Sila sedikit merinding mendengar ada seseorang yang memanggil dirinya.
"Sila ...." Suara itu kembali terdengar membuat Sila berdiri dan membalikkan badannya.
"Please jangan ganggu gue, gue janji enggak bakal lewat sini lagi kok, jangan ganggu gue ya," ujar Sila sambil menutup matanya.
"Sila!" Bentakan itu membuat Sila membuka matanya.
"Kok? Lo ada di sini? Lo enggak nyari Feby dan Akila?" tanya Sila.
"Hellow, situ juga ngapain? Jongkok di situ, mau pipis?" tanya Jasmine.
"Dan ya gue tadi ma–"
"Ish, tadi gue denger suara aneh, lo sih nyuruhnya di bagian sini. Kan banyak suara aneh," ujar Sila memotong kalimat Jasmine.
"Kalau denger suara aneh, langsung aja lari, napa malah jongkok?" tanya Jasmine.
"Gue tadi nyari senter woy, senter gue jatuh. Ngeselin banget," ujar Sila.
"Itu?" tanya Jasmine sambil menunjuk senter di balik semak-semak tepat di belakang Sila.
"Kok bisa di situ sih? Perasaan tadi enggak ada deh! Oh lo punya sesuatu ya? Makanya bisa nemuin barang yang sebenarnya enggak ada di situ?" tanya Sila.
"Lo, udah mulai halu ya? Udahlah, enggak usah debat. Gue sengaja nyari lo buat berpencar di luar dari jalur pendakian, gue udah keliling 3 kali di jalur yang sama dan hampir ke jalur lo, dan mereka enggak ketemu," jelas Jasmine.
"Aduh, pegel," keluh Sila.
"Em, kita mau berpencar di bagian mana emang?" tanya Sila.
"Lo masih kuat enggak? Kalau enggak kita istirahat aja dulu," ujar Jasmine.
"Gila ya lo? Mereka nanti gimana kalau kita istirahat? Lo enggak pikirin mereka apa?" tanya Sila marah.
"Santai aja kali, kita juga kalau capek ujung-ujungnya sakit kan percuma buat nyari mereka. Apalagi dengan keadaan yang tidak sehat," ujar Jasmine.
"Tadi aja ngeluh pegel, sok-sokan ngomong gitu lagi," ujar Jasmine.
"Gue kuat kok, asal lo kasih minum lo ke gue," ujar Sila dengan cengirannya.
Jasmine merubah raut wajahnya. "Dih, yaudah. Entar, kita pencar di perbatasan sana ya. Gue ke kiri lo ke kanan," ujar Jasmine sambil menunjuk arah perbatasan pendakian.
"Iya, bos." Sila dan Jasmine mulai berjalan menuju arah itu, walau sedikit jauh tapi mereka usahakan dengan berlari.
"Mine, masih jauh engga?" tanya Sila.
"Dikit lagi, sabar." Jasmine masih menuntun jalan ke arah perbatasan di luar pendakian mereka.
Malam yang sejuk ini sangat tidak membantu di aktivitas pencarian malam ini. Tapi gimana, namanya juga pendakian ya pasti sejuk lah.
"Dingin ya," ujar Jasmine.
"Hem." Sila terus berjalan
"Nah ini udah sampai, bener enggak? tanya Sila.
"Iya. Bener," jawab Jasmine.
"Mana minum lo?" tagih Sila, Jasmine memberikan botol air minum berisi teh hangat kepada Sila.
"UwU makasih lo ya," ujar Sila sambil menerima botol itu dengan girangnya.
Setelah memberikan itu, Jasmine langsung berjalan ke arah kiri meninggalkan Sila yang masih minum.
"Eh, tuh orang main pergi aja ya," ujar Sila.
"Tapi enggak apa-apa sih, di sini sedikit aman dari pada tempat pendakian itu, mana hutannya lebat lagi," ujar Sila bergidik ngeri.
Jasmine yang berusaha mencari seseorang yang bisa ditanya soal keadaan sekitar, sayangnya ini sudah waktu istirahat, sepi udah enggak ada orang lagi.
"Ya, ck! nyari di sini juga apa bedanya dengan yang di hutan? Susah nyarinya kalau gini, jangan sampai Feby dan Akila terpisah, makin sulit dicari nih kalau mereka pisah," ujar Jasmine.
"Btw, kok gue sok berani ya? Tapi seberaninya gue, gue juga masih punya rasa takut ya." Jasmine terus berucap walau hanya kepada dirinya sendiri.
Di depan ada sebuah tikungan yang agak jurang ya. Membuat Jasmine terhenti.
"Lah, ini masa gue harus jalan terus? Ini lumayan jurang ya. Malam banget lagi udah jam 10, help." Jasmine memutuskan untuk berjalan ke pinggir agar tidak terlalu jurang walau emang jalanan ini sangat sepi, tidak membuat Jasmine nyerah.
"Kok gue kayak nyesel ya? Datang ke sini, kesialan mulu deh dari tadi, semoga gue enggak tidur di jalan deh. Amit-amit," ujar Jasmine.
Sedangkan Sila yang terus meneriakkan nama Feby dan Akila terus menerus tanpa henti. Sila yang memeluk tubuhnya sendiri, agar tidak merasakan kedinginan yang menusuk.
"Untung gue enggak bisu, sekarang suara adalah bantuan terakhir pada diriku," ujar Sila dramatis.
"Feby ... Kila ...."
"Ya Allah ya Tuhan, gue nyerah." Sila duduk di pinggir jalan tepat di sana ada batu.
Sila melepas lelah pada kakinya. Sambil memijat-mijat dengan pelan. Membuat dia hampir tertidur.
"Lo kuat, cari ayo." Sila menyemangati dirinya sendiri, dengan sisa tenaga dia bangkit dan kembali berjalan mencari Feby dan Kila.
"Gue yakin, kalian ada di sekitar sini." Sila yang memiliki keyakinan akhirnya berjalan kembali mencari Feby dan Kila.
"Feby!!"
"Kila!!"
"Kalian di mana? Help! Kalian bersuara kalau kalian ada di sini," ujar Sila dengan menatap ke arah sekitar.
Matanya terus meneliti ke arah depan yang semakin ke dalam semakin gelap.
"Belajar menjadi pemberani, ini adalah tantangan. Sil, ini resiko kenapa lo berani datang ke sini," ujar Sila.
Sila mengusap wajahnya kasar. "Astaga! kalian di mana sih?" tanya Sila mulai emosi.
"Jangan buat gue khawatir apa lagi marah ya."
Sila sudah hampir pada ujung jalan, di depan sedikit ada lencengan jalan di sana ada dua arah membuat Sila bingung.
"Ok, tak selamanya kanan itu beruntung. Seperti sekarang, gue coba masuk ke kiri dulu deh," ujar Sila.
Dia berjalan dengan cepat sambil melanjutkan aksinya teriak-teriak di setiap jalannya.
Semakin Sila berjalan semakin kelihatan ujung yang dia tempuh.
"Kayaknya ini, terlalu jauh buat mereka bisa sampai sini." Sila menatap sekitar.
Malam begitu sunyi dan gelap. Walau ada beberapa cahaya lampu lentera di ujung jalan. Membuat Sila sedikit lega dan tidak takut.
"Gue balik aja kali ya? Coba masuk ke kanan," ujar Sila.
Dia berlari ke arah luar kembali, namun ada yang mengalihkan pandangan dia. Sila berhenti, ingin berjalan menuju barang itu.
Ia dia menemukan sesuatu, itu adalah sapu tangan milik Kila. Tepat di arah ujung jurang itu, Sila mengambilnya.
"Enggak mungkin kalau Kila jatuh ke sini, dia pasti punya akal dan enggak ada alasan kenapa dia bisa jatuh di sini. Dan lebih jelasnya kita tadi berpisah enggak sejauh ini," ujar Sila terus berfikir positif tentang keadaan Kila.
"Tapi, apa saja bisa terjadi, gue bingung."
Sila menarik nafasnya perlahan lalu membuangnya, dan menyimpan sapu tangan itu ke dalam bagnya. Setelah itu dia berjalan kembali ke arah kanan.
Dengan keyakinan yang sama. Dia sangat yakin, kalau salah satu di antara mereka pasti ada di sini. Dan Sila berharap dia menemukan keduanya, dan bisa mendaki bersama kembali.
"Feby ...."
Sila seperti mendengar suara seseorang, dia berharap itu adalah sahabat yang dia cari bukan hal-hal negatif seperti setan, kuntilanak atau semacamnya.
"Hem ... tapi gue ragu ya. Sumpah kayak gini gue pengen pipis rasanya, saking takutnya," ujar Sila.
"Tenang-tenang, tarik napas, buang ... tarik napas, buang." Sila berjalan pelan.
"Tolong ...." Suara minta tolong itu terdengar jelas kini di telinga Sila, sayangnya dia harus menghentikan langkahnya.
"Jangan sampai gue ketipu sama sesuatu ya Allah. Ini tempat kayaknya emang enggak aman deh," ujar Sila.
"Tapi hati gue kok, ngerasa itu Feby ya?" tanya Sila yang mulai panik sendiri karena keraguannya.
"Sila! Lo harus bisa berani kalau lo mau nemuin dia," ujar Sila pada dirinya sendiri.
"Tolong ... gu ... e." Sila berusaha mendengar dengan baik suara itu.
"Hallo? Ada orang? Gue juga orang nih, gue lagi nyari temen gue, lo bukan setan kan?" tanya Sila.
Tidak ada sahutan, Sila menenggak badannya dengan tegar.
"Gue Sila, kalau lo Feby, atau Kila gue bakal ke situ, help, gue juga takut. Di sana terlalu gelap dan sedikit jurang," ujar Sila.
Tidak ada sahutan sekali lagi, Sila berfikir dia seperti orang gila saja yang berbicara sendiri. Tapi kenyataannya dia tidak ingin terjadi sesuatu pada dirinya, dia masih sayang sama dirinya.
Sila melangkah ....
[9/12, 15:52] Gita Asrawani: *GITA (BAB 18) NAKILA*
Sila melangkah ke depan, dia berusaha untuk menjadi pemberani untuk malam ini. Sila celingak-celinguk mencari keberadaan asal suara itu.
"Hey? Ada orang?" tanya Sila.
"In .. ini Gu ... e, Sil," ujar seseorang yang gegelapan membuat Sila berjalan semakin ke depan.
"Feby? Lo? Lo kenapa?" tanya Sila yang terkejut melihat Feby yang kini memeluk tubuhnya dengan erat, sambil mengigil.
"Lo kenapa?" tanya Sila panik melihat keadaan sahabatnya. Sila dengan cepat mengecek suhu tubuh Feby.
"Sumpah lo dingin banget," ujar Sila langsung dengan cepat membuka jaket miliknya dan memberikannya kepada Feby.
"Lo enggak apa-apa kan?" tanya Sila, Feby tidak bisa merespon, mulutnya seakan sulit untuk berbicara walau satu kata pun.
"Aduh, kok lo bisa di sini. Sabar ya, gue cari hal-hal yang bisa buat lo hangat kembali," ujar Sila
Sila dengan cepat mencari korek di dalam tasnya, dia berharap bisa membuat api unggun untuk Feby.
"Ah! Enggak ada korek lagi, gimana caranya gue buat api," kesal Sila langsung melempar pelan tasnya dan berlari ke ujung untuk mengambil batu.
"Lo yang kuat, Feby." Sila berusaha untuk tetap berkomunikasi walau keadaan Feby memang tak memungkinkan untuk berbicara.
Sila dengan teliti mencari batu yang bisa dijadikan benda yang menghasilkan gaya gesek hingga timbul percikan api.
Sebelum dari itu, Sila sudah menyiapkan aku yang akan dia bakar.
"Ini cukup enggak ya? Sampai pagi?" tanyanya sama dirinya sendiri.
"Semoga aja deh," monolognya.
Setelah menemukan batu yang besar, dia dengan cepat mengambil baterai senter bekas.
"Untung gue tadi enggak buang ini," ujarnya lalu mulai menggesekkan dengan cepat.
Percobaan pertama belum bisa mengeluarkan percikan sama sekali. Tapi dia tetap berusaha. Di percobaan kedua, percikan mulai keluar dari batu itu, dan sudah menghasilkan sedikit api.
Dengan cepat Sila membawa Feby mendekat ke api unggun itu, memegang tangan Feby sambil menggosok-gosokkan tangannya dengan Feby.
Sila juga memberikan teh hangat yang belum habis tadi kepada Feby.
"Ini lo minum, ini punya si Jasmine tadi ngasi ke gue," ujar Sila.
Feby mengambilnya, setelah meminum itu, badannya sudah agak mendingan, tapi masih sangat pucat menurut Sila.
Sila mencari korek api di tas milik Feby, mungkin saja ada. Feby saat ini sangat sulit diajak komunikasi apalagi dengan kondisinya yang sekarang.
Sila menambahkan api, agar tubuh mereka, terutama Feby bisa semakin hangat. Setelah itu, Sila menyiapkan sleeping bag miliknya dan milik Feby.
Setelah semua selesai, Sila menyuruh Feby untuk tidur.
"Lo mending tidur aja, gue belum ngantuk," ujar Sila mengelus pelan pucuk kepala Feby.
"Makasih ya, Sil. Kalau lo enggak ada mungkin gue udah enggak hidup lagi," ujar Feby membuat Sila merubah raut wajahnya.
"Lo jangan ngomong kayak gitu, lo itu kuat, buktinya masih bisa bertahan. Lo kena Hipotermia," ujar Sila.
Feby mengangguk. "Gue emang enggak tahan cuaca dingin, gue kira enggak sedingin ini. Ternyata di luar ekspektasi gue," ujar Feby.
Sila tersenyum tipis. Dan mulai menidurkan tubuhnya di sleeping bagnya.
"Lo udah mendingan?" tanya Sila masih khawatir dengan Feby, yang sangat pucat.
"Iya, gue udah mendingan kok. Btw, si Jasmine mana? Kalian pencar?" tanya Feby.
"Heem, ini tempat luas, Feb. Enggak mungkin kalau kita enggak pencar," jelas Sila.
"Lah? Kalian harusnya barengan, kita enggak tau situasi di sana seperti apa. Contohnya kayak gue," ujar Feby.
"Ini juga buat kalian, Kila dan lo." Sila menatap langit.
"Kila? Kila enggak sama kalian?" tanya Feby.
Sila dengan cepat menggeleng. "Enggak gue kira dia sama lo!" ujar Sila lalu bangun dari tidurnya.
"Kalian berpisah di mana?" tanya Sila.
"Gue juga enggak tau, Sil. Gue hilang kontrol, cuaca dingin banget." Feby menerangkan.
Sila mengusap wajahnya pelan.
"Astaga. Gimana keadaan mereka berdua sekarang? Jasmine? Kila?" tanya Sila dengan nada suara yang parau.
"Maafin gue, ini semua berawal karena sebuah tantangan. Dan kita seharusnya bersikap sewajarnya dan tidak berlebih-lebihan," ujar Feby.
"Ini semua salah kita, enggak usah merasa bersalah sendiri." Sila menatap ke arah depan.
"Andai aja waktu bisa diulang," ujar Sila.
Feby yang semakin malam, semakin memucat membuat Sila menatapnya khawatir.
"Lo tidur aja deh, Feb. Gue takut lo kenapa-kenapa, gue enggak bawa obat sama sekali, semua obat ada di tas Jasmine," ujar Sila memberitahu.
"Gue enggak bisa tidur, apalagi kalau kita enggak barengan berempat, gimana keadaan Akila dan Jasmine," ujar Feby.
Sila memegang pundak Feby dan mengusapnya pelan.
"Tenang, aja. Ini udah larut banget. Kita enggak bisa nyari mereka sekarang, mau dipaksa juga keadaan lo kan lagi enggak sehat," jelas Sila.
"Iya, sih. Yaudah gue tidur," ujar Feby.
Sila yang tidak mengantuk sama sekali, membuka tas miliknya mencari hal-hal yang bisa menghibur dirinya.
Sayangnya tidak ada, terpaksa dia hanya bisa menyelimuti diri dari sleeping bagnya menatap langit yang penuh dengan bintang. Dan bulan yang tepat berada di tengah-tengah.
"Andai aja ini enggak terjadi, mungkin kita sekarang udah sampai di pendakian." Sila monolog.
"Gue orangnya suka nyesal sendiri, padahal udah terjadi," ujarnya lagi.
Beberapa menit kemudian dia tertidur dengan api unggun yang menjadi sumber cahaya mereka.
Dengan suara angin malam dan hewan-hewan yang mengisi kesunyian malam mereka.
Sila dan Feby sudah tertidur.
–oOo–
Di sisi lain, Nathan, Arka, Bima, Raja, dan Alam yang baru saja sampai di perbatasan pendakian.
"Bro udah malam, enggak mau lanjut besok?" tanya Arka.
"Lo mah, kata-kata doang tadi bilangnya kita ini malam ini dengan pendakian," ujar Alam.
"Ya enggak gitu juga ceunah, masa ia ini udah jam 12 malam oy! Sadar enggak sih? Liat jam sono ini udah waktunya tidur," ujar Arka panjang kali lebar.
"Gimana, Vin? Mau lanjut enggak?" tanya Alam.
"Kita coba berjalan di bagian sana, masa kalian mau tidur di perbatasan sini sih," ujar Vino memimpin jalan.
"Untung kita berlima ya. Enggak terlalu seram sih," ujar Arka.
"Yang seram itu muka lo," ujar Bima.
"Kalian maunya di mana nih? Kita udah bisa istirahat di bagian sini sih," ujar Raja.
"Iya di sini aja." Vino membuat api unggun dan teman-temannya membuat tenda.
"Kita pake tenda?" tanya Arka
"Terus mau pake apa?" tanya Alam.
"Tidur aja langsung di rumput," ujar Arka.
"Lo aja, gue ogah." Alam merapihkan bagian dalam tenda yang siap untuk ditiduri berlima.
"Masa gue sendiri di luar sih, b**o emang enggak ada ahlak jadi temen lo," ujar Arka.
"Kan lo yang bilang tadi t***l," kesal Alam.
"Serah deh," ujar Alam.
"Kalian kenapa sih? Berantem? Enggak sekalian kalian pake pisau gitu?" tanya Raja.
"Kalian dengar sesuatu enggak?" tanya Bima.
"Kalian mau istirahat atau mau debat?" tanya Nathan.
"Istirahat." Dengan kompak mereka berucap.
"Yaudah ayo tidur, kita istirahat cuman 2 jam doang, kita lanjut jalan jam 4 subuh enak tuh," ujar Nathan.
"Iya. Gue setuju, makanya ayo tidur tadi ngeluh mau istirahat sekarang apa? Malah debat enggak jelas takut sana-sini kayak ada hantu aja," kesal Vino.
"Tapi, Vin gue serius nih tadi kayak ada orang yang minta tolong, suaranya itu suara cewek. Kayaknya dari arah sana deh, kalian enggak minat liat gitu?" tanya Bima.
"Lo aja sana gue ogah, entaran bukan manusia tapi sesuatu yang bisa membuat jantung copot," ujar Alka.
"Lebay lo! Tapi kalau itu beneran manusia? Gimana?" tanya Bima.
Mereka semua terdiam, memang benar ada suara bergema dari bawah sana. Suara cewek minta tolong.
"Kalian mau cek?" tanya Vino.
"Enggak deh, kalau lo mau yaudah sana," ujar Alka.
"Gue mau deh," ujar Alam dibalas anggukan Bima dan Raja. Terkecuali Alka.
Saat mereka ingin berjalan ke sumber suara, mereka berempat ditahan oleh Alka.
"Gue mau pipis," ujar Alka.
"Jangan bercanda sekarang, gue mau istirahat. Ayo." Alam berjalan mengikuti Vino yang memimpin di depan.
Mereka berjalan lebih cepat dan suara itu juga semakin jelas.
"Nathan? Nathan mana?" tanya Vino.
"Ck, itu di samping lo anjer," kesal Alam melihat tingkah konyol sahabatnya ini.
"Yaudah sih enggak usah ngegas," ujar Vino.
"Lah elu, bukannya nyari baik-baik malah kayak orang panik, seolah-olah Nathan ditelan sama bumi," ujar Alam.
"Banyak bacot lo," ujar Bima.
"Kayaknya dia ada di jurang itu deh, kalian mau ke bawah atau gimana nih?" tanya Nathan.
"Ada jalan selain merosot ke bawah enggak?" tanya Vino.
"Ada tapi lumayan mutar dari sini sih," ujar Nathan sambil menunjukkan arah jalan.
"Kita mutar aja deh, entar kalau merosot ada apa-apa lagi," ujar Raja.
"Bilang aja lo takut kan?" tanya Alka.
"Enggak ya, gue cuman mau yang paling aman dan tidak membuat luka," jelas Raja sambil berjalan mengikuti Nathan, Vino dan Bima meninggalkan Alka sendiri lagi.
"Gue selalu ditinggal ya, dasar teman-teman laknat, enggak ada akhlak," ujar Alka lalu berjalan mengikuti teman-temannya.
Sampai di bawah, Nathan menyalakan senter miliknya.
"Halo? Ada orang?" Nathan mencoba membangkitkan suara itu lagi.
"G–uu–e." Nathan dengan cepat mengalihkan senter itu dengan arah suara yang ia dengar.
"Akila? Lo?" tanya Nathan.
"Iya," ujarnya.
Dengan cepat Nathan dan temannya berlari menuju Akila yang terdapat benturan di kepala dengan darah yang bercucuran, serta kaki yang penuh goresan luka.
"Lo? Lo enggak apa-apa? Lo kenapa bisa di sini?" tanya Nathan.
"Kayaknya jangan tanya itu sekarang deh, Nathan. Liat muka dia pucat, lukanya perlu kita obatin, gendong dan bawa dia ke tenda kita," ujar Vino mengarahkan dan memimpin jalan sambil memegang senter.
Nathan mengendong tubuh Akila, Akila sepertinya setengah sadar, ia terlalu lama di situ hingga merasa sesak.
"Gue bantu apa?" tanya Alka.
"Lo bantu doa aja," ujar Alam meninggalkan Alka.
"Okey." Alka sepertinya tidak akan bicara dalam keadaan seperti ini. Karena kemungkinan besar dia akan dapat semprotan dari kawan-kawannya.
Setelah sampai di tenda, Nathan membaringkan Kila dan mengambilkan nya air putih.
"Lo bawah kotak P3K?" tanya Nathan.
"Ada di tas gue, bentar." Alam mengambil tasnya dan mengeluarkan kotak P3K nya.
Nathan membersihkan luka yang ada di kepala dan Vino membersihkan luka yang ada di bagian kakinya.
Bima dan Raja yang menyiapkan makanan buat Kila serta teh hangat untuk menghangatkan tubuh Kila.
Setelah selesai mengobati lukanya, Kila bangun untuk meminum teh buatan Raja.
"Makasih ya." Kila perlahan meminumnya dengan hati-hati, semua menatap mereka dengan penuh tanda tanya dan butuh penjelasan.
Setelah selesai, Akila menatap mereka semua dengan tatapan ragu.
"Maaf, dan makasih." Hanya kata itu yang dikeluarkan dari bibir Akila.
"Kenapa lo bisa di sini?" tanya Nathan.
"Lo pergi sama siapa?" tanya Vino
"Kenapa lo bisa jatuh?" tanya Alam.
"Lo sendirian? Kok lo berani sih?" tanya Raja.
"Apa alasan kenapa lo nekat ke sini?" tanya Bima.
Akila terdiam. Menunggu pertanyaan lagi dari Alka, semua temannya menatap Alka, Alka yang bingung dan menatap balik kawan-kawannya.
"Apa pertanyaan lo?" tanya Alam.
"Pertanyaan gue, udah diwakilkan semua, sepertinya. Kila takut dengan kalian semua, kalian nyerbu dia," ujar Alka.
Yang sebelumnya menatap Alka kini mereka kembali menatap ke arah Akila.
Akila menghela nafasnya pelan. Dan berusaha untuk jujur.
"Lo masih capek? Yaudah istirahat aja dulu," ujar Nathan.
"Enggak, gue cuman khawatir sama teman-teman gue, kayaknya mereka nyariin gue deh," ujar Akila.
"Lo pergi sama siapa?" tanya Vino.
"Gue pergi sama Feby, Jasmine dan Sila," ujar Akila.
"Kenapa kalian bisa berpencar kayak gini?" tanya Nathan.
"Gue tadi kepeleset, jatuh ke jurang. Saat itu, gue enggak sadarkan diri, saat hari mulai gelap gue tersadar dan berusaha untuk berdiri sayangnya kaki gue luka," ujar Kila.
"Beruntung kalau mereka bertiga masih bersama, kalau berpencar gimana? Ini udah malam banget udah jam 2, dan enggak mungkin kalau kita nyari sekarang," ujar Bima.
"Kayaknya sih, mereka berpencar nyari gue. Alasan gue ke sini karena sebuah tantangan, gue enggak mau dimanfaatkan begitu saja sama orang yang keluarga aja bukan." Akila menerangkan.
"Maksudnya? Ini kurang logis menurut gue," ujar Vino.
"Udahlah mungkin dia lagi capek nanti aja Interview nya, kalian istirahat aja tapi di luar pake sleeping bag ya biarin si Akila di sini," ujar Nathan keluar diikuti teman-temannya.
"Guys ...." Mereka semua menoleh.
"Makasih, kalau enggak ada kalian mungkin gue ...."
"Shutss udah, lupain sekarang istirahat aja. Kita besok bisa melihat-lihat siapa tau kita bisa ketemu dengan mereka, selamat malam." Nathan keluar dan tidur.
Mata Akila masih saja belum terpejam. Dia sangat memikirkan teman-temannya, walau pun alasan dia ke sini karena tantangan. Tapi mereka sudah menemani Akila dari awal hingga sekarang.
"Gue anak yang dimanja, tapi juga ditekan," ujar Akila.
"Andai gue diajar dan dididik sebagai anak yang pemberani dan juga bisa mendiri, gue bisa hindari pertemanan yang sifatnya kayak gini." Akila monolog sedari tadi.
Sudah sekitar 5 menit matanya masih saja belum terpejam, dia mencoba menutup matanya, menghela nafasnya pelan. Dan merehatkan segala pikiran-pikiran yang buruk dan mengganggu moodnya.
"Huft ...."