"Gue udah bilang sama lo, Shei. Fokus sama olimpiadenya, jangan sama kameranya!" Gue membentak Sheila.
Sheila menggeram tertahan. "Gue punya trauma dengan kamera! Lo bisa mikirin perasaan gue, nggak, sih?!"
Gue memegang bahu Sheila dengan kencang. "Gue pikirin perasaan lo! Tapi lo juga harus pikirin perasaan gue, gue malu sama papa karena nggak menangin olimpiade itu!"
"EGOIS!" Sheila berteriak di depan wajah gue. "LO EGOIS, DJA!" Kilat amarah terlihat dari pancaran mata Sheila. Wajahnya memerah.
"GUE NGGAK EGOIS, SHEI! Gue udah bilang sebelumnya sama lo, JANGAN FOKUS KE KAMERA, FOKUS AJA KE OLIMPIADE!" Gue balas membentak Sheila.
Sejujurnya, gue benar-benar kecewa dengan Sheila. Tim kami mendapatkan peringkat kedua dari bawah. Hanya karena traumanya yang kampungan itu, gue sampai kalah. Gue nggak bisa buktiin ke papa kalau gue memang bisa.
"KALAU SEANDAIKAN GUE BISA, BAKALAN GUE LAKUIN!" Nafas Sheila terengah-engah. Dia menghapus air matanya dengan kasar.
"Lo sengaja kalah saat olimpiade, kan?! Lo nggak mau lihat papa gue bangga dengan gue, kan?! JAWAB!" Gue menggoncang bahu Sheila. Sheila menepis kasar tangan gue.
"LO MIKIR DONG, NGOTAK! YAKALI GUE BERUSAHA KALAH DALAM OLIMPIADE!"
Gue meraup wajah dengan kasar. "Bayangin, Shei! Kita peringkat dua DARI BAWAH!"
"Trus lo pikir gue mau? Gue suka?! ENGGAK! GUE JUGA MALU, DJA! GUE JUGA MALU!"
"Ini semua gara gara lo!" Gue menunjuk wajah Sheila.
"Lihat Ivan dan Elvina! Mereka menang, Shei. Padahal apa? Kita lebih baik KALAU SEANDAIKAN LO NGGAK t***l KAK TADI!" Gue benar-benar. Kalut. Kecewa.
"LO EGOIS, DJA! EGOIS." Bibir Sheila bergetar. "Lo coba ngertiin gue sedikit aja, bisa nggak?"
Gue menjambaki rambut gue sendiri dengan kasar. "Gue kurang ngertiin lo apalagi? Gue udah kasih lo dukungan sebelum olimpiade! Tapi hasilnya apa? Kecewa gue sama lo!"
"Harusnya lo ngendaliin trauma lo, Shei! Harusnya! Harusnya! Harusnya! Tapi lo terlalu bodoh untuk itu!" lanjut gue.
"Kalau gue bisa, bakalan gue lakuin! Trauma ini bukan keinginan gue, Dja! Tolong ngertiin posisi gue." Perkataan Sheila melirih diakhir kalimat.
"Ku boleh milih, gue nggak akan mau punya trauma, Dja," lirih Sheila. Terlihat dengan jelas air mata di pelupuk mata Sheila. Mungkin hanya dengan berkedip, air mata itu akan meluncur bebas.
Amarah gue menyusut ketika melihat Sheila saat ini. "Gue capek, Dja! Lo selalu bertingkah seolah gue adalah manusia tersalah di muka bumi ini." Gue memalingkan muka. Gue jadi merasa bersalah, sedikit.
"Dja! Shei!" Elvina memanggil kami dari kejauhan. Sheila segera menghapus air matanya dengan kasar.
"Ada apa, kak?" tanya Sheila.
Elvina memandang gue penuh selidik. "Lo nggak diapa-apain, kan, sama manusia j*****m ini?" tanya Elvina pada Sheila seraya menunjuk gue.
"Lo kok jadi curiga sama gue?" Gue menatap garang pada Elvina.
"Apa lo?! Lo kan emang jagonya nyakitin hati." Elvina bersidekap. "Apa? Nggak terima?" tantang Elvina. Gue diam, tidak meladeni ucapannya. Jika saja gue terpancing amarah, yang ada gue dan Ivan bisa adu jotos.
"Ivan mana?" tanya gue. Elvina menunjuk ke gedung olimpiade. Gue mengangguk. Perlahan meninggalkan mereka dan menyusul Ivan.
Sebelum gue masuk ke gedung, ternyata Ivan udah duluan keluar. "Woy, gimana nih yang jadi juara?" tanya gue.
Ivan menunjukkan piagam, medali, serta hadiah-hadiah lain yang dia dapatkan. Sedikit perasaan iri mulai menghampiri gue. Harusnya gue yang mendapatkan itu.
"Sheila mana?" tanya Ivan.
Gue memilih tidak menjawab. Meninggalkan Ivan menuju Sheila dan Elvina. Ivan kemudian mengikuti gue.
"Lama banget, sih, lo." Elvina mengeluh seraya mengibas-ngibaskan tangannya.
"Panas tau," lanjut Elvina. Gue terkekeh pelan, sementara Ivan mendekati Elvina.
"Pulang, yuk," ujar Sheila pelan. Gue mengangguk.
"Lo pulang sama gue, Shei." Sheila hanya mengangguk malas. Elvina kemudian menahan lengan Sheila.
"Kalau lo diapa-apain sama nih bocah, bilang aja sama gue." Elvina mengangguk. Lalu tersenyum.
"Gue cabut," pamit gue.
Gue dan Sheila melangkah menuju tempat parkir. Tak jauh, kira-kira hanya membutuhkan waktu lima menit saja.
"Dja" Sheila tiba-tiba membuka pembicaraan kami. Gue membalasnya hanya dengan beradeham saja.
"Lo ... masih marah sama gue?" tanya Sheila. Gue terdiam. Sebenarnya sedikit susah mengetahui perasaan gue saat ini. Marah mungkin sedikit, lebih dominan rasa kecewa, tapi gue juga kasihan.
"Nggak," jawab gue pada akhirnya. Sheila mengangguk pelan.
Gue menolehkan kepala pada Sheila. "Kenapa?" Sheila terlonjak. Mungkin karena pertanyaan gue yang tiba-tiba. Atau ... entahlah, gue juga nggak peduli.
"Gue agak nggak enak sama lo, gue ngerasa bersalah," jawab Sheila.
"Memang harus." Gue mengedikkan bahu.
"Gimana? Gimana?" Sheila memasang tampang muka bingung. Gue mendengus.
"Memang sudah seharusnya lo merasa bersalah sama gue. Kalau lo nggak merasa bersalah, sebenarnya lo yang egois."
"Kok gue?" beo Sheila.
Gue menggeram. Sheila ini minta dihajar atau apa, sih? Untung perempuan, kalau bukan udah gue hajar dari tadi. "Lupain." Ucap gue singkat. Tidak ingin memperpanjang masalah yang ada. Sheila mengangguk-angguk.
Akhirnya, setelah perjalanan dari luar gedung olimpiade menuju tempat parkir yang sedikit menengangkan tadi selesai. Gue dan Sheila akhirnya sampai di depan mobil gue.
Gue segera memasuki mobil. Sedangkan Sheila, dia duduk disamping gue. Jangan berpikir macam-macam. Kita hanya duduk. Saling merenggangkan otot-otot tubuh karena kelelahan. Kemudian gue melajukan kendaraan. Tidak ada adegan apa-apa.
Di perjalanan, hanya ada suara radio yang mendominasi. Kami saling diam. Hanya diam. Karena gue bosan dengan suasana ini, gue memilih untuk membuka pembicaraan terlebih dahulu.
"Shei."
"Dja." Gue dan Sheila saling bertatapan. Tanpa gue duga, gue dan Sheila saling memanggil disaat tag bersamaan. Tanpa gue duga, apalagi disengaja. Ingat itu.
"Lo dulu," ucap gue pada Sheila. Kemudian kembali menghadap jalanan. Sheila sontak menggelengkan kepala. Kemudian menatap jalanan didepannya lagi.
"Lo dulu aja, deh." Ia mempersilahkan gue membuka pembicaraan terlebih dahulu. Oke kalau itu yang dia mau.
"Anggap pertengkaran tadi nggak pernah ada." Sheila sepertinya terkejut atas ucapan gue. Buktinya, dia langsung menghadap ke arah gue.
"Kenapa?" tanya Sheila bingung.
"Emang kenapa kalau gue nyuruh lo buat lupain? Lo nggak mau? Emangnya lo mau pamer karena gue bentak-bentak lo tadi?" Sheila terdiam. Cukup lama. Akhirnya dia setuju dengan apa yang gue mau.
"Sekarang giliran lo," ujar gue dengan tetap memperhatikan jalanan didepan. Walau sesekali gue melirik perempuan yang ada di samping gue ini.
"Gue yang akan bilang sama papa lo tentang kejadian saat olimpiade." Gue sedikit terkejut, kemudian menoleh sebentar pada Sheila.
"Maksudnya?"
"Gue akan cerita tentang kekalahan kita, dan sebab kita kalah, ya karena gue," jawab Sheila. Gue mengerutkan dahi. Ini kenapa Sheila jadi gini? Perasaan saat kami bertengkar tadi, gue nggak sampai mukul kepalanya, kok. Beneran.
"Lo yakin?" Sheila mengangguk mantap. Gue tersenyum seraya membalas anggukan Sheila.
Gue melihat tukang bakso yang ada dipinggir jalan. Tanpa aba-aba, gue putuskan untuk menepi.
"Eh, kita mau ngapain?" tanya Sheila bingung. Gue tidak menjawab, malah langsung menghampiri tukang bakso itu.
"Mang, dua ya," pesan gue. Penjual bakso itu kemudian mengangguk dan menyiapkan pesanan.
Gue duduk diatas kursi yang disediakan. Sementara, Sheila masih berada di samping pintu mobil.
"Sini, Shei." Gue memanggil Sheila. Menyuruhnya duduk. Sheila mengangguk dan menuruti ucapan gue.
Akhirnya, gue dan Sheila makan bakso di pinggir jalanan sebelum mengantar Sheila pulang. Entah kenapa, gue ngerasa Sheila jadi lebih penurut, tapi juga lebih canggung. Dan entah kenapa juga, pikiran gue jadi gila. Gue mengharapkan Sheila balik menjadi Sheila yang pembangkang. Gila kan? Jelas, tapi gue nggak tau kenapa pikiran itu bisa bersarang di dalam otak gue.