Sudah hampir tiga bulan Radja makin linglung, dia diam dan terus memikirkan siapa 'She'. Melamun tanpa hentinya dan membayangkan siapa She itu, akhirnya papanya menyerah, memperbolehkannya bergaul lagi dengan teman satu gengnya. Ini akhir pekan. Entah kerasukan dedemit planet mana, gue yang tengah berasyik-masyuk di bawah selimut memutuskan menelepon Agam. "Belajar bareng?" "Iya," jawab gue, respek mengangguk. Kalau begini, sih, sepertinya malaikat tengah membisikkan kata-kata kebenaran, hingga membuat gue memilih belajar bersama ketimbang menghabiskan akhir pekan dengan sia-sia. "Yang lain udah dihubungin?" "Belum, abis ini baru gue kontak satu-satu. Lo siapin tempat, makanan, sama minuman aja," cerocos gue seenaknya, tak tahu malu. "Oke, boleh," putus Agam. Setelah mengucapkan

