Setelah apa yang terjadi kemarin, otak gue mumet maksimal. Serupa kertas kumal yang diremas-remah jemari tangan, wajah gue ikutan kusut. Kalau bukan keturunan Dewa Yunani, kadar ketampanan pada diri ini pasti sudah anjlok sejadi-jadi.
Keruwetan ini berlangsung walau bel tanda istirahat pertama berbunyi nyaring. Siswa-siswi berhamburan menuju kantin termasuk gue. Di sana, sementara gue duduk tercenung, kawan-kawan mencoba menghibur sedari tadi, tetapi wajah gue tetap menekuk karena keras berpikir.
"Nih, siomay." Jatmiko mendorong sepiring siomay yang dipesankannya dari salah satu stand makanan di kantin sekolah.
"Teh angetnya minum," peringat Ivan.
Gue berasa menjadi perawan yang putus cinta. Tapi gue tidak mengatakan apa-apa, karena bibir ini enggan bersua.
"Udahlah, berhenti balapan bukan berarti hidup lo juga ikut berhenti." Agam menimpali, bibirnya berdecak tak habis pikir.
"Enteng lo ngomong," timpal gue datar.
"Lo udah kayak mayat hidup," komentar Dewa sembari menelisik penampilan gue, sampai-sampai menyingkirkan gelas jus Ivan yang menghalangi arah pandangnya.
"Bukan gini caranya." Bumi mencondongkan tubuh. Lengannya bertautan di atas meja, dengan siku sebagai penyangga.
"Iya, gue tau, gue harua cari akal supaya bisa tetep ikut balapan, kan? Gue dari tadi mikirin kendala itu." Gue mengembuskan napas sebal. "Yaudah sih, salah satu dari kalian tinggal pinjemin motor ke gue. Susah amat," imbuh gue setelahnya.
"Gak semudah itu. Kita, termasuk lo sendiri, udah diperingatin sama bokap lo buat enggak ikut balapan. Lo masih mau menentang?" Agam menukikkan alis tebalnya.
"Gue harus ikut turnamen itu. Titik," final gue tak terbantahkan, mengundang embusan napas pasrah kawan-kawan.
Saat ini yang gue butuhkan hanya ketenangan untuk menjernihkan pikiran. Lantas nama perpustakaan tercetus menjadi jawaban dari keinginan. Maka dengan begitu, gue manarik tubuh hendak beranjak dari kantin.
"Eh, mau ke mana lo?" Ivan berseru cukup nyaring, hingga membuat gue berdecak kasar tanpa disamarkan. Kalau sedang begini, gue menjadi mudah emosi.
"Kepo, lo." Demi apa pun, gue tidak berniat memberitahukan tempat persinggahan gue kepada mereka. Jika gua berbicara, ketenangan yang gue maksud tidak akan sama sebagaimana yang gue kira.
Walau gontai menapaki kaki, gue sampai juga di perpustakaan yang memang letaknya tidak begitu jauh dari kantin. Gue membuka pintu, dan tampaklah kesunyian yang gue dambakan. Setelah mengisi daftar tetamu, gue melangkah menuju bangku paling ujung. Berharap dari radius inilah gue menemukan ketenangan.
Gue duduk diam sementara pikiran melanglang buana. Segala hal yang gue prediksikan sebelumnya menjadi kacau. Jika dipikir-pikir, dari mana bokap tahu perihal ini jika tidak satu pun dari kami yang memberi informasi? Ah, simpan jawabannya. Gue sudah tahu tanpa perlu berpikir dua kali.
Pandangan gue menerawang ruangan, dan jatuh kepada salah satu pengunjung perpuskaan yang tengah menengadahkan wajah menelisik buku-buku novel di salah satu rak buku tak jauh dari tempat gue duduk. Dia Si Tengil bin Songong Shila. Jari telunjuk kanannya bertengger di dagu sementara tangan kirinya bersedekap mengangga lengan yang lain.
Seperti mendapat pencerahan, salah satu sisi otak gue berdenting. Gue menyunggingkan bibir merasa jenius dengan pemikiran sendiri. Tidak serta merta memanggilnya, gue malah mengambil salah satu koran lawas yang disampirkan pada rak khusus di belakang tubuh gue.
Eiyo! Sesuai dengan apa yang gue terka, Sheila duduk di salah satu kursi yang tak jauh dari gue duduk. Dia terlihat membawa satu buku novel romansa bersampul biru muda. Merasa diperhatikan, Sheila berpaling, dan gue segera menyembunyikan wajah di balik koran. Duh, jangan tanya kenapa, karena gue sendiri pun tidak tahu apa manfaat yang gue dapat dengan menutup-nutupi muka tampat bak Dewa Yunani gue seperti ini.
"Lo epik banget ya, baca koran lawas." Sheila mengomentari. Gue sekadar berdeham sebagai jawaban.
"Cara bacanya juga anti mainstream. Korannya kebalik, tapi lo kayak yang serius gitu," lanjut Sheila sembari terkekeh.
Seketika gue menurunkan koran s****n itu dari wajah dan memalingkan muka ke arah Sheila. Dia segera membekap mulutnya sendiri menahan tawa sebelum petugas perpustakaan menegurnya.
"Apa lo liat-liat?" sungutnya sebagaimana biasa kita bertemu. "Gue udah tau kalau itu lo," katanya terdengar mencemooh. Gue terperangah tak percaya. Kemudian mengangguk samar setuju karena memang bentuk tubuh gue gak akan pernah mudah dilupakan.
"Gue mau ngomong sesuatu," ujar gue serius tak berniat membuang waktu lebih lama lagi. Walaupun berbicara begitu, pandangan Sheila tidak juga terputus dari buku.
"Eh, songong, kalau ada yang ngajak ngomong tuh liatin orangnya." Gue merampas paksa novel yang Sheila pegang.
"Apaan sih, lo? Gak ada kerjaan banget!" protes Sheila.
"Dengerin dulu. Ini serius," perintah gue seraya melirik kursi penjaga perpustakaan yang ternyata tengah sibuk mencatat.
"Apa?!" katanya kelewat keras.
"Hei, yang di ujung sana, tolong pelankan suaranya atau keluar saja dari sini!" Tuh kan, si songong membuat onar, cibir gue dalam hati. Kami menggumam maaf dan tersenyum sopan. Sheila memukul ringan mulutnya sendiri.
"Salah elo nih!" tuduhnya.
"Kok gue sih? Elo yang ngomong, juga," bantah gue tak terima.
Sheila berdecak, ia meremas-remas tangannya geram di depan penglihatan gue. Hah? Dia pikir gue bakal takut? No way! Bocil begini doang mah gak ada apa-apanya.
"Cepet, mau ngomong apa?" katanya ketus.
Duh, gue sampai lupa maksud dan tujuan gue sebelumnya. "Lo punya vespa, kan?" tanya gue memastikan, walau sebetulnya gue mengetahui jawabannya. Ya, anggap saja itu sebagai pembuka obrolan.
Sheila mengangguk. "Terus?"
"Gue mau pinjem vespa lo buat balapan." Gue berterus terang karena sebentar lagi bel masuk hendak berbunyi.
"Waras, lo?" Sheila terkekeh.
"Ini urgen. Gue bener-bener harus ikut balapan!" tegas gue.
"Ogah! Lagian itu vespa punya engkong gue." Sebelum gue menyahut, Sheila kembali bersuara, "Entar kalau motornya kenapa-napa gimana? Dih, ngeri banget." Sheila menggeleng tegas. Ya, ya, gue tahu hal ini bakal terjadi. Penolakan demi penolakan yang Sheila utarakan adalah tantangan.
"Balapan itu satu-satunya jembatan yang terpikirkan oleh gue untuk membuat bokap percaya kalau ajang vespa ini legal, gak main-main. Gue juga mau ngebuktiin ke bokap bahwa gue bisa mandiri. Kalau gue menang, gue dapet duit," terang gue panjang lebar. Duh, kesannya gue curhat sama Sheila. Tapi balik lagi ke maksud dan tujuan, gue mencoba bersikap masa bodoh dan harus berhasil membujuk Sheila untuk meminjamkan motor vespanya.
"Lo bisa ngebuktiin dengan cara yang lain," kukuh Sheila. Gue berdecak, tapi mencoba tetap berpikir jernih.
"Vilanzer itu drajatnya udah jatuh banget di mata dia. Gue mau mengubah pola pikir bokap gue, Shei. Gue gak bisa melewatkan kompetisi ini. Enggak semuanya anak geng begajulan. Uang untuk hadiah di ajang itu juga, dapet dari sponsor, bukan taruhan." Gue tidak tahu raut wajah apa yang diperlihatkan. Namun tampaknya Sheila tengah menimbang-nimbang keputusan.
"Gini lho, kenapa gak pinjem ke temen-temen lo aja?" Sheila masih tetap pada pendirian.
Gue mendesah mencoba sabar. "Cuma lo harapan gue, Shei ...," ujar gue pelan tapi penuh penegasan sembari menatap lurus manik mata Sheila yang tampak gusar.
Air muka Sheila masih penuh keraguan. Dia melipat bibirnya, kembali menimbang-nimbang keputusan. Sementara itu, Gue harap-harap cemas di tempat duduk. Duh, Shei, jangan kelamaan mikirnya.
"Shei ...?" panggil gue.
Sheila menyandarkan punggung dan membuang napas berat. "Oke, gue bakal pinjemin motor vespa gue." Ada jeda sejenak. "Dengan satu syarat, lo harus jaga baik-baik. Jangan sampai ada lecet sedikit pun," lanjutnya penuh peringatan.
Gue cepat mengangguk. Terlampau gembira sampai-sampai hinggap keinginan untuk mendekap Sheila sekarang juga.
Gue mencondongkan badan ke arah Sheila. Dia memundurkan wajahnya panik.
"Mau apa lo?!" tekannya. Dia terkejut.
"Trims," ujar gue sebelum beranjak berdiri dan menepuk bahu Sheila dua kali, kemudian bel masuk pun berbunyi.