Tentang Cinta

1031 Kata
"Papa sudah tidak mau mendengar alasan kamu lagi, Radja!" Gue menggeram kesal. Selalu saja begini ketika gue ketahuan balapan. "PAPA YANG NGGAK PERNAH MAU NGERTIIN RADJA!" Gue berteriak. Terserah mau dicap anak durhaka. Toh, meskipun gue nurut atau enggak pun, papa nggak pernah perhatian sama gue. Hanya bisa marah. "RADJA!" Papa meninju pipi gue. "Jangan kurang ajar kamu sama papa!" bentak papa. "Papa nggak pernah tau apa yang Radja mau. Papa hanya sibuk dengan tumpukan kertas, seolah kertas itu adalah anak papa sendiri!" Gue mengeluarkan semua unek-unek yang ada. Gue terlalu lelah disalahkan terus-menerus oleh papa. "Ini semua juga demi kamu, Radja! Siapa yang biayai sekolah kamu selama ini?" Papa menyentuh kedua lengan gue dengan tangannya. "Radja butuh kasih sayang! Bukan uang!" Gue menyentak tangan papa dengan kasar. Gue nggak nyangka pikiran bokap gue bisa sependek itu. DIA PIKIR GUE GILA UANG SEPERTI NYOKAP? Enggak! "Papa hanya minta kamu untuk tidak berteman dengan anak begajulan. Hanya itu, Radja!" Gue menggeleng seraya mengepalkan kedua tangan. Jika yang di depan gue saat ini bukan bokap gue, gue pastikan dia sudah babak belur dari tadi. "Mereka bukan seperti yang papa pikirkan!" ucap gue tajam. "Bukan seperti yang papa pikirkan, bagaimana? Mereka anak nggak jelas, nggak punya cita-cita dan masa depan! Apa yang kamu harapkan dari mereka?" "Papa nggak tau apa-apa tentang mereka! Mereka temen Radja, pa! Mereka yang selalu dukung Radja apa adanya!" Nafas gue dan papa terengah-engah karena beradu mulut. "Mereka yang selalu suport Radja, mereka yang selalu ada di samping Radja ketika Radja butuh seorang teman, MEREKA TEMAN RADJA, PA!" lanjut gue dengan sarkas. "Kamu bisa cari teman lain, Radja! Banyak diluar sana yang mau berteman dengan kamu, dan yang paling penting, mereka sederajat dengan kita," ujar papa. Gue mengepalkan tangan. "Sederajat bagaimana maksud papa?" tanya gue. Papa memijit pelipisnya. "Mereka dari keluarga berada, tidak seperti teman kamu yang KAMPUNGAN itu!" jawab papa dengan menekan kata 'kampungan'. Gue nggak terima perkataan papa yang menghina temen gue. Lantas, gue berjalan kearah guci dan barang-barang antik lalu memecahkannya. "BERHENTI, REHANDO RADJA SEMBIRING!" teriak papa. Papa mendekati gue dan langsung menampar gue dengan keras. "Kamu sebaiknya keluar dari geng motor kamu itu! Kalau tidak...." Papa menggantungkan ucapannya. "Kalau tidak kenapa, pa?!" "Papa akan mencabut semua fasilitas yang pernah papa beri untuk kamu," ujar papa tenang. Gue menggeram marah. s****n! "PAPA NGGAK BISA BERBUAT SEPERTI ITU PADA RADJA! PAPA EGOIS!" Gue berteriak marah pada papa. Gue nggak terima semua fasilitas dicabut gitu aja. Papa menunjuk muka gue. "Ini dia! Ini pengaruh buruk mereka terhadap kamu! Kamu jadi anak yang pembangkang!" Gue menepis tangan papa yang menunjuk-nunjuk muka gue. "Ini dia." Gue balas menunjuk d**a papa. "Ini yang bikin mama jadi nggak betah tinggal sama papa!" Papa menggeram. Sepertinya papa tersulut emosi karena perkataan gue yang melibatkan mama dalam pembicaraan ini. "Jangan bawa-bawa wanita itu, Radja!" "Kenapa?!" tantang gue. "Dia wanita paling murahan yang pernah papa temui!" Gue nggak pernah melihat mata papa yang menunjukan rasa kecewa sedalam ini. Gue berbalik menuju kamar. Gue udah nggak mau bertengkar dengan papa lagi. Gue capek, gue yakin papa pun capek. "Radja...," panggil papa dengan lirih. "Jangan jadi anak pembangkang. Maka dengan begitu, papa akan kembalikan semua fasilitas kamu. Dan juga...." Papa lagi-lagi menggantungkan ucapannya. "Dan juga apa?" "Papa akan turuti semua kemauan kamu. Kecuali kembali dalam geng motor s****n itu!" Papa meninggalkan gue dan masuk menuju kamarnya. Gue mengepalkan tangan. Nggak akan pernah! Gue nggak akan pernah ninggalin temen-temen gue gitu aja! Gue berjalan memasuki kamar dengan perasaan berkecamuk. Gue membanting pintu kamar dan langsung melompat ke kasur. "Ah! Kenapa sih gue nggak pernah bisa bebas?!" Gue berteriak kalap. "Kenapa gue harus ada dalam keluarga ini? Haha! Keluarga apanya? Ini yang namanya keluarga? Bahkan gue rasa, menjadi bagian dari keluarga semut pun masih lebih menyenangkan dari pada ini." Gue meremasi rambut dengan kencang. Kepala gue rasanya mau pecah jika terus-menerus memikirkan hal ini. Kenapa kebebasan itu sulit sekali didapatkan? Kenapa? Gue hanya ingin seperti anak SMA pada umumnya. Menikmati semua kenakalan remaja yang nggak akan datang untuk kedua kalinya. Hanya itu. Tapi papa nggak akan pernah ngerti apa yang gue mau. Nggak akan pernah. Ponsel gue tiba-tiba berdering, membuat gue mau tidak mau bangkit dari tempat tidur. "Halo?" "Lo...jadi nggak, nih, balapannya?" Gue mengacak-ngacak rambut gue. "Kayaknya nggak jadi, deh, bro," jawab gue. "Kenapa lo? Takut kalah? Sejak kapan Radja jadi cemen kayak gini?" Gue menghela nafas kasar. "Gue ada masalah." "Sama bokap lo lagi?" "Lo tau lah bokap gue kayak gimana orangnya?" "Hmm." Hanya terdengar dehaman dari seberang telepon. "Sorry bro," ucap gue menyesal. "Oke, santai, nggak papa." Gue menutup panggilan. Kemudian masuk kedalam salah satu aplikasi chatting. Entah kenapa, gue malah ingin menelpon Sheila. Sheila man, ini otak gue kenapa sih? Apa karena habis dipukul papa tadi? "Halo?" Terdengar suara dari seberang telepon. Gue...menelpon Sheila beneran. INI KENAPA GUE BISA TELPONAN SAMA SHEILA BENERAN? "Mm, halo? Radja?" Gue gelagapan sendiri jadinya. "Iya, Shei? Ada apa?" "Kok lo jadi tanya ke gue? Kan lo yang menelpon gue." "Eh, iya. Gue mau, mau apa ya?" INI KENAPA GUE BENERAN KAYAK ORANG b**o SIH?! "Lo waras kan, Dja?" Tuhkan! Bisa diketawain kalau gue kayak gini mulu. Gue menghembuskan napas perlahan. "Ekhem," deham gue. "Lo sibuk?" tanya gue. "Kenapa? Lo mau ngajak gue jalan? Sorry, gue nggak bisa," ucap Sheila. Gue tertawa mendengar respon Sheila. Ternyata tingkat kepedean gadis itu sangat tinggi. "Dih! Lo yang ngarep diajak jalan sama gue, kan?" goda gue. Sheila berdecak. "Trus lo mau ngapain, sih?! Ganggu tau!" Gue tersenyum miring. "Itu maksud gue! Gue mau gangguin lo!" "Gangguin yang lain aja, deh! Hobi banget, sih, buat gangguin gue. Makin suka engga, jijik malah iya." Gue terkekeh mendengar penuturan Sheila. Eh, tadi, apa? Makin suka? "Wait, tadi lo bilang makin suka? Berarti lo suka sama gue, dong?" Gue semakin gencar menggoda Sheila. "Dih! Apa-apaan sih, lo?! Udah ah, gue tutup. BYE!" Sheila memutuskan panggilan terlebih dahulu. Gue terkekeh. Apa-apaan gadis itu? Jadi dia suka gue? Sedetik kemudian, gue teringat semua fasilitas gue yang dicabut oleh papa. "s****n!" umpat gue. Tapi, kenapa diantara semua orang yang gue kenal, hanya Sheila yang mampu mengembalikan moodnya? Kenapa Sheila? Kayaknya beneran deh otak gue lagi nggak waras karena dipukul papa tadi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN