Waktu seolah cepat berlalu. Gue menghimpun rindu yang tentu saja tidak berlaku. Bagaimana dengan sesal? Sama sekali gue tidak merasakannya. Ataukah gue naif? Enggan mengakuinya? Gue sekadar seorang anak manusia yang kehilangan arah namun mencoba tetap melangkah. Entah seberapa lama semenjak perseteruan itu. Kini tidak ada kita di antara gue dengan Sheila. Semuanya berubah. Berotasi. Gue berangkat pagi-pagi sekali. Dengan terampil, gue memacu motor vespa menuju sekolah sebagaimana biasa. Selang dua puluh menit, kendaraan yang gue gunakan telah terparkir rapi di parkiran sekolah. Gue menengadah. Hari ini cuacanya teramat cerah. Berbanding berbalik dengan wajah gue yang mencoba menampiaskan gundah. Awan-awan putih bergumul berjauhan. Embusan angin pagi menggelitik tengkuk dan telinga. Gu

