Keesokan harinya, gue meminta kawan-kawan untuk berkumpul di belakang sekolah sebelum bel masuk berbunyi. Mereka jelas kebingungan, karena tak biasanya gue meminta berhimpun di jam-jam begini.
Taman belakang sekolah cukup layak untuk dijadikan tempat diskusi. Ada kursi kayu berikut meja serupa yang nyaman untuk digunakan. Gue menyandarkan punggung. Geram dirasa ketika kawan-kawan belum juga datang padahal bel masuk sebentar lagi berbunyi.
"Ada apa, sih? Gue kebelet ke toilet, nih!" Lagi-lagi Agam berujar tak sabar.
"Tunggu semuanya kumpul dulu," ucap gue tanpa mengindahkan lipatan dahi Agam yang terduduk tak nyaman.
Tak berapa lama kemudian, para bujangan yang gue tunggu-tunggu datang menghampiri.
"Ada hal penting apa, Ja?" tanya Dewa sembari mendudukkan bokongnya pada kursi di seberang gue. Hal yang sama dilakukan Ivan, Jatmiko dan Bumi.
"Iya, gak biasanya," komentar Ivan yang diangguki bersama, termasuk gue sendiri.
"Jangan banyak bacot, deh! Buruan!" sela Agam yang duduknya semakin tak nyaman. Gue sudah mengusulkan untuk buang air di sebalik pohon saja, tapi dia menolak keras. Katanya takut dijahili dedemit. Ya, pada beberapa kejadian, Agam memang rada kolot.
"Kalian masih nganggep vilanzer, kan?" tanya gue sarkastik, melirik satu per satu wajah kawan seperjuangan yang tampak mendelik.
Dewa mewakili. "Iyalah, masih. Kenapa emang?"
"Kita udah lama gak action. Kalian gak kangen turun ke lintasan, apa?" Gue menaikkan dagu.
"Tunggu, tunggu." Ivan menyela. "Maksudnya, lo berniat ngajak kita buat balapan lagi?" Matanya memicing tak suka.
Gue mengangguk. "Tentu!" seru gue ambisius. "Gue udah lama gak kebut-kebutan. Gimana, kalian setuju?"
"Enggak!" tolak Agam mentah-mentah. "Gimana kalau lo ketauan ortu? Gak cuma lo yang diamuk, kita-kita juga jadi sasaran."
"Apalagi lo pernah kecelakaan," sambung Bumi.
Gue mendecap gemas. "Bokap gue gak bakal tau kalau dari kita gak ada yang ngasih tau. Tutup mulut. Kalau soal kecelakaan, itu udah lama berlalu. Gak ngefek lagi buat gue."
"Keras kepala banget, sih," komentar Jatmiko datar.
Gue mengembuskan napas kasar. "Ayolah, nanti malem bakal ada balapan yang enggak boleh dilewatkan. Kalian mau Vilanzer dipandang sebelah mata karena gak ikut?"
"Gue enggak mau diremehin." Dewa menekuri sepatunya. "Apalagi sama musuh."
"Ya, lo bener!" seru gue bergelora. "Nih ya, ajang ini bisa ngebuktiin kalau geng kita masih ada, gak hancur."
"Gue sih, kalau Dewa udah ngomong begitu, ikut-ikut aja." Jatmiko mengedikkan kedua bahu. Punggungnya bersandar dengan tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana.
"Kalau menang, gue dapat duit. Lumayan kan buat keperluan sehari-hari sama modifikasi." Gue tersenyum jemawa.
Agam mendesah. Ia tahu kalau dirinya tak dapat merubah keputusan gue. Akhirnya, mereka menyetujui walau tampak setengah hati. Tidak masalah. Mereka memang begitu, tapi sepenuhnya mendukung apa yang terbaik untuk Vilanzer.
Bel masul berdering nyaring sementara kami masih berkumpul. Kami sudah memutuskan untuk membolos sekolah bersama guna membincangkan strategi dan memodifikasi motor untuk balapan nanti.
• • •
Vespa Balap Indonesia atau biasa disingkat VBI, demikian nama komunitas tersebut, pertama kali mengadakan balap vespa di Bandung. Dan hingga saat ini, VBI telah memiliki anggota lebih dari 200 starter yang terdiri dari berbagai kalangan, mulai pengusaha, PNS, pekerja bengkel Vespa, hingga mereka yang bergerak di bidang industri kreatif.
Namun sebelum diterjunkan untuk balapan, Vespa harus dimodifikasi terlebih dahulu agar sesuai dengan keperluan balapan. Vespa yang dimodifikasi untuk balapan ini kemudian lebih populer dengan sebutan Vespa Racing.
Kediaman Agam menjadi sasaran empuk tempat memodifikasi motor. Selain memiliki peralatan yang lengkap, rumah Agam pun kerap kali lengang. Ruang gerak kami cukup bebas di sini.
Bagaimana caranya gue sampai kemari? Jelas dong membolos berjamaah. Kalau tidak mengotrak-atrik motor sekarang, gue gak bisa ikut balapan dan menyiapkan strategi. Kenapa ketua OSIS bisa bolos? Terserah gue dong, sultan mah bebas.
"Anggep aja rumah sendiri," kata Agam berbarengan dengan dibukanya pintu garasi. Serempak kami memasuki ruangan.
"Gue berharap ada camilan." Itu suara Ivan. Dia melempar tas kerempengnya ke sofa kulit.
"Jus jeruk kayaknya enak." Bumi menimpali. Dia mengelus-elus tenggorokannya dengan dramatis sementara gue, Dewa, dan Jatmika menggeleng-gelengkan kepala tak habis pikir. Mampus lo, Gam, salah ngomong, sih.
"Temen b*****t," maki Agam, namun tak urung juga dia melesat pergi dan kembali dengan nampan berisikan kue kering dan minuman.
Dengan gaya cool maksimal, gue membuka kemeja sekolah dan terpampanglah kaus hitam polos yang membungkus tubuh gue. Hal yang sama dilakukan kawan k*****t gue, tapi Ivan yang paling mencolok di antara kami. Dia mengenakan kaus berwarna putih yang di depannya tercetak jelas gambar kepala putri duyung yang tengah menyengir. Sontak kami tertawa terpingkal-pingkal.
"Ini tuh seni!" protes Ivan, telunjuknya menuding sablonan baju.
"Gak nyangka gue, sob!" seru Dewa dan kami kebali tertawa.
"Ayo ah, mulai," lerai gue sebelum Ivan mengapit leher Dewa di ketiaknya.
Dengan cekatan, gue meletakkan vespa di penyangga motor, dan mulai bekerja. Mula-mula, pada bagian bodi, umumnya step (pijakan kaki) dipindahkan ke belakang, seperti motor underbond. Sementara, stang dibuat agak ditekuk ke belakang, lalu buka lampu depan Vespa. Jika ingin lebih keren, ganti stang dengan stang milik Vespa Excel. Gue tidak menggantinya, karena merasa sayang dengan duit. Lagian, modal keren doang belum tentu menang.
Gue mengganti ukuran karburator menjadi 24:24. Tujuannya, agar napas Vespa menjadi lebih panjang. Tadinya, gue mau mengganti karburator Vespa dengan milik Kawasaki Ninja atau Yamaha RX King. Namun jika dipikir-pikir, ukuran karburator 20:20 juga sudah cukup. Untuk knalpot, gue menggunakan knalpot DRC atau Sito. Pasalnya, knalpot sangat berpengaruh terhadap laju Vespa. Sedangkan pork, gue memakai pork milik Vespa Super.
"Mending pake pork Vespa PS, lebih stabil kalo ngelintasin trek lurus dan tikungan," usul Dewa.
"Sini bagi duitnya," todong gue.
"Tau melarat, belagu banget sih mau ikut balapan," seloroh Ivan sembari terkekeh.
"Justru karena gue kere, gue mau ikut balapan biar dapet duit." Gue melempar lap kumal bekas mengelap karburator. Ivan mencibir dan kembali melempar kain itu ke arah gue.
"Ganti juga tuh kopling standarnya sama kopling racing, pake kampas 4." Bumi menyahut dari samping gue. Dia tengah mengelap-elap bodi vespa-nya
Untuk bagian blok, gue memakai blok racing PINASCO atau MALOSSI yang memiliki enam lubang bilas, plus seher dan head silinder. Dengan kata lain, kapasitas mesin berubah dari 150cc menjadi 200cc. Kata Agam, sekalian aja potong miring bodi bagian belakang dan tepong agar Vespa tampak “nungging”. Sementara untuk warna bodi, perpaduan merah dan hitam tampaknya cocok dengan gue.
• • •
Sementara itu, pada jam istirahat pertama kala siswa-siswi berhamburan menuju kantin, Sheila tidak melihat Radja barang sehelai rambut pun. Padahal biasanya perempuan itu selalu melihat Radja dan kawan-kawan dekatnya berkerubung di salah satu meja di sana. Karena penasaran berat, Shela menghadang langkah Elvina yang akan melewatinya. Eits, jangan berspekulasi jikalau Sheila merasa khawatir atau terlalu ingin tahu perihal Radja. Sheila hanya ingat kalau papanya Radja meminta Sheila untuk memata-matai anaknya.
"Liat Radja gak, Kak?"
"Enggak tau, Ivan juga gak masuk kelas," jelas Elvina ketika Sheila memicingkan mata.
"Lho, kok, bisa barengan ya?" heran Sheila.
"Kayaknya Agam juga gak ada deh," terka Elvina.
"Berarti mereka sengaja gak masuk, bolos." Sheila mengacungkan telunjuknya gemas.
Elvina berdecak. "Udah gue duga. Awas aja Ivan, bakal gue kasih pelajaran tuh cowok!"
"Tempat kumpul mereka biasanya di mana?" tanya Sheila tak sabar.
"Rumah Agam. Emang kenapa? Lo mau ke sana?" Belum sempat Sheila menjawab, Elvina kembali berucap, "Eh, gue duluan ya, dipanggil temen." Elvina menepuk bahu Sheila sebelum berlalu mengejar kawan-kawannya yang menjauh meninggalkan kantin.
Ho-ho. Untung saja Sheila tahu alamat rumah Agam. Jadi dia akan pergi ke sana dan izin dari sekolah dengan alibi sakit perut.
• • •
Sheila merasa seperti detektif yang tengah menangani kasus berat ketika ia mengendap-endap di serambi rumah Agam. Keren abis! Diam-diam ia mengikik. Untung saja gerbang jangkung itu tidak dikunci, dan tak ada penjaga rumah seperti satpam yang menjulang seperti patung. Aman terkendali.
Samar-samar suara tawa beberapa orang terdengar dari bagasi. Sheila kembali melangkahkan kaki menuju sumber bunyi. Perempuan itu menyembunyikan diri di sebalik tanaman hias lidah mertua berpot jumbo. Sheila hampir memekik karena mendapati Radja dan teman-temannya tengah berjibaku dengan motor vespa.
"Kayaknya mereka mau ada balapan, nih," terka Sheila sepelan mungkin. "Gue harus ambil foto buat bukti."
Sheila mengambil potret mereka, tak lupa dengan mengaktifkan mode air waktu. Setelahnya, ia mengirimkan foto itu kepada papanya Radja untuk laporan selaku mata-mata. Selesai. Sheila mengantongi ponselnya dan kembali berjalan mengendap-endap sebelum menubruk pot bunga yang lain. Huh, untung tidak sampai terjungkal.
"Siapa itu?" Terdengar suara Dewa. Sheila menahan napas sementara kakinya terpaku.
"Paling kucing." Sheila mendesah lega mendengar jawaban Agam, kemudian sedikit berlari kecil ke arah gerbang.
"Kalau sampe mereka keluar, bisa mati gue," ujar Sheila sembari membawa langkahnya tergesa-gesa meninggalkan kediaman Agam.
***
Handphone Sheila berdering, sebuah pesan dari papa Radja
'Itu pasti di rumah Agam kan Sheil? Om akan segera negur mereka kesana sekarang juga.'
Sheila terperanjat saat membaca pesan dari papanya Radja. Dia tidak menyangka kalau papa Radja akan bertindak langsung menegur mereka, entah kenapa ada rasa iba di hati Sheila, melihat para bujangan tampan yang berkeringat membenarkan mesin motor vespa dengan susah payah. Entah kenapa dimata Sheila memang rasanya ingin membuat mereka itu jera agar tidak lagi ikut balapan, tapi sepertinya semua itu sia-sia. Namanya laki-laki pasti memiliki jiwa 'lidah liar'. Jiwa-jiwa bebas yang harus terlampiaskan. Sembari menunggu pesanan es dawet yang ia pesan, Sheila sibuk memikirkan bagaimana membalas pesan papanya Radja. Bagaimana mencegahnya agar tidak menegur mereka langsung?
"Neng? Neng? Eneeengg?" panggil bapak penjual es dawet memberikan pesanan Sheila.
Sheila kaget, lalu membalikkan tubuhnya dan tepat dia menoleh matanya bertatapan dengan mata Radja. Hampir saja bibir mereka menyatu karena sangat dekat, hampir tidak ada jarak.
*
"Woi pesenin gue es dong Rad!" kata Bumi yang sibuk memasang knalpot.
"Waduh ya kali gue jalan ke depan g**g beli es dawet," balas gue yang lagi malas banget buat keluar dan beradu sama teriknya matahari.
"Kalau lo mau beliin gue es dawet, gue kasih deh skin Mobile Legend gue," sahut Grinza yang dua jempolnya asik main hp dari tadi.
Gue langsung bangkit saat Grinza ngomongin soal skin ML. Gue emang lagi ngincer skin punya Grinza.
"Gue tambahin, gue tingkatin deh level lo di Dragon Nest ntar!" ucap Dewa yang juga sibuk membantu Bumi memasang knalpot.
Gue gak pikir dua kali lagi dan langsung jalan menuju mang Rosi yang jual es dawet di depan g**g. Lo tau? Kenapa namanya Rosi? Karena gue yakin, dia satu-satunya penjual es dawet yang jualan pake becak motor, sumpah kreatif banget mang Rosi, dulunya emang tukang becak yang cuma nungguin ada orang yang mau naik becaknya, tapi sekarang dia modifikasi becaknya jadi becak motor, dan hebatnya lagi, ada dagangan es dawet di bagian belakang tempat duduk penumpang. Out of the box banget pikiran si mang Rosi, dia sekarang bisa ngehidupin anak-anaknya buat kuliah di UGM. Hebat kan? Bener-bener bapak yang bertanggung jawab.
Gue berjalan menuju mang Rosi, dari kejauhan gue bisa liat sosok seseorang yang gue kenal, kayaknya sih kenal, body belakangnya kaya papan triplek, siapa lagi kalau bukan si Sheila yang pernah jadi mimpi basah gue. Ampun! Gue geli inget adegan mimpi gue yang enggak e****s tapi cukup bikin gue pelepasan. Cuman ngelumat bibir dia padahal. Astaga, gue malah mikirin lagi kan. Entah kenapa itu adegan nempel sama memori di otak gue.
"Sheil? Sheila?" sapa gue dari samping kiri, tapi dia malah diem aja megangin hpnya, matanya memandang kosong jalan raya yang ramai lalu lalang kendaraan.
"Sheil?" kedua kalinya gue manggil, gue milih buat iseng mau ngagetin dia pas dikupingnya.
Baru aja gue deketin muka gue ke samping telinganya, dia malah noleh ke arah gue, mampus deket banget, hampir mirip kaya di mimpi gue, bibir merah mudanya itulo selalu nggoda gue, pengen rasanya narik dia lebih deket. Eh? Gak gak! Najis!
Refleks dia dorong badan gue menjauh,
"E-elo!" Sheila tergagap liat wajah gue yang ganteng ini, yah walaupun bau keringet dan ada oli yang nempel di muka gue, aura kegantengan gue pasti memancar.
"Ngapain lo disini?" ucap kita barengan. Cie kita ngomong barengan apa gue sama dia jodoh? Mampus! Gue mikir apaan sih? Otak gue kayanya konslet gara-gara mimpi basah.
"Neng es nya neng, astagfirullah neng.." ucap mang Rosi sambil nutup matanya pake tangan kiri.
"Mang kenapa mang?" tanya gue bingung liat mang Rosi yang nutup matanya pakai sebelah tangan.
"Kalian teh kalau mau anu, jangan disini atuh, lagipula kalian teh masih sekolah, enggak baik atuh Radja begituan sebelum menikah," ucap mang Rosi, mampus aja gue, dikira mau sesuatu sama Sheila. Tapi Sheila cuek dan ambil es dawet pesenannya dari tangan mang Rosi
"Yaampun mang, itu tadi enggak sengaja mang, lagi pula belum kena bibirnya kok," ucap gue polos yang dibales sikutan sama Sheila.
"Mang, pesen es dawetnya tujuh ya mang!" ucap gue ke mang Rosi lalu dibalas anggukan dan gue duduk disamping Sheila yang asik nyeruput es dawetnya.
"Lo.. disini ngapain?" tanya gue sama Sheila, gue sih curiga, dia pasti mata-matain gue karena gue bolos sekolah.
"Beli es dawet," jawabnya singkat
"Ngapain lo beli es dawet jauh dari sekolah?" tanya gue menyelidiki Sheila.
"Apaan yang jauh? Rumah gue itu emang enggak disini, tapi gue mau kerumah eyang gue," sahut Sheila
Dia laly fokus sama layar handphonenya dan mengetikkan sesuatu disana, entah dia jawab pesan siapa, tapi raut wajahnya kaya bingung campur serius.
"Dimana rumah eyang lo?" tanya gue lagi
"KEPO!" jawab Sheila cuek
"Serah!" balas gue yang enggak mau kalah
"Lo ngapain sih kayanya sibuk banget buka hp terus dari tadi? Kalau ada yang ngajak ngomong itu diliat mukanya, jangan main hp, gak sopan lu sama ketos!" ucap gue
"Sorry, gue cuma.. lagi pusing aja, btw lo sendiri? Ngapain kesini? Rumah lo bukannya di Royal Residence? Perumahan elite itu?" tanya Sheila, kali ini dia tanya dengan natap mata gue. Entah kenapa Rambutnya yang terbang kena angin bikin dia keliatan cakep sumpah! Astaga Radja! Sadar!
"Em.. gue kerumah Agam," ucap gue singkat
"Ngapain? Enggak takut dimarahin bokap lo?" tanya Sheila
"Enggak, gue gak suka bokap gue yang selalu mengekang, lagi pula gue enggak salah kok, gue jatuh cinta sama hobby gue, dan gak boleh ada satupun orang yang ngehalangin hobby gue," jelas gue.
"Hobby? Apa emangnya hobby lo?" tanya Sheila
"KEPO!" balas gue
Sheila mendengus kesal karena ucapannya gue tiruin. Gue bangkit berdiri dan membayar pesenan dawet mang Rosi, lalu gue pamit pulang. Anehnya si Sheila malah ngikutin gue jalan kerumah Agam.
"Lo ngapain buntutin gue?" tanya gue bingung
"Idih! Gue mau pulang ke rumah eyang gue!" jawabnya menyolot, heran gue, ada ya cewek galak kaya gini, enggak bisa apa slow gitu jawabnya.
"Eh Radja! Agam ada kan dirumahnya?" tanya Sheila tiba-tiba
"Ada, kenapa emang?" tanya gue balik
"Gue mau ambil headset gue, kemarin dipinjem sama dia," ucap Sheila tersenyum.
Kenapa dia tiba-tiba senyum pas nyebut nama Agam?? Gue gak salah liat kan? Waduh bahaya ini, siaga satu ini namanya, jangan-jangan Sheila ada rasa sama Agam? Enggak, enggak mungkin dan enggak boleh!!
Gue hanya jawab mengangguk dan biarin dia ngikutin gue jalan disamping gue, lucunya langkah kaki kita sama, kanan kirinya. Pas sampai dirumah Agam Sheila menyapa semua anak geng gue dan yang paling absurd pas gue ngeliat dia senyum ke Agam dan centil minta headsetnya balik. Aduh! Gue gasuka liat dia senyum ke cowok lain.
"Kalian lagi modifikasi vespa?" tanya Sheila
"Iya," jawab Ivan sambil minum es degannya
"Jadi gosip kalian anak VBI itu bener?" tanya Sheila yang sukses bikin gue tersedak
"Lo denger gosip-gosip kita dari mana sih?" tanya gue sama Sheila serius
"Ya pasti tau lah, semua cewek di SMA Gemilang itu suka gosipin kalian," ucap Sheila yang matanya terus menatap Bumi sibuk membenarkan knalpot, keliatannya dia tertarik buat ikutan bengkel.
"Kalau liat kalian gini, gue jadi inget vespa eyang gue, apa gue ikutan juga ya jadi anak VBI? Pasti seru!" ucap Sheila girang.
Gue hanya melongo, Sheila? Mau ikutan balapan?
***
Setelah gue dan yang lainnya selesai modifikasi motor, kami langsung menyiapkan perlengkapan-perlengkapan lain untuk balapan. Mulai dari mengecek helm, mengisi bensin, membeli baju balapan dan yang terpenting adalah DAFTAR agar menjadi peserta. Sebelum itu kami wajib latihan terlebih dahulu untuk mengurangi resiko jatuh dan tergelincir. Sheila menonton kami selama latihan. Dan setelah kelar latihan gue ngeliat mukanya lebih ceria dari pada biasanya.
"Kayaknya gue bakal ikut kalian untuk masuk VBI deh. Seru banget soalnya."
"Skuy aja. Gue mah setuju banget." Sambar Ivan
"Tapi gue harus modifikasi motor vespa eyang gue juga. Kalian boleh bantu gak?"
"Boleh banget Sheil. Apalagi lu bisa sekalian buat pdkt sama Radja wkwk." Agam menambahkan
"Mana ada!" Jawab gue dan Sheila bersamaan
"Cie barengan mulu." Ledek Dewa
"Udahlah ngomongnya jangan ngelenceng. Sheila kalau lu mau ikut balapan, modifikasi motor eyang lu segera. Lusa kita udah balapan. Minimal besok lu harus udah modifikasi sama latihan." Ujar Radja
"Oke, soal itu kalian tenang aja." Sheila meyakinkan
***
Keesokan harinya, ternyata Sheila sudah berada di rumah Agam terlebih dahulu. Bersama Dewa dan Ivan. Gue telat bangun nih kayaknya. Gue langsung keluar dari kamar menuju halaman rumah Agam tanpa mencuci muka atau mandi terlebih dahulu. Duh emang oon nih gue. Pantesan Sheila bilang gue jelek banget.
"Woi, udah pada modif? Gam, kok lo gak bangunin gue si?"
"Udahlah. Udah dari tadi malah. Bangun pagi makanya!" Jawab Ivan
"Males gue bangunin lo lagi. Nanti takutnya anu lagi kayak kemarin."
"Anjir. Ngapain Gam si Radja kemarin? Anu-anuan sama siapa? Di rumah lu? Bjir." Sambar Dewa
"Ssttt! Anjir si Agam. Rahasia kita aje Gam."
"Ogah gue main rahasia-rahasian sama lo wkakak. Jhe si Dewa, giliran bahas yang kayak gituan aja lo cepet."
"Udah woi anjir! Ada cewe nih disini. Gak enak. Kita lanjut nanti malem aja." Radja menyudahi
Setelah pembicaraan gak jelas tersebut gue menatap muka Sheila. Dia terlihat seperti bodoamat dan sangat fokus pada vespa nya. Gue heran, dia daritadi udah liat gue atau belum sih? Atau masih belum sadar? Atau pura-pura gak liat dan gak denger? Wah jangan-jangan nih triplek pura-pura polos. Padahal enggak.
Tanpa pikir panjang gue langsung nyamperin Sheila untuk berniat mengagetkan dia. Tapi, s**t! Keadaan membuatnya berbeda. Kini gue dan Sheila kembali berdekatan seperti di tukang es dawet kemarin. Dan parahnya kini bersentuhan. Gile! Jijik gue! Duh oon banget gue.
"Duar! Sheila!" Gue yang mulai ngagetkan dari samping
"Ap-a-an?" Jawab Sheila terbata-bata
Kami berdua sempat hening sejenak. Gue mendengarkan detak jantung Sheila yang tidak beraturan. Gue jelek aja dia masih deg-degan apalagi kalau gue kayak biasanya.
"Woi! Kalau mau anuan di dalem jangan disini! Untung sepi."
"Tau anjir, udah pagi. Nanti malem aja. Duh duh."
"Emang nih si Radja kebelet banget kayaknya. Ngebet lo."
"Cih! Wlee." Sheila mendorong tubuh gue dan melepehkan ludahnya
"Ngapain si lo?! Udah 2 kali tau! Dasar omes!" sambung Sheila
"Dih siapa suruh lu nengok secara tiba-tiba. Orang gue niatnya mau ngagetin doang. Pede lo!"
"Masa orang mau nengok harus bilang dulu? Namanya juga gerakan refleks!"
"Jhe, gue juga refleks kalau gitu!"
"Bawel lo. Udah bau mending lo mandi dulu daripada ngoceh mulu. Puyeng!"
"Ekhemm!" Mereka batuk secara serempak
"Berantem mulu. Gak bosen apa? Kali-kali bikin berantem yang berbeda."
"Berbeda kayak gimana wa?"
"Berantem di ranjang sono lo! Puas? Biar gak bosen-bosen."
"OON!" Jawab kami serempak diikuti suara Sheila
Setelah gue bersiap-siap dan telah rapi. Gue langsung membantu mereka untuk memodifikasi motor vespa eyangnya Sheila. Ternyata sulit dan gak segampang yang gue bayangin. Kita harus mengganti mesinnya, mengganti ban, mengisi oli dan bensin serta mengecat vespanya. Sedangkan di rumah Agam ini kita tidak memiliki mesin motor cadangan. Mau tidak mau kita harus membawanya ke bengkel. Dan yang membuat gue sebel adalah mereka baru selesai mengganti ban! Padahal ini udah mau jam 11.00 sebentar lagi makan siang. Mau gak mau kita harus break dulu. Belum lagi ke bengkelnya dan Sheila juga harus latihan terlebih dahulu. Menyiapkan helmnya, membeli baju, dan mendaftar. Gue gak tau ini berjalan sampai jam berapa?
"Dari tadi lu pada ngapain aja? Lama banget baru selesai ganti ban. Sedangkan ini udah mau jam 11.00. Kita belum nyiapin yang lainnya."
"Tadi gue yang datengnya kesiangan sorry. Gue dateng jam 09.00 dan itupun gue dan temen-temen lo yang lainnya gak langsung kerja. Gue nungguin Agam setengah menit buat bukain pintu, trus gue juga nunggu Dewa sama Ivan setengah menit juga. Kalau di kira-kirain tadi mulainya udah jam 10 lewat." Jawab Sheila
"Tadi kita juga ngebersihin kerak-keraknya dulu Ja, baru ganti ban." Sambar Agam
Ha? Gue gak salah denger kan? Kasian amat tuh tripleks dikunciin diluar selama setengah menit. Kering-kering dah lo. Trus kenapa jadi bela-belaan juga? Kan sebenernya niat gue teh cuman nanya bukan ingin menyudutkan seseorang. Susah emang kalau jadi orang baik mah. Tapi kok rasanya panas ya hati gue? Kalau Sheila dilindungin orang lain, apa jangan-jangan? Gak lah! Gak akan mungkin! Dan gak akan pernah terjadi!
Setelah sekian lama kami memodifikasi akhirnya selesai juga. Kini motornya hanya tinggal diganti mesin dan sekalian dicuci ditukang bengkel nanti. Sehabis itu kita mendaftar dulu, beliin bajunya Sheila baru ke lapangan untuk latihan seperti biasa.
Cantik. Itulah satu kalimat pertama yang gue lontarkan setelah motornya selesai. Bener ya, usaha gak bakal ngehianatin hasilnya. Cantik, bersih dan mengkilap. Serasa adem dan tenang di hati saat melihat vespa ini. Saat seperti gue melihat wajah cantik Sheila pertama kali. Keduanya mirip. Duh apa-apaan?! Kenapa gue selalu keceplosan bilang kalau Sheila cantik? Untung gak ada yang bisa baca pikiran disini.
Setelah semuanya sudah siap. Kami pun langsung kembali berlatih. Mulai memakai helm dan baju yang telah kami beli masing-masing. Gue tadi kayaknya ngeliat Sheila susah memakai helmnya. Akhirnya gue bantu, untung kali ini gue gak kembali baper. Tapi, sebentar. Kenapa helm Sheila terasa begitu berat daripada helm gue dan yang lain. Serasa tidak sepadan. Gue takut Sheila akan keberatan memakai ini dan menjadi tidak seimbang ketika latihan nanti. Semoga yang gue bayangkan kali ini tidak menjadi kenyataan. Gue gak ingin Sheila terjatuh apalagi sampai terluka parah seperti gue dulu. Gue juga takut ke flashback nantinya. Semoga semuanya aman. Terkedali dan Nyaman.
***
Tanpa menunggu berjam-jam, Sheila nekat untuk berlatih balapan, menurutnya balapan itu sebenarnya tidak sulit jika kita sudah pro.
Tapi gue pikir, Sheila belum pro sama sekali. Tapi kalau mau mencoba tidak ada salahnya, jadi gue izinin deh. Mencoba lalu gagal bukan berarti nyerah.
Pertama-tama dia sudah melihat cara dan taktik gue balapan, hanya saja kata dia, dia belum pernah naik motor Vespa. Jadi bagi dia ini adalah first time! Gue ragu dengan kemampuan dia menaiki motor.
Tapi gue takjub dengan semangat gelora dia untuk berlatih, gue menghela nafas saat dia terus menerus berceloteh agar tidak usah berlebihan.
"Jangan raguin gue lo!" ujar Sheila dengan sengit dan mata yang menyipit membuat gue gemesh sendiri.
"Kalau terjadi apa-apa dengan lo, jangan salahin gue pokoknya," ujar gue sambil menatapnya lekat.
"Iya-iya tenang aja sih, enggak usah panik gitu, dan jangan ngomong gitu. Kalau gue jatoh beneran gimana?" tanya Sheila yang membuat gue kembali menghela nafas.
"Makanya enggak usah deh, ntar terjadi apa-apa gue yang disalahin," ujar gue lagi.
"Tenang aja sih! Gue bisa," ujarnya bersemangat.
Gue mengangguk karena percuma jika berdebat dengan kemauan dia.
Sheila memakai helmnya dan naik ke motor, dia tersenyum ke arah gue. Cantik, gue akui dia cantik.
"Ngapa lo senyum-senyum? Enggak waras ya?" tanya gue
"Emang salah kalau gue senyum?" tanya Sheila membuat gue menggeleng.
"Yaudah gue coba ya?" tanyanya sedikit ragu.
Dia menyalakan motornya, perlahan dia menggas.
"Heh!" tahan gue.
"Kenapa sih?" tanya Sheila
"Lo hati-hati pokoknya!" ujar gue khawatir.
Tunggu? Kenapa gue jadi khawatir sama dia sih? Dia aja bukan siapa-siapa gue! b**o banget sih gue.
"Lo kok sok perhatian banget sama gue ya?" tanya Sheila menerawang.
"Ck! Siapa yang perhatian. Cuman takut aja tuh motor lecet gara-gara lo yang bawa," ujar gue berbohong jelas-jelas gue emang takut kalau dia kenapa-kenapa.
"Oh gitu, enggak bakal." Sheila berucap
"Woi jadi enggak ini Sheilanya latihan? Kalian ngomong mulu dari tadi," ujar Ivan melerai gue dan Sheila.
Gue pun menyingkir dan duduk di area penonton siap untuk melihat aksi dari Sheila. Dia sepertinya memang sangat kukuh sama pendirian.
Saat dia menggas, motornya perlahan berjalan. Awalnya dia tidak seimbang membuat gue berdiri dari tempat duduk tapi melihat dia fokus gue kembali duduk, gue menatap botol air minum di samping gue.
Saat gue ingin mengambil botol itu tiba-tiba..
BRUKH!
"Sheila, Ja!" teriakan Histeris dari Elvina membuat gue menoleh dengan cepat berlari ke arah Sheila yang tertindih dengan motor.
"Aww," ringis Sheila membuat gue ngilu. Aduh kenapa bisa jatuh si Sheil.
"Cepet bawa dia ke rumah sakit," titah gue.
Gue menggendong Sheila. Kayanya gue udah kebiasa gendong dia kemana mana.
Tak cukup waktu lama sampai di rumah sakit, Sheila langsung di rujuk ke ruangan.
Gue menunggu di ruang tunggu. Sambil mengetuk-ngetuk kursi.
Dokter keluar, gue dengan cepat lari menuju dokter. "Dia baik-baik aja kan dok?" tanya gue.
"Tenang, tidak ada yang serius beberapa luka di bagian tangan dan kakinya, cuman butuh obat dan istirahat saja," jelas Dokter.
"Bisa saya bertemu dia?" tanya gue.
"Silahkan," ujar Dokter. Setelah mendapat jawaban gue langsung masuk dan berjalan menuju Sheila yang terbaring.
"Lo nggak apa-apa?" tanya gue pelan.
Sheila menatap gue sendu. "Ciah elah! Enggak papa kali, gini doang." Sheila seperti baik-baik saja.
Gue melihat luka di bagian siku dan kakinya langsung menatap dia datar.
"Gue udah bilangkan, mampus jatuh!" ejek gue.
"Ih kok lo ngeselin sih?" tanya Sheila sambil memanyunkan bibirnya.
"Siapa suruh keras kepala, oh ya. Gue mau beli sesuatu nih, lo mau apa?" tanya Gue.
"Tumben Lo baik, kesambet apaan?" tanya Sheila.
"Ck! Kalau enggak mau yaudah," ujar gue hendak melangkahkan kaki.
"Eh beliin bubur ayam ya!" ujar Sheila semangat gue cuman mengangguk.
Gue keluar rumah sakit dan mencari penjual bubur, dan ya. Penjualnya tak jauh dari rumah sakit. Syukur.
Dengan cepat gue memesan, setelah itu membayar dan kembali ke rumah sakit.
"Nih bubur pesanan lo," ujar gue memberi.
Sheila hanya menatap bungkusan.
"Kenapa?" tanya Gue.
"Lo pikir gue bisa makan? Dengan tangan luka kayak gini?" tanya Sheila garang.
"Yaudah ih, sini gue suapin," tawar gue.
Wait? Untuk kali ini sepertinya gue harus jadi orang baik buat Sheila. Cuman hari ini!
Gue membuka bungkusan itu lalu mulai menyuapi Sheila. Dengan lahap dia makan, tanpa sadar tangan gue bergerak membersihkan sisa bubur yang melengket di bibir dia.
Tatapan kita bertemu saat itu juga. Tunggu kok jantung gue berdetak lebih kencang dari biasanya ya?
Sheila membuang tatapannya dengan ragu. "Makasih," ujarnya pelan bahkan seperti lirih.
Gue mengangguk lalu kembali menyuapi dia dengan pelan dan lembut. Gue mengaduk-aduk bubur itu, Sheila menatap gue dengan tatapan sulit diartikan. Gue menatap dia heran.
"DUARR!!" Teriakan itu membuat gue dan Sheila menoleh.
"Cie yang lagi suap-suapan," goda Agam.
"Aduh kayaknya benci bakal jadi cinta nih, udah ada tanda-tandanya," ejek Elvina.
"Oh ya kalian cocok dan so sweet tau enggak?" tanya Ivan
"ENGGAK!" ujar Gue dan Sheila barengan seketika kita saling tatap menatap lagi.
"Cie kompakan," goda Agam lagi.
"Apaan sih! Gue cuman bantu dia buat buat makan doang t***l, tangan dia lagi sakit," jelas gue dibalas anggukan Sheila.
"Iya! Kalian datang malah ngagetin lagi," kesal Sheila.
"Ngagetin atau ngeganggu?" tanya Ivan spontan.
"Ck! Punya temen kok modelan kek gini ya?" Melongo gue.
"Udahlah, kalian kalau saling suka bilang aja sih. Enggak usah malu-malu gitu," ujar Elvina
"KATAKAN SAYANG BILA SAYANG, KATAKAN CINTA BILA CINTA. JANGAN COBA BERPURA-PURA SEPERTI TAK ADA RASA." Ivan bernyanyi.
"Bucen lo," ketus gue.
"Hadeuh emang kenyataannya begitu kan? Jujur aja sih, lagian lo Ja, sering curhat bilang suka Sheila kan?" ujar Agam asal-asalan.
"Apaan coba! Fitnah! Ingat fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan," ujar Gue.
"Tanpa lo bilang juga gue udah tau kali, entar fitnah itu bakal jadi kenyataan," ujar Agam dengan tawanya.
Keributan akibat Ivan dan Agam terdengar jelas di ruangan ini. Saat sibuk dengan aksi mereka. Ada yang membuka pintu.
"Permisi? Kalian jangan ribut ya, ini rumah sakit," ujar suster itu lalu menutup pintu ruangan itu.
"Mampus! Makanya datang ke sini buat jenguk malah bar-bar," ujar Elvina.
"Lo juga ya," ujar Agam.
"Serah," jawab Elvina.
Sheila hanya tertawa melihat teman-temannya yang belum lama ini sudah sangat akrab.