Dream

1005 Kata
Setelah urusan di sekolah selesai, gue lansung pulang ke rumah Agam seperti biasa. Tapi kali ini, gue gak bareng sama dia. Bukan karena apa-apa, karena gue masih sebel aja sama dia akibat nanyain nyokap. Mungkin kalau gue gak tinggal sama dia, bakal gue cuekin dan gue musuhin selamanya kali ya eh tapi kan gue orangnya baik hati dan tidak sombong, mana kuat hati gue musuhin Agam selamanya. Sesampainya di rumah Agam, gue langsung mandi dan ganti baju. Setelah itu gue tidur tanpa makan dan gak ingat apapun lagi. Gue gak ngerti apa latarbelakangnya sampai gue bisa mimpi seperti ini. Dan yang lebih anehnya, kenapa harus Sheila? Kan cewek di dunia ini yang cakep banyak bukan hanya Sheila. Eh bentar? Gue bilang Sheila cakep secara gak langsung? Hah? Gak salah? Duh halu nih. Radja merasa menegang dibagian bawah tubuhnya, wajah Sheila terlihat jelas dengan cantik, bibirnya merah merona, tangannya menyentuh bibir Sheila dan menarik tengkuknya lalu mendekatkan tubuhnya pada Sheila dan menempelkan bibirnya, melumatnya perlahan. Seketika Radja merasa basah dibagian bawah tubuhnya dan dia terbangun, suara adzan Subuh telah berkumandang. Radja membuka selimutnya dan tersenyum miris, dia mimpi basah. Ini kedua kali dalam hidupnya. "Ja, bangun dah subuh woi. Eh bentar, kok basah? Lu ngompol?" Radja masih belum menjawab. "Eh? Mimpi basah? Anjir." "Iya." "Yaudah sono cepetan mandi beres beres. Jangan lupa di cuci sendiri seprainya. Kan gak mungkin gue yang nyuci" "Udah tau." Setelah gue mandi, gue langsung turun kebawah untuk sarapan. Huftt, kenapa harus ketauan Agam? Pasti dia langsung ngeledekin gue nih. Mana gue baru bangun kan ya, gak bisa nyiapin s*****a buat bohong wkwk. "Gece makan, udah mau telat." "Iya. Bawel lo kayak emak-emak." "Enak bae. Udahlah itu urusin dulu mimpi lu ahahaha." "Gajelas." "Lu pasti mimpinya bareng Sheila kan? Iya kan? Bener kan gue?" "Lu peramal?" "Tuh kan bener, aciee cieee. Uhuyy, dah ngebet banget nih sama Sheila? Musuh jadi pacar? Uwaw." "Susah emang kalau jadi orang ganteng." "Ga nyambung oon." Agam menyambung perkataannya "Omong-omong Ja, gue mau minta maaf karena gue udah lancang ngebahas soal keluarga lo. Yang secara gak langsung gue udah ikut campur kedalamnya. Padahal gue tau lu sangat-sangat gak suka sama mereka." "Gpp, lain kali lebih peka aja. Kalau gue, gak pernah suka sama mereka. Dan entah sampai kapan gue akan terus membenci mereka." "Ya, gue sih cuman bisa berharap. Suatu saat nanti hati lo bisa luluh dan kembali berbahagia." "Akan sulit." "Tapi mau sampai kapan lu begini? Gak cape?" "Enggak. Gue mau buktiin dulu ke bokap kalau gue bisa tanpa hartanya." "Udah dapet kerjaan?" "Udah, walaupun kecil." "Terus spp lu? Siapa yang bayarin?" "Dari hasil kerja gue itu." "Oh, yaudah lu tenang aja. Kalau buat makan lu doang mah, masih sanggup kok gue." "Tengkyu ya gue gak ngerti kalau gak ada lo." "Iye, sans aje. Oiya terus kenapa lo gak nerima tawaran nyokap lo buat biayain pendidikan lo? Sorry gue nanya lagi, tapi kan apa salahnya? Lu nerima uang dari dia kan bukan berarti lu maafin dia." "Jeh, dasar matre! Gak lah gue gak mau kayak gitu. Itu namanya sama aja gue memanfaatkan keadaan. Walaupun gue benci mereka tapi gue gak mau jadi anak durhaka. Gue mau sukses pakai uang gue sendiri. Gue mau nunjukkin ke mereka juga kalau gue gak selemah itu!" "Wuish keren emang ketos gue ini." Gue sedikit lega, karena Agam udah mengakui kesalahannya. Gue gak tau gimana nasibnya kalau Agam gak memulai duluan. Mungkin gue akan hidup dalam dunia kecangguan ini selamanya. Sebelumnya gue ngira kalau dia udah gak bakal nge bahas tentang Sheila lagi, tapi dugaan gue salah sasaran. Agam malah membuat gue semakin berharap. Hmm. Berharap seolah-olah mimpi gue akan jadi kenyataan. "Yaudah Ja, berbahagianya sama Sheila aja wkwk." "Gak ada topik lain ya? Kehabisan kata-kata lo?" "Halah, seneng kan lo tapi gue giniin? Ngaku aja udeh! eh iya, tapi siapa tau Sheila yang bisa membuat hubungan lo bersama keluarga lo kembali." "Sheila? Bocah tengil itu? Jadi pahlawan dalam hidup gue? Mana bisa! Disiplin aja engga, mau sok-sok an jadi pahlawan." "Hati-hati ja, biasanya banyak orang yang suka kemakan sama omongannya sendiri. Dan yang perlu lo tau, kalau benci itu akan berubah menjadi cinta kapanpun dan dimanapun tanpa kita sadari." "Ceramah mulu dih. Udah berpengalaman banget ya kayaknya?" "Gue ketularan lo nih. Makanya bisa kayak gitu. Ahahaha." Gak lama setelah Agam meledek gue, tiba-tiba telfon masuk dan membuat hp gue bergetar. "Siapa? Sheila?" Agam bertanya "I-y-a, eh bukan. Dewa? Kok tumben? Ganggu gue makan aja nih." "Angkat siapa tau penting." Gue pun menuruti perkataan Agam untuk mengangkat telfon dari Dewa. Ya, walaupun sebenarnya gue males. Paling juga gaje. Mending Sheila yang telfon. Lah kan. Hueee, gue halu lagi. "Napa?" "Anu ja, anu, duh anu. Ada anu." "Apaansi, on the topik! kalau gak gue matiin nih." Ancam gue "Jangan dong wei! Beneran penting! Duh gimana ya ngomongnya? Pokoknya ceritanya panjang. Lu cepet-cepet ke sekolah dulu dah pokonya." "Mager. Gue masih makan, masih mau nyantai." "Gue serius! Gak lagi bercanda. Ini terkait lo juga dan akan berbahaya bagi jabatan lo dan juga calon lo." "Calon apaan dah? Kalo ngomong jangan setengah-setengah! Kayak orang gagap tau gak?" "Calon gebetan lo nih!" "Sheila?" "Giliran ngomongin Sheila aja lo nyambung!" "Foto lo ada di mading! Waktu gendong Sheila kemarin! Gedeg nih gue." Dewa menekankan "Bilang kek dari tadi! Kok bisa?!" "Mana gue tau, ini lagi pada rame di depan mading. Ngomongin lo semua. Oh ya, Sheila juga ada di sebelah gue sekarang. Kayaknya dia sedih deh dirinya viral. Padahal kalau gue jadi dia mah, seneng banget gue." "Siapa sih yang majang-majang foto gue, kurang kerjaan banget. Gue tau gue ganteng tapi gak sampai kayak gini segala kali, apalagi bawa-bawa Shiela. Gue ke sekolah sekarang!" "Giliran ada Sheil-" tut tut tut Gue langsung memutus telfonnya dan segera ke sekolah. Entah mengapa mendengar kata 'Sheila sedih' tadi hati gue rasanya seperti tersentuh dan gue ngerasa bersalah sama dia. Walaupun alasan utamanya bukan itu. Gue ingin menyelamatkan jabatan gue, dan jangan sampai gara-gara itu gue di tuding macam-macam dan nama baik gue tercemar. Gue gak mau sampai itu terjadi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN