"Oh ya. Kalian tau dia kan? Telat di awal, pantas enggak dia masuk dalam anggota OSIS?" tanya gue meremehkan. Lagipula apa yang gue bilang bener, kan? Jelas!
Tidak ada sahutan. "Kayaknya lo harus lihat perkembangan gue dulu, baru bisa ngomong kayak gitu," jelas Sheila. Dia masih saja berusaha mengelak dan membela dirinya di hadapan semua anggota OSIS baru, rupanya dia cari muka?
"Sikap awal udah terlihat, bahwa lo emang enggak bisa tepat waktu! Dan anggota OSIS harus tepat waktu," jelas Radja lagi.
"Orang itu, tidak luput dari sebuah kesalahan! Maka dari itu! Ini adalah kesalahan awal gue, dan lo pun pasti pernah kayak ini," ujar Sheila berlalu pergi.
Gue berdecak kesal. Kepala batu banget tuh orang, heran gue. Niat enggak sih jadi OSIS, dia bukannya tunduk malah ngelunjak.
Terjadi keheningan.
"Kalian kembali ke kelas aja, ya. Jangan lupa sorenya ke sini lagi," ujar Agam.
Agam adalah sahabat gue, sekaligus teman seperjuangan dalam organisasi ini. Dia lebih care dari gue. Cuman dia terlalu baik, buat gue yang terlalu tegas.
"Parah juga ya lo. Sana mending lo minta maaf deh," ujar Elvina.
"Sikap gue enggak salah!" Gue membela diri.
"Iya gue tau, cuman bukannya ini kelewatan ya? Lo cuman cukup hukum dia, enggak usah permaluin dia di depan kayak tadi," ujar Elvina.
"Karena dia belagu, jadi dia pantas dapat sindiran itu."
Elvina menggeleng. "Yaudah, gue mau minta maaf dulu ke Sheila," ujar Elvina.
"Buat apa? Seharusnya yang minta maaf itu Radja bukan lo," ujar Agam. Wah, ini kok jadi nyudutin gue semua, sih?
"Cuman perantara," ujar Elvina lalu pergi meninggalkan gue dan Agam. Elvina terlalu sabar, apa dia enggak tau? Telat satu menit kalau udah di kantor itu sama aja udah potong gaji. Udah sewajarnya sikap gue teges kaya tadi, biar Sheila gak belagu.
"Ngapain sih minta maaf sama tuh bocah? Hei, Vin! Vin!" panggil gue, tapi orang yang gue panggil sama sekali nggak noleh. s****n! Kenapa gak ada yang ngerti sih sama maksud gue sebagai ketua OSIS kan harus mendisiplinkan anggotanya, duh ini kenapa Elvina jadi gini sih.
Agam yang ada di samping gue lantas berdecak dan keluar dari ruang OSIS. Pelanggaran! Gue ditinggal! Gue mengikuti langkah Elvina secara diam-diam. Gue menduga, dia menuju ruang kelas Sheila. Tuh! Gue bener! Elvina lagi bicara sama seorang murid perempuan di depan pintu kelas Sheila. Setelah itu perempuan tadi masuk, nggak lama kemudian Sheila datang. Gue duga, perempuan tadi masuk untuk manggil Sheila. Tuh kan! Gue ini juga pintar dan cerdas. Apa tadi kata Sheila? Gue nggak pantas jadi ketua OSIS? Dia yang nggak pantas jadi anggota OSIS! Gue mengikuti langkah Elvina. Gue juga mendengar semua perbicangan mereka, cukup unik. Cewek itu bisa baik jika diperlakukan baik, cuman ya gimana? Dia juga salah. Gue sengaja berjalan ke arah mereka tanpa melirik keduanya. Mata mereka tertuju pada gue, tapi gue bersikap seolah mereka nggak ada. Gue melangkahkan kaki menuju kantin. Gue duga, temen-temen gue udah pada kumpul tanpa adanya gue. Semua penghianat emang! Gue sampai di depan kantin. Lihat, belum sampai masuk ke dalam kantin aja, semua cewek-cewek udah pada lihatin gue sambil terpesona. Iyalah! Siapa yang bisa menolak pesona dari Rehando Radja Sembiring? Nggak ada. Semua pasti termakan dengan pesona gue yang nggak ada habisnya. Mungkin gue emang keturunan campuran dari dewa Zeus dan Hera, yang tampannya sampai tujuh turunan.
"Ja! Radja! Sini woy!" panggil salah satu temen gue. Gue melangkahkan kaki menuju gerombolan temen gue. Gue duduk disana.
"Ck, lama amat lo. Ngapain aja ,sih, lo? Lagi make up?"
Gue nonyor temen gue yang satu ini, Mars Dewangga namanya. "Enak aja! Gue yang keren gini dibilang pake make up, bisa jatoh derajat gue kalau pake gituan."
Dewa menjentikan jari di hadapan gue. "Nah! Ketika pesona lo turun, gue naik menggantikan posisi lo."
"Mimpi lo ketinggian, Slamet!" cecar temen yang ada di sebelah kanan gue, Jatmiko Natanael. Namanya unik, karena bapaknya lahir di Jawa, tapi si Jatmiko ini lahirnya di Swiss, nama dokternya Natanael, dan ibunya suka banget sama dokternya yang cakep, makanya namanya Jatmiko Natanael
"Enak aja gue dikatain Slamet! Sorry-sorry to say, ya say, nama gue nggak ada duanya di dunia," ucap Dewangga, ya emang gak ada duanya. Mana ada coba orang tua seunik bapak ibunya Mars Dewangga, anak pertamanya Mars Dewangga, adek ceweknya Saturnusa Ningsih, adek cowoknya Jupiter Alexandro. Antara kreatif atau emang cita-cita bapak ibunya anak-anaknya pada kerja di NASA kali ya. Gue yakin, pasti adek ketiganya yang masih didalem kandungan abis gini namanya Bumi Corona. Iya, pasti diambil dari nama pandemi 3 tahun yang lalu.
Gue bergidik geli atas omongan Dewa. "Dih, geli gue."
"Wa, nama lo emang nggak ada duanya. Tapi ada lima ratus duanya di dunia," ujar temen gue yang lain, Bumi Brahmadhana.
"s****n!" umpat Dewa
Mereka semua teman dekat gue, bahkan bisa dibilang sahabat. Totalnya ada tujuh, termasuk gue sendiri.
Paling kanan ada Andromeda Ivan. Dia anaknya paling dewasa diantara gue dan yang lainnya, dia juga termasuk anak OSIS. Ivan udah punya gebetan, tapi masih belum jadian. Masih ingat Elvina? Dia adalah gebetan Ivan. Tapi sayangnya si Elvina enggak pernah peka sama si Ivan, bukannya enggak peka sih cuma mungkin lebih nganggep Ivan kakaknya, Mampus! Kakak-adik Zone.
Di depan Ivan ada Jatmiko Natanael. Sifatnya sebelas—dua belas sama Dewa. Sama-sama gesreknya. Tapi dia masih sedikit waras. Jatmiko sama Dewa itu saling melengkapi, kaya api dan air, Dewa yang suka banget ngamuk, dan Jatmiko sebagai airnya yang nyiram api emosi Dewa. Nah, disebelah Miko dan di depan gue ada Agam. Pasti udah pada tau tentang Agam. Dia satu organisasi sama gue. Pikiran Agam sepenuhnya waras. Di depan Miko ada Mars Dewangga. Kalau Miko kegilaannya level sebelas, Dewa gilanya udah level dua belas atau bahkan lebih. Entah ngidam apa ibu dari Dewa ini saat tengah mengandung Dewa duku. Di sebelah Agam, ada Ginzarel Sabraha. Dia orang paling mager yang pernah gue kenal. Saking luar biasa tingkat magernya, sampai-sampai dia ngomong pun males gerakin bibir. Dehem aja kerjaannya. Tapi, jempolnya rajin nari diatas layar handphone, gila aja hampir diluar jam sekolah dia selalu main PUBG kalau enggak Free Fire, tapi hebatnya nilai ujiannya semua sempurna, pernah gue coba cuman main game seharian, tapi nilai gue malah anjlok.
Kringgg
Bel tanda pelajaran dimulai udah berbunyi. Gue dan semua murid di dalam kantin segera menuju kelas. Pelajaran saat ini adalah pelajaran favorit gue, yaitu olahraga. Gue stay di lapangan sambil bermain basket, dan menunggu arahan dari guru. Permainan gue berhenti, saat melihat gadis yang membuat pikiran gue kacau tadi, seketika ide jahil muncul begitu saja di pikiranku. Gue sengaja melempar bola basket ke arah dia. Dan,
Brukk!
Tepat sasaran. Gue tertawa, dia sedikit lucu dengan posisi duduk sambil memegang kepala dan mulut berkomat-kamit yang gue yakin dia nyumpahin orang yang ngelempar bola ke arah dia.
Gue berlari mengambil bola itu. "Maaf ya, sengaja gue lempar."
Dia berdiri dengan wajah kesal. "Lo tuh minta dibantai, ya?!" Gue mengedikkan bahu. Memilih tak menjawab pertanyaan—atau yang lebih tepatnya ancaman—dari Sheila. Dan mengambil bola basket di sampingnya, entah gue suka aja ngusilin adek kelas gue satu ini. Satu-satunya yang berani nantang gue dan sama sekali enggak terpesona sama kegantengan gue. Sheila menghembuskan napas kesal. Memilih berbalik dan tak lagi menghiraukan gue. s****n! Masa gue yang ganteng ini dicuekin?
"Ngapain lo?" tanya Agam yang—entah mulai kapan sudah—berdiri di samping gue.
Gue terkejut. "Apaan sih lo?! Bikin kaget human ganteng aja."
Agam nggak menghiraukan ucapan gue barusan. "Lagi liat siapa lo? Cewek?" tanya Agam.
"Kepo lo, setan!"
"Gas mulu, lo, kerjaannya!"