Agam

1852 Kata
Semenjak kejadian dimakrab waktu itu, gue dan Sheila jadi jarang bertegur sapa lagi—dalam artian bertengkar. Kalau bertemu, antara gue dan Sheila pasti ada yang memalingkan muka. Kalau gue jelas alasannya, malu. Kalau Sheila nggak tau lagi, mungkin udah sadar atas pesona gue yang diatas rata-rata ini. "Gam!" panggil gue pada Agam. "Paan?" "Gue punya malu apa enggak, ya?" tanya gue. Gue jadi malu sendiri tanya itu, tapi gimanapun juga pertanyaan itu udah terlanjur keluar dari bibir seksi gue. Agam menoleh kearah gue. "Lo waras?" Gue menimpuk kepala Agam dengan LKS yang gue bawa. "Manusia ganteng seperti gue ini senantiasa waras, dong." ujar gue membanggakan diri. Agam merebut LKS dari tangan gue. "Buat apa?" tanya gue. Belum saja Agam menjawab pertanyaan yang gue ajukan, dia telah menimpuk kepala gue dengan LKS sama seperti yang gue lakukan tadi. "Nimpuk lo!" jawab Agam seusai menimpuk kepala gue. "Telat njir lo jawabnya." Agam hanya mengedikkan bahu. "Kabar mama lo gimana?" tanya Agam tiba-tiba. Raut wajah gue berubah, gigi gue bergemelatukkan, tangan gue mengepal. "Nggak usah tanya tentang dia, gue nggak peduli!" sarkas gue. Agam mengangguk. Menepuk pundak gue beberapa kali. "Bagaimanapun juga dia mama lo. Gue cabut duluan," katanya sembari mengembalikan LKS ke tangan gue sebelum meninggalkan gue. Gue melangkahkan kaki dengan cepat menuju rooftop, nggak peduli dengan LKS yang harusnya gue kumpulkan di atas meja guru. Gue butuh pelampiasan amarah. Gue menutup pintu masuk rooftop dengan kencang. Untung tidak ada siswa apalagi siswi yang ada di rooftop, mungkin karena pelajaran sedang berlangsung. Gue mendudukkan diri di atas sebuah kursi kayu. Kedua tangan gue masih mengepal, rahang gue semakin mengeras. Gue melempar LKS dan segera bangkit meninju tembok yang ada dibelakang gue beberapa kali. Temboknya sama sekali nggak retak, tapi tangan gue yang sakit. Nggak papa, asalkan gue bisa menyalurkan emosi gue. Gue bener-bener emosi jika ada orang lain yang ikut urus-campur dalam kehidupan keluarga gue, walaupun banya sekedar bertanya. Gue benci keluarga gue. FLASHBACK ON Gue terbangun karena mendengar suara keributan dari arah ruang tamu. Gue segera melihat jam diatas meja samping tempat tidur. Jam satu malam. Karena gue dari lahir sudah kepo, gue memutuskan untuk mencari tahu keributan tersebut. Gue memutuskan keluar dari kamar dan menuju ruang tamu. Sesampainya gue pada ruang tamu, gue melihat hal yang harusnya nggak gue lihat. Pecahan kaca dimana-mana, semua barang berserakan. Dan, yang paling parah gue ngelihat nyokap dengan kondisi yang tidak pantas. Nyokap gue memakai pakaian super minim dengan make up yang persis seperti tante girang. Disana, ditengah-tengah ruang tamu, bokap dan nyokap gue adu mulut. Mungkin karena saking marahnya sama nyokap, bokap bahkan sampai nampar nyokap dan meninggalkan bekas merah di pipi nyokap gue. Nyokap gue tambah marah. Dia pergi meninggalkan ruang tamu dan memasuki kamar utama seraya membanting pintu. Disaat yang sama, bokap lihat gue, dia nyuruh gue balik ke kamar. Kejadian itu berlangsung sampai sekiranya setahun lebih, bahkan kadang-kadang nyokap gue bawa pria menjijikkan ke rumah. Sampai akhirnya, pertengkaran besar terjadi. Semua barang hancur, nyokap memutuskan untuk meninggalkan rumah. Dan malam itu, saat gue masih SMP kelas 9, adalah hari terakhir gue lihat nyokap. FLASHBACK OFF "Lo nangis?" Gue terjungkal kaget. Tiba-tiba di depan gue udah ada Sheila. Astaga, sejak kapan dia di sana? Sejak kapan juga air mata laknat ngalir diwajah tampan gue? "Cih, ngapain lo nangis?" tanya Sheila lagi. Gue memilih memalingkan muka. Masih malu. "Cengeng lo." Sheila meninju lengan gue pelan. "Sok akrab lo," ujar gue. Sheila berdecak seraya menggelengkan kepala. "Kok ada ya manusia setengah iblis kayak lo? Heran gue," sinis Sheila. "Lo ngehina gue iblis?" "Menurut lo?" Sheila menaikkan satu alisnya. Gue menoleh. "Sejak kapan iblis jadi ganteng kayak gue?" "Ganteng, sih, ganteng. Tapi, kelakuannya bikin orang mau salto." "Lo ngakuin kalau gue ganteng, dong?" Sheila bergidig. "Dih, amit-amit." Gue tersenyum miring. "Udah kemakan pesona gue, ya? Jujur aja deh lo." Gue masih menggoda Sheila. Sheila kembali menggelengkan kepala seraya memegang kepalanya. "Bisa sinting gue deket-deket sama lo." Gue tersenyum. Sheila memilih pergi dari hadapan gue. Entah sejak kapan gue semakin suka goda Sheila, sejak gue liat tingkah dia, lucu, ada rasa hangat di hati gue yang gak bisa gue jelasin, semua kerasa kaya mimpi. “Sheil! Tunggu,” ucap gue menarik tangan Sheila “Apa lagi?” ucapnya cuek. Mata gue sendu lagi, ngerasa semua hancur, gue butuh sandaran. Gue butuh dukungan. Gue gak bisa hidup gini terus, gue enggak ngerti apa yang harus gue lakuin. Gue menarik Sheila buat duduk disamping gue dan gue nyandar dibahunya. Sheila sedikit menegang, enggak tau apa yang harus gue lakuin lagi. Gue udah pasrah, kehidupan orang tua gue hancur. Gak ada satupun yang sempurna di hidup gue kecuali fisik gue. Perlahan gue ngerasain ada usapan halus di kepala, udah pasti itu tangan Sheila, gue biarin, setidaknya ini bikin gue tenang banget. Emosi gue mereda. “WOI! Gila lu berdua! Masa diem-diem pacaran!” teriak Bumi dari bawah Refleks, gue malah ngedorong Sheila dan bikin dia jatuh, gue pura-pura gak terjadi apa-apa dan turun kebawah, ninggalin Sheila yang masih meganging lututnya. Baru sampe tangga kedua, gue ngerasa bersalah, haduh repot emang kalau jadi orang ganteng yang baik, bawaannya gak tegaan. Gue balik naik ke atas dan ngeliat dia yang kesakitan megang lututnya, gue berlutut dan liat lututnya, memar. Astaga gue gak sadar dorong dia sekenceng itu. “Sheila? Lo enggak papa?” tanya gue agak khawatir ngeliat lutut dia yang biru kemerahan. “MENURUT LO!” jawabnya sewot “Iya maafin gue ya, yaudah sini,” Gue balik badan berjongkok lalu menepuk pundak gue, ngasih kode ke dia buat naik keatas pundak gue. Kalau udah kaya gini gue harus tanggung jawab kan? Tapi Sheila diem aja gak naik ke punggung gue, gue berbalik menghadap dia, dia masih memasang muka jengkelnya. “Gak mau gue gendong?” “Enggak!” “Emang lo bisa jalan?” “Ish! Minggir!” Sheila mencoba berdiri, namun kemudian tubuhnya ambruk lagi kebawah, kakinya rupanya benar-benar sakit. Gue gak pikir dua kali lagi, gue gendong Sheila ala Bridal Style dan langsung bawa dia keluar dari rooftop. Dia agak kaget sama sikap gue, tapi mau gimana lagi? Dia udah kesakitan kaya gitu enggak mungkin kan gue biarin gitu aja? Gue ini walaupun berandalan, tapi gue peduli perempuan. Yah meski nyokap gue pernah keliatan buruk dimata gue, tapi gue yakin, nyokap gue pasti punya alasan kenapa dia sampe ngelakuin hal itu. Sampai sekarang pun gue masih enggak bisa berhubungan sama nyokap gue, karena bokap masih dendam sama nyokap gue. Gak tau dimana nyokap gue sekarang, kangen iya tapi gue juga benci. Gue berjalan sambil gendong Sheila ngelewatin beberapa siswa SMA Gemilang, beberapa ngeliat gue takjub, ada juga yang sempet ngambil foto. Duh udah pasti ini anak jurnalis yang bakalan bikin gosip di mading besok, gue yakin 100% gue pasti jadi artis SMA Gemilang dan headline beritanya “Rehando Radja Sembiring Malaikat Penyelamat” keren kan gue? “Udah duduk situ bentar,” ucap gue mendudukkan Sheila yang masih kesakitan. “Mmm.. Radja... makasih,” ucap Sheila menunduk malu “Ya, sama-sama,” Gue narik kaki Sheila pelan dan memberi krim memar di lutut Sheila, dia menggigit bibirnya menahan sakit, tapi mata gue malah salah fokus ngeliat bibir merah mudanya yang diolesi tipis sama liptint, entah kenapa gue malah ngerasa sesuatu yang aneh dan pipi gue memanas. “Ja? Gue denger... nyokap lo itu ahli gizi?” tanya Sheila Gue menatap Sheila lekat, darimana dia tau soal nyokap gue? Emang bener sih nyokap dokter ahli gizi, tapi sayangnya nyokap gue udah berbuat sesuatu yang membuat gue benci. “Gausah ikut campur urusan gue,” ucapku dengan nada tenang dan fokus mengolesi lutut Sheila dengan krim “Gue kan cuma nanya, kenapa lo nyolot sih?” tanya Sheila Gue hanya diam enggak menanggapi ucapannya, gue males bahas nyokap, bokap. Keduanya sama-sama keras kepala, dan gak ada yang bisa ngerangkul gue sebagai anak. Kadang gue heran, kenapa bisa mereka itu memutuskan menikah kalau ujungnya mereka saling enggak cocok, gue jadi takut sendiri, kalau gue menikah gimana ya? Apa bisa gue mertahanin suatu pernikahan? Ah masa bodo lah, mending gue mikir buat kuliah. “Gue gasuka sama mereka berdua, gue benci, jadi jangan tanya lagi,” ucap gue singkat “Tapi itu kan orang...” “Ssst, diem, udah ya, gue mau masuk kelas dulu,” Gue berbalik dan berdiri mau ke kelas, tapi tangan Sheila narik gue “Jangan tinggalin gue sendirian disini, takut!” ucap Sheila “HAH? Lo takut? Takut apaan? Yang ada setan yang takut sama lo!” ucap Radja KRINGGG Bel berbunyi tanda waktu istirahat telah usai, gue melihat Sheila yang masih memandangi lututnya, tangan kanannya masih memegangi tangan gue, mungkin takut jika gue pergi. “Lo mau gue bolos kelas? Abis gini gue pelajaran biologi.” “Ah, iya udah bel gimana dong? Yaudah anterin gue ke kelas dulu,” pinta Sheila Gue mengangguk dan tanpa ba bi bu gue langsung ngangkat tubuhnya ala Bridal Style lagi. Tapi Sheila malah memukul d**a gue. “Kenapa lagi?” “E... itu.. apa gausah digendong, pegangin gue aja,” “Ck! Kelamaan, udahlah nurut sama Ketos!” ucap gue galak dan mengangkat tubuhnya yang ringan udah kaya bawa triplek kemana-mana. Gue keluar dari UKS dan beberapa temen gue ngeliatin gue yang gendong Sheila dengan melongo, gatau apa yang mereka pikirin, tapi bodo amat lah. “Wanjay, lo kok gendong Sheila kemana-mana?” tanya Ivan “Enak aja, ini itu triplek,” ucap gue cuek lalu terus berjalan melewati geng gue. Gue melihat Agam sekilas, dan muka gue ngeliat dia males, gue paling enggak suka kalau Agam bahas nyokap bokap dan ikut campur, gue cuma numpang tempat tinggal, selebihnya? Semua pake duit gue sendiri hasil jerih payah gue ikutan lomba. “Ih enak aja bilang gue tepos!” ucap Sheila galak “Ya terus kalau lo gak tepos apalagi? Tuh gaada apa-apanya,” ucapku melihat ke arah dadanya, Sheila malah menampar keras pipi gue, sedikit panas rasanya. “DASAR m***m!” teriak Sheila Kelas dia jauh banget sih, coba aja deket UKS, udah pasti gue biarin dia jalan sendiri, toh ini semua itu salah gue, udah bikin dia jatuh kesungkur di rooftop tadi. “Denger ya, kalau di dunia ini cowok enggak m***m, enggak bakal ada bayi, lo ogeb atau gimana sih?” ucapku tak mau kalah dengan Sheila. Gue melirik dia, dia terdiam sejenak berpikir. “Iya juga sih ya, tapi maksud gue, lo itu gausah merhatiin segitunya!” ucap Sheila “Ya gimana mau enggak merhatiin, orang kelihatan, kan gue gak salah!” Sheila malah menjewer telinga gue, untung aja jewernya gak keras amat, tapi sakit sih, cukup bikin telinga gue merah. “Sakit,” ucap gue Sheila hanya diam, dia terpaku ketika melihat teman-temannya melihat dia yang gue gendong. “Mana tempat duduk lo?” tanya gue “Udah turunin gue disini,” ucap Sheila meminta diturunkan, tapi gue malah mendekapnya erat “Mana?” Mata gue mengedarkan sekeliling dan menemukan tas si Sheila, udah pasti disana dia duduk Gue langsung masuk tanpa permisi dan mendudukkan dia di bangkunya. Gue langsung pergi setelah dia pergi, gue masih bisa denger pelan ucapannya “Makasih Radja,”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN