Satu hari menjelang hari malam keakraban. Gue dan pengurus OSIS lainnya kembali berkumpul untuk mematangkan konsep acara kita. Tapi, jam rapat berubah derastis. Gue benci ini. Tidak sesuai rencana.
"Wei, Gam, mana si Radja? Kok tumben malah dia yang ngaret?"
"Lah iya anjir, mana nih bocah? Gak biasa-biasanya."
"Kita gak akan bisa mulai rapat kalau gak ada Radja." Elvina menambahi
"Jangan selalu bergantung dan berharap pada orang lain," jawab Sheila cuek.
"Kita mulai sekarang! Gue bisa kalau cuman gantiin Radja buat mimpin rapat. Mau sampai jam berapa kita nungguin Radja terus-terusan? Gak bakal jalan nih acara!" lanjut Sheila dengan nada sedikit memperingati.
"Oke, kita langsung mulai!" Agam meyakinkan yang lain
Beberapa menit setelah mereka mulai rapatnya, sekitar sudah 30 menit berlalu. Gue datang menyusul pembicaraan mereka.
Tok tok tok
“Sorry banget gue telat. Gue tadi har—" ucapan Radja terjeda
"Gak usah pake alasan! Lo datang, menggangu pembicaraan rapat kita."
Sheila mulai menyindir Radja. "Cihh, Ketua aja ngaret, gimana anak buahnya?" senyum smirk.
"Heh! Semua orang punya kesalahan. Gak ada yang sempurna!"
"Lo baru sadar? Giliran lo yang telat lo baru bisa ngomong gini? Hah? Kemarin waktu gue telat? Dasar, penyangkal!" Sheila semakin emosi
"Sekarang gini deh ya, lu ngapain mimpin rapat? Mau sok-sok an gantiin posisi gue? Biar terlihat keren? Biar bisa di kagumi gitu? Atau biar tenar? Atau apa?" Radja tidak mau kalah
"Gue mimpin rapat ini hanya karena gue peduli sama acara kita besok! Lu liat sekarang jam berapa? Jam 15.00! Kita janjian dari jam 13.00 bukan? Dan kita baru mulai jam 14.30 tadi! Daripada kita harus nungguin hal yang gak pasti? Malah hancur acara besok! Apa lu mau bertanggung jawab? Pasti enggak! Cih."
"Omongan lu bisa jadi doa! Lu bilang acara kita gak akan lancar? Bakal gue buktiin ke lu!"
"Gue juga bakal buktiin, kalau gue, emang pantes ada di sini! Jangan mentang-mentang gue cewek dan lu bisa ngerendahin gue seenaknya! Kayaknya lu salah sasaran."
"Heh—"
"Radja! Stop! Kalau kalian debat mulu kapan kelar nya nih rapat? Gak capek? Gak pegel mulut kalian? Gue aja laper," sahut Dewa
"Dewa, jangan bercanda! Bener Ja. Lu harus bisa bersikap lebih dewasa dan jangan berfikir pendek. Terima dan hargai orang lain. Maka lu juga akan di perlakukan baik seperti itu. Ingat, mulutmu harimaumu. Jangan terpancing emosi."
Berkat Agam, rapat bisa berjalan kembali. Satu yang gue sesali, ini semua karena papa! Karena dia gue jadi dipermalukan seperti ini! Kalau kayak gini rasanya sama aja. Tidak ada bedanya antara rumah dan sekolah. Rapat pun sudah selesai, hanya tersisa Ivan, Agam, Dewa, Elvina, gue dan Sheila, seperti biasa.
"Gimana ja? Ngerasain kan yang dirasain Sheila kemarin? Gak enak bukan?" tanya Elvina
Sahut Ivan, "Gue cuman kasih saran aja. Tegas boleh, tapi jangan keterlaluan. Semuanya harus seimbang, antara kesalahan dan hukuman."
"Karma bisa datang kapan aja Ja. Lu harus lebih hati-hati." Dewa menambahi
"Maaf, gue ga bermaksud mempermalukan lo."
Gila ni cewe, lebih hebat dari gue. Dia berani minta maaf? Sedangkan gue? Apa gue pengecut? Apa bener gue gak bisa mengakui kesalahan orang lain dan hanya memandang orang lain dengan sebelah mata? Apa itu semua keterlaluan ya? Apa gue harus minta maaf juga? Huaaa, gue benci situasi ini. Situasi di mana gue selalu dihadapkan oleh pilihan yang sulit. Dan gue gak tau harus mengambil keputusan yang mana.
Lanjut Sheila, "Terakhir, gue cuman mau ngasih ini. Ini daftar menu yang udah gue perbaharui, udah banyak sayuran dan menu yang lo mau. Tapi satu hal, gue gak akan lupa akan semua perbuatan lo, gue akan inget itu dan .... Gue akan benci lo selamanya! Bye semua, gue pulang dulu. Semoga rencana kita bukan hanya wacana."
Lah? Kocak kan? Gue kira dia udah baik, ternyata ada niat tersembunyi. Ciah, dah sering gue dibohongin gini. Sad banget hidup gue. Seperti biasa. Gue selalu pulang ke rumah Agam, ya istilahnya numpang. Untung dia gak tinggal bareng keluarganya. Kalo ada keluarganya, gue bakal malu semalu-malunya orang malu, duhhh. Tiba-tiba Agam menasehati gue, tidak biasa-biasanya dia seperti ini, ingin ikut campur urusan orang lain. Agam membujuk gue untuk meminta maaf kepada Sheila. Tapi, gue bimbang. Otak gue berkata kalau gue gak salah, emang salahnya Sheila yang tidak disiplin. Sedangkan hati gue bilang kalau gue juga salah, gue wajib mengakui kesalahan gue. Setelah sekian lama gue mencari keputusan, gue akan minta maaf ke Sheila besok setelah acara.
"Woi, Ja! Bangun! 30 menit lagi acaranya mulai! Masa lu masih tidur gini? Katanya mau minta maaf ke Sheila. Lu bisa telat lagi. Woi! Denger gak?"
Gue yang masih setengah sadar pun menjawab dengan kata malas-malasan dan belum menyadari akan keterlambatan gue.
"Ja, lu baru bangun? Udah sadar belum ini udah jam berapa? Telat lagi? Untuk yang ke 2 kalinya," sambut Elvina
Disitulah gue mulai tersadar. Gue lupa kalau gue telat 1 jam. Dan, Sheila sedang menatap sinis ke arah gue sekarang. Kalau kayak gini gimana gue bisa minta maaf ke Sheila?
"Enak-enakan lu tidur. Ini gue masak sendiri, angkat galon sendiri. Lu kerja apa hah? Ketua gak bertanggung jawab! Gak pantes tau gak?!"
"Sheila! Sorry gue bener—"
"Udahlah gak usah banyak ngomong. Pembohong akan tetap menjadi pembohong. Hahaha gimana? enak Di perlakukan seperti itu? Enggak kan? Makanya jangan suka nindas orang sembarangan! Sekarang lu kena batunya."
"Sekarang apa yang harus gue bantu?"
"Gak ada! Gak usah bantu apapun dan gue gak perlu bantuan lo!"
"Jadi adek kelas jangan songong! Mau gue-"
"Apa? Kok gak di lanjutin? Takut sama bocah ingusan kayak gue? Hahaha, lemah lo! Omong doang!"
Kalau bukan karena gue akan minta maaf hari ini untuk jabatan, gue gak akan ngalah dan gak akan kalah sama bocah tengil kayak Sheila!
"Lo berdua sampai kapan mau ribut? Mau lanjut gak nih acaranya?" Ivan meleraikan Radja dan Sheila.
Lama-kelamaan akan sulit bagi gue untuk meminta maaf kepada Sheila. Disaat gue ingin menyudahi segala sesuatu, selalu aja datang masalah baru. Yang seolah-olah semesta ini tidak mendukung gue untuk berdamai dengan siapapun.
Dan, ya, sepertinya gue gak akan minta maaf ke Sheila sekarang. Mungkin besok? Atau saat gue keluar dari sekolah ini? Entahlah.
"Mending lo bersih-bersih deh," ujar Elvina.
Gue cuman mengangguk pasrah, lagian ini memang salah gue bukan? Ternyata banyak hal yang memang bisa dirasakan semua orang. Termasuk gue sendiri.