Kita

1275 Kata
Setelah hasil rapat keluar, dan Sheila yang terpilih. Ternyata oh ternyata ada 2 tim yang akan turun mewakili sekolah. Dan masing-masing tim terdiri atas 2 orang. Gue berharap enggak satu tim sama Sheila dengan alasan tertentu, takut menjadi enggak konsen saat olimpiade dimulai. Itu yang paling gue takutkan, tapi ternyata semua enggak sesuai dengan harapan gue. Haha. Ternyata gue satu tim dengan Sheila, dan Ivan bersama dengan Elvina. Gue takjub sih, soalnya di antara kami, hanya Sheila lah, yang menduduki kelas 10. Setelah gue tau kabar dimana gue satu tim dengan Sheila. Gue berjalan menuju kelasnya, entah kenapa gue pergi ke sini. Tanpa alasan yang jelas, semenjak Sheila hadir dalam hidup gue, terasa plin plan gue melangkah. Tepat di depan kelas Sheila, beberapa anak kelas 10 menatap gue takjub oke, gue akui gue ganteng. Tapi ini tidak selamanya terpikir oleh kaum hawa seperti Sheila. Semenjak gue dan dia bertemu, entahlah ada yang berbeda. Gue akui tingkat harga diri dia sangat terjunjung dengan sikap yang dia miliki. Gue manatap Sheila yang juga sedang menatap gue. "Ngapain lo ke sini?" tanya Sheila. "Lo denger pengumuman dari hasil rapatkan?" tanya Gue Sheila hanya mengangguk sebagai jawaban. "Dan lo juga tau kalau kita satu tim." Gue bersedekap. "Iya tau, gue bisa baca dan bisa denger semuanya." Dia malah mengikuti gerakan gue, bersedekap. Gue menaikkan sebelah alis gue. "Ngapain lo? Ngikutin gaya gue?" tanya Gue membuat dia menoleh. "Emang di dunia ini, cuman lo doang yang bersedekap?" tanyanya sedikit emosi. "Ngegas, yaudah deh. Tujuan gue ke sini cuman nyuruh lo belajar dengan baik! Karena saingan di lomba ini banyak, lo harus tau itu," jelas Gue. "Tanpa lo beri tahu, gue juga tau." Sheila memutar bola matanya malas. Gue menggeleng melihat tingkahnya, tanpa balasan gue pergi ninggalin dia. "Eh!" teriaknya, membuat gue menoleh. "Apa? Kangen?" tanya Gue pede. "Kepedean," jawabnya. "Terus apa?" tanya Gue lagi. "Enggak jadi, sono pergi," ujarnya membuat gue kembali menggeleng. Gue kembali ke kelas yang di mana sudah ada Agam di sana, duduk dengan manisnya sambil membaca buku novel tebal. Gue duduk di sampingnya membuat dia berhenti membaca. "Dari mana lo?" tanya Agam. "Kepo." Agam menutup bukunya. "Emang," jawabnya. "Dari kelas Sheila, kasih tau buat belajar soalnya, olimpiade dimulai besok." Gue menjelaskan. "Oh iya besok. AH BESOK? oh iya," ujar Agam sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Kenapa sih lo? Aneh tau enggak," ujar gue. Gue yang baru beberapa menit di dekat Agam langsung muak memilih untuk keluar kelas. Hari ini terlalu banyak free buat kelas gue. Gue berjalan menuju lapangan, sesekali celingak-celinguk kayak orang gila tapi tampan. Gue menyipitkan mata gue saat tau orang yang berdiri di depan ruangan guru adalah Sheila. Gue acuh, memilih tak peduli. Mungkin dia ada urusan atau kepentingan lain. Hari mulai sore, waktunya gue istirahat dan pulang. Cukup lelah, berada di sekolah ini. Tanpa gue sadari, gue udah lama enggak balapan, tapi ya. Mungkin saat ini mau fokus untuk olimpiade dulu. Tak cukup waktu yang lama, gue sudah berada di depan gerbang rumah milik Agam. Gue tersenyum singkat lalu masuk ke dalam, tepat di ruang tamu sudah ada Agam dengan benda pipih berbentuk kotak itu. "Cepet banget lo pulangnya," ujar Gue. "Lo aja yang lama," jawabnya tanpa menoleh ke arah gue. Gue menggeleng, lalu naik untuk mengganti pakaian gue, setelah itu turun kembali untuk makan sekaligus belajar. "Lo enggak ngajak si Sheila belajar bareng?" tanya Agam saat gue lagi asyik makan. "Hem, dia bisa belajar sendiri." Gue kembali melahap makanan gue Setelah suapan terakhir gue duduk di samping Agam, lalu membuka beberapa buku yang siap buat di pelajari. Agam cukup membantu gue belajar dengan memberikan beberapa soal, lalu gue yang jawab untuk melatih hari esok yang penuh dengan pertanyaan. "Fiks lo enggak usah belajar udah pintar," ujar Agam membuat gue besar kepala. "Tapi boong." Lanjutan itu membuat gue menoyor kepala Agam. "Canda, emang otak lo enggak usah diragukan deh, mending jual aja terus beli motor. Gimana?" tanya Agam lagi membuat gue ingin menebas kepalanya. "Santai aja kali tuh muka, gue cuman bercanda. Hidup itu enggak semestinya diisi dengan hal serius doang, isi dengan candaan baru kehidupan itu berwarna," jelas Agam panjang kali lebar Gue tak menggubris perkataan dari Agam memilih untuk tutup mata dan masuk ke alam mimpi. Cuman 30 menit untuk tidur, gue kembali membuka mata saat adzan magrib berkumandang. Agam mengajak gue untuk sholat di mesjid. Dengan cepat gue mengambil wudhu dan siap-siap ke mesjid. *** Kembali pada keadaan malam, gue kembali membuka buku gue membaca ulang lalu mengerjakan beberapa soal untuk latihan. Di tengah kegiatan gue, Agam mengajak gue untuk makan malam. "Udahlah, gue yakin lo bakal menang," ujar Agam. "Belum tentu, Gam. Banyak di luaran sana orang yang lebih jago dan lebih pintar dari gue. Gue akui itu," jelas Gue membuat Agam mengangguk lalu memilih untuk kembali makan. Terjadi keheningan hanya ada suara adu sendok. Setelah selesai, gue kembali ke ruang tamu dan membuka handphone gue. Bermain game, sambil menunggu kantuk tiba. Beberapa jam setelah bermain, gue ngantuk memilih untuk naik dan tidur. *** Tring!! Bunyi jam weker terdengar nyaring di telinga gue. Membuat gue bangun dan masuk ke kamar mandi, sholat lalu bersiap untuk ke sekolah. Mungkin pagi ini gue lebih bersemangat, karena lagi-lagi berjuang untuk mengharumkan nama baik sekolah. "Gue duluan ya, Gam!" ujar Gue tanpa menunggu balasan dari Agam, gue langsung berlalu pergi. Sekitar 15 menit perjalanan, gue tiba di sekolah. Gue lirik jam tangan, ternyata baru jam 07.01 WIB. Saat gue masuk, sudah ada Sheila yang duduk sambil memegang buku catatan. "Cepet juga lo datang," ujar Gue. "Gue deg-degan," ujar Sheila membuat gue menoleh. "Kenapa? Giliran ngamuk ke gua enggak ada takutnya enggak ada deg-degannya, giliran gini malah deg-degan," ujar Gue panjang kali lebar. "Beda situasi," ujarnya tanpa menoleh ke arah gue. "Tenang, lagian lo enggak sendiri. Ada gue," ujar Gue membuat dia menoleh dengan tatapan sulit diartikan. "Ngapa lo natap gue kek gitu?" tanya Gue seketika dia membuang pandangannya. Setelah berbincang dan menemui guru, kini saatnya mereka tiba di tempat olimpiade. Banyak kamera yang terpasang, dijejeran tempat Sheila dan gue berada. Gue merasa ada yang aneh dengan Sheila lalu gue dengan cepat bertanya. "Kenapa? Ada yang salah?" tanya gue pelan. Dia menggeleng. "Terus kenapa lo kek gugup gitu?" tanya gue. "Hem, gue cuman malas dengan kamera, benda yang membuat gue trauma akan satu hal." FLASHBACK ON "Sheila enggak mau, Mah!" teriak Sheila dengan isakan. "Kamu harus mau! Ini juga demi keuangan kita dan juga agar kamu bisa terkenal bukan?" tanya Mama Sheila—Reina "Sheila enggak perlu terkenal untuk hidup, Mah!" teriak Sheila lagi. "Kalau Mama bilang, harus ya harus! Kenapa kamu jadi ngelawan gini?" tanya Reina. Hiks ... hiks .... "Kamu enggak boleh paksa anak kita untuk menjadi apa yang kamu inginkan!" ujar seorang paruh baya dengan suara berat yakni papa Sheila—Bara. Sheila dengan cepat bersembunyi di belakang Bara. "Kamu tidak perlu ikut campur, Pah! Aku sebagai Mamanya lebih tau dari pada kamu!" bentak Reina tepat di hadapan Bara membuat Sheila bertambah takut. "Kalau saya bilang enggak ya enggak! Kamu jangan memaksa dia!" ujar Bara. "Kamu juga tidak boleh melarang saya! Kalau kamu melarang saya! Saya minta cerai! Kita enggak pantas bersama, kamu tidak bisa memenuhi semua kebutuhan yang harusnya terpenuhi baik bagi saya maupun Sheila!" jelas Reina. "Jangan Mah, Pah, kalian enggak boleh pisah," ujar Sheila dengan tangisnya. Bara mengelus pelan urai rambut Sheila. "Dari pada kamu terpaksa? Mending seperti ini Nak," jelas Bara. Hiks ... hiks .... FLASHBACK OFF Gue mencerna semua cerita dari Sheila tanpa sadar gue mengelus pelan pundak dia dan menghapus air matanya. "Anggap kamera itu ada benda biasa, fokus sama tujuan jangan fokus sama kelemahan kamu? Oke?" tanya Gue pelan membuat dia mengangguk.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN