Terjebak

4351 Kata
Setelah urusan di sekolah selesai, gue lansung pulang ke rumah Agam seperti biasa. Tapi kali ini, gue gak bareng sama dia. Bukan karena apa-apa, karena gue masih sebel aja sama dia akibat nanyain nyokap. Mungkin kalau gue gak tinggal sama dia, bakal gue cuekin dan gue musuhin selamanya kali ya :v eh tapi kan gue orangnya baik hati dan tidak sombong, mana kuat hati gue musuhin Agam selamanya. Sesampainya di rumah Agam, gue langsung mandi dan ganti baju. Setelah itu gue tidur tanpa makan dan gak ingat apapun lagi. Gue gak ngerti apa latarbelakangnya sampai gue bisa mimpi seperti ini. Dan yang lebih anehnya, kenapa harus Sheila? Kan cewek di dunia ini yang cakep banyak bukan hanya Sheila. Eh bentar? Gue bilang Sheila cakep secara gak langsung? Hah? Gak salah? Duh halu nih. Radja merasa menegang dibagian bawah tubuhnya, wajah Sheila terlihat jelas dengan cantik, bibirnya merah merona, tangannya menyentuh bibir Sheila dan menarik tengkuknya lalu mendekatkan tubuhnya pada Sheila dan menempelkan bibirnya, melumatnya perlahan. Seketika Radja merasa basah dibagian bawah tubuhnya dan dia terbangun, suara adzan Subuh telah berkumandang. Radja membuka selimutnya dan tersenyum miris, dia mimpi basah. Ini kedua kali dalam hidupnya. "Ja, bangun dah subuh woi. Eh bentar, kok basah? Lu ngompol?" Radja masih belum menjawab. "Eh? Mimpi basah? Anjir." "Iya." "Yaudah sono cepetan mandi beres beres. Jangan lupa di cuci sendiri seprainya. Kan gak mungkin gue yang nyuci" "Udah tau." Setelah gue mandi, gue langsung turun kebawah untuk sarapan. Huftt, kenapa harus ketauan Agam? Pasti dia langsung ngeledekin gue nih. Mana gue baru bangun kan ya, gak bisa nyiapin s*****a buat bohong wkwk. "Gece makan, udah mau telat." "Iya. Bawel lo kayak emak-emak." "Enak bae. Udahlah itu urusin dulu mimpi lu ahahaha." "Gajelas." "Lu pasti mimpinya bareng Sheila kan? Iya kan? Bener kan gue?" "Lu peramal?" "Tuh kan bener, aciee cieee. Uhuyy, dah ngebet banget nih sama Sheila? Musuh jadi pacar? Uwaw." "Susah emang kalau jadi orang ganteng." "Ga nyambung oon." Agam menyambung perkataannya "Omong-omong Ja, gue mau minta maaf karena gue udah lancang ngebahas soal keluarga lo. Yang secara gak langsung gue udah ikut campur kedalamnya. Padahal gue tau lu sangat-sangat gak suka sama mereka." "Gpp, lain kali lebih peka aja. Kalau gue, gak pernah suka sama mereka. Dan entah sampai kapan gue akan terus membenci mereka." "Ya, gue sih cuman bisa berharap. Suatu saat nanti hati lo bisa luluh dan kembali berbahagia." "Akan sulit." "Tapi mau sampai kapan lu begini? Gak cape?" "Enggak. Gue mau buktiin dulu ke bokap kalau gue bisa tanpa hartanya." "Udah dapet kerjaan?" "Udah, walaupun kecil." "Terus spp lu? Siapa yang bayarin?" "Dari hasil kerja gue itu." "Oh, yaudah lu tenang aja. Kalau buat makan lu doang mah, masih sanggup kok gue." "Tengkyu ya gue gak ngerti kalau gak ada lo." "Iye, sans aje. Oiya terus kenapa lo gak nerima tawaran nyokap lo buat biayain pendidikan lo? Sorry gue nanya lagi, tapi kan apa salahnya? Lu nerima uang dari dia kan bukan berarti lu maafin dia." "Jeh, dasar matre! Gak lah gue gak mau kayak gitu. Itu namanya sama aja gue memanfaatkan keadaan. Walaupun gue benci mereka tapi gue gak mau jadi anak durhaka. Gue mau sukses pakai uang gue sendiri. Gue mau nunjukkin ke mereka juga kalau gue gak selemah itu!" "Wuish keren emang ketos gue ini." Gue sedikit lega, karena Agam udah mengakui kesalahannya. Gue gak tau gimana nasibnya kalau Agam gak memulai duluan. Mungkin gue akan hidup dalam dunia kecangguan ini selamanya. Sebelumnya gue ngira kalau dia udah gak bakal nge bahas tentang Sheila lagi, tapi dugaan gue salah sasaran. Agam malah membuat gue semakin berharap. Hmm. Berharap seolah-olah mimpi gue akan jadi kenyataan. "Yaudah Ja, berbahagianya sama Sheila aja wkwk." "Gak ada topik lain ya? Kehabisan kata-kata lo?" "Halah, seneng kan lo tapi gue giniin? Ngaku aja udeh! eh iya, tapi siapa tau Sheila yang bisa membuat hubungan lo bersama keluarga lo kembali." "Sheila? Bocah tengil itu? Jadi pahlawan dalam hidup gue? Mana bisa! Disiplin aja engga, mau sok-sok an jadi pahlawan." "Hati-hati ja, biasanya banyak orang yang suka kemakan sama omongannya sendiri. Dan yang perlu lo tau, kalau benci itu akan berubah menjadi cinta kapanpun dan dimanapun tanpa kita sadari." "Ceramah mulu dih. Udah berpengalaman banget ya kayaknya?" "Gue ketularan lo nih. Makanya bisa kayak gitu. Ahahaha." Gak lama setelah Agam meledek gue, tiba-tiba telfon masuk dan membuat hp gue bergetar. "Siapa? Sheila?" Agam bertanya "I-y-a, eh bukan. Dewa? Kok tumben? Ganggu gue makan aja nih." "Angkat siapa tau penting." Gue pun menuruti perkataan Agam untuk mengangkat telfon dari Dewa. Ya, walaupun sebenarnya gue males. Paling juga gaje. Mending Sheila yang telfon. Lah kan. Hueee, gue halu lagi. "Napa?" "Anu ja, anu, duh anu. Ada anu." "Apaansi, on the topik! kalau gak gue matiin nih." Ancam gue "Jangan dong wei! Beneran penting! Duh gimana ya ngomongnya? Pokoknya ceritanya panjang. Lu cepet-cepet ke sekolah dulu dah pokonya." "Mager. Gue masih makan, masih mau nyantai." "Gue serius! Gak lagi bercanda. Ini terkait lo juga dan akan berbahaya bagi jabatan lo dan juga calon lo." "Calon apaan dah? Kalo ngomong jangan setengah-setengah! Kayak orang gagap tau gak?" "Calon gebetan lo nih!" "Sheila?" "Giliran ngomongin Sheila aja lo nyambung!" "Foto lo ada di mading! Waktu gendong Sheila kemarin! Gedeg nih gue." Dewa menekankan "Bilang kek dari tadi! Kok bisa?!" "Mana gue tau, ini lagi pada rame di depan mading. Ngomongin lo semua. Oh ya, Sheila juga ada di sebelah gue sekarang. Kayaknya dia sedih deh dirinya viral. Padahal kalau gue jadi dia mah, seneng banget gue." "Siapa sih yang majang-majang foto gue, kurang kerjaan banget. Gue tau gue ganteng tapi gak sampai kayak gini segala kali, apalagi bawa-bawa Shiela. Gue ke sekolah sekarang!" "Giliran ada Sheil-" tut tut tut Gue langsung memutus telfonnya dan segera ke sekolah. Entah mengapa mendengar kata 'Sheila sedih' tadi hati gue rasanya seperti tersentuh dan gue ngerasa bersalah sama dia. Walaupun alasan utamanya bukan itu. Gue ingin menyelamatkan jabatan gue, dan jangan sampai gara-gara itu gue di tuding macam-macam dan nama baik gue tercemar. Gue gak mau sampai itu terjadi. *** Mampus! Itu yang selalu gue sebutkan dalam setiap langkah gue. Pikiran gue lari kemana-mana, hanya karena sebuah foto mading. Gila aja foto gue terpampang jelas di mading. Sepertinya orang yang memajang foto itu memang kurang kerjaan. Terlalu sibuk dengan urusan orang lain. Sampai lupa dampak yang akan terjadi ke depannya. Sampai gue tau siapa dia! Jangan bilang gue biarin dia lari dengan seenaknya. Menghapuskan sebuah viral-an itu sangat sulit! Apalagi gue ketua OSIS. Jabatan gue menjadi taruhannya. Ck! Gue seringkali berdecih setiap gue memikirkan ini. Tak terasa gue sudah sampai di pintu gerbang SMA Gemilang. Dengan langkah gonta ganti gue berjalan menuju tempat mading. Dan ya! Sudah ada Sheila dan Ivan serta Elvina di sana. Dan banyak orang lagi yang sangat kepo dengan kehidupan orang lain. Sampai mau berdempetan hanya dengan tujuan melihat foto itu. Mata gue tertuju pada Sheila yang berdiri dengan muka merah membuat tangan gue tergenggam erat ingin meninju orang yang berani memasang foto itu. Tunggu? Kenapa gue bisa semarah ini melihat Sheila hampir menangis? Apa-apaan ini? Dengan cepat gue berjalan ke mading dan melepas paksa foto-foto itu. "MINGGIR KALIAN! HANYA KARENA INI? KALIAN RELA DORONG-DORONGAN?" bentak Gue dengan kerasnya. Sheila sedikit terkejut mendengar suara keras gue. Elvina memegang pundak Sheila, dan gue lihat itu. "Pergi!" pinta gue kepada semua orang. Hanya beberapa yang pergi, yang lainnya hanya diam berdiri sambil menunduk. "PERGI!" bentakan kembali dari mulut gue membuat semuanya pergi terkecuali Sheila dan Elvina. "Tenang Sheila, enggak papa kok. Perlahan semua bakal kembali normal," ujar Elvina "Iya lagian kalian cocok kok." Ucapan itu berasal dari mulut Ivan membuat Sheila dan gue menatapnya nyalang. "Hehe, peace? Gue cuman mau mencairkan suasana oke? Enggak usah dipikirin dulu deh. Sekarang kita cuman mau tahu siapa yang ambil foto lo dan Sheila," ujar Ivan dengan bijaknya. "Tumben bijak lo, abis makan apa?" tanya Gue. "Ck! Gue setiap hari bijak, soalnya gue udah punya pacar," ujar Ivan. "Apa hubungannya peak?" tanya Gue. "Udahlah, gue enggak mood sekarang," ujar Sheila lalu beranjak pergi dari hadapan gue. "Kejar Ja!" pinta Elvina. "Buat apa?" tanya gue polos. "Ck! Malah nanya, yah hibur dia kek! Inikan ada kaitannya dengan lo juga kan?" tanya Elvina. "Tapi gue juga ada beban," ujar Gue. "Makanya sana kelarin sama dia, saling membantu sekarang bisa enggak? Buat kali ini doang, kita enggak bisa bantu banyak kali ini. Cuman bisa bantu doa," ujar Elvina panjang kali lebar. "Berbelit." Gue bersikap bodoamat dan pura-pura cuek. "Ih! Sana cepetan susul Sheila!" pinta Elvina yang mendorong-dorong badan gue untuk pergi. "Iya-iya," ujar gue pasrah. Mata gue celingak-celinguk mencari keberadaan hantu, eh Sheila. Padahal gue lagi mager-magernya. Lagi malas buat apa-apa. Cuman ya gimana, udahlah lupain aja. Entah pikiran apa, gue berjalan menuju rooftop dan membuka pintunya, tepat ada seorang gadis yang berdiri membiarkan rambutnya dan wajahnya diterpa angin. "Di sini lo ternyata," ujar gue cuek. "Ngapain ke sini?" tanya Sheila tak kalah cuek "Mau hilangin beban. Mau bebas mau terjun ke bawah," ujar gue ngasal padahal tadi gue emang lagi cari dia. "Oh," jawabnya singkat membuat gue menoleh, dia pun ikut menoleh, pandangan kita saling bertemu satu sama lain. "Ngapain lo lihat-lihat gue? Udah naksir ya lo?" tanya Gue menebak. "Apaansih kepedean." Lagi-lagi dia membalas gue dengan cueknya. "Oh ya katanya tadi mau terjun? Soni terjun aja." Sheila menatap gue datar tanpa makna. "Bercanda gue tadi." Gue menatap ke arah depan. "Sheila semalam gu—" Ucapan gue terpotong. "WOI MAU KE KANTIN ENGGAK? DARI PADA GALAU." Teriakan itu berasal dari Agam. Ngeganggu banget tau enggak. Ucapan itu mengalir dalam hati gue. Kok gue jadi gini banget ya? Jangan sampai gue bucin hanya karena semalam. "Mau enggak?" tanya Agam lagi. "Lo kok bisa tau kita di sini?" tanya Sheila. "Gue pintar, bisa tau segala hal, bisa tau semalam juga kalau Rad—" ucapan Agam terpotong karena gue menutup mulutnya dengan erat. "Humph! Humm ... Phhhhh!!!" Agam seperti kehabisan nafas, sesekali ia memukul-mukul punggung tangan gue dengan isyarat agar gue membuka tangan gue dari mulutnya. "Berisik tau enggak!" Gue terlihat marah sekaligus malu. Sheila hanya menatap gue dan Agam dengan tatapan bingung dan sulit diartikan. "Kalian waras kan? Jangan sampai gue mati terbunuh di sini dengan berita SEORANG GADIS SMA DIBUNUH KEDUA ORANG GILA. Ngebayangin ngeri bat, apalagi kalau terjadi," ujar Sheila sambil bergidik ngeri. Gue hanya ternganga mendengar penuturan dari Sheila, dia sedang ngelawak apa enggak. "Tutup tuh mulut entar nyamuk masuk," ujar Sheila lalu pergi. "Hahah! Rasakan kejudesan dari seorang cewek badmood," ejek Agam kepada gue. Gue pun berlalu pergi mengikuti langkah Sheila, sesekali dia berbalik melihat gue yang kayak orang bodoh. "Ngapain lo ngikut sih?" tanya Sheila. "Gue mau ke kantin, dan lo juga begitu kenapa enggak barengan?" tanya Gue. "Semakin dekat kita! Semakin mereka kira kita punya hubungan Radja! Lo harus sadar itu!" ujar Sheila sedikit membentak. Gue terdiam benar juga sih, tapi gue dan dia kan emang enggak ada apa-apa. Cuman orang lain dan kita berbeda pikiran. Sheila kembali melanjutkan langkahnya menuju kantin, tak sengaja ada yang menabrak tubuhnya hingga terjatuh ke lantai. Dengan cepat gue membantu dia berdiri. "Clara lo bisa hati-hati kan kalau jalan!" bentak Gue. "Lo kok jadi marah ke gue sih? Seharusnya lo marah ke dia! Dia yang enggak liat-liat kalau jalan," balas Clara tak kalah dengan bentakan gue. "Lo kok jadi nyalahin gue sih?" tanya Sheila. "Hey! Lo tuh cuman adik kelas yang baru aja dilantik jadi anggota OSIS dan sekarang lo udah jadi pusat viralnya sekolah! Sadar diri," ujar Clara membuat Sheila terdiam kaku. Gue menatap reaksi Sheila yang seperti itu, lalu menarik tangan Sheila menjauh dari situ. Sadar atau enggak, Clara tersenyum. "Berani juga lo ya," gumam Clara yang masih terdengar di telinga gue dan Sheila. Gue tak mau ambil pusing lalu mengajak Sheila duduk bersama yang lainnya di kantin. "Lo kok lama?" tanya Agam. "Padahal tadi kalian ninggalin gue," lanjutnya lagi. Tidak ada jawaban dari gue ataupun Sheila. Terjadi keheningan, akhirnya gue membuka suara. "Gue pesen makanan dulu ya, kalian maunya apa?" tanya Gue "Samain aja semua deh," ujar Elvina. Gue pun pergi untuk memesan. *** Gue mengobrak-abrik semua isi tas, tapi nihil. Meskipun tas ini sampai gue bakar pun, buku tugas yang harusnya gue kumpulin hari ini nggak akan nongol sendiri. "Mampus gue!" "Yang bisa menyelamatkan lo hanya dukungan dari sang kuasa, Dja." Dewa menepuk-nepuk bahu gue prihatin. Miko menjentikkan jarinya di depan gue. "Gue ada ide," ujar Miko. Secara spontan gue berbalik menghadap Miko. "Apa?" tanya gue berharap-harap padanya. Miko mengeluarkan rintisan andalannya. "Mending lo langsung ngomong sama Pak Botak masalah buku lo yang ketinggalan ini." Gue berdecak. Harusnya dari awal gue nggak pernah berharap kepada Miko. Kenapa? Karena selalu seperti ini akhir ceritanya. Malah nambah masalah. Hari ini adalah deadline terakhir tugas sejarah dikumpulkan. Tapi sialnya, buku tugas gue ketinggalan, padahal gue udah berusaha mati-matian buat ngerjain tugas itu. Apalagi, ditambah guru gue yang killernya minta ampun. Pak Bondan Takeshi namanya, sebenarnya gue bingung kenapa akhiran namanya harus Takeshi, secara kan Takeshi itu garang. Bahkan gue sempat mikir, mungkin emaknya mau si Bondan Takeshi ini nanti jadi orang yang garang. Kenapa gue dan temen-temen manggil dia botak? Kepalanya aja botak, dan kebetulan banget namanya juga bisa disingkat. Jadilah nama panggilan Pak Botak. "YANG BELUM MENGUMPULKAN TUGAS SEGERA MAJU KE DEPAN!!" Teriakan tiba-tiba Pak Botak berhasil mengagetkan gue. Gue aja nggak tau kapan Pak Botak masuk kelas. Kalau kayak gini ceritanya, gue bisa beneran mampus. Dewa dan Miko mendorong-dorong badan gue untuk segera maju. Rasanya gue ingin segera membogem wajah mereka berdua, tapi sayangnya ini bukan waktu yang tepat. Gue pasrah. Akhirnya gue maju. Awalnya, gue pikir banyak yang nggak ngerjain tugas dari Pak Botak. Ternyata, eh, ternyata, cuma gue, CUMA GUE. Gue dihadiahi tatapan tajam milik Pak Botak. Gue berasa lagi diposisi Nobita, sedangkan Pak Botak itu Takeshi di film Doraemon. Nah kan, gue jadi ngelantur. "Pak, saya seb—" "SIALA YANG MENYURUH KAMU BERBICARA?" Gue kicep. "KENAPA KAMU TIFAK MENGERJAKAN TUGAS?!" Anjir, tau gitu enggak usah motong kata kata gue. "Saya mengerjakan tugas kok, pak. Cuma, tugas saya tertinggal di rumah." Tatapan Pak Botak semakin sinis ke gue. "Alasan!" "Saya benar benar nggak bohong kok, Pak. Kalau bap—" "Sudah! Lebih baik kamu bersihkan gudang sekarang juga!" ujar Pak Botak. Gue terjingkat. "Jangan gudang, dong, pak. Bapak nggak kasihan sama say—" "HALAH, ALASAN! Cepat!" Gue berdecak. Masalahnya sekarang adalah, gue nggak suka tempat yang pengap dan minim udara. Disana, temen-temen gue malah cekikikan nggak jelas seraya memberikan jari jempolnya ke arah gue. Bener-bener minta dijotos kan? Dengan langkah malas gue berjalan ke arah gudang. Sebenarnya tidak seberapa jauh dengan ruang kelas gue, hanya lurus kemudian belok lalu lurus sampai mentok. Sesampainya gue di gudang, gue langsung membuka pintu gudang. Seperti yang gue bayangkan, bahkan bisa lebih buruk, gudang sangatlah kotor, pengap, dan berdebu. Gue berdecak. "Ini namanya gue jadi babu. Harusnya kan bisa hormat di lapangan aja," ucap gue menggerutu. Gue mulai mengambil kemoceng untung membersihkan debu. Beberapa kali gue sempat bersin karena debunya yang luar biasa banyak. Setelah itu gue mengambil sapu untuk membersihkan lantai. Sebenarnya, gudang sekolah gue ini bisa dibilang luas. Tapi, gue hanya berani membersihkan sampai bagian tengah gudang saja. Gue nggak berani sampai belakang. Gue ini berani dengan sesama manusia, bahkan sampai adu jotos dengan taruhan nyawa sekalipun. Hanya saja, kalau masalah diluar nalar manusia, hehe, gue sedikit parnoan. SEDIKIT. Dalam waktu setengah jam, gue mampu membersihkan bagian luar dan tengah gudang. Gue beristirahat sejenak. Sebenarnya gue ingin kembali ke kelas, tapi gue malas kalau akhirnya disuruh balik. Jadilah gue memutuskan untuk sekalian saja membersihkan bagian dalam gudang setelah berperang dengan batin gue. Gue mulai masuk ke area dalam gudang. Sedikit mencekam dengan penerangan yang minimalis. Ditambah lagi dengan barang rongsokan yang berupa bingkai foto beserta foto-foto yang nggak mau gue lihat. Beberapa menit ketika gue membersihkan gudang. Gue mendengar sebuah keributan yang berasal dari luar gudang. Suara perempuan sepertinya. Gue semakin merinding, bulu kuduk gue berdiri, gue mulai gemetar dan berkeringat dingin. Gue memutuskan untuk memberanikan diri melihat keadaan di luar gudang. Kaki gue melangkah perlahan, mencoba untuk tidak menimbulkan suara. Brakk Suara pintu tertutup dengan kencang membuat gue kaget. Hampir aja kaki gue nggak kuat buat nopang tubuh gue. Gue hampir pingsan dibuat penunggu gudang ini. "Aaaakh." Terdengar suara teriakan perempuan. Tangan gue semakin bergetar hebat, keringat dingin sudah mengucur deras, suasana semakin mencekam, entah kenapa rasanya suhu di gudang ini semakin menurun saja. Gue udah lihat! Gue udah lihat mbak-mbak penunggu gudang itu. Gue mencoba untuk meraih kayu yang ada disekitar gue. Tapi, emang hantu bisa dipukul? Ah, intinya gue ada s*****a untuk melawan. Gue semakin mendekati si penunggu gudang ini. Dia menggedor-gedor pintu gudang, sepertinya dia mau mencoba untuk bebas dari gudang ini. Semakin dekat, gue semakin dekat dengan orang—maksud gue hantu—itu. Sesaat ketika gue akan memukulkan kayu ini, hantu itu membalikkan badannya. "Sheila?!" "Radja?!" "Lo kok—" ucap kami bersamaan. "Lo kok bisa disini?!" tanya gue yang KEBETULAN berbarengan dengan Sheila. "Gue abis dibully sama fans fanatik lo tuh!" jawab Sheila dengan penuh penekanan. "Dibully gimana? Emang cewek kayak lo bisa dibully?" tanya gue heran. Sheila berdecak. "Sayangnya sih mereka memang jumlah daripada gue. Coba aja, deh, satu lawan satu, bisa K.O duluan mereka," ucap Sheila membanggakan diri. "Cih, tapi akhirnya juga lo ada disini. Itu artinya...." Gue sengaja tidak melanjutkan kata mata gue. "Apaan?" "Lo kalah!" Telak. Raut wajah Sheila berubah drastis. "Lo bener-bener minta gue hajar?" Gue terkekeh meremehkan. "Lo? Bisa hajar gue?" "Lo ngeremehin gue?!" "Bukan. Gue nggak ngeremehin lo, cuma aja, kurang percaya sama kemampuan lo." Gue puas. Sangat puas ketika melihat wajah Sheila yang merah padam. "Lo minta diapain sih?!" ucap Sheila marah. Gue menahan tawa. Sejujurnya, Sheila sedikit imut ketika marah. Ingat, SEDIKIT. "Minta dicium boleh, nggak?" Gue menaik-turunkan kedua alis untuk menggoda Sheila. Sheila bergidig ngeri. "JIJIK!" teriaknya. "Jujur aja deh, lo pasti udah termakan sama pesona gue, kan?" Sheila menggelengkan kepalanya. "Wah, beneran gila nih anak." Gue menyenggol lengan Sheila. "Ngaku aja deh, She." "Terserah! Serah! Mau lo bilang apapun gue nggak peduli!" Gue tertawa. Seru sekali ternyata bisa menggoda Sheila. *** Sinar mentari pagi menjilati celah ventilasi udara, menciptakan garis-garis jenjang pada lantai ruangan. Gue memuyu-muyu mata dan merasakan pegal di sekujur badan. Masih dalam posisi terduduk, gue menggerakkan kaki, yang kemudian terantuk pada sesuatu di sebelah kiri tubuh gue. Sontak wajah gue berpaling. Sepersekian detik berikutnya tertegun lantaran mendapati Sheila meringkuk tak jauh dari tempat gue tertidur. Punggung yang melengkung itu menatap ke arah gue. Kasihan, pasti dia kedinginan. Walau kepayahan, gue berhasil menyeret tubuh mendekat ke arah Sheila. Deru napasnya terdengar jernih di pendengaran gue berkat kesunyian ruangan. "Shei ... bangun." Dengan lemas, gue menggoyang-goyangkan lengan atas Sheila berniat membangunkannya. Sheila tampak melenguh sebelum membuka mata dan membawa tubuhnya duduk. "E-h, apa-apaan lo! Menjauh dong! Mau macem-macem, ya?!" tuding Sheila. Badannya membeku. Mungkin karena posisi gue dengan dirinya terlalu dekat. "Simpen dulu omongan lo! Gue gak mau debat sekarang." Cih, gue berbaik hati membangunkannya! Kenapa dikira yang bukan-bukan, sih? Lagian, gue gak berminat dengan tubuh gue yang lunglai begini. Sheila mencibir samar. Dia membetulkan ikatan rambutnya sekilas sebelum menggedor-gedor pintu gudang meminta pertolongan. Gue melirik arloji. Pukul enam pagi. Jam begini, belum ada siswa-siswi yang sudah datang termasuk mutid rajin akut sekalipun. "Ada orang gak di luar? Ada orang di sini, tolong bukain dong!" teriak Sheila, walau suara dan hentakan tangannya tak begitu bertenaga. Pandangan gue berkunang-kunang, tapi gue gengsi mengutarakan ini kepada Sheila. Bisa-bisa dia menambah bahan cibirannya dengan menyatai gue cowok lembek. Sebagai keturunan Dewa Yunani, jelas gue enggak mau hak itu terjadi. "Heh, lo bantuin dong, cari akal!" Sheila menyusuri ruangan. Menggeser-geser benda. Barangkali ada jalan tikus di sana. "Ck! Gue lupa, semalem kan udah digeledah, tapi gak ada jalan keluar selain ventilasi di atas itu." Rupanya dia ingat juga. Kalau tidak, gue akan berkomentar pedas sebagaimana biasa. Namun melihat kondisi gue yang tak berdaya, gue hanya bisa mengerang merasakan pening yang menghunjam kepala. "Shei ...." "Apa sih, diem!" Sheila mendekati ventilasi. Tampaknya menimbang-nimbang apakah tubuh kita berdua—kalau dia ingat gue juga—bisa melewatinya. "Shei ...." "Tapi ini terlalu tinggi. Lagian, susah juga ngebobolnya," ujarnya tanpa mengindahkan panggilan gue. "Shei ...." "Apaan sih manggil-manggil!" Dia berbalik, kakinya menghentak tanah dengan sebal, dan dahinya mengerut dalam. Sementara itu, gue masih mempertahankan wajah kesakitan. Masa bodoh dengan Sheila! Gue bener-bener lemas luar biasa. "Eh, lo kenapa?" Sheila memekik seraya berlari menuju gue. Pada wajahnya itu, gue menemukan kekhawatiran dan keheranan dalam waktu bersamaan. "Gue ... gak apa-apa." Gue memutuskan beranjak berdiri. Dua langkah kemudian, tubuh gue limbung. Pening pada kepala semakin menjadi sementara tubuh gue terasa dingin. "Lo gila, ya!" maki Sheila. "Jangan gerak dulu!" perintahnya. Tangan Sheila mendarat di dahi gue. "Lo meriang. Hei, Radja, buka mata!" Sheila kelabakan. Gue merasakan tepukan cukup kuat di pipi sebelah kanan. "Radja!" panggilnya. "Buka mata lo," jedanya cepat, "liat gue." Sheila membingkai wajah gue dengan jari-jemarinya yang dingin. "Sebentar lagi kita keluar, oke?" Mata Sheila melirik bergantian antara mata dan hidung gue yang mengeluarkan napas dengan pelan. Gue tidak menanggapi ucapannya. Sebelum Sheila menegakkan tubuh berniat menggedor-gedor pintu kembali, gue menahan tangannya. "Shei ...." Sheila berdecak. "Apa, hah? Lo ngeyel banget sih. Kita harus cepetan keluar dari gudang s****n ini!" Sheila menghentakkan tangan gue, walau gue tahu dia tidak mengerahkan seluruh kekuatannya. Ada kepuasan tersendiri ketika Sheila merasa gamang karena mencemaskan kondisi gue. "Tolong, siapa aja, bukain pintunya!" Pukulan Sheila semakin menjadi. Gue, Rehando Radja Sembiring, merasakan kepuasan tersendiri tatkala Sheila merasa gamang akan kondisi gue saat ini. "Buka pintunya!" Kakinya ikut menendang. "s****n!" Dia mengerang. Tubuh Sheila berputar pasrah. Dia melirik gue yang terkapar di atas lantai. "Ada orang di sana?" teriak seseorang dari luar. Bersicepat Sheila menyahut. "Iya, Pak! Tolong buka kuncinya! Ada orang yang mau pingsan!" Gue melega. Sheila mundur dua langkah ketika merasakan pergerakan di lubang kunci. Pintu menjeblak kasar. Seorang lelaki penjaga sekolah melangkah ke dalam. "Siapa?" tanya Pak Penjaga Sekolah sedikit berteriak. "Radja," jawab Sheila. Dia mendekati tubuh gue bersama Pak Penjaga dengan tergesa-gesa. Tubuh gue yang lemas ini dibopong mereka berdua keluar ruangan menuju mobil operasional sekolah. Gue mau dilarikan ke rumah sakit, begitu ujar Pak Penjaga ketika Sheila bertanya. Syukurlah, gue merasa betul-betul lemas, dan kerongkongan gue luar biasa kering. Sheila duduk memangku kepala gue di pahanya. Dengan wajah yang harap-harap cemas, dia terus saja berujar, "Ini bukan syakaratul maut, kan?" Sialan! Gue memaki dalam hati. Bisa-bisanya dia berlagak songong sementara napas gue tersengal-sengal. Gue kepayahan meneguk saliva. Perih. Pandangan gue mengabur, kepala gue penggar, kemudian seberkas gulita menjemput, dan gue merasakan sesuatu menetes pada pipi sebelum kegelapan itu menyelimuti. Gue tidak sadarkan diri. • • • Gue merasa lebih baik daripada sebelumnya walaupun tubuh gue lunglai di atas pembaringan rumah sakit. Kata dokter, gue kelelahan dan dehidrasi sehingga membuat gue tak sadarkan diri. Pak Penjaga Sekolah sudah berpamitan pergi, tinggal Sheila yang menemani. Gue sih bodo amat, tapi kalau mau jujur, gue sedang mengumpulkan tenaga untuk membalas ocehannya Sheila. "Lo gak denger apa kata dokter? Ayo minum lagi!" Sheila terus saja menodongkan air mineral ke mulut gue. Hei, itu botol ketiga! Dia mau bunuh gue apa? "Lebay banget sih lo!" Gue mencibir, mendorong tangan Sheila. Dia memanyunkan bibir dan memandang remeh ke arah gue. Oh ya, gue teringat sesuatu! "Waktu bawa gue ke sini, lo nangis?" Sheila tampak meneguk ludah, kemudian menggeleng. "Enggaklah." "Kenapa? Lo nangisin gue, ya?" seloroh gue dengan sudur bibir yang terangkat. "Dih, pede amat! Buat apa? Gak ada kerjaan aja!" Gue mencium bau-bau kedustaan di sini. Pasti Sheila tengah berkilah. Tetiba pintu ruangan terbuka kasar. Bibir gue kembali merapat ketika seonggok tubuh lelaki masuk mengagetkan kami berdua. "Itu bokap gue," terang gue pelan, menguraikan kerutan dahi Sheila. Perempuan itu tampak kikuk dan mengangkat tubuhnya dari kursi ketika bokap berdiri tepat di sebelah kiri pembaringan sementara Sheila di seberangnya. "Papa ketemu sama penjaga sekolah kamu di lobi. Katanya, semalaman kamu terkunci di gudang. Kenapa?" todong bokap. Dengan malas-malasan, gue menjawab, "Dihukum ngebersihin gudang." Gue sempat melirik Sheila sejenak. Dia tambah kikuk saja. Sepertinya bokap belum menyadari keberadaannya. "Apa?! Siapa yang berani menghukum kamu? Kasih tau papa! Berani-beraninya dia, huh! Kalau kamu kenapa-kenapa, papa janji akan menuntut sekolah!" Tangan bokap mengepal erat, tampak urat tangan kehijauan menyembul dari sana. Rahangnya mengetat sementara gigi-geliginya bergemeletuk. Kalau sudah begini, bokap tidak main-main dengan ucapannya. "Radja gak apa-apa, gak usah lebay." "Enteng sekali kamu bicara! Kalau kamu gak ada, siapa yang mewarisi perusahaan Papa? Tetangga?" Tangan bokap menggebrak pembaringan. Sheila tampak memekik perlahan. Gue terbungkam, barangkali terlalu muak karena ucapan bokap. "Dan kenapa kamu bisa sampai dihukum?" lanjutnya. Mata bokap memicing. Duh, gue harus jawab apa? Sheila berdeham. "Em, permisi Pak." Sheila tersenyum kikuk. Gue mendesah lega. Secara tidak langsung, dia telah menyelamatkan gue dari amukan yang sesungguhnya. Bokap berpaling. Tatapannya melunak melihat Sheila yang terlihat gamang. "Ah, Om tidak melihat kamu. Kamu temannya Radja yang menelepon, 'kan?" tanyanya. Sheila mengangguk. Huh, pantas saja bokap datang kemari, rupanya ada yang mengabari. Gue berspekulasi, pasti Sheila mengotak-atik ponsel gue yang tidak dikasih pengaman itu untuk menghubungi bokap. "Nama saya Sheila, Pak." Dia menyalami tangan bokap dengan sopan. Ck! Kamuflase banget. "Oh, iya. Terima kasih ya, Seila, sudah mengantarkan Radja ke rumah sakit." "Sama-sama Pak, gak masalah." Gue sedikit melega karena bokap tidak bertanya kenapa Sheila bisa bersama dan kemudian gue. "Kamu sopan sekali, ya." Bokap tersenyum ramah. Gue di-peanut-in mereka berdua. "Panggil saja Om, gak usah Pak," pinta bokap. "Baik, Om." Setelahnya bokap menggiring Sheila menuju sofa. Mereka terlibat percakapan akrab. Tampaknya bokap menyukai perempuan itu. Ya, gue mengakui jikalau gaya bicara dan berperilaku Sheila elok banget. Gue sampai dibuat tercengang. Obrolan mereka cepat merambat. Gue takdzim mendengarkan. Akan tetapi, ketika bokap sedikit memelankan suaranya, gue menajamkan telinga. "Om percaya sama kamu. Jadi Om minta, kamu bersedia memata-matai Radja. Paling tidak selama di sekolah." Mereka berdua melirik bersamaan ke arah pembaringan. Sontak gue memejamkan mata, pura-pura terlelap. Dirasa aman, gue kembali melihat ke arah mereka. Sheila membasahi bibirnya gusar. Gue yakin dia bakal menolah permintaan aneh bokap gue. "Iya Om, Sheila mau." Gue terjengit. Apa?! Si songong Sheila ... dia bersedia? **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN