“Hati-hati lo itu kalau jalan,” ucap Sheila
Gue memutar bola mata malas, gue tau dia perhatian kaya gini pasti gara-gara bokap nyuruh dia jadi mata-mata gue, cih! Dasar cewek matre. Pasti bokap udah ngasih cek ke dia, gue yakin 100%. Gue gak nyangka, gue kira Sheila itu cewek baik yang beda dari cewek lainnya. Kenyataannya dia gak jauh beda sama bunga Raflesia, cantik tapi busuk. Liat aja lo Sheil, gue bakalan balas dendam.
“Gausah pegang-pegang tangan gue,”
Gue berjalan memegang tiang infus sendiri menuju kamar mandi, gue ngelirik sekilas, bokap gue menenagkan Sheila yang kaget tiba-tiba hari ini gue jadi galak sama dia. Gue tau Sheila pasti bingung kenapa gue kaya gini. Gue pengen hidup bebas tanpa terkekang, gue pengen ngelakuin apa aja yang gue mau. Dia kira siapa? Mau mata-matain gue di sekolah, jangan harap!
“Selamat sore ... “
Gue denger suara Bumi, sebelum gue masuk kamar mandi gue ngintip. Ternyata bener satu geng gue lengkap. Iya lengkap sama parsel buah dan gue gak tau apalagi yang dibawa ditangan Ivan bungkusan plastik putih berlabel ‘Indoapril’. Gue lanjut masuk ke kamar mandi tanpa jawab salam mereka, udah gak kuat, kebelet.
Samar-samar gue bisa denger bokap gue yang bicara sama mereka, entah kenapa gue takut aja bokap bakalan ngamuk sama mereka.
“Kalian lagi, ngapain kesini?” suara bokap gue.
“Kita.. kesini mau jenguk Radja om,” ucap Mars
Gue langsung keluar kamar mandi setelah nyelesaiin hajat gue. Sebelum perang dimulai. Bokap gue orang yang perfeksionis dan khawatiran udah kedengeran ngomelin mereka, gila aja kan baru aja mereka dateng udah marahin temen gue.
“KALIAN SEMUA PULANG! RADJA ENGGAK BUTUH TEMAN SESAT KAYA KALIAN!” teriak bokap gue
“Pah..” panggil gue dan sontak semua noleh. Kepala gue masih agak pusing sih tapi kalau soal geng gue, gue harus ada di paling depan
“Kamu enggak usah ikut campur! Sana kembali naik keatas kasur!” ucap papa dengan nada tinggi
Sheila bantu gue buat naik ke atas kasur, merapikan sedikir sprei gue yang berantakan. Gue enggak tau lagi harus gimana. Kenapa sih papa kalau liat geng gue kayanya negative thingking terus. Ada masalah apasih? Bukannya masalah gue yang lalu udahlah biar berlalu? Ini udah lebih dari dua tahun sejak kejadian kaki gue patah, kenapa masih diinget sih, lagi pula kaki gue sekarang baik-baik aja.
“Pa, biarin lah Pa mereka jenguk aku, mereka kan temen aku Pa,” ucap gue merengek.
“Oke, kali ini Papa biarin kamu sama temen kamu bergaul! Tapi ingat kalau sampai papa ngelihat kamu berulah lagi, papa gak akan segan buat mindahin sekolah kamu!” ucap papa gue.
Papa gue cuma menghela napas dan keluar dari kamar. Mungkin papa juga capek sama gue yang bandel. Iya gue emang sayang sama temen-temen gue, sahabat yang selalu ada buat gue, ya cuma mereka. Gue tersenyum sama mereka semua dan nepuk-nepuk kasur gue, nyuruh mereka masuk, gue udah gak sabar makan apa yang mereka bawa.
***
Gue benci saat di mana gue gak pernah di hargai, selalu di kekang dan yang lebih parahnya apapun cita-cita serta hobi gue gak pernah di dukung. Mereka selalu ingin di mengerti tapi mereka tidak pernah mau mengerti. Gue sebenarnya udah nyerah, gak tau mau bersikap gimana lagi sama mereka. Sikapnya membuat gue tutup mata dan kelakuannya membuat gue kunci hati yang gak tau kapan gue bisa membukanya kembali.
"Kamu buktiin dulu ke papa kalau temen-temen kamu itu emang gak berandalan, bisa papa percaya dan mereka bisa membawa kamu dalam prestasi yang baik. Bukan seperti sekarang, nilai kamu anjlok, gak pernah dapat rangking lagi. Kamu semakin memburuk sejak SMA, tidak seperti SMP dulu. Kenapa ekspetasi papa selalu kamu runtuhkan?!"
"Nilai aku begitu bukan karena mereka! Itu karena diri aku sendiri!"
"Iya, karena diri kamu sendiri dan teman-temanmu itu! Kamu jadi gak pernah belajar karena balapan terus, karena main ps terus sama mereka. Itu real bukan?"
"Terserah papa! Aku bakal buktiin kalau aku bisa menang olimpiade bareng mereka!"
"Buktiin kalau kamu mampu. Kalau kalah, kamu gak boleh berteman lagi dengan mereka."
Gue langsung pergi meninggalkan papa tanpa kata pamit. Rada ada rasa menyesal dalam hati gue karena asal ceplos kalau gue bisa menang olimpiade. Jangankan menang, materi dan team aja belum gue susun. Sedangkan 1 minggu lagi olimpiade segera di mulai.
Besok gue harus segera mencari partner. Mau tidak mau harus dari adek kelas, agar kriteria terpenuhi. Apa gue harus melakukan seleksi untuk memilih dan memilah guna mendapatkan partner yang sepadan dengan gue? Okelah, itu gampang, gue bisa melakukannya karena gue seorang ketos. Tapi yang menjadi halangannya sekarang adalah dimana dan darimana gue harus memulai untuk mencari materinya? Gue bukan anak yang ber IQ tinggi, rangking gue di kelas lagi itu juga pas-pasan. Gue cuman bisa berharap semoga saja partner gue adalah orang yang kritis, berambisi dan cerdas. Semoga realitanya tidak melenceng dari ekspetasi gue.
***
Sebelum gue melakukan seleksi, seperti biasa gue selalu membicarakannya terlebih dahulu atau dalam istilah lainnya adalah rapat. Tapi bedanya, kini gue hanya rapat dengan waketos, yaitu Agam dan bu Rima sebagai guru Bk.
"Assalamualaikum semuanya. Maksud saya mengumpulkan Agam, Elvina dan bu Rami dalam ruang osis ini adalah untuk menyeleksi peserta-peserta yang akan ikut dalam olimpiade nanti. Tapi hanya boleh diikuti oleh adek kelas atau hanya anak kelas 10 yang boleh mengikutinya."
"Waalaikumsalam. Teknis pelaksanaannya gimana Ja?" Tanya Agam
"Nanti akan dibagi dalam 2 test. Yang pertama di kasih soal-soal sebanyak 100 soal dalam waktu 2 jam. Nanti kalau lolos bakal masuk dalam test interview."
"Oke baik, mengenai waktunya kapan?" bu Rami melanjutkan pembicaraan
"Seleksinya akan dimulai besok lusa. Saya bersama Agam akan membantu menyeleksi di test interview. Ibu dan guru-guru mata pelajaran yang terkait bisa membantu di test tertulis. Sedangkan Elvina, akan membantu merekap data peserta seperti biasa. Oiya, untuk pengurus Osis juga boleh ikut dalam seleksi. Apakah ada yang belum jelas atau ingin ditanyakan?"
"Oke, saya paham." Jawab Agam
"Untuk spesifiknya jam berapa ya?" Elvina melontarkan pertanyaan
"Maaf Radja, ibu juga ingin bertanya lagi. Untuk ruangannya sudah ditentukan belum ya? Lalu itu test nya dilaksanakan dalam 1 hari saja?"
"Oke, saya akan menjawab satu per satu dari pertanyaan Elvina. Untuk jamnya kita akan mulai pukul 08.00. Jadi, bagi siswa kelas 11-12 akan tetap belajar. Sedangkan untuk kelas 10 nya akan fokus dalam seleksi ini.
Untuk ruangannya belum ada planing bu. Waktunya kita bagi, hari pertama untuk kelas 10a, kemudian 10b baru hari terakhir kelas 10c. Sekalian pengumuman yang lolos."
"Baiklah, untuk ruangan, kalau ibu boleh usul, mending test tertulis di kelas masing-masing. Nanti baru saat interview kita pindahkan peserta ke perpustakaan."
"Oke, kami setuju." Jawab kita bersamaan
"Baiklah. Mungkin segitu dulu rapat kita kali ini. Nanti langsung diumumkan saja ke kelas 10. Jangan lupa juga, besok kita akan berkumpul kembali disini untuk mengecek soal-soalnya dan pertanyaan interviewnya. Semangat semua!!"
Akhirnya rapatnya selesai. Ada sedikit lega dalam hati gue. Tapi ini belum selesai, baru awal dan belum masuk dalam permainan yang sesungguhnya. Gue sengaja tidak memberi tahu temen-temen kalau gue mengadakan seleksi ini untuk mencari partner gue. Hanya guru-guru yang mengetahui ini. Gue gak mau temen-temen gue tau kalau ini tantangan yang diberikan bokap gue untuk menjahui mereka. Gue ingin semuanya baik-baik saja dan seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Sesampainya di rumah Agam, gue langsung membersihkan diri, makan dan mempersiapkan buku-buku yang akan gue pelajari. Untungnya, Agam hari ini pulang terlambat. Gue tau dia lagi ngumpul bareng yang lainnya. Rasanya sesak dalam d**a ini. Gue gak bisa kumpul bareng mereka kali ini untuk memperjuangkan mereka juga, demi olimpiade ini. Gue sengaja bilang ke Agam kalau gue gak bisa kumpul bareng mereka karena gue lagi sibuk-sibuknya nyiapin seleksi dan gue lagi agak sedikit gak enak badan. Untungnya mereka mempercayai setiap perkataan gue.
***
Kebesokan paginya, gue terbangun sebelum adzan Subuh. Bukan karena kebetulan, karena gue emang sudah memasang alarm untuk bangun pagi. Menyiapkan dan memahami kembali materi-materi olimpiadenya. Malangnya, gue ketiduran semalam, buku-buku gue masih berserakan di atas kasur. Berarti secara tidak sengaja Agam sudah melihat buku ini. Untungnya ini adalah buku-buku sekolahan dan tidak ada buku bertulisan khusus olimpiade. Semoga saja Agam tidak mencurigai ini.
Gue belajar kurang lebih 2 jam dari pukul 02.00. Dan gue sudah membereskannya 30 menit sebelum adzan Subuh berkumandang. Gue biarin Agam bangun sendiri sedangkan gue bersiap-siap untuk sholat.
"Eh, tumben lo udah rapi. Bangun duluan dari gue? Kesambet apaan?"
"Heem. Gak kesambet apa-apa. Udah gece lu siap-siap buat sholat."
"Oke bos. Gile udah tobat ye bang? Ahahaha"
"Bawel banget." Radja mengakhiri pembicaraan.
Saat sarapan, Agam kembali menyerocos, mewanwancarai gue layaknya gue seorang narasumber. Hfftt. Kebiasaan.
"Ja, lu semalem lagi rajin ye? Tumben-tumbenan mau belajar."
"Kan itu buat persiapan seleksi juga." Gue mengelak
"Kan kita bantu interview doang. Butuh pengetahuan juga? Apa lu lagi bantuin bu Rami nyari soal?"
"Heem."
"Kea cewe lagi ngambek lo. Singkat."
"Sejak kapan lo jadi cerewet kayak gini?"
"Semenjak gue kenal lo. Bhaks."
"Ngadi-ngadi. Gece udah mau telat."
***
Sesampainya di sekolah, gue langsung mempersiapkan segalanya. Tidak kerasa, seleksi pun sudah di mulai. Mereka semuanya cukup cerdik, tapi hanya ada 20 orang yang lulus test tertulis dan hanya 2 orang yang menarik perhatian gue dan Agam dalam test interview. Dia adalah Clara dan Sheila. Hmm, sepertinya mereka sedang bertarung merebutkan gue yang tampan ini. Tapi gue ngerasa Sheila kurang bersemangat. Kenapa ya? Apa dia sakit? Atau males bertengkar dengan Clara? Entahlah. Ini pilihan yang sulit. Keduanya mempunyai kemampuan yang sama. Jadi gue harus memilih yang mana?
Setelah beberapa jam rapat bersama dewan guru, akhirnya kami memutuskan bahwa yang lolos adalah Sheila. Karena dia mempunyai nilai ples pada sikapnya yang tenang. Itu akan sangat berguna dalam olimpiade nanti.
"Langsung aja gue umumin. Yang lolos dalam test tertulis maupun test interview adalah SHEILA MARETHA! Selamat berjuang!"
Begitulah gue mengumumkannya di speaker sekolah. Jadi, seantero sekolah langsung tau. Duh, pasti tuh bocah lagi kepedean karena di puji-puji. Cih, dasar suka terbang.
***
Setelah hasil rapat keluar, dan Sheila yang terpilih. Ternyata oh ternyata ada 2 tim yang akan turun mewakili sekolah. Dan masing-masing tim terdiri atas 2 orang.
Gue berharap enggak satu tim sama Sheila dengan alasan tertentu, takut menjadi enggak konsen saat olimpiade dimulai. Itu yang paling gue takutkan, tapi ternyata semua enggak sesuai dengan harapan gue.
Haha. Ternyata gue satu tim dengan Sheila, dan Ivan bersama dengan Elvina. Gue takjub sih, soalnya di antara kami, hanya Sheila lah, yang menduduki kelas 10. Setelah gue tau kabar dimana gue satu tim dengan Sheila.
Gue berjalan menuju kelasnya, entah kenapa gue pergi ke sini. Tanpa alasan yang jelas, semenjak Sheila hadir dalam hidup gue, terasa plin plan gue melangkah.
Tepat di depan kelas Sheila, beberapa anak kelas 10 menatap gue takjub oke, gue akui gue ganteng. Tapi ini tidak selamanya terpikir oleh kaum hawa seperti Sheila.
Semenjak gue dan dia bertemu, entahlah ada yang berbeda. Gue akui tingkat harga diri dia sangat terjunjung dengan sikap yang dia miliki.
Gue manatap Sheila yang juga sedang menatap gue.
"Ngapain lo ke sini?" tanya Sheila.
"Lo denger pengumuman dari hasil rapatkan?" tanya Gue
Sheila hanya mengangguk sebagai jawaban. "Dan lo juga tau kalau kita satu tim." Gue bersedekap.
"Iya tau, gue bisa baca dan bisa denger semuanya." Dia malah mengikuti gerakan gue, bersedekap.
Gue menaikkan sebelah alis gue. "Ngapain lo? Ngikutin gaya gue?" tanya Gue membuat dia menoleh.
"Emang di dunia ini, cuman lo doang yang bersedekap?" tanyanya sedikit emosi.
"Ngegas, yaudah deh. Tujuan gue ke sini cuman nyuruh lo belajar dengan baik! Karena saingan di lomba ini banyak, lo harus tau itu," jelas Gue.
"Tanpa lo beri tahu, gue juga tau." Sheila memutar bola matanya malas.
Gue menggeleng melihat tingkahnya, tanpa balasan gue pergi ninggalin dia.
"Eh!" teriaknya, membuat gue menoleh.
"Apa? Kangen?" tanya Gue pede.
"Kepedean," jawabnya.
"Terus apa?" tanya Gue lagi.
"Enggak jadi, sono pergi," ujarnya membuat gue kembali menggeleng.
Gue kembali ke kelas yang di mana sudah ada Agam di sana, duduk dengan manisnya sambil membaca buku novel tebal.
Gue duduk di sampingnya membuat dia berhenti membaca. "Dari mana lo?" tanya Agam.
"Kepo." Agam menutup bukunya.
"Emang," jawabnya.
"Dari kelas Sheila, kasih tau buat belajar soalnya, olimpiade dimulai besok." Gue menjelaskan.
"Oh iya besok. AH BESOK? oh iya," ujar Agam sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Kenapa sih lo? Aneh tau enggak," ujar gue.
Gue yang baru beberapa menit di dekat Agam langsung muak memilih untuk keluar kelas. Hari ini terlalu banyak free buat kelas gue.
Gue berjalan menuju lapangan, sesekali celingak-celinguk kayak orang gila tapi tampan.
Gue menyipitkan mata gue saat tau orang yang berdiri di depan ruangan guru adalah Sheila. Gue acuh, memilih tak peduli. Mungkin dia ada urusan atau kepentingan lain.
Hari mulai sore, waktunya gue istirahat dan pulang. Cukup lelah, berada di sekolah ini. Tanpa gue sadari, gue udah lama enggak balapan, tapi ya. Mungkin saat ini mau fokus untuk olimpiade dulu.
Tak cukup waktu yang lama, gue sudah berada di depan gerbang rumah milik Agam. Gue tersenyum singkat lalu masuk ke dalam, tepat di ruang tamu sudah ada Agam dengan benda pipih berbentuk kotak itu.
"Cepet banget lo pulangnya," ujar Gue.
"Lo aja yang lama," jawabnya tanpa menoleh ke arah gue.
Gue menggeleng, lalu naik untuk mengganti pakaian gue, setelah itu turun kembali untuk makan sekaligus belajar.
"Lo enggak ngajak si Sheila belajar bareng?" tanya Agam saat gue lagi asyik makan.
"Hem, dia bisa belajar sendiri." Gue kembali melahap makanan gue
Setelah suapan terakhir gue duduk di samping Agam, lalu membuka beberapa buku yang siap buat di pelajari.
Agam cukup membantu gue belajar dengan memberikan beberapa soal, lalu gue yang jawab untuk melatih hari esok yang penuh dengan pertanyaan.
"Fiks lo enggak usah belajar udah pintar," ujar Agam membuat gue besar kepala.
"Tapi boong." Lanjutan itu membuat gue menoyor kepala Agam.
"Canda, emang otak lo enggak usah diragukan deh, mending jual aja terus beli motor. Gimana?" tanya Agam lagi membuat gue ingin menebas kepalanya.
"Santai aja kali tuh muka, gue cuman bercanda. Hidup itu enggak semestinya diisi dengan hal serius doang, isi dengan candaan baru kehidupan itu berwarna," jelas Agam panjang kali lebar
Gue tak menggubris perkataan dari Agam memilih untuk tutup mata dan masuk ke alam mimpi.
Cuman 30 menit untuk tidur, gue kembali membuka mata saat adzan magrib berkumandang. Agam mengajak gue untuk sholat di mesjid.
Dengan cepat gue mengambil wudhu dan siap-siap ke mesjid.
***
Kembali pada keadaan malam, gue kembali membuka buku gue membaca ulang lalu mengerjakan beberapa soal untuk latihan.
Di tengah kegiatan gue, Agam mengajak gue untuk makan malam.
"Udahlah, gue yakin lo bakal menang," ujar Agam.
"Belum tentu, Gam. Banyak di luaran sana orang yang lebih jago dan lebih pintar dari gue. Gue akui itu," jelas Gue membuat Agam mengangguk lalu memilih untuk kembali makan.
Terjadi keheningan hanya ada suara adu sendok. Setelah selesai, gue kembali ke ruang tamu dan membuka handphone gue. Bermain game, sambil menunggu kantuk tiba.
Beberapa jam setelah bermain, gue ngantuk memilih untuk naik dan tidur.
***
Tring!!
Bunyi jam weker terdengar nyaring di telinga gue. Membuat gue bangun dan masuk ke kamar mandi, sholat lalu bersiap untuk ke sekolah.
Mungkin pagi ini gue lebih bersemangat, karena lagi-lagi berjuang untuk mengharumkan nama baik sekolah.
"Gue duluan ya, Gam!" ujar Gue tanpa menunggu balasan dari Agam, gue langsung berlalu pergi.
Sekitar 15 menit perjalanan, gue tiba di sekolah. Gue lirik jam tangan, ternyata baru jam 07.01 WIB.
Saat gue masuk, sudah ada Sheila yang duduk sambil memegang buku catatan.
"Cepet juga lo datang," ujar Gue.
"Gue deg-degan," ujar Sheila membuat gue menoleh.
"Kenapa? Giliran ngamuk ke gua enggak ada takutnya enggak ada deg-degannya, giliran gini malah deg-degan," ujar Gue panjang kali lebar.
"Beda situasi," ujarnya tanpa menoleh ke arah gue.
"Tenang, lagian lo enggak sendiri. Ada gue," ujar Gue membuat dia menoleh dengan tatapan sulit diartikan.
"Ngapa lo natap gue kek gitu?" tanya Gue seketika dia membuang pandangannya.
Setelah berbincang dan menemui guru, kini saatnya mereka tiba di tempat olimpiade.
Banyak kamera yang terpasang, dijejeran tempat Sheila dan gue berada. Gue merasa ada yang aneh dengan Sheila lalu gue dengan cepat bertanya.
"Kenapa? Ada yang salah?" tanya gue pelan.
Dia menggeleng.
"Terus kenapa lo kek gugup gitu?" tanya gue.
"Hem, gue cuman malas dengan kamera, benda yang membuat gue trauma akan satu hal."
FLASHBACK ON
"Sheila enggak mau, Mah!" teriak Sheila dengan isakan.
"Kamu harus mau! Ini juga demi keuangan kita dan juga agar kamu bisa terkenal bukan?" tanya Mama Sheila—Reina
"Sheila enggak perlu terkenal untuk hidup, Mah!" teriak Sheila lagi.
"Kalau Mama bilang, harus ya harus! Kenapa kamu jadi ngelawan gini?" tanya Reina.
Hiks ... hiks ....
"Kamu enggak boleh paksa anak kita untuk menjadi apa yang kamu inginkan!" ujar seorang paruh baya dengan suara berat yakni papa Sheila—Bara.
Sheila dengan cepat bersembunyi di belakang Bara.
"Kamu tidak perlu ikut campur, Pah! Aku sebagai Mamanya lebih tau dari pada kamu!" bentak Reina tepat di hadapan Bara membuat Sheila bertambah takut.
"Kalau saya bilang enggak ya enggak! Kamu jangan memaksa dia!" ujar Bara.
"Kamu juga tidak boleh melarang saya! Kalau kamu melarang saya! Saya minta cerai! Kita enggak pantas bersama, kamu tidak bisa memenuhi semua kebutuhan yang harusnya terpenuhi baik bagi saya maupun Sheila!" jelas Reina.
"Jangan Mah, Pah, kalian enggak boleh pisah," ujar Sheila dengan tangisnya.
Bara mengelus pelan urai rambut Sheila. "Dari pada kamu terpaksa? Mending seperti ini Nak," jelas Bara.
Hiks ... hiks ....
FLASHBACK OFF
Gue mencerna semua cerita dari Sheila tanpa sadar gue mengelus pelan pundak dia dan menghapus air matanya.
"Anggap kamera itu ada benda biasa, fokus sama tujuan jangan fokus sama kelemahan kamu? Oke?" tanya Gue pelan membuat dia mengangguk.
***
"Gue udah bilang sama lo, Shei. Fokus sama olimpiadenya, jangan sama kameranya!" Gue membentak Sheila.
Sheila menggeram tertahan. "Gue punya trauma dengan kamera! Lo bisa mikirin perasaan gue, nggak, sih?!"
Gue memegang bahu Sheila dengan kencang. "Gue pikirin perasaan lo! Tapi lo juga harus pikirin perasaan gue, gue malu sama papa karena nggak menangin olimpiade itu!"
"EGOIS!" Sheila berteriak di depan wajah gue. "LO EGOIS, DJA!" Kilat amarah terlihat dari pancaran mata Sheila. Wajahnya memerah.
"GUE NGGAK EGOIS, SHEI! Gue udah bilang sebelumnya sama lo, JANGAN FOKUS KE KAMERA, FOKUS AJA KE OLIMPIADE!" Gue balas membentak Sheila.
Sejujurnya, gue benar-benar kecewa dengan Sheila. Tim kami mendapatkan peringkat kedua dari bawah. Hanya karena traumanya yang kampungan itu, gue sampai kalah. Gue nggak bisa buktiin ke papa kalau gue memang bisa.
"KALAU SEANDAIKAN GUE BISA, BAKALAN GUE LAKUIN!" Nafas Sheila terengah-engah. Dia menghapus air matanya dengan kasar.
"Lo sengaja kalah saat olimpiade, kan?! Lo nggak mau lihat papa gue bangga dengan gue, kan?! JAWAB!" Gue menggoncang bahu Sheila. Sheila menepis kasar tangan gue.
"LO MIKIR DONG, NGOTAK! YAKALI GUE BERUSAHA KALAH DALAM OLIMPIADE!"
Gue meraup wajah dengan kasar. "Bayangin, Shei! Kita peringkat dua DARI BAWAH!"
"Trus lo pikir gue mau? Gue suka?! ENGGAK! GUE JUGA MALU, DJA! GUE JUGA MALU!"
"Ini semua gara gara lo!" Gue menunjuk wajah Sheila.
"Lihat Ivan dan Elvina! Mereka menang, Shei. Padahal apa? Kita lebih baik KALAU SEANDAIKAN LO NGGAK t***l KAK TADI!" Gue benar-benar. Kalut. Kecewa.
"LO EGOIS, DJA! EGOIS." Bibir Sheila bergetar. "Lo coba ngertiin gue sedikit aja, bisa nggak?"
Gue menjambaki rambut gue sendiri dengan kasar. "Gue kurang ngertiin lo apalagi? Gue udah kasih lo dukungan sebelum olimpiade! Tapi hasilnya apa? Kecewa gue sama lo!"
"Harusnya lo ngendaliin trauma lo, Shei! Harusnya! Harusnya! Harusnya! Tapi lo terlalu bodoh untuk itu!" lanjut gue.
"Kalau gue bisa, bakalan gue lakuin! Trauma ini bukan keinginan gue, Dja! Tolong ngertiin posisi gue." Perkataan Sheila melirih diakhir kalimat.
"Ku boleh milih, gue nggak akan mau punya trauma, Dja," lirih Sheila. Terlihat dengan jelas air mata di pelupuk mata Sheila. Mungkin hanya dengan berkedip, air mata itu akan meluncur bebas.
Amarah gue menyusut ketika melihat Sheila saat ini. "Gue capek, Dja! Lo selalu bertingkah seolah gue adalah manusia tersalah di muka bumi ini." Gue memalingkan muka. Gue jadi merasa bersalah, sedikit.
"Dja! Shei!" Elvina memanggil kami dari kejauhan. Sheila segera menghapus air matanya dengan kasar.
"Ada apa, kak?" tanya Sheila.
Elvina memandang gue penuh selidik. "Lo nggak diapa-apain, kan, sama manusia j*****m ini?" tanya Elvina pada Sheila seraya menunjuk gue.
"Lo kok jadi curiga sama gue?" Gue menatap garang pada Elvina.
"Apa lo?! Lo kan emang jagonya nyakitin hati." Elvina bersidekap. "Apa? Nggak terima?" tantang Elvina. Gue diam, tidak meladeni ucapannya. Jika saja gue terpancing amarah, yang ada gue dan Ivan bisa adu jotos.
"Ivan mana?" tanya gue. Elvina menunjuk ke gedung olimpiade. Gue mengangguk. Perlahan meninggalkan mereka dan menyusul Ivan.
Sebelum gue masuk ke gedung, ternyata Ivan udah duluan keluar. "Woy, gimana nih yang jadi juara?" tanya gue.
Ivan menunjukkan piagam, medali, serta hadiah-hadiah lain yang dia dapatkan. Sedikit perasaan iri mulai menghampiri gue. Harusnya gue yang mendapatkan itu.
"Sheila mana?" tanya Ivan.
Gue memilih tidak menjawab. Meninggalkan Ivan menuju Sheila dan Elvina. Ivan kemudian mengikuti gue.
"Lama banget, sih, lo." Elvina mengeluh seraya mengibas-ngibaskan tangannya.
"Panas tau," lanjut Elvina. Gue terkekeh pelan, sementara Ivan mendekati Elvina.
"Pulang, yuk," ujar Sheila pelan. Gue mengangguk.
"Lo pulang sama gue, Shei." Sheila hanya mengangguk malas. Elvina kemudian menahan lengan Sheila.
"Kalau lo diapa-apain sama nih bocah, bilang aja sama gue." Elvina mengangguk. Lalu tersenyum.
"Gue cabut," pamit gue.
Gue dan Sheila melangkah menuju tempat parkir. Tak jauh, kira-kira hanya membutuhkan waktu lima menit saja.
"Dja" Sheila tiba-tiba membuka pembicaraan kami. Gue membalasnya hanya dengan beradeham saja.
"Lo ... masih marah sama gue?" tanya Sheila. Gue terdiam. Sebenarnya sedikit susah mengetahui perasaan gue saat ini. Marah mungkin sedikit, lebih dominan rasa kecewa, tapi gue juga kasihan.
"Nggak," jawab gue pada akhirnya. Sheila mengangguk pelan.
Gue menolehkan kepala pada Sheila. "Kenapa?" Sheila terlonjak. Mungkin karena pertanyaan gue yang tiba-tiba. Atau ... entahlah, gue juga nggak peduli.
"Gue agak nggak enak sama lo, gue ngerasa bersalah," jawab Sheila.
"Memang harus." Gue mengedikkan bahu.
"Gimana? Gimana?" Sheila memasang tampang muka bingung. Gue mendengus.
"Memang sudah seharusnya lo merasa bersalah sama gue. Kalau lo nggak merasa bersalah, sebenarnya lo yang egois."
"Kok gue?" beo Sheila.
Gue menggeram. Sheila ini minta dihajar atau apa, sih? Untung perempuan, kalau bukan udah gue hajar dari tadi. "Lupain." Ucap gue singkat. Tidak ingin memperpanjang masalah yang ada. Sheila mengangguk-angguk.
Akhirnya, setelah perjalanan dari luar gedung olimpiade menuju tempat parkir yang sedikit menengangkan tadi selesai. Gue dan Sheila akhirnya sampai di depan mobil gue.
Gue segera memasuki mobil. Sedangkan Sheila, dia duduk disamping gue. Jangan berpikir macam-macam. Kita hanya duduk. Saling merenggangkan otot-otot tubuh karena kelelahan. Kemudian gue melajukan kendaraan. Tidak ada adegan apa-apa.
Di perjalanan, hanya ada suara radio yang mendominasi. Kami saling diam. Hanya diam. Karena gue bosan dengan suasana ini, gue memilih untuk membuka pembicaraan terlebih dahulu.
"Shei."
"Dja." Gue dan Sheila saling bertatapan. Tanpa gue duga, gue dan Sheila saling memanggil disaat tag bersamaan. Tanpa gue duga, apalagi disengaja. Ingat itu.
"Lo dulu," ucap gue pada Sheila. Kemudian kembali menghadap jalanan. Sheila sontak menggelengkan kepala. Kemudian menatap jalanan didepannya lagi.
"Lo dulu aja, deh." Ia mempersilahkan gue membuka pembicaraan terlebih dahulu. Oke kalau itu yang dia mau.
"Anggap pertengkaran tadi nggak pernah ada." Sheila sepertinya terkejut atas ucapan gue. Buktinya, dia langsung menghadap ke arah gue.
"Kenapa?" tanya Sheila bingung.
"Emang kenapa kalau gue nyuruh lo buat lupain? Lo nggak mau? Emangnya lo mau pamer karena gue bentak-bentak lo tadi?" Sheila terdiam. Cukup lama. Akhirnya dia setuju dengan apa yang gue mau.
"Sekarang giliran lo," ujar gue dengan tetap memperhatikan jalanan didepan. Walau sesekali gue melirik perempuan yang ada di samping gue ini.
"Gue yang akan bilang sama papa lo tentang kejadian saat olimpiade." Gue sedikit terkejut, kemudian menoleh sebentar pada Sheila.
"Maksudnya?"
"Gue akan cerita tentang kekalahan kita, dan sebab kita kalah, ya karena gue," jawab Sheila. Gue mengerutkan dahi. Ini kenapa Sheila jadi gini? Perasaan saat kami bertengkar tadi, gue nggak sampai mukul kepalanya, kok. Beneran.
"Lo yakin?" Sheila mengangguk mantap. Gue tersenyum seraya membalas anggukan Sheila.
Gue melihat tukang bakso yang ada dipinggir jalan. Tanpa aba-aba, gue putuskan untuk menepi.
"Eh, kita mau ngapain?" tanya Sheila bingung. Gue tidak menjawab, malah langsung menghampiri tukang bakso itu.
"Mang, dua ya," pesan gue. Penjual bakso itu kemudian mengangguk dan menyiapkan pesanan.
Gue duduk diatas kursi yang disediakan. Sementara, Sheila masih berada di samping pintu mobil.
"Sini, Shei." Gue memanggil Sheila. Menyuruhnya duduk. Sheila mengangguk dan menuruti ucapan gue.
Akhirnya, gue dan Sheila makan bakso di pinggir jalanan sebelum mengantar Sheila pulang. Entah kenapa, gue ngerasa Sheila jadi lebih penurut, tapi juga lebih canggung. Dan entah kenapa juga, pikiran gue jadi gila. Gue mengharapkan Sheila balik menjadi Sheila yang pembangkang. Gila kan? Jelas, tapi gue nggak tau kenapa pikiran itu bisa bersarang di dalam otak gue.