Makrab

4974 Kata
Satu hari menjelang hari malam keakraban. Gue dan pengurus OSIS lainnya kembali berkumpul untuk mematangkan konsep acara kita. Tapi, jam rapat berubah derastis. Gue benci ini. Tidak sesuai rencana. "Wei, Gam, mana si Radja? Kok tumben malah dia yang ngaret?" "Lah iya anjir, mana nih bocah? Gak biasa-biasanya." "Kita gak akan bisa mulai rapat kalau gak ada Radja." Elvina menambahi "Jangan selalu bergantung dan berharap pada orang lain," jawab Sheila cuek. "Kita mulai sekarang! Gue bisa kalau cuman gantiin Radja buat mimpin rapat. Mau sampai jam berapa kita nungguin Radja terus-terusan? Gak bakal jalan nih acara!" lanjut Sheila dengan nada sedikit memperingati. "Oke, kita langsung mulai!" Agam meyakinkan yang lain Beberapa menit setelah mereka mulai rapatnya, sekitar sudah 30 menit berlalu. Gue datang menyusul pembicaraan mereka. Tok tok tok “Sorry banget gue telat. Gue tadi har—" ucapan Radja terjeda "Gak usah pake alasan! Lo datang, menggangu pembicaraan rapat kita." Sheila mulai menyindir Radja. "Cihh, Ketua aja ngaret, gimana anak buahnya?" senyum smirk. "Heh! Semua orang punya kesalahan. Gak ada yang sempurna!" "Lo baru sadar? Giliran lo yang telat lo baru bisa ngomong gini? Hah? Kemarin waktu gue telat? Dasar, penyangkal!" Sheila semakin emosi "Sekarang gini deh ya, lu ngapain mimpin rapat? Mau sok-sok an gantiin posisi gue? Biar terlihat keren? Biar bisa di kagumi gitu? Atau biar tenar? Atau apa?" Radja tidak mau kalah "Gue mimpin rapat ini hanya karena gue peduli sama acara kita besok! Lu liat sekarang jam berapa? Jam 15.00! Kita janjian dari jam 13.00 bukan? Dan kita baru mulai jam 14.30 tadi! Daripada kita harus nungguin hal yang gak pasti? Malah hancur acara besok! Apa lu mau bertanggung jawab? Pasti enggak! Cih." "Omongan lu bisa jadi doa! Lu bilang acara kita gak akan lancar? Bakal gue buktiin ke lu!" "Gue juga bakal buktiin, kalau gue, emang pantes ada di sini! Jangan mentang-mentang gue cewek dan lu bisa ngerendahin gue seenaknya! Kayaknya lu salah sasaran." "Heh—" "Radja! Stop! Kalau kalian debat mulu kapan kelar nya nih rapat? Gak capek? Gak pegel mulut kalian? Gue aja laper," sahut Dewa "Dewa, jangan bercanda! Bener Ja. Lu harus bisa bersikap lebih dewasa dan jangan berfikir pendek. Terima dan hargai orang lain. Maka lu juga akan di perlakukan baik seperti itu. Ingat, mulutmu harimaumu. Jangan terpancing emosi." Berkat Agam, rapat bisa berjalan kembali. Satu yang gue sesali, ini semua karena papa! Karena dia gue jadi dipermalukan seperti ini! Kalau kayak gini rasanya sama aja. Tidak ada bedanya antara rumah dan sekolah. Rapat pun sudah selesai, hanya tersisa Ivan, Agam, Dewa, Elvina, gue dan Sheila, seperti biasa. "Gimana ja? Ngerasain kan yang dirasain Sheila kemarin? Gak enak bukan?" tanya Elvina Sahut Ivan, "Gue cuman kasih saran aja. Tegas boleh, tapi jangan keterlaluan. Semuanya harus seimbang, antara kesalahan dan hukuman." "Karma bisa datang kapan aja Ja. Lu harus lebih hati-hati." Dewa menambahi "Maaf, gue ga bermaksud mempermalukan lo." Gila ni cewe, lebih hebat dari gue. Dia berani minta maaf? Sedangkan gue? Apa gue pengecut? Apa bener gue gak bisa mengakui kesalahan orang lain dan hanya memandang orang lain dengan sebelah mata? Apa itu semua keterlaluan ya? Apa gue harus minta maaf juga? Huaaa, gue benci situasi ini. Situasi di mana gue selalu dihadapkan oleh pilihan yang sulit. Dan gue gak tau harus mengambil keputusan yang mana. Lanjut Sheila, "Terakhir, gue cuman mau ngasih ini. Ini daftar menu yang udah gue perbaharui, udah banyak sayuran dan menu yang lo mau. Tapi satu hal, gue gak akan lupa akan semua perbuatan lo, gue akan inget itu dan .... Gue akan benci lo selamanya! Bye semua, gue pulang dulu. Semoga rencana kita bukan hanya wacana." Lah? Kocak kan? Gue kira dia udah baik, ternyata ada niat tersembunyi. Ciah, dah sering gue dibohongin gini. Sad banget hidup gue. Seperti biasa. Gue selalu pulang ke rumah Agam, ya istilahnya numpang. Untung dia gak tinggal bareng keluarganya. Kalo ada keluarganya, gue bakal malu semalu-malunya orang malu, duhhh. Tiba-tiba Agam menasehati gue, tidak biasa-biasanya dia seperti ini, ingin ikut campur urusan orang lain. Agam membujuk gue untuk meminta maaf kepada Sheila. Tapi, gue bimbang. Otak gue berkata kalau gue gak salah, emang salahnya Sheila yang tidak disiplin. Sedangkan hati gue bilang kalau gue juga salah, gue wajib mengakui kesalahan gue. Setelah sekian lama gue mencari keputusan, gue akan minta maaf ke Sheila besok setelah acara. "Woi, Ja! Bangun! 30 menit lagi acaranya mulai! Masa lu masih tidur gini? Katanya mau minta maaf ke Sheila. Lu bisa telat lagi. Woi! Denger gak?" Gue yang masih setengah sadar pun menjawab dengan kata malas-malasan dan belum menyadari akan keterlambatan gue. "Ja, lu baru bangun? Udah sadar belum ini udah jam berapa? Telat lagi? Untuk yang ke 2 kalinya," sambut Elvina Disitulah gue mulai tersadar. Gue lupa kalau gue telat 1 jam. Dan, Sheila sedang menatap sinis ke arah gue sekarang. Kalau kayak gini gimana gue bisa minta maaf ke Sheila? "Enak-enakan lu tidur. Ini gue masak sendiri, angkat galon sendiri. Lu kerja apa hah? Ketua gak bertanggung jawab! Gak pantes tau gak?!" "Sheila! Sorry gue bener—" "Udahlah gak usah banyak ngomong. Pembohong akan tetap menjadi pembohong. Hahaha gimana? enak Di perlakukan seperti itu? Enggak kan? Makanya jangan suka nindas orang sembarangan! Sekarang lu kena batunya." "Sekarang apa yang harus gue bantu?" "Gak ada! Gak usah bantu apapun dan gue gak perlu bantuan lo!" "Jadi adek kelas jangan songong! Mau gue-" "Apa? Kok gak di lanjutin? Takut sama bocah ingusan kayak gue? Hahaha, lemah lo! Omong doang!" Kalau bukan karena gue akan minta maaf hari ini untuk jabatan, gue gak akan ngalah dan gak akan kalah sama bocah tengil kayak Sheila! "Lo berdua sampai kapan mau ribut? Mau lanjut gak nih acaranya?" Ivan meleraikan Radja dan Sheila. Lama-kelamaan akan sulit bagi gue untuk meminta maaf kepada Sheila. Disaat gue ingin menyudahi segala sesuatu, selalu aja datang masalah baru. Yang seolah-olah semesta ini tidak mendukung gue untuk berdamai dengan siapapun. Dan, ya, sepertinya gue gak akan minta maaf ke Sheila sekarang. Mungkin besok? Atau saat gue keluar dari sekolah ini? Entahlah. "Mending lo bersih-bersih deh," ujar Elvina. Gue cuman mengangguk pasrah, lagian ini memang salah gue bukan? Ternyata banyak hal yang memang bisa dirasakan semua orang. Termasuk gue sendiri. *** Terkadang mau menyembunyikan rasa sakit gue di balik topeng dengan gelar KETUA agar semua rahasia gue tetap aman dan terlaksana. Nyatanya tidak, hati gue benar-benar bimbang. Di sisi lain, semua pekerjaan, kegiatan akan berjalan dengan mulus dengan restu orang tua, tapi nyatanya hobi yang selalu gue lakukan dianggap tidak ada apa-apanya, selalu dianggap bahwa semua itu tidak ada gunanya. Membuktikan semua yang gue lakukan selama ini tidak ada gunanya, pintu hati bokap gue udah ketutup rapat gara-gara kejadian dulu. Setelah bersih-bersih gue enggak membantu yang lain. Dalam perasaan seperti ini, rasanya tidak ada yang pantas untuk gue lakukan. Gue mengusap muka gue dengan kasar. Lalu menghela nafas dengan pelan. "Apa yang harus gue lakuin? Agar semua ini bisa berjalan dengan baik? Berjalan sesuai keinginan?!" Gue menjerit dalam diam. Dalam keheningan, gue merasakan sebuah tangan menyentuh pundak gue. Gue berbalik, dan ya. Di belakang sudah ada Agam yang menatap gue heran. "Lo tumben menyendiri? Lagi patah hati lo yah?" tanya Agam. "Sok tau lo, kapan gue punya pacar coba," ujar Gue. "Ngaku juga lo. Enggak bercanda, cuman nanyanya serius. Lo ngapain di sini?" tanya Agam kedua kalinya. "Enggak kok, cuman emang mau menikmati udara segar," elak Gue. "Alasan, udara segar mana ada orang di sini panas gubluk." Agam menoyor kepala Gue. Gue menatap sinis. "Kejadian dulu terulang lagi Gam." Agam menaikkan sebelah alisnya tanda ia bingung. "Maksud lo apaan?" tanya Agam. "Kejadian dulu, Gam. Enggak usah sok pikun lo deh," ujar Gue sedikit sengit. "Semua emang enggak bisa disembunyikan terus menerus, Radja." Agam menatap ke depan "Karena, semua bakal kebongkar. Gue dan lainnya ikhlas kalau lo menjauh," ujar Agam. "Gila lo ya! Lo enggak tau apa perjuangan gue, buat pertahankan semuanya?! Dan lo langsung bilang ikhlas? sorry gue gak bisa!" jelas Gue dengan nada kesal. "Gue ngerti perasaan lo, tapi mungkin bokap lo bener, dulu lo pernah hampir cacat dan tidak bergerak karena kami," ujar Agam. "Ini bukan karena kalian! Tapi emang takdir!" ujar gue menekan. "Kalau boleh jujur, lo dulu parah. Radja," ujar Agam. FLASHBACK ON Garis finish mulai terlihat di bagian arena pembalap, kini gue sedang melajukan motor gue dengan kecepatan sangat maksimal. Tanpa gue sadari, gue sudah sampai di tikungan, gue mencoba membelokkan setir motor gue. Tapi entah kenapa itu sangat sulit. Tepat ditikungan itu, gue jatuh. BRUKH! Pengaman gue lepas, motor gue jatuh terhempas. Penonton histeris melihat gue terjatuh seperti ini, yang gue rasa cuman kesakitan, dan yang gue pikir udah gak bisa bertahan lagi. Sakit. Pandangan gue memudar saat gue lihat Agam, Ivan, dan lainnya menghampiri gue. Mata gue tertutup rapat, tidak ada cahaya lagi. Gue benar-benar parah, nafas gue susah buat keluar, mereka membawa gue ke rumah sakit. Dan di situlah, gue terbaring. Beberapa orang duduk di luar menunggu gue siuman, dokter bilang gue patah tulang, bisa sembuh tapi butuh waktu. Sejak itulah sebuah perdebatan, kebencian dimulai. Gue baru sadar, sudah mendapatkan amukan dan larangan keras. "PAPA SUDAH BILANG! ATUR CARA MAIN KAMU DI LUAR! KARENA DUNIA ITU KERAS! KAMU ENGGAK BAKAL SANGGUP, JIKA TIDAK BEKAL!" bentakan itu nyaris masuk dalam ulu hati gue. Untuk pertama kalinya papa gue bentak gue di depan Agam. Karena papa taunya mereka adalah teman seperjuangan pas SMP. "DAN KALIAN! SAYA MENITIPKAN RADJA KEPADA KALIAN AGAR RADJA BISA BERTEMAN DENGAN ORANG BAIK! NYATANYA SAYA SALAH! PASTI KALIAN YANG MEMPENGARUHI RADJA UNTUK IKUT BALAPAN! KAN?! SEKARANG SAYA MINTA JAUHI RADJA!" Bentakan kembali keluar dari mulut papa gue. Hati gue terasa nyeri, bagaimana bisa? Gue melepas kehidupan gue? Teman-teman gue? "Pah, mereka enggak salah, dan balapan juga enggak salah." Ucapan gue membuat bokap gue menatap gue nyalang. "Bukan salah balapan?! Terus kamu begini karena apa? Karena naik kuda? Karena lari? Begitu?" Pertanyaan yang membuat gue bungkam seketika. "Om, maafin kami. Kami enggak ada niatan membuat Radja seperti ini," ujar Agam sembari menunduk. "Saya tidak mau mendengar alasan kalian! Saya cuman minta kalian keluar dari sini! Dan jauhi anak saya! Kalian enggak pantas temenen sama Radja!" jelas Papa Gue "Tapi Om kam—" Ucapan Ivan terpotong "Enggak ada lagi tapi-tapian! Sekarang pergi!" pinta papa gue. Gue menghela nafas dan menggeleng. Gue memberi kode kepada Agam dan lainnya untuk keluar dari ruangan. "Pah, sabar pah. Aku enggak papa kok." "Enggak papa tapi keadaan seperti ini," ujarnya. FLASHBACK OFF "Ini masih terngiang-ngiang, dan kesalahan terbesar lo di sini, lo sering berbohong pada bokap lo, untuk tidak temenen sama kita," ujar Agam. Gue tertawa hambar. "Dulu emang saat-saat tersulit bagi gue, untuk kembali menjalankan hobi," ujar Gue sedikit dengan nada pilu. "Sejak kapan lo jadi alay begini?" tanya Ivan tiba-tiba membuka gue dan Agam sontak terkejut. "Lo ngupil?" tanya Agam. "NGUPING t***l!" "Enggak usah ngegas bodoh!" ujar Agam. "Cie yang lagi flashback enggak sekalian taro bawang? Biar nangis bang," ejek Ivan. "Cih! Diam lo! Mau gue kasih makan sepatu?" tanya Agam. Gue hanya mendengar percakapan mereka tanpa ikut berbincang. Gue masih kepikiran dengan kejadian semalem, gue udah berusaha untuk menjadi anak yang baik di sekolah. Untuk apa? Untuk menutup semua ini. Nyatanya semua terbengkalai kembali karena dan alasan yang sama. Antara gue yang bodoh, atau terlalu ceroboh. "Woy kalian! Mau ngegosip? Dan lupain acara kita?!" Teriakan itu berasal dari mulut Elvina. "Eh, enggak kok. Cuman lagi bahas hal biasa doang. Bukan ngegosip," ujar Agam. "Serah lo deh, sekarang tugas kalian. Gue mau istirahat sama Sheila, dan lainnya," ujar Elvina. "Kami harus ngapain?" tanya Ivan. "Cuci piring," ujar Sheila yang baru saja keluar ruangan. "APA? kasih yang jelas dong, kek hubungan lita kan jelas," ujar Ivan. "Sheila, tolong ambilin batu. Keknya enak nimpuk orang deh," ujar Elvina Saat Sheila ingin melangkah, gue bersuara. "Ck! Iya. Bentar, lagi fase malas." Ucapan gue mampu membuat Elvina kembali berkoar. "MAU APA ENGGAK NIH? ATAU ENGGAK KALIAN ENGGAK USAH DAPAT JATAH MAU?" Suara cempreng khas Elvina keluar. "Berisik banget sih, iya sih iya." Agam berdiri diikuti gue dan Ivan. "Gue kan cowoknya Elvina. Jadi lo berdua aja ya, gue mau pacaran," ujar Ivan mengelak. "Enak aja lu, enggak ada jabatan di sini." Agam menarik tangan Ivan. Sheila sedari tadi menatap gue dengan tatapan datar, gue pun bersuara. "Ngapain lo, liat-liat?" tanya Gue sengit. "Kepedean lo! Sana pergi nyuci piring." Setelah mengucapkan itu Sheila berlalu pergi. "WOY RADJA! BURUAN!" kesal Agam melihat gue yang masih berdiri di tempat. "Kalian berdua yang nyuci, pangkat gue terlaku tinggi untuk ini hehe," ujar gue. "Halah! Enggak ada jabatan di sini!" ujar Ivan. "Kata siapa?" tanya Gue. "Kata Agam tadi, makanya pasang telinga!" ujar Ivan. Seusai menekuri cucian piring, gue mengerahkan peserta makrab untuk segera berkumpul mengelilingi api unggun yang telah disiapkan panitia OSIS. *** "Selamat malam, guys!" Ivan, selaku pembawa acara malam ini—sebut saja seksi abal-abal, karena gue dongkol berat melihat wajahnya yang sok tampan—menyapa peserta yang telah duduk bersila dengan senyuman lebar sembari menaik-turunkan sedua alisnya. Dia berdeham singkat. "Masih semangat, 'kan?" ujarnya bergelora. Serempak kerubung menyerukan kata "masih" yang dibuat-buat. "Kalo gue bilang 'semangat pagi!', kalian jawab 'pagi! Pagi! Pagi! Uye!', ngerti?" Ivan mempraktikkan selogan anak TK. Kepalan tangannya menghentak udara tiga kali sebelum menariknya hingga menyentuh pinggang di samping badan. "Oh ya, sebelumnya, kenapa semangat pagi? Karena walaupun udah malem, kita harus tetap b*******h kayak pagi hari," terang Ivan, dan tampaknya dia merasa seperti artis papan atas dengan gaya pongah ketika tepukan riuh mengudara. Gue mengembangkan hidung sejemang. Tidak perlu diberitahu pun, gue sudah tahu makna selogan yang Ivan utarakan. Tetapi, karena gue ganteng, jadi gue diam. "Mari kita mulai. Semangat pagi!" "Pagi! Pagi! Pagi! Uye!" Ivan tampak puas karena berhasil menggerakkan massa hingga tepuk tangan kembali mengudara. Dia membuka suara. "This time, kita bakal sharing bareng Pak Ketos. Yoyoy, bro! Gabung sini bareng pangeran!" Gue mengernyit dahulu—bukan sepenuhnya karena heran, akan tetapi panggilan "pangeran" yang diperuntukkan kepada dirinya sendiri membuat gue memperlihatkan wajah jijik secara samar. Gue lantas mendekati Ivan, dan dia kembali berucap, "Gue mau tanya-tanya terkait OSIS dan kepemimpinan. Kita pakai sistem terbuka umum, jadi pertanyaan kita ambil dari peserta markab." Ada jeda cepat "So, siapa yang mau bertanya duluan?" Beberapa lengan teracung. Gue melihat wajah mereka satu-satu. "Lo, yang pakai hoody biru tua, silakan." Evan menuding pria kurus yang tidak gue kenal namanya dengan telunjuk. Dia berdiri. "Kenalin semuanya, nama gue David. Pertanyaannya, kenapa lo mau jadi ketua OSIS? Jadi ketos kan sulit juga, harus mempertanggungjawabkan anggota dan program kerja. Kalau gak berjalan sebagaimana mestinya, pas sidang pleno ketika lo memublikasikan laporan pertanggungjawaban, pasti ada rasa kecewa dan gak berdaya," kata si monyong—maaf, maksud gue David—dengan luwes. Dia kembali duduk setelah menganggukkan kepalanya satu kali kepada gue. Duh, gue kan menjabat sebagai ketua OSIS pun tak lebih daripada kamuflase perilaku gue di luaran sana. Akan tetapi, gua pandai bersua dan menjawab pertanyaannya. "Alasan gue menjadi ketua OSIS adalah ingin merasakan sensasi baru dengan mengikuti keorganisasian di SMA. Memang, jadi ketos itu gampang-gampang susah. Tapi toh kita punya anggota yang udah dianggap sebagai keluarga. Kita bekerja sama menyukseskan program kerja. Asalkan telah berusaha semampu kita, apa pun hasilnya nanti adalah jerih payah dan saksi dari kekompakan yang kita bangun. Sesuatu akan berbuah baik kalau kita melakukannya dengan apik. Begitupun sebaliknya. Rasa kecewa pasti ada ketika program kerja yang udah dirancang enggak sesuai rencana. Manusiawi." Pemaparan gue tampaknya memukau, dan gue menyadari hal itu. Tepuk tangan kembali bergema dan gue tersanjung dibuatnya. Terlihat Sheila memandangi gue dengan air muka yang tak terbaca, tapi gue pura-pura tidak melihatnya dengah melirik ke arah Ivan yang ternyata tengah menggeleng-gelengkan kepala. "Woah ... keren, bro!" Ivan mengerling sebelum berpaling ke depan. "Ada pertanyaan lagi?" Lengan-lengan yang ditutupi kaus kembali mengacung sementara gue meraih botol minum yang disodorkan Agam. Orang ganteng haus! "Ya, Sheila! Mau tanya apa?" Gue segera berbalik badan melihat ke depan. Sheila berdiri diiringi tepukan tangan. Tetiba pandangan gue bersirobok dengannya. Aduh, kok gue mendadak mulas, ya? "Gue Sheila, meu bertanya. Menurut lo, pemimpin itu apa?" Sheila kembali ke tempat semula. Netra sewarna cokelat terangnya tampak gelap karena temaram. Tatapan kita belum terlepas. "Pemimpin itu ... orang yang bisa memimpin dirinya sendiri sebelum orang lain." "Memimpin dirinya sendiri?" Sheila menyela. "Ya, saat kita memutuskan membuat scedule harian, atau contoh sederhananya ketika memutuskan bangun pagi dan kita berhasil bangun pada waktu yang direncanakan, itu artinya kita memimpin diri kita sendiri. Kalau hal-hal kecil tersebut sukses, barulah kita memimpin massa, memimpin orang lain." Tepukan kembali bergemuruh selagi Sheila tidak memperlihatkan apa pun. Wajahnya terlampau biasa saja. Whush! Otak gue mengerling jenaka. Gue beropini jikalau Sheila terpukau dengan jawaban gue. Duh, Radja, lo emang keren. Sheila saja tidak bisa melewatkan ucapan gue! "Yah, waktu sharing udah habis nih. Kasih tepuk tangan lagi buat Pak Ketos kita!" Setelahnya, gue dan Ivan kembali duduk sementara massa dipegang oleh Dewa. "Mayan, mayan," puji Agam sedetik setelah gue menghempaskan b****g di sebelahnya. Halah, lumayan! Tanggung amat mujinya, Bang! Sementara itu, Dewa telah berdiri di tengah-tengah kerumun di samping api unggun yang jilatan merahnya mulai menurun. Dewa meminta semua peserta ikut berdiri dan menghentak-hentakkan kaki mengikuti irama musih nge-beat yang diputar dengan pengeras suara. "Suruh rileks dulu ototnya, biar gak tegang!" teriak Dewa sembari meremas kepalan tangannya di atas kepala seperti gerakan yoga diikuti semua peserta. Musik berakhir, peserta kembali duduk, dan Dewa mengap-mengap kehabisan napas. Tuh kan, untung tidak sampai asma. Pemuda itu melontarkan menyulut semangat dengan kembali menyuarakan selogan anak TK yang dipraktikkan Ivan sebelumnya. "Sekarang kita games, ya! Nama permainannya 'Menyerupai Sesuatu'. Teknisnya mudah kok. Gue bakal menyebutkan benda, dan kalian menirukannya. Kalau gue bilang motor, kalian cari satu orang partner buat diajak kerja sama." Dewa memanggil Agam untuk mempraktikkan gerakan. Tampak Dewa berdiri dengan lengan di depan badan menyerupai stang motor. Sementara Agam melingkarkan kedua lengannya di pinggang Dewa dengan tubuh yang membungkuk serupa jok. Oke, mudah, gue paham. Begitu seterusnya ia mempraktikkan tiga macam benda. "Siap-siap ... be—pancuran!" Gue segera membentuk kelompok yang beranggitakan tujuh orang. Satu orang berada di tengah-tengah dengan menengadahkan kepala dan kedua lengan terangkat ke udara. Enam orang lainnya saling berpegangan tangan mengelikingi orang itu. "Kelompok yang paling ujung tuh, kalian gugur. Kurang satu anggota." Grup yang dianggap gugur akan mendapatkan hukuman, seperti bernyanyi lagu Balonku Ada Lima dengan akhiran "o" atau apa pun yang direkomendasikan peserta yang menang. "Lanjut! Sekarang, tirukan becak!" Dewa kembali menyalak seperti anjing Cihuahua, tapi gue enggak sebal dibuatnya. Gue dengan cekatan menarik orang terdekat. Dua orang membungkuk sejajar, sementara satu orang lagi berdiri di belakangnya. Jadilah becak yang Dewa maksud. Semua orang tampak menikmati permainan yang Dewa buat termasuk gue. Ujaran kasar dan tawa saling bersahutan di antara temaramnya malam. "Tirukan motor!" Dewa tambah bergelora. Gue sempat kesulitan mencari partner dan menarik secara random siapa saja asal gue tidak kalah. Gue tertawa-tawa sampai memejamkan mata. Lengan gue melingkar di pinggang seseorang yang kini tengah menegang. Wajah gue yang menunduk meredakan tawa mencoba menengadah melihat siapa gerangan partner yang menyelamatkan gue dari hukuman yang memalukan "Untung lo ad—hah? Sheila?" Gue terpaku, napas Sheila memburu. Pandangan matanya membidik lurus bola mata gue. Ingar-bingar celoteh kawan melatarbelakangi kami. Gue melepaskan kungkungan lengan dengan kikuk. "S-sorry." Sheila masih terdiam, dan gue menjadi bingung. Api unggun menyala-nyala di belakang tubuhnya. Napas Sheila kembali keratur, sedang tatapan kami masih terkunci. "Ekhem, tatap-tatapannya nanti aja ya kalau udah kelar games nya." Ujaran Dewa yang begitu tiba-tiba membuat gue dan Sheila terkejut. Dengan segera, Sheila memutus tatapannya dari gue. "Cie, jadinya musuh jadi gebetan nih ceritanya?" tanya Dewa dengan menaik-turunkan alisnya. Tangan gue jadi gatel mau nonjok muka bangkainya Dewa. "Cie, yang malu-malu. Kayak habis ngapain aja, eneng sama abang ini." Dewa kembali menggoda gue dan Sheila. Gue menolehkan kepala, bermaksud melihat raut wajah Sheila ketika digoda Dewa. Sialnya, Sheila juga memalingkan wajahnya ke arah gue. Jadilah kita—Gue dan Sheila—kembali bertatap-tatapan. "Udah woy, aelah, bucin lo semua," geram Dewa. Gue segera memutuskan pandangan. Malu. *** Semenjak kejadian dimakrab waktu itu, gue dan Sheila jadi jarang bertegur sapa lagi—dalam artian bertengkar. Kalau bertemu, antara gue dan Sheila pasti ada yang memalingkan muka. Kalau gue jelas alasannya, malu. Kalau Sheila nggak tau lagi, mungkin udah sadar atas pesona gue yang diatas rata-rata ini. "Gam!" panggil gue pada Agam. "Paan?" "Gue punya malu apa enggak, ya?" tanya gue. Gue jadi malu sendiri tanya itu, tapi gimanapun juga pertanyaan itu udah terlanjur keluar dari bibir seksi gue. Agam menoleh kearah gue. "Lo waras?" Gue menimpuk kepala Agam dengan LKS yang gue bawa. "Manusia ganteng seperti gue ini senantiasa waras, dong." ujar gue membanggakan diri. Agam merebut LKS dari tangan gue. "Buat apa?" tanya gue. Belum saja Agam menjawab pertanyaan yang gue ajukan, dia telah menimpuk kepala gue dengan LKS sama seperti yang gue lakukan tadi. "Nimpuk lo!" jawab Agam seusai menimpuk kepala gue. "Telat njir lo jawabnya." Agam hanya mengedikkan bahu. "Kabar mama lo gimana?" tanya Agam tiba-tiba. Raut wajah gue berubah, gigi gue bergemelatukkan, tangan gue mengepal. "Nggak usah tanya tentang dia, gue nggak peduli!" sarkas gue. Agam mengangguk. Menepuk pundak gue beberapa kali. "Bagaimanapun juga dia mama lo. Gue cabut duluan," katanya sembari mengembalikan LKS ke tangan gue sebelum meninggalkan gue. Gue melangkahkan kaki dengan cepat menuju rooftop, nggak peduli dengan LKS yang harusnya gue kumpulkan di atas meja guru. Gue butuh pelampiasan amarah. Gue menutup pintu masuk rooftop dengan kencang. Untung tidak ada siswa apalagi siswi yang ada di rooftop, mungkin karena pelajaran sedang berlangsung. Gue mendudukkan diri di atas sebuah kursi kayu. Kedua tangan gue masih mengepal, rahang gue semakin mengeras. Gue melempar LKS dan segera bangkit meninju tembok yang ada dibelakang gue beberapa kali. Temboknya sama sekali nggak retak, tapi tangan gue yang sakit. Nggak papa, asalkan gue bisa menyalurkan emosi gue. Gue bener-bener emosi jika ada orang lain yang ikut urus-campur dalam kehidupan keluarga gue, walaupun banya sekedar bertanya. Gue benci keluarga gue. FLASHBACK ON Gue terbangun karena mendengar suara keributan dari arah ruang tamu. Gue segera melihat jam diatas meja samping tempat tidur. Jam satu malam. Karena gue dari lahir sudah kepo, gue memutuskan untuk mencari tahu keributan tersebut. Gue memutuskan keluar dari kamar dan menuju ruang tamu. Sesampainya gue pada ruang tamu, gue melihat hal yang harusnya nggak gue lihat. Pecahan kaca dimana-mana, semua barang berserakan. Dan, yang paling parah gue ngelihat nyokap dengan kondisi yang tidak pantas. Nyokap gue memakai pakaian super minim dengan make up yang persis seperti tante girang. Disana, ditengah-tengah ruang tamu, bokap dan nyokap gue adu mulut. Mungkin karena saking marahnya sama nyokap, bokap bahkan sampai nampar nyokap dan meninggalkan bekas merah di pipi nyokap gue. Nyokap gue tambah marah. Dia pergi meninggalkan ruang tamu dan memasuki kamar utama seraya membanting pintu. Disaat yang sama, bokap lihat gue, dia nyuruh gue balik ke kamar. Kejadian itu berlangsung sampai sekiranya setahun lebih, bahkan kadang-kadang nyokap gue bawa pria menjijikkan ke rumah. Sampai akhirnya, pertengkaran besar terjadi. Semua barang hancur, nyokap memutuskan untuk meninggalkan rumah. Dan malam itu, saat gue masih SMP kelas 9, adalah hari terakhir gue lihat nyokap. FLASHBACK OFF "Lo nangis?" Gue terjungkal kaget. Tiba-tiba di depan gue udah ada Sheila. Astaga, sejak kapan dia di sana? Sejak kapan juga air mata laknat ngalir diwajah tampan gue? "Cih, ngapain lo nangis?" tanya Sheila lagi. Gue memilih memalingkan muka. Masih malu. "Cengeng lo." Sheila meninju lengan gue pelan. "Sok akrab lo," ujar gue. Sheila berdecak seraya menggelengkan kepala. "Kok ada ya manusia setengah iblis kayak lo? Heran gue," sinis Sheila. "Lo ngehina gue iblis?" "Menurut lo?" Sheila menaikkan satu alisnya. Gue menoleh. "Sejak kapan iblis jadi ganteng kayak gue?" "Ganteng, sih, ganteng. Tapi, kelakuannya bikin orang mau salto." "Lo ngakuin kalau gue ganteng, dong?" Sheila bergidig. "Dih, amit-amit." Gue tersenyum miring. "Udah kemakan pesona gue, ya? Jujur aja deh lo." Gue masih menggoda Sheila. Sheila kembali menggelengkan kepala seraya memegang kepalanya. "Bisa sinting gue deket-deket sama lo." Gue tersenyum. Sheila memilih pergi dari hadapan gue. Entah sejak kapan gue semakin suka goda Sheila, sejak gue liat tingkah dia, lucu, ada rasa hangat di hati gue yang gak bisa gue jelasin, semua kerasa kaya mimpi. “Sheil! Tunggu,” ucap gue menarik tangan Sheila “Apa lagi?” ucapnya cuek. Mata gue sendu lagi, ngerasa semua hancur, gue butuh sandaran. Gue butuh dukungan. Gue gak bisa hidup gini terus, gue enggak ngerti apa yang harus gue lakuin. Gue menarik Sheila buat duduk disamping gue dan gue nyandar dibahunya. Sheila sedikit menegang, enggak tau apa yang harus gue lakuin lagi. Gue udah pasrah, kehidupan orang tua gue hancur. Gak ada satupun yang sempurna di hidup gue kecuali fisik gue. Perlahan gue ngerasain ada usapan halus di kepala, udah pasti itu tangan Sheila, gue biarin, setidaknya ini bikin gue tenang banget. Emosi gue mereda. “WOI! Gila lu berdua! Masa diem-diem pacaran!” teriak Bumi dari bawah Refleks, gue malah ngedorong Sheila dan bikin dia jatuh, gue pura-pura gak terjadi apa-apa dan turun kebawah, ninggalin Sheila yang masih meganging lututnya. Baru sampe tangga kedua, gue ngerasa bersalah, haduh repot emang kalau jadi orang ganteng yang baik, bawaannya gak tegaan. Gue balik naik ke atas dan ngeliat dia yang kesakitan megang lututnya, gue berlutut dan liat lututnya, memar. Astaga gue gak sadar dorong dia sekenceng itu. “Sheila? Lo enggak papa?” tanya gue agak khawatir ngeliat lutut dia yang biru kemerahan. “MENURUT LO!” jawabnya sewot “Iya maafin gue ya, yaudah sini,” Gue balik badan berjongkok lalu menepuk pundak gue, ngasih kode ke dia buat naik keatas pundak gue. Kalau udah kaya gini gue harus tanggung jawab kan? Tapi Sheila diem aja gak naik ke punggung gue, gue berbalik menghadap dia, dia masih memasang muka jengkelnya. “Gak mau gue gendong?” “Enggak!” “Emang lo bisa jalan?” “Ish! Minggir!” Sheila mencoba berdiri, namun kemudian tubuhnya ambruk lagi kebawah, kakinya rupanya benar-benar sakit. Gue gak pikir dua kali lagi, gue gendong Sheila ala Bridal Style dan langsung bawa dia keluar dari rooftop. Dia agak kaget sama sikap gue, tapi mau gimana lagi? Dia udah kesakitan kaya gitu enggak mungkin kan gue biarin gitu aja? Gue ini walaupun berandalan, tapi gue peduli perempuan. Yah meski nyokap gue pernah keliatan buruk dimata gue, tapi gue yakin, nyokap gue pasti punya alasan kenapa dia sampe ngelakuin hal itu. Sampai sekarang pun gue masih enggak bisa berhubungan sama nyokap gue, karena bokap masih dendam sama nyokap gue. Gak tau dimana nyokap gue sekarang, kangen iya tapi gue juga benci. Gue berjalan sambil gendong Sheila ngelewatin beberapa siswa SMA Gemilang, beberapa ngeliat gue takjub, ada juga yang sempet ngambil foto. Duh udah pasti ini anak jurnalis yang bakalan bikin gosip di mading besok, gue yakin 100% gue pasti jadi artis SMA Gemilang dan headline beritanya “Rehando Radja Sembiring Malaikat Penyelamat” keren kan gue? “Udah duduk situ bentar,” ucap gue mendudukkan Sheila yang masih kesakitan. “Mmm.. Radja... makasih,” ucap Sheila menunduk malu “Ya, sama-sama,” Gue narik kaki Sheila pelan dan memberi krim memar di lutut Sheila, dia menggigit bibirnya menahan sakit, tapi mata gue malah salah fokus ngeliat bibir merah mudanya yang diolesi tipis sama liptint, entah kenapa gue malah ngerasa sesuatu yang aneh dan pipi gue memanas. “Ja? Gue denger... nyokap lo itu ahli gizi?” tanya Sheila Gue menatap Sheila lekat, darimana dia tau soal nyokap gue? Emang bener sih nyokap dokter ahli gizi, tapi sayangnya nyokap gue udah berbuat sesuatu yang membuat gue benci. “Gausah ikut campur urusan gue,” ucapku dengan nada tenang dan fokus mengolesi lutut Sheila dengan krim “Gue kan cuma nanya, kenapa lo nyolot sih?” tanya Sheila Gue hanya diam enggak menanggapi ucapannya, gue males bahas nyokap, bokap. Keduanya sama-sama keras kepala, dan gak ada yang bisa ngerangkul gue sebagai anak. Kadang gue heran, kenapa bisa mereka itu memutuskan menikah kalau ujungnya mereka saling enggak cocok, gue jadi takut sendiri, kalau gue menikah gimana ya? Apa bisa gue mertahanin suatu pernikahan? Ah masa bodo lah, mending gue mikir buat kuliah. “Gue gasuka sama mereka berdua, gue benci, jadi jangan tanya lagi,” ucap gue singkat “Tapi itu kan orang...” “Ssst, diem, udah ya, gue mau masuk kelas dulu,” Gue berbalik dan berdiri mau ke kelas, tapi tangan Sheila narik gue “Jangan tinggalin gue sendirian disini, takut!” ucap Sheila “HAH? Lo takut? Takut apaan? Yang ada setan yang takut sama lo!” ucap Radja KRINGGG Bel berbunyi tanda waktu istirahat telah usai, gue melihat Sheila yang masih memandangi lututnya, tangan kanannya masih memegangi tangan gue, mungkin takut jika gue pergi. “Lo mau gue bolos kelas? Abis gini gue pelajaran biologi.” “Ah, iya udah bel gimana dong? Yaudah anterin gue ke kelas dulu,” pinta Sheila Gue mengangguk dan tanpa ba bi bu gue langsung ngangkat tubuhnya ala Bridal Style lagi. Tapi Sheila malah memukul d**a gue. “Kenapa lagi?” “E... itu.. apa gausah digendong, pegangin gue aja,” “Ck! Kelamaan, udahlah nurut sama Ketos!” ucap gue galak dan mengangkat tubuhnya yang ringan udah kaya bawa triplek kemana-mana. Gue keluar dari UKS dan beberapa temen gue ngeliatin gue yang gendong Sheila dengan melongo, gatau apa yang mereka pikirin, tapi bodo amat lah. “Wanjay, lo kok gendong Sheila kemana-mana?” tanya Ivan “Enak aja, ini itu triplek,” ucap gue cuek lalu terus berjalan melewati geng gue. Gue melihat Agam sekilas, dan muka gue ngeliat dia males, gue paling enggak suka kalau Agam bahas nyokap bokap dan ikut campur, gue cuma numpang tempat tinggal, selebihnya? Semua pake duit gue sendiri hasil jerih payah gue ikutan lomba. “Ih enak aja bilang gue tepos!” ucap Sheila galak “Ya terus kalau lo gak tepos apalagi? Tuh gaada apa-apanya,” ucapku melihat ke arah dadanya, Sheila malah menampar keras pipi gue, sedikit panas rasanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN