Bab E

1089 Kata
Terkadang mau menyembunyikan rasa sakit gue di balik topeng dengan gelar KETUA agar semua rahasia gue tetap aman dan terlaksana. Nyatanya tidak, hati gue benar-benar bimbang. Di sisi lain, semua pekerjaan, kegiatan akan berjalan dengan mulus dengan restu orang tua, tapi nyatanya hobi yang selalu gue lakukan dianggap tidak ada apa-apanya, selalu dianggap bahwa semua itu tidak ada gunanya. Membuktikan semua yang gue lakukan selama ini tidak ada gunanya, pintu hati bokap gue udah ketutup rapat gara-gara kejadian dulu. Setelah bersih-bersih gue enggak membantu yang lain. Dalam perasaan seperti ini, rasanya tidak ada yang pantas untuk gue lakukan. Gue mengusap muka gue dengan kasar. Lalu menghela nafas dengan pelan. "Apa yang harus gue lakuin? Agar semua ini bisa berjalan dengan baik? Berjalan sesuai keinginan?!" Gue menjerit dalam diam. Dalam keheningan, gue merasakan sebuah tangan menyentuh pundak gue. Gue berbalik, dan ya. Di belakang sudah ada Agam yang menatap gue heran. "Lo tumben menyendiri? Lagi patah hati lo yah?" tanya Agam. "Sok tau lo, kapan gue punya pacar coba," ujar Gue. "Ngaku juga lo. Enggak bercanda, cuman nanyanya serius. Lo ngapain di sini?" tanya Agam kedua kalinya. "Enggak kok, cuman emang mau menikmati udara segar," elak Gue. "Alasan, udara segar mana ada orang di sini panas gubluk." Agam menoyor kepala Gue. Gue menatap sinis. "Kejadian dulu terulang lagi Gam." Agam menaikkan sebelah alisnya tanda ia bingung. "Maksud lo apaan?" tanya Agam. "Kejadian dulu, Gam. Enggak usah sok pikun lo deh," ujar Gue sedikit sengit. "Semua emang enggak bisa disembunyikan terus menerus, Radja." Agam menatap ke depan "Karena, semua bakal kebongkar. Gue dan lainnya ikhlas kalau lo menjauh," ujar Agam. "Gila lo ya! Lo enggak tau apa perjuangan gue, buat pertahankan semuanya?! Dan lo langsung bilang ikhlas? sorry gue gak bisa!" jelas Gue dengan nada kesal. "Gue ngerti perasaan lo, tapi mungkin bokap lo bener, dulu lo pernah hampir cacat dan tidak bergerak karena kami," ujar Agam. "Ini bukan karena kalian! Tapi emang takdir!" ujar gue menekan. "Kalau boleh jujur, lo dulu parah. Radja," ujar Agam. FLASHBACK ON Garis finish mulai terlihat di bagian arena pembalap, kini gue sedang melajukan motor gue dengan kecepatan sangat maksimal. Tanpa gue sadari, gue sudah sampai di tikungan, gue mencoba membelokkan setir motor gue. Tapi entah kenapa itu sangat sulit. Tepat ditikungan itu, gue jatuh. BRUKH! Pengaman gue lepas, motor gue jatuh terhempas. Penonton histeris melihat gue terjatuh seperti ini, yang gue rasa cuman kesakitan, dan yang gue pikir udah gak bisa bertahan lagi. Sakit. Pandangan gue memudar saat gue lihat Agam, Ivan, dan lainnya menghampiri gue. Mata gue tertutup rapat, tidak ada cahaya lagi. Gue benar-benar parah, nafas gue susah buat keluar, mereka membawa gue ke rumah sakit. Dan di situlah, gue terbaring. Beberapa orang duduk di luar menunggu gue siuman, dokter bilang gue patah tulang, bisa sembuh tapi butuh waktu. Sejak itulah sebuah perdebatan, kebencian dimulai. Gue baru sadar, sudah mendapatkan amukan dan larangan keras. "PAPA SUDAH BILANG! ATUR CARA MAIN KAMU DI LUAR! KARENA DUNIA ITU KERAS! KAMU ENGGAK BAKAL SANGGUP, JIKA TIDAK BEKAL!" bentakan itu nyaris masuk dalam ulu hati gue. Untuk pertama kalinya papa gue bentak gue di depan Agam. Karena papa taunya mereka adalah teman seperjuangan pas SMP. "DAN KALIAN! SAYA MENITIPKAN RADJA KEPADA KALIAN AGAR RADJA BISA BERTEMAN DENGAN ORANG BAIK! NYATANYA SAYA SALAH! PASTI KALIAN YANG MEMPENGARUHI RADJA UNTUK IKUT BALAPAN! KAN?! SEKARANG SAYA MINTA JAUHI RADJA!" Bentakan kembali keluar dari mulut papa gue. Hati gue terasa nyeri, bagaimana bisa? Gue melepas kehidupan gue? Teman-teman gue? "Pah, mereka enggak salah, dan balapan juga enggak salah." Ucapan gue membuat bokap gue menatap gue nyalang. "Bukan salah balapan?! Terus kamu begini karena apa? Karena naik kuda? Karena lari? Begitu?" Pertanyaan yang membuat gue bungkam seketika. "Om, maafin kami. Kami enggak ada niatan membuat Radja seperti ini," ujar Agam sembari menunduk. "Saya tidak mau mendengar alasan kalian! Saya cuman minta kalian keluar dari sini! Dan jauhi anak saya! Kalian enggak pantas temenen sama Radja!" jelas Papa Gue "Tapi Om kam—" Ucapan Ivan terpotong "Enggak ada lagi tapi-tapian! Sekarang pergi!" pinta papa gue. Gue menghela nafas dan menggeleng. Gue memberi kode kepada Agam dan lainnya untuk keluar dari ruangan. "Pah, sabar pah. Aku enggak papa kok." "Enggak papa tapi keadaan seperti ini," ujarnya. FLASHBACK OFF "Ini masih terngiang-ngiang, dan kesalahan terbesar lo di sini, lo sering berbohong pada bokap lo, untuk tidak temenen sama kita," ujar Agam. Gue tertawa hambar. "Dulu emang saat-saat tersulit bagi gue, untuk kembali menjalankan hobi," ujar Gue sedikit dengan nada pilu. "Sejak kapan lo jadi alay begini?" tanya Ivan tiba-tiba membuka gue dan Agam sontak terkejut. "Lo ngupil?" tanya Agam. "NGUPING t***l!" "Enggak usah ngegas bodoh!" ujar Agam. "Cie yang lagi flashback enggak sekalian taro bawang? Biar nangis bang," ejek Ivan. "Cih! Diam lo! Mau gue kasih makan sepatu?" tanya Agam. Gue hanya mendengar percakapan mereka tanpa ikut berbincang. Gue masih kepikiran dengan kejadian semalem, gue udah berusaha untuk menjadi anak yang baik di sekolah. Untuk apa? Untuk menutup semua ini. Nyatanya semua terbengkalai kembali karena dan alasan yang sama. Antara gue yang bodoh, atau terlalu ceroboh. "Woy kalian! Mau ngegosip? Dan lupain acara kita?!" Teriakan itu berasal dari mulut Elvina. "Eh, enggak kok. Cuman lagi bahas hal biasa doang. Bukan ngegosip," ujar Agam. "Serah lo deh, sekarang tugas kalian. Gue mau istirahat sama Sheila, dan lainnya," ujar Elvina. "Kami harus ngapain?" tanya Ivan. "Cuci piring," ujar Sheila yang baru saja keluar ruangan. "APA? kasih yang jelas dong, kek hubungan lita kan jelas," ujar Ivan. "Sheila, tolong ambilin batu. Keknya enak nimpuk orang deh," ujar Elvina Saat Sheila ingin melangkah, gue bersuara. "Ck! Iya. Bentar, lagi fase malas." Ucapan gue mampu membuat Elvina kembali berkoar. "MAU APA ENGGAK NIH? ATAU ENGGAK KALIAN ENGGAK USAH DAPAT JATAH MAU?" Suara cempreng khas Elvina keluar. "Berisik banget sih, iya sih iya." Agam berdiri diikuti gue dan Ivan. "Gue kan cowoknya Elvina. Jadi lo berdua aja ya, gue mau pacaran," ujar Ivan mengelak. "Enak aja lu, enggak ada jabatan di sini." Agam menarik tangan Ivan. Sheila sedari tadi menatap gue dengan tatapan datar, gue pun bersuara. "Ngapain lo, liat-liat?" tanya Gue sengit. "Kepedean lo! Sana pergi nyuci piring." Setelah mengucapkan itu Sheila berlalu pergi. "WOY RADJA! BURUAN!" kesal Agam melihat gue yang masih berdiri di tempat. "Kalian berdua yang nyuci, pangkat gue terlaku tinggi untuk ini hehe," ujar gue. "Halah! Enggak ada jabatan di sini!" ujar Ivan. "Kata siapa?" tanya Gue. "Kata Agam tadi, makanya pasang telinga!" ujar Ivan. Seusai menekuri cucian piring, gue mengerahkan peserta makrab untuk segera berkumpul mengelilingi api unggun yang telah disiapkan panitia OSIS.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN