Bahagia

1001 Kata
Setelah gue dan yang lainnya selesai modifikasi motor, kami langsung menyiapkan perlengkapan-perlengkapan lain untuk balapan. Mulai dari mengecek helm, mengisi bensin, membeli baju balapan dan yang terpenting adalah DAFTAR agar menjadi peserta. Sebelum itu kami wajib latihan terlebih dahulu untuk mengurangi resiko jatuh dan tergelincir. Sheila menonton kami selama latihan. Dan setelah kelar latihan gue ngeliat mukanya lebih ceria dari pada biasanya. "Kayaknya gue bakal ikut kalian untuk masuk VBI deh. Seru banget soalnya." "Skuy aja. Gue mah setuju banget." Sambar Ivan "Tapi gue harus modifikasi motor vespa eyang gue juga. Kalian boleh bantu gak?" "Boleh banget Sheil. Apalagi lu bisa sekalian buat pdkt sama Radja wkwk." Agam menambahkan "Mana ada!" Jawab gue dan Sheila bersamaan "Cie barengan mulu." Ledek Dewa "Udahlah ngomongnya jangan ngelenceng. Sheila kalau lu mau ikut balapan, modifikasi motor eyang lu segera. Lusa kita udah balapan. Minimal besok lu harus udah modifikasi sama latihan." Ujar Radja "Oke, soal itu kalian tenang aja." Sheila meyakinkan *** Keesokan harinya, ternyata Sheila sudah berada di rumah Agam terlebih dahulu. Bersama Dewa dan Ivan. Gue telat bangun nih kayaknya. Gue langsung keluar dari kamar menuju halaman rumah Agam tanpa mencuci muka atau mandi terlebih dahulu. Duh emang oon nih gue. Pantesan Sheila bilang gue jelek banget. "Woi, udah pada modif? Gam, kok lo gak bangunin gue si?" "Udahlah. Udah dari tadi malah. Bangun pagi makanya!" Jawab Ivan "Males gue bangunin lo lagi. Nanti takutnya anu lagi kayak kemarin." "Anjir. Ngapain Gam si Radja kemarin? Anu-anuan sama siapa? Di rumah lu? Bjir." Sambar Dewa "Ssttt! Anjir si Agam. Rahasia kita aje Gam." "Ogah gue main rahasia-rahasian sama lo wkakak. Jhe si Dewa, giliran bahas yang kayak gituan aja lo cepet." "Udah woi anjir! Ada cewe nih disini. Gak enak. Kita lanjut nanti malem aja." Radja menyudahi Setelah pembicaraan gak jelas tersebut gue menatap muka Sheila. Dia terlihat seperti bodoamat dan sangat fokus pada vespa nya. Gue heran, dia daritadi udah liat gue atau belum sih? Atau masih belum sadar? Atau pura-pura gak liat dan gak denger? Wah jangan-jangan nih triplek pura-pura polos. Padahal enggak. Tanpa pikir panjang gue langsung nyamperin Sheila untuk berniat mengagetkan dia. Tapi, s**t! Keadaan membuatnya berbeda. Kini gue dan Sheila kembali berdekatan seperti di tukang es dawet kemarin. Dan parahnya kini bersentuhan. Gile! Jijik gue! Duh oon banget gue. "Duar! Sheila!" Gue yang mulai ngagetkan dari samping "Ap-a-an?" Jawab Sheila terbata-bata Kami berdua sempat hening sejenak. Gue mendengarkan detak jantung Sheila yang tidak beraturan. Gue jelek aja dia masih deg-degan apalagi kalau gue kayak biasanya. "Woi! Kalau mau anuan di dalem jangan disini! Untung sepi." "Tau anjir, udah pagi. Nanti malem aja. Duh duh." "Emang nih si Radja kebelet banget kayaknya. Ngebet lo." "Cih! Wlee." Sheila mendorong tubuh gue dan melepehkan ludahnya "Ngapain si lo?! Udah 2 kali tau! Dasar omes!" sambung Sheila "Dih siapa suruh lu nengok secara tiba-tiba. Orang gue niatnya mau ngagetin doang. Pede lo!" "Masa orang mau nengok harus bilang dulu? Namanya juga gerakan refleks!" "Jhe, gue juga refleks kalau gitu!" "Bawel lo. Udah bau mending lo mandi dulu daripada ngoceh mulu. Puyeng!" "Ekhemm!" Mereka batuk secara serempak "Berantem mulu. Gak bosen apa? Kali-kali bikin berantem yang berbeda." "Berbeda kayak gimana wa?" "Berantem di ranjang sono lo! Puas? Biar gak bosen-bosen." "OON!" Jawab kami serempak diikuti suara Sheila Setelah gue bersiap-siap dan telah rapi. Gue langsung membantu mereka untuk memodifikasi motor vespa eyangnya Sheila. Ternyata sulit dan gak segampang yang gue bayangin. Kita harus mengganti mesinnya, mengganti ban, mengisi oli dan bensin serta mengecat vespanya. Sedangkan di rumah Agam ini kita tidak memiliki mesin motor cadangan. Mau tidak mau kita harus membawanya ke bengkel. Dan yang membuat gue sebel adalah mereka baru selesai mengganti ban! Padahal ini udah mau jam 11.00 sebentar lagi makan siang. Mau gak mau kita harus break dulu. Belum lagi ke bengkelnya dan Sheila juga harus latihan terlebih dahulu. Menyiapkan helmnya, membeli baju, dan mendaftar. Gue gak tau ini berjalan sampai jam berapa? "Dari tadi lu pada ngapain aja? Lama banget baru selesai ganti ban. Sedangkan ini udah mau jam 11.00. Kita belum nyiapin yang lainnya." "Tadi gue yang datengnya kesiangan sorry. Gue dateng jam 09.00 dan itupun gue dan temen-temen lo yang lainnya gak langsung kerja. Gue nungguin Agam setengah menit buat bukain pintu, trus gue juga nunggu Dewa sama Ivan setengah menit juga. Kalau di kira-kirain tadi mulainya udah jam 10 lewat." Jawab Sheila "Tadi kita juga ngebersihin kerak-keraknya dulu Ja, baru ganti ban." Sambar Agam Ha? Gue gak salah denger kan? Kasian amat tuh tripleks dikunciin diluar selama setengah menit. Kering-kering dah lo. Trus kenapa jadi bela-belaan juga? Kan sebenernya niat gue teh cuman nanya bukan ingin menyudutkan seseorang. Susah emang kalau jadi orang baik mah. Tapi kok rasanya panas ya hati gue? Kalau Sheila dilindungin orang lain, apa jangan-jangan? Gak lah! Gak akan mungkin! Dan gak akan pernah terjadi! Setelah sekian lama kami memodifikasi akhirnya selesai juga. Kini motornya hanya tinggal diganti mesin dan sekalian dicuci ditukang bengkel nanti. Sehabis itu kita mendaftar dulu, beliin bajunya Sheila baru ke lapangan untuk latihan seperti biasa. Cantik. Itulah satu kalimat pertama yang gue lontarkan setelah motornya selesai. Bener ya, usaha gak bakal ngehianatin hasilnya. Cantik, bersih dan mengkilap. Serasa adem dan tenang di hati saat melihat vespa ini. Saat seperti gue melihat wajah cantik Sheila pertama kali. Keduanya mirip. Duh apa-apaan?! Kenapa gue selalu keceplosan bilang kalau Sheila cantik? Untung gak ada yang bisa baca pikiran disini. Setelah semuanya sudah siap. Kami pun langsung kembali berlatih. Mulai memakai helm dan baju yang telah kami beli masing-masing. Gue tadi kayaknya ngeliat Sheila susah memakai helmnya. Akhirnya gue bantu, untung kali ini gue gak kembali baper. Tapi, sebentar. Kenapa helm Sheila terasa begitu berat daripada helm gue dan yang lain. Serasa tidak sepadan. Gue takut Sheila akan keberatan memakai ini dan menjadi tidak seimbang ketika latihan nanti. Semoga yang gue bayangkan kali ini tidak menjadi kenyataan. Gue gak ingin Sheila terjatuh apalagi sampai terluka parah seperti gue dulu. Gue juga takut ke flashback nantinya. Semoga semuanya aman. Terkedali dan Nyaman.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN