Geng Vespa

1387 Kata
Keesokan harinya, gue meminta kawan-kawan untuk berkumpul di belakang sekolah sebelum bel masuk berbunyi. Mereka jelas kebingungan, karena tak biasanya gue meminta berhimpun di jam-jam begini. Taman belakang sekolah cukup layak untuk dijadikan tempat diskusi. Ada kursi kayu berikut meja serupa yang nyaman untuk digunakan. Gue menyandarkan punggung. Geram dirasa ketika kawan-kawan belum juga datang padahal bel masuk sebentar lagi berbunyi. "Ada apa, sih? Gue kebelet ke toilet, nih!" Lagi-lagi Agam berujar tak sabar. "Tunggu semuanya kumpul dulu," ucap gue tanpa mengindahkan lipatan dahi Agam yang terduduk tak nyaman. Tak berapa lama kemudian, para bujangan yang gue tunggu-tunggu datang menghampiri. "Ada hal penting apa, Ja?" tanya Dewa sembari mendudukkan bokongnya pada kursi di seberang gue. Hal yang sama dilakukan Ivan, Jatmiko dan Bumi. "Iya, gak biasanya," komentar Ivan yang diangguki bersama, termasuk gue sendiri. "Jangan banyak bacot, deh! Buruan!" sela Agam yang duduknya semakin tak nyaman. Gue sudah mengusulkan untuk buang air di sebalik pohon saja, tapi dia menolak keras. Katanya takut dijahili dedemit. Ya, pada beberapa kejadian, Agam memang rada kolot. "Kalian masih nganggep vilanzer, kan?" tanya gue sarkastik, melirik satu per satu wajah kawan seperjuangan yang tampak mendelik. Dewa mewakili. "Iyalah, masih. Kenapa emang?" "Kita udah lama gak action. Kalian gak kangen turun ke lintasan, apa?" Gue menaikkan dagu. "Tunggu, tunggu." Ivan menyela. "Maksudnya, lo berniat ngajak kita buat balapan lagi?" Matanya memicing tak suka. Gue mengangguk. "Tentu!" seru gue ambisius. "Gue udah lama gak kebut-kebutan. Gimana, kalian setuju?" "Enggak!" tolak Agam mentah-mentah. "Gimana kalau lo ketauan ortu? Gak cuma lo yang diamuk, kita-kita juga jadi sasaran." "Apalagi lo pernah kecelakaan," sambung Bumi. Gue mendecap gemas. "Bokap gue gak bakal tau kalau dari kita gak ada yang ngasih tau. Tutup mulut. Kalau soal kecelakaan, itu udah lama berlalu. Gak ngefek lagi buat gue." "Keras kepala banget, sih," komentar Jatmiko datar. Gue mengembuskan napas kasar. "Ayolah, nanti malem bakal ada balapan yang enggak boleh dilewatkan. Kalian mau Vilanzer dipandang sebelah mata karena gak ikut?" "Gue enggak mau diremehin." Dewa menekuri sepatunya. "Apalagi sama musuh." "Ya, lo bener!" seru gue bergelora. "Nih ya, ajang ini bisa ngebuktiin kalau geng kita masih ada, gak hancur." "Gue sih, kalau Dewa udah ngomong begitu, ikut-ikut aja." Jatmiko mengedikkan kedua bahu. Punggungnya bersandar dengan tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana. "Kalau menang, gue dapat duit. Lumayan kan buat keperluan sehari-hari sama modifikasi." Gue tersenyum jemawa. Agam mendesah. Ia tahu kalau dirinya tak dapat merubah keputusan gue. Akhirnya, mereka menyetujui walau tampak setengah hati. Tidak masalah. Mereka memang begitu, tapi sepenuhnya mendukung apa yang terbaik untuk Vilanzer. Bel masul berdering nyaring sementara kami masih berkumpul. Kami sudah memutuskan untuk membolos sekolah bersama guna membincangkan strategi dan memodifikasi motor untuk balapan nanti. • • • Vespa Balap Indonesia atau biasa disingkat VBI, demikian nama komunitas tersebut, pertama kali mengadakan balap vespa di Bandung. Dan hingga saat ini, VBI telah memiliki anggota lebih dari 200 starter yang terdiri dari berbagai kalangan, mulai pengusaha, PNS, pekerja bengkel Vespa, hingga mereka yang bergerak di bidang industri kreatif. Namun sebelum diterjunkan untuk balapan, Vespa harus dimodifikasi terlebih dahulu agar sesuai dengan keperluan balapan. Vespa yang dimodifikasi untuk balapan ini kemudian lebih populer dengan sebutan Vespa Racing. Kediaman Agam menjadi sasaran empuk tempat memodifikasi motor. Selain memiliki peralatan yang lengkap, rumah Agam pun kerap kali lengang. Ruang gerak kami cukup bebas di sini. Bagaimana caranya gue sampai kemari? Jelas dong membolos berjamaah. Kalau tidak mengotrak-atrik motor sekarang, gue gak bisa ikut balapan dan menyiapkan strategi. Kenapa ketua OSIS bisa bolos? Terserah gue dong, sultan mah bebas. "Anggep aja rumah sendiri," kata Agam berbarengan dengan dibukanya pintu garasi. Serempak kami memasuki ruangan. "Gue berharap ada camilan." Itu suara Ivan. Dia melempar tas kerempengnya ke sofa kulit. "Jus jeruk kayaknya enak." Bumi menimpali. Dia mengelus-elus tenggorokannya dengan dramatis sementara gue, Dewa, dan Jatmika menggeleng-gelengkan kepala tak habis pikir. Mampus lo, Gam, salah ngomong, sih. "Temen b*****t," maki Agam, namun tak urung juga dia melesat pergi dan kembali dengan nampan berisikan kue kering dan minuman. Dengan gaya cool maksimal, gue membuka kemeja sekolah dan terpampanglah kaus hitam polos yang membungkus tubuh gue. Hal yang sama dilakukan kawan k*****t gue, tapi Ivan yang paling mencolok di antara kami. Dia mengenakan kaus berwarna putih yang di depannya tercetak jelas gambar kepala putri duyung yang tengah menyengir. Sontak kami tertawa terpingkal-pingkal. "Ini tuh seni!" protes Ivan, telunjuknya menuding sablonan baju. "Gak nyangka gue, sob!" seru Dewa dan kami kebali tertawa. "Ayo ah, mulai," lerai gue sebelum Ivan mengapit leher Dewa di ketiaknya. Dengan cekatan, gue meletakkan vespa di penyangga motor, dan mulai bekerja. Mula-mula, pada bagian bodi, umumnya step (pijakan kaki) dipindahkan ke belakang, seperti motor underbond. Sementara, stang dibuat agak ditekuk ke belakang, lalu buka lampu depan Vespa. Jika ingin lebih keren, ganti stang dengan stang milik Vespa Excel. Gue tidak menggantinya, karena merasa sayang dengan duit. Lagian, modal keren doang belum tentu menang. Gue mengganti ukuran karburator menjadi 24:24. Tujuannya, agar napas Vespa menjadi lebih panjang. Tadinya, gue mau mengganti karburator Vespa dengan milik Kawasaki Ninja atau Yamaha RX King. Namun jika dipikir-pikir, ukuran karburator 20:20 juga sudah cukup. Untuk knalpot, gue menggunakan knalpot DRC atau Sito. Pasalnya, knalpot sangat berpengaruh terhadap laju Vespa. Sedangkan pork, gue memakai pork milik Vespa Super. "Mending pake pork Vespa PS, lebih stabil kalo ngelintasin trek lurus dan tikungan," usul Dewa. "Sini bagi duitnya," todong gue. "Tau melarat, belagu banget sih mau ikut balapan," seloroh Ivan sembari terkekeh. "Justru karena gue kere, gue mau ikut balapan biar dapet duit." Gue melempar lap kumal bekas mengelap karburator. Ivan mencibir dan kembali melempar kain itu ke arah gue. "Ganti juga tuh kopling standarnya sama kopling racing, pake kampas 4." Bumi menyahut dari samping gue. Dia tengah mengelap-elap bodi vespa-nya Untuk bagian blok, gue memakai blok racing PINASCO atau MALOSSI yang memiliki enam lubang bilas, plus seher dan head silinder. Dengan kata lain, kapasitas mesin berubah dari 150cc menjadi 200cc. Kata Agam, sekalian aja potong miring bodi bagian belakang dan tepong agar Vespa tampak “nungging”. Sementara untuk warna bodi, perpaduan merah dan hitam tampaknya cocok dengan gue. • • • Sementara itu, pada jam istirahat pertama kala siswa-siswi berhamburan menuju kantin, Sheila tidak melihat Radja barang sehelai rambut pun. Padahal biasanya perempuan itu selalu melihat Radja dan kawan-kawan dekatnya berkerubung di salah satu meja di sana. Karena penasaran berat, Shela menghadang langkah Elvina yang akan melewatinya. Eits, jangan berspekulasi jikalau Sheila merasa khawatir atau terlalu ingin tahu perihal Radja. Sheila hanya ingat kalau papanya Radja meminta Sheila untuk memata-matai anaknya. "Liat Radja gak, Kak?" "Enggak tau, Ivan juga gak masuk kelas," jelas Elvina ketika Sheila memicingkan mata. "Lho, kok, bisa barengan ya?" heran Sheila. "Kayaknya Agam juga gak ada deh," terka Elvina. "Berarti mereka sengaja gak masuk, bolos." Sheila mengacungkan telunjuknya gemas. Elvina berdecak. "Udah gue duga. Awas aja Ivan, bakal gue kasih pelajaran tuh cowok!" "Tempat kumpul mereka biasanya di mana?" tanya Sheila tak sabar. "Rumah Agam. Emang kenapa? Lo mau ke sana?" Belum sempat Sheila menjawab, Elvina kembali berucap, "Eh, gue duluan ya, dipanggil temen." Elvina menepuk bahu Sheila sebelum berlalu mengejar kawan-kawannya yang menjauh meninggalkan kantin. Ho-ho. Untung saja Sheila tahu alamat rumah Agam. Jadi dia akan pergi ke sana dan izin dari sekolah dengan alibi sakit perut. • • • Sheila merasa seperti detektif yang tengah menangani kasus berat ketika ia mengendap-endap di serambi rumah Agam. Keren abis! Diam-diam ia mengikik. Untung saja gerbang jangkung itu tidak dikunci, dan tak ada penjaga rumah seperti satpam yang menjulang seperti patung. Aman terkendali. Samar-samar suara tawa beberapa orang terdengar dari bagasi. Sheila kembali melangkahkan kaki menuju sumber bunyi. Perempuan itu menyembunyikan diri di sebalik tanaman hias lidah mertua berpot jumbo. Sheila hampir memekik karena mendapati Radja dan teman-temannya tengah berjibaku dengan motor vespa. "Kayaknya mereka mau ada balapan, nih," terka Sheila sepelan mungkin. "Gue harus ambil foto buat bukti." Sheila mengambil potret mereka, tak lupa dengan mengaktifkan mode air waktu. Setelahnya, ia mengirimkan foto itu kepada papanya Radja untuk laporan selaku mata-mata. Selesai. Sheila mengantongi ponselnya dan kembali berjalan mengendap-endap sebelum menubruk pot bunga yang lain. Huh, untung tidak sampai terjungkal. "Siapa itu?" Terdengar suara Dewa. Sheila menahan napas sementara kakinya terpaku. "Paling kucing." Sheila mendesah lega mendengar jawaban Agam, kemudian sedikit berlari kecil ke arah gerbang. "Kalau sampe mereka keluar, bisa mati gue," ujar Sheila sembari membawa langkahnya tergesa-gesa meninggalkan kediaman Agam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN