Semangat

1003 Kata
Tanpa menunggu berjam-jam, Sheila nekat untuk berlatih balapan, menurutnya balapan itu sebenarnya tidak sulit jika kita sudah pro. Tapi gue pikir, Sheila belum pro sama sekali. Tapi kalau mau mencoba tidak ada salahnya, jadi gue izinin deh. Mencoba lalu gagal bukan berarti nyerah. Pertama-tama dia sudah melihat cara dan taktik gue balapan, hanya saja kata dia, dia belum pernah naik motor Vespa. Jadi bagi dia ini adalah first time! Gue ragu dengan kemampuan dia menaiki motor. Tapi gue takjub dengan semangat gelora dia untuk berlatih, gue menghela nafas saat dia terus menerus berceloteh agar tidak usah berlebihan. "Jangan raguin gue lo!" ujar Sheila dengan sengit dan mata yang menyipit membuat gue gemesh sendiri. "Kalau terjadi apa-apa dengan lo, jangan salahin gue pokoknya," ujar gue sambil menatapnya lekat. "Iya-iya tenang aja sih, enggak usah panik gitu, dan jangan ngomong gitu. Kalau gue jatoh beneran gimana?" tanya Sheila yang membuat gue kembali menghela nafas. "Makanya enggak usah deh, ntar terjadi apa-apa gue yang disalahin," ujar gue lagi. "Tenang aja sih! Gue bisa," ujarnya bersemangat. Gue mengangguk karena percuma jika berdebat dengan kemauan dia. Sheila memakai helmnya dan naik ke motor, dia tersenyum ke arah gue. Cantik, gue akui dia cantik. "Ngapa lo senyum-senyum? Enggak waras ya?" tanya gue "Emang salah kalau gue senyum?" tanya Sheila membuat gue menggeleng. "Yaudah gue coba ya?" tanyanya sedikit ragu. Dia menyalakan motornya, perlahan dia menggas. "Heh!" tahan gue. "Kenapa sih?" tanya Sheila "Lo hati-hati pokoknya!" ujar gue khawatir. Tunggu? Kenapa gue jadi khawatir sama dia sih? Dia aja bukan siapa-siapa gue! b**o banget sih gue. "Lo kok sok perhatian banget sama gue ya?" tanya Sheila menerawang. "Ck! Siapa yang perhatian. Cuman takut aja tuh motor lecet gara-gara lo yang bawa," ujar gue berbohong jelas-jelas gue emang takut kalau dia kenapa-kenapa. "Oh gitu, enggak bakal." Sheila berucap "Woi jadi enggak ini Sheilanya latihan? Kalian ngomong mulu dari tadi," ujar Ivan melerai gue dan Sheila. Gue pun menyingkir dan duduk di area penonton siap untuk melihat aksi dari Sheila. Dia sepertinya memang sangat kukuh sama pendirian. Saat dia menggas, motornya perlahan berjalan. Awalnya dia tidak seimbang membuat gue berdiri dari tempat duduk tapi melihat dia fokus gue kembali duduk, gue menatap botol air minum di samping gue. Saat gue ingin mengambil botol itu tiba-tiba.. BRUKH! "Sheila, Ja!" teriakan Histeris dari Elvina membuat gue menoleh dengan cepat berlari ke arah Sheila yang tertindih dengan motor. "Aww," ringis Sheila membuat gue ngilu. Aduh kenapa bisa jatuh si Sheil. "Cepet bawa dia ke rumah sakit," titah gue. Gue menggendong Sheila. Kayanya gue udah kebiasa gendong dia kemana mana. Tak cukup waktu lama sampai di rumah sakit, Sheila langsung di rujuk ke ruangan. Gue menunggu di ruang tunggu. Sambil mengetuk-ngetuk kursi. Dokter keluar, gue dengan cepat lari menuju dokter. "Dia baik-baik aja kan dok?" tanya gue. "Tenang, tidak ada yang serius beberapa luka di bagian tangan dan kakinya, cuman butuh obat dan istirahat saja," jelas Dokter. "Bisa saya bertemu dia?" tanya gue. "Silahkan," ujar Dokter. Setelah mendapat jawaban gue langsung masuk dan berjalan menuju Sheila yang terbaring. "Lo nggak apa-apa?" tanya gue pelan. Sheila menatap gue sendu. "Ciah elah! Enggak papa kali, gini doang." Sheila seperti baik-baik saja. Gue melihat luka di bagian siku dan kakinya langsung menatap dia datar. "Gue udah bilangkan, mampus jatuh!" ejek gue. "Ih kok lo ngeselin sih?" tanya Sheila sambil memanyunkan bibirnya. "Siapa suruh keras kepala, oh ya. Gue mau beli sesuatu nih, lo mau apa?" tanya Gue. "Tumben Lo baik, kesambet apaan?" tanya Sheila. "Ck! Kalau enggak mau yaudah," ujar gue hendak melangkahkan kaki. "Eh beliin bubur ayam ya!" ujar Sheila semangat gue cuman mengangguk. Gue keluar rumah sakit dan mencari penjual bubur, dan ya. Penjualnya tak jauh dari rumah sakit. Syukur. Dengan cepat gue memesan, setelah itu membayar dan kembali ke rumah sakit. "Nih bubur pesanan lo," ujar gue memberi. Sheila hanya menatap bungkusan. "Kenapa?" tanya Gue. "Lo pikir gue bisa makan? Dengan tangan luka kayak gini?" tanya Sheila garang. "Yaudah ih, sini gue suapin," tawar gue. Wait? Untuk kali ini sepertinya gue harus jadi orang baik buat Sheila. Cuman hari ini! Gue membuka bungkusan itu lalu mulai menyuapi Sheila. Dengan lahap dia makan, tanpa sadar tangan gue bergerak membersihkan sisa bubur yang melengket di bibir dia. Tatapan kita bertemu saat itu juga. Tunggu kok jantung gue berdetak lebih kencang dari biasanya ya? Sheila membuang tatapannya dengan ragu. "Makasih," ujarnya pelan bahkan seperti lirih. Gue mengangguk lalu kembali menyuapi dia dengan pelan dan lembut. Gue mengaduk-aduk bubur itu, Sheila menatap gue dengan tatapan sulit diartikan. Gue menatap dia heran. "DUARR!!" Teriakan itu membuat gue dan Sheila menoleh. "Cie yang lagi suap-suapan," goda Agam. "Aduh kayaknya benci bakal jadi cinta nih, udah ada tanda-tandanya," ejek Elvina. "Oh ya kalian cocok dan so sweet tau enggak?" tanya Ivan "ENGGAK!" ujar Gue dan Sheila barengan seketika kita saling tatap menatap lagi. "Cie kompakan," goda Agam lagi. "Apaan sih! Gue cuman bantu dia buat buat makan doang t***l, tangan dia lagi sakit," jelas gue dibalas anggukan Sheila. "Iya! Kalian datang malah ngagetin lagi," kesal Sheila. "Ngagetin atau ngeganggu?" tanya Ivan spontan. "Ck! Punya temen kok modelan kek gini ya?" Melongo gue. "Udahlah, kalian kalau saling suka bilang aja sih. Enggak usah malu-malu gitu," ujar Elvina "KATAKAN SAYANG BILA SAYANG, KATAKAN CINTA BILA CINTA. JANGAN COBA BERPURA-PURA SEPERTI TAK ADA RASA." Ivan bernyanyi. "Bucen lo," ketus gue. "Hadeuh emang kenyataannya begitu kan? Jujur aja sih, lagian lo Ja, sering curhat bilang suka Sheila kan?" ujar Agam asal-asalan. "Apaan coba! Fitnah! Ingat fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan," ujar Gue. "Tanpa lo bilang juga gue udah tau kali, entar fitnah itu bakal jadi kenyataan," ujar Agam dengan tawanya. Keributan akibat Ivan dan Agam terdengar jelas di ruangan ini. Saat sibuk dengan aksi mereka. Ada yang membuka pintu. "Permisi? Kalian jangan ribut ya, ini rumah sakit," ujar suster itu lalu menutup pintu ruangan itu. "Mampus! Makanya datang ke sini buat jenguk malah bar-bar," ujar Elvina. "Lo juga ya," ujar Agam. "Serah," jawab Elvina. Sheila hanya tertawa melihat teman-temannya yang belum lama ini sudah sangat akrab.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN