Malam Indah

1200 Kata
"Selamat malam, guys!" Ivan, selaku pembawa acara malam ini—sebut saja seksi abal-abal, karena gue dongkol berat melihat wajahnya yang sok tampan—menyapa peserta yang telah duduk bersila dengan senyuman lebar sembari menaik-turunkan sedua alisnya. Dia berdeham singkat. "Masih semangat, 'kan?" ujarnya bergelora. Serempak kerubung menyerukan kata "masih" yang dibuat-buat. "Kalo gue bilang 'semangat pagi!', kalian jawab 'pagi! Pagi! Pagi! Uye!', ngerti?" Ivan mempraktikkan selogan anak TK. Kepalan tangannya menghentak udara tiga kali sebelum menariknya hingga menyentuh pinggang di samping badan. "Oh ya, sebelumnya, kenapa semangat pagi? Karena walaupun udah malem, kita harus tetap b*******h kayak pagi hari," terang Ivan, dan tampaknya dia merasa seperti artis papan atas dengan gaya pongah ketika tepukan riuh mengudara. Gue mengembangkan hidung sejemang. Tidak perlu diberitahu pun, gue sudah tahu makna selogan yang Ivan utarakan. Tetapi, karena gue ganteng, jadi gue diam. "Mari kita mulai. Semangat pagi!" "Pagi! Pagi! Pagi! Uye!" Ivan tampak puas karena berhasil menggerakkan massa hingga tepuk tangan kembali mengudara. Dia membuka suara. "This time, kita bakal sharing bareng Pak Ketos. Yoyoy, bro! Gabung sini bareng pangeran!" Gue mengernyit dahulu—bukan sepenuhnya karena heran, akan tetapi panggilan "pangeran" yang diperuntukkan kepada dirinya sendiri membuat gue memperlihatkan wajah jijik secara samar. Gue lantas mendekati Ivan, dan dia kembali berucap, "Gue mau tanya-tanya terkait OSIS dan kepemimpinan. Kita pakai sistem terbuka umum, jadi pertanyaan kita ambil dari peserta markab." Ada jeda cepat "So, siapa yang mau bertanya duluan?" Beberapa lengan teracung. Gue melihat wajah mereka satu-satu. "Lo, yang pakai hoody biru tua, silakan." Evan menuding pria kurus yang tidak gue kenal namanya dengan telunjuk. Dia berdiri. "Kenalin semuanya, nama gue David. Pertanyaannya, kenapa lo mau jadi ketua OSIS? Jadi ketos kan sulit juga, harus mempertanggungjawabkan anggota dan program kerja. Kalau gak berjalan sebagaimana mestinya, pas sidang pleno ketika lo memublikasikan laporan pertanggungjawaban, pasti ada rasa kecewa dan gak berdaya," kata si monyong—maaf, maksud gue David—dengan luwes. Dia kembali duduk setelah menganggukkan kepalanya satu kali kepada gue. Duh, gue kan menjabat sebagai ketua OSIS pun tak lebih daripada kamuflase perilaku gue di luaran sana. Akan tetapi, gua pandai bersua dan menjawab pertanyaannya. "Alasan gue menjadi ketua OSIS adalah ingin merasakan sensasi baru dengan mengikuti keorganisasian di SMA. Memang, jadi ketos itu gampang-gampang susah. Tapi toh kita punya anggota yang udah dianggap sebagai keluarga. Kita bekerja sama menyukseskan program kerja. Asalkan telah berusaha semampu kita, apa pun hasilnya nanti adalah jerih payah dan saksi dari kekompakan yang kita bangun. Sesuatu akan berbuah baik kalau kita melakukannya dengan apik. Begitupun sebaliknya. Rasa kecewa pasti ada ketika program kerja yang udah dirancang enggak sesuai rencana. Manusiawi." Pemaparan gue tampaknya memukau, dan gue menyadari hal itu. Tepuk tangan kembali bergema dan gue tersanjung dibuatnya. Terlihat Sheila memandangi gue dengan air muka yang tak terbaca, tapi gue pura-pura tidak melihatnya dengah melirik ke arah Ivan yang ternyata tengah menggeleng-gelengkan kepala. "Woah ... keren, bro!" Ivan mengerling sebelum berpaling ke depan. "Ada pertanyaan lagi?" Lengan-lengan yang ditutupi kaus kembali mengacung sementara gue meraih botol minum yang disodorkan Agam. Orang ganteng haus! "Ya, Sheila! Mau tanya apa?" Gue segera berbalik badan melihat ke depan. Sheila berdiri diiringi tepukan tangan. Tetiba pandangan gue bersirobok dengannya. Aduh, kok gue mendadak mulas, ya? "Gue Sheila, meu bertanya. Menurut lo, pemimpin itu apa?" Sheila kembali ke tempat semula. Netra sewarna cokelat terangnya tampak gelap karena temaram. Tatapan kita belum terlepas. "Pemimpin itu ... orang yang bisa memimpin dirinya sendiri sebelum orang lain." "Memimpin dirinya sendiri?" Sheila menyela. "Ya, saat kita memutuskan membuat scedule harian, atau contoh sederhananya ketika memutuskan bangun pagi dan kita berhasil bangun pada waktu yang direncanakan, itu artinya kita memimpin diri kita sendiri. Kalau hal-hal kecil tersebut sukses, barulah kita memimpin massa, memimpin orang lain." Tepukan kembali bergemuruh selagi Sheila tidak memperlihatkan apa pun. Wajahnya terlampau biasa saja. Whush! Otak gue mengerling jenaka. Gue beropini jikalau Sheila terpukau dengan jawaban gue. Duh, Radja, lo emang keren. Sheila saja tidak bisa melewatkan ucapan gue! "Yah, waktu sharing udah habis nih. Kasih tepuk tangan lagi buat Pak Ketos kita!" Setelahnya, gue dan Ivan kembali duduk sementara massa dipegang oleh Dewa. "Mayan, mayan," puji Agam sedetik setelah gue menghempaskan b****g di sebelahnya. Halah, lumayan! Tanggung amat mujinya, Bang! Sementara itu, Dewa telah berdiri di tengah-tengah kerumun di samping api unggun yang jilatan merahnya mulai menurun. Dewa meminta semua peserta ikut berdiri dan menghentak-hentakkan kaki mengikuti irama musih nge-beat yang diputar dengan pengeras suara. "Suruh rileks dulu ototnya, biar gak tegang!" teriak Dewa sembari meremas kepalan tangannya di atas kepala seperti gerakan yoga diikuti semua peserta. Musik berakhir, peserta kembali duduk, dan Dewa mengap-mengap kehabisan napas. Tuh kan, untung tidak sampai asma. Pemuda itu melontarkan menyulut semangat dengan kembali menyuarakan selogan anak TK yang dipraktikkan Ivan sebelumnya. "Sekarang kita games, ya! Nama permainannya 'Menyerupai Sesuatu'. Teknisnya mudah kok. Gue bakal menyebutkan benda, dan kalian menirukannya. Kalau gue bilang motor, kalian cari satu orang partner buat diajak kerja sama." Dewa memanggil Agam untuk mempraktikkan gerakan. Tampak Dewa berdiri dengan lengan di depan badan menyerupai stang motor. Sementara Agam melingkarkan kedua lengannya di pinggang Dewa dengan tubuh yang membungkuk serupa jok. Oke, mudah, gue paham. Begitu seterusnya ia mempraktikkan tiga macam benda. "Siap-siap ... be—pancuran!" Gue segera membentuk kelompok yang beranggitakan tujuh orang. Satu orang berada di tengah-tengah dengan menengadahkan kepala dan kedua lengan terangkat ke udara. Enam orang lainnya saling berpegangan tangan mengelikingi orang itu. "Kelompok yang paling ujung tuh, kalian gugur. Kurang satu anggota." Grup yang dianggap gugur akan mendapatkan hukuman, seperti bernyanyi lagu Balonku Ada Lima dengan akhiran "o" atau apa pun yang direkomendasikan peserta yang menang. "Lanjut! Sekarang, tirukan becak!" Dewa kembali menyalak seperti anjing Cihuahua, tapi gue enggak sebal dibuatnya. Gue dengan cekatan menarik orang terdekat. Dua orang membungkuk sejajar, sementara satu orang lagi berdiri di belakangnya. Jadilah becak yang Dewa maksud. Semua orang tampak menikmati permainan yang Dewa buat termasuk gue. Ujaran kasar dan tawa saling bersahutan di antara temaramnya malam. "Tirukan motor!" Dewa tambah bergelora. Gue sempat kesulitan mencari partner dan menarik secara random siapa saja asal gue tidak kalah. Gue tertawa-tawa sampai memejamkan mata. Lengan gue melingkar di pinggang seseorang yang kini tengah menegang. Wajah gue yang menunduk meredakan tawa mencoba menengadah melihat siapa gerangan partner yang menyelamatkan gue dari hukuman yang memalukan "Untung lo ad—hah? Sheila?" Gue terpaku, napas Sheila memburu. Pandangan matanya membidik lurus bola mata gue. Ingar-bingar celoteh kawan melatarbelakangi kami. Gue melepaskan kungkungan lengan dengan kikuk. "S-sorry." Sheila masih terdiam, dan gue menjadi bingung. Api unggun menyala-nyala di belakang tubuhnya. Napas Sheila kembali keratur, sedang tatapan kami masih terkunci. "Ekhem, tatap-tatapannya nanti aja ya kalau udah kelar games nya." Ujaran Dewa yang begitu tiba-tiba membuat gue dan Sheila terkejut. Dengan segera, Sheila memutus tatapannya dari gue. "Cie, jadinya musuh jadi gebetan nih ceritanya?" tanya Dewa dengan menaik-turunkan alisnya. Tangan gue jadi gatel mau nonjok muka bangkainya Dewa. "Cie, yang malu-malu. Kayak habis ngapain aja, eneng sama abang ini." Dewa kembali menggoda gue dan Sheila. Gue menolehkan kepala, bermaksud melihat raut wajah Sheila ketika digoda Dewa. Sialnya, Sheila juga memalingkan wajahnya ke arah gue. Jadilah kita—Gue dan Sheila—kembali bertatap-tatapan. "Udah woy, aelah, bucin lo semua," geram Dewa. Gue segera memutuskan pandangan. Malu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN