Bab C

1326 Kata
Sore ini tepat gue lagi berada di ruangan OSIS, gue lirik jam tangan gue. Lagi-lagi gadis itu terlambat. Ternyata hukuman tadi belum menyadarkan dia sama sekali. Tok tok "Maaf Kak, gue telat," ujar Sheila. "Kenapa bisa telat lagi, Sheila?" tanya Elvina. "Tadi abis bantu—" "Enggak usah cari alasan lagi! Lo emang susah dikasih kepercayaan," ujar gue kesal. "Enggak, Kak, beneran tadi abis bantuin guru bawa—" "Gue bilang enggak usah manggil pake embel-embel KAK karena gue bukan kakak lo. Dan alasan lo untuk kedua kalinya enggak bermutu bagi gue." "Sabar, Radja!" pinta Elvina. Elvina menepuk bahu gue "Ck! Gue nggak cari alasan! Lo keterlaluan banget, sih!" geram Sheila. Keterlaluan darimana? Dia yang keterlaluan kali! Telat 1 menit dan dateng tanpa salam, apa itu sebuah kehormatan menghargai OSIS SMA Gemilang? "Loh, bukannya lo yang keterlaluan? Melakukan kesalahan yang sama dalam hari yang sama pula." Gue membuka suara lagi. "Hei! Seharusnya lo tau kan? Kalau dalam dunia ini, bukan OSIS doang yang harus gue dipantengin!" kesalnya lagi dan lagi sedangkan gue hanya tersenyum smirk. Gue gak mau kalah debat sama cewek satu ini, dia mau enggak mau harus tunduk sama gue. "Udahlah, enggak usah banyak omong lagi! Sesuai dengan aturan, karena lo udah lakuin kesalahan lagi. Maka hukumannya adalah, lo enggak boleh duduk selama rapat," jelas gue diakhiri dengan senyum smirk. "Apa? Lo gil—" "Atau mau tambahan?" tanya gue lagi. Sheila menghentakkan kakinya kesal. Dia memanyunkan bibirnya, lucu. Biarkan aja, siapa suruh mengulang kesalahan yang sama dalam hari yang sama pula? Nggak ada kan? Emang! Rapat kembali dimulai, membahas tentang tugas-tugas dan jabatan OSIS dan peran dalam sekolah, serta aturan sekolah. Setelah satu jam pembahasan, Sheila menghela nafasnya kasar lalu memegang kepalanya yang terasa nyeri. Semua anggota keluar ruangan. Hanya tersisa Sheila, Elvina, Ivan dan Gue. "Lo kenapa La?" tanya Elvina. "Enggak papa kok, Kak," jawab Sheila. "Yakin?" tanya Elvina dibalas anggukan Sheila "Yaudah, gue pulang sama Ivan ya! Bye!" ujar Elvina lalu menarik tangan Ivan. Ivan, dia sahabat gue juga. Sama seperti Agam teman seperjuangan, hanya saja Ivan lebih bisa bersikap dewasa dibanding Agam. Tinggal gue sama Sheila di ruangan ini, mata gue tertuju pada Sheila yang memegang kepalanya. "Enggak usah drama," ujar gue lalu berlalu pergi. Gue sengaja berjalan lambat agar dia lebih dulu berjalan. Gue sedikit kasihan memang, tapi mau gimana lagi? Toh, dia yang salah. "Gue benci lo," ujarnya sengit saat berjejeran dengan gue. Gue berhenti dan melihat jalan dia sedikit amburadul dan oleng. Tapi gue bersikap cuek, dan tepat sampai di parkiran ternyata dia sudah dijemput oleh Ayahnya. "Lo nggak kasihan sama Sheila tadi?" tanya Agam yang gue yakini untuk gue. Agam menatap gue serius, gue emang gak pernah bertindak seperti ini sebelumnya, "Gak," balas gue cuek. Buat apa kasihan? Orang yang gak disiplin adalah orang yang enggak berhasil, itu kamus hidup gue sebagai Radja Gue dan temen-temen gue saat ini berada di rumah Miko, ngapain lagi kalau bukan main PS. "Sheila siapa? Gebetan lo, Ja?" tanya Dewa penasaran, Gila kali ya Sheila gebetan gue, yang ada dia itu satu-satunya musuh abadi gue seumur hidup! Gue sama dia jelas kaya utara sama selatan, gak bakal saling ketemu. Gue menonyor kepala Dewa. "Kalau ngomong dipikir dulu, Ujang!" "Kenapa sih semua suka banget ngubah nama gue? Iya, gue tau kalau kalian iri sama nama gue," ujar Dewa mendramatisir, dari Slamet, Ujang, besok apalagi kira-kira? "Buat apa iri sama nama kalau muka lebih mempesona?" balas Bumi tak kalah sombong, "Ceilah, gue suka gaya lo, Bum!" "SETAN LO SEMUA!" teriak Dewa kesal, "Bentar, jadi Sheila itu siapa lo?" tanya Ivan. Gue berdecak. Ini kenapa bahasanya jadi ke Sheila sih? Nggak mutu banget. "Dia anak OSIS yang nggak disiplin, masa terlambat dua kali di hari yang sama? Gak cocok banget jadi anggota OSIS," jawab gue. Mereka semua menganggukan kepala. "Terus lo apain?" tanya Miko penasaran "Gue hukum, lah. Sebagai contoh ketua OSIS yang baik dan teladan, gue harus mengajarkan dan mencontohkan dengan tegas," kata gue dengan bangga seraya menepuk-nepuk d**a. "Anjir! Jadi mau muntah gue." Dewa memperagakan gaya muntah seraya menutup mulutnya. "Temen laknat lo!" ucapku kesal "Tapi, lo tadi sedikit keterlaluan sama Sheila. Lo seharusnya nggak kayak gitu, Ja," timpal Ivan, wah kalau sudah begini pasti akan ada perang dunia antara aku dengan Ivan Gue berdecak. "Kenapa bahas tuh anak, sih? Mending bahas yang lain, deh." Dewa dan Miko mengangguk. Emang klop banget mereka. "Jadi kita mau nga—" Omongan Bumi terputus karena suara dering ponsel gue. "Siapa?" tanya Ivan. "Bokap," jawab gue malas. Gue mengangkat panggilan dari bokap. "Apa lagi?" tanya gue tanpa basa-basi. Sebenernya sih males harus angkat telfon bokap, tapi "Nggak sopan kamu sama orang tua!" ucap bokap "Sudah, cepat katakan! Papa mau apa?" "Cepat kamu pulang! Kemana saja kamu?!" "Ck, Radja lagi dirumah temen." "Teman berandalan kamu itu? Cepat pulang! Papa nggak mau dengar alasan lagi!" "Berandalan? Papa yang gak tau apa-apa! Gak pernah bermutu!" teriak gue. Papa emang gak pernah ngertiin gue, semua harus sesuai sama keinginanannya. "Haha! Makin pinter ngelawan ya kamu sekarang? Kamu yang gak berguna sebagai anak!" Radja masih diam untuk mendengarkan perkataan papanya selanjutnya. "Anak gak tau diri! Anak durhaka! Gak tau di untung! Papa nyesel punya anak seperti kamu!" Emosi Radja pun mulai memuncak mendengarnya, belum pernah rasanya ia ingin meninju langsung wajah papanya. "Aku lebih nyesel punya papa seperti ini! Papa yang selalu egois! Papa yang gak bisa jadi orangtua! Papa yang gak bisa membimbing anaknya!" "Ck, mudah sekali kamu terpancing. Ingat satu hal, kamu tidak pulang sekarang, maka kamu harus keluar dari rumah papa dan tidak akan pernah mendapatkan fasilitas apapun dari papa lagi!" "Aku akan buktikan, bahwa aku tidak pernah tergantung kepada papa! Aku bisa hidup sendiri, tanpa fasilitas papa! Aku benci papa! Jangan pernah hubungin aku lagi!" "Kenapa lagi, Ja? Kayaknya sampai marah-marah gitu ke bokap lo?" Tanya Agam. "Biasa, cuman bisa ngomong doang tanpa tau jalan cerita yang sebenarnya," Jawab Radja. "Udahlah, lu pada kenapa jadi riweh? Gak mau lanjut nih mainnya? Dewa mengalihkan pembicaraan. "Lanjutt!!" Miko menyahut. Ya, begitulah mereka. Selalu kompak dan bisa mendukung gue di segala situasi. Mereka tuh bagaikan keluarga kandung gue sendiri, bisa gue andalkan dan ada setiap saat. Berbeda dengan keluarga gue yang sebenarnya, Ck. Keluarga serasa musuh dan teman serasa keluarga. Begitulah hidup, keras, gue benci sama bokap gue yang egois. Percuma bukan? Harta banyak tetapi tidak memiliki kehangatan di dalamnya. Hanya ada emosi dan ingin menang sendiri. Dan gue selaku anak disini? Hanya dapat menyaksikan dan dijadikan pelampiasan. Miris sekali. Untungnya, gue cuman bar-bar di rumah dan bukan di sekolah. Setidaknya gua masih terlihat baik di luar lingkungan keluarga gue. Sebenarnya, gue udah gak mau pulang ke rumah. Gue cuman mau ambil barang-barang untuk pindah. Ya, gue akan pindah beneran dan menuruti semua perintah bokap. Gue bisa tinggal di manapun. Teman gue kan banyak jadi gak khawatir akan tempat tinggal. "Ngapain kamu kesini? Bukannya sudah saya usir? Jangan berharap apa-apalagi dari saya!" Radja tidak menghiraukannya. "Kalau punya mulut tuh di jawab! Ngapain kamu kesini lagi?!" kali ini dengan nada sedikit tinggi. "Stop ya pa! Aku bukan anak kecil! Lagian cuman mau ambil barang-barang. Dan aku gak bakal balik kesini lagi!" "Dasar anak sok jagoan! Mau tinggal dimana kamu? Mau jadi gembel? Tidur di bawah kolong jembatan? Mau jadi pengangguran gak sekolah? Siapa yang biayain hidup kamu, hah?!!" "Bukan urusan anda lagi." Singkat dan cukup berbekas di hati beliau. Gue tau, kalau papa masih belum rela jika gue harus pindah dari rumah. Tapi inilah keputusannya, apa yang sudah gue putuskan akan gue laksanakan dan pikiran gue gak akan pernah berubah. Mungkin ego gue sebagai anak juga tinggi, tapi gue benci terkekang dan harus nurutin semua aturan papa, gue masih muda, gue mau bebas berkarya, gue mau jadi diri gue sendiri, gue bukan lagi bayi yang jalannya harus dituntun, gue sadar gue durhaka, gak seharusnya gue kaya gini, tapi kalau udah kaya gini, buat apa gue harus hidup? Buat apa gue ada disini? Rumah gue sendiri rasanya kaya neraka, panas!.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN