" Elvina melontarkan pertanyaan
"Maaf Radja, ibu juga ingin bertanya lagi. Untuk ruangannya sudah ditentukan belum ya? Lalu itu test nya dilaksanakan dalam 1 hari saja?"
"Oke, saya akan menjawab satu per satu dari pertanyaan Elvina. Untuk jamnya kita akan mulai pukul 08.00. Jadi, bagi siswa kelas 11-12 akan tetap belajar. Sedangkan untuk kelas 10 nya akan fokus dalam seleksi ini.
Untuk ruangannya belum ada planing bu. Waktunya kita bagi, hari pertama untuk kelas 10a, kemudian 10b baru hari terakhir kelas 10c. Sekalian pengumuman yang lolos."
"Baiklah, untuk ruangan, kalau ibu boleh usul, mending test tertulis di kelas masing-masing. Nanti baru saat interview kita pindahkan peserta ke perpustakaan."
"Oke, kami setuju." Jawab kita bersamaan
"Baiklah. Mungkin segitu dulu rapat kita kali ini. Nanti langsung diumumkan saja ke kelas 10. Jangan lupa juga, besok kita akan berkumpul kembali disini untuk mengecek soal-soalnya dan pertanyaan interviewnya. Semangat semua!!"
Akhirnya rapatnya selesai. Ada sedikit lega dalam hati gue. Tapi ini belum selesai, baru awal dan belum masuk dalam permainan yang sesungguhnya. Gue sengaja tidak memberi tahu temen-temen kalau gue mengadakan seleksi ini untuk mencari partner gue. Hanya guru-guru yang mengetahui ini. Gue gak mau temen-temen gue tau kalau ini tantangan yang diberikan bokap gue untuk menjahui mereka. Gue ingin semuanya baik-baik saja dan seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Sesampainya di rumah Agam, gue langsung membersihkan diri, makan dan mempersiapkan buku-buku yang akan gue pelajari. Untungnya, Agam hari ini pulang terlambat. Gue tau dia lagi ngumpul bareng yang lainnya. Rasanya sesak dalam d**a ini. Gue gak bisa kumpul bareng mereka kali ini untuk memperjuangkan mereka juga, demi olimpiade ini. Gue sengaja bilang ke Agam kalau gue gak bisa kumpul bareng mereka karena gue lagi sibuk-sibuknya nyiapin seleksi dan gue lagi agak sedikit gak enak badan. Untungnya mereka mempercayai setiap perkataan gue.
***
Kebesokan paginya, gue terbangun sebelum adzan Subuh. Bukan karena kebetulan, karena gue emang sudah memasang alarm untuk bangun pagi. Menyiapkan dan memahami kembali materi-materi olimpiadenya. Malangnya, gue ketiduran semalam, buku-buku gue masih berserakan di atas kasur. Berarti secara tidak sengaja Agam sudah melihat buku ini. Untungnya ini adalah buku-buku sekolahan dan tidak ada buku bertulisan khusus olimpiade. Semoga saja Agam tidak mencurigai ini.
Gue belajar kurang lebih 2 jam dari pukul 02.00. Dan gue sudah membereskannya 30 menit sebelum adzan Subuh berkumandang. Gue biarin Agam bangun sendiri sedangkan gue bersiap-siap untuk sholat.
"Eh, tumben lo udah rapi. Bangun duluan dari gue? Kesambet apaan?"
"Heem. Gak kesambet apa-apa. Udah gece lu siap-siap buat sholat."
"Oke bos. Gile udah tobat ye bang? Ahahaha"
"Bawel banget." Radja mengakhiri pembicaraan.
Saat sarapan, Agam kembali menyerocos, mewanwancarai gue layaknya gue seorang narasumber. Hfftt. Kebiasaan.
"Ja, lu semalem lagi rajin ye? Tumben-tumbenan mau belajar."
"Kan itu buat persiapan seleksi juga." Gue mengelak
"Kan kita bantu interview doang. Butuh pengetahuan juga? Apa lu lagi bantuin bu Rami nyari soal?"
"Heem."
"Kea cewe lagi ngambek lo. Singkat."
"Sejak kapan lo jadi cerewet kayak gini?"
"Semenjak gue kenal lo. Bhaks."
"Ngadi-ngadi. Gece udah mau telat."
***
Sesampainya di sekolah, gue langsung mempersiapkan segalanya. Tidak kerasa, seleksi pun sudah di mulai. Mereka semuanya cukup cerdik, tapi hanya ada 20 orang yang lulus test tertulis dan hanya 2 orang yang menarik perhatian gue dan Agam dalam test interview. Dia adalah Clara dan Sheila. Hmm, sepertinya mereka sedang bertarung merebutkan gue yang tampan ini. Tapi gue ngerasa Sheila kurang bersemangat. Kenapa ya? Apa dia sakit? Atau males bertengkar dengan Clara? Entahlah. Ini pilihan yang sulit. Keduanya mempunyai kemampuan yang sama. Jadi gue harus memilih yang mana?
Setelah beberapa jam rapat bersama dewan guru, akhirnya kami memutuskan bahwa yang lolos adalah Sheila. Karena dia mempunyai nilai ples pada sikapnya yang tenang. Itu akan sangat berguna dalam olimpiade nanti.
"Langsung aja gue umumin. Yang lolos dalam test tertulis maupun test interview adalah SHEILA MARETHA! Selamat berjuang!"
Begitulah gue mengumumkannya di speaker sekolah. Jadi, seantero sekolah langsung tau. Duh, pasti tuh bocah lagi kepedean karena di puji-puji. Cih, dasar suka terbang.