Mata gue selalu tertuju pada gedung yang menjulang tinggi. SMA GEMILANG itulah tulisan yang selalu membuat gue tersenyum walau terukir tipis. Langkah gue terdengar di sepanjang koridor, mata orang itu, selalu tertuju pada gue. Ini sudah menjadi kebiasaan bahkan rutinitas pagi saat gue sampai di sekolah ini. Terkadang gue heran, ada apa dengan penampilan dan muka gue yang kadang membuat beberapa kaum hawa menjerit sampai mau pingsan. Iya, gue tau kalau gue ganteng. Cuma nggak perlu segitunya. Bukannya malah jadi suka, tapi malah jadi ilfeel gara gara suara cempreng yang nggak ketulungan. Gue berhenti tepat di depan ruangan dengan pintu bercat putih. Tanpa ketukan gue masuk.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya salah satu anggota OSIS.
Gue berdecak sebal. "Enggak usah sok formal!"
Hari ini adalah hari pelantikan anak-anak calon anggota OSIS. Mungkin beberapa orang belum kenal gue.
Kenalin.
Gue Rehando Radja Sembiring. Anak dari salah satu keluarga terpandang di Jakarta. Gue selalu disegani dan dihormati oleh teman-teman yang lain sewaktu gue SMP. Di SMA Gemilang ini, gue dituntut untuk menjadi yang lebih baik lagi.
Tapi apa daya? Gue hanyalah seorang anak yang nakal, dan tengil. Tapi, siapa sangka? Gue terpilih menjadi ketua OSIS. Lo semua bayangin, 'KETUA OSIS' jabatan yang bukan main-main. Butuh jiwa kepemimpinan yang besar dan bertanggung jawab. Apa gue sanggup?
Di sinilah kehidupan gue yang sesungguhnya dimulai. Mau tidak mau, gue harus menutupi sikap urak-urakan gue di rumah. Agar nama baik gue tidak tercemari di sekolah yang baru ini.
Inilah saatnya, hari di mana yang membuat gue sangat nggak nyaman. Gue mati berdiri di tempat, tidak berkutik. Ya. Di hari ini lah, gue mendapat kesempatan untuk melantik seluruh calon pengurus OSIS.
Tidak terasa, waktu gue mencalonkan kini menjadi ketua. Dan pagi ini, di mana beberapa anak calon anggota OSIS berdiri tepat di hadapan gue. Dengan rasa segan dan hormat dengan baju yang rapih, mereka berdiri.
Mungkin ini akan menjadi hal yang terbaik, namun nyatanya tidak.
Gue kira, semuanya bakal berjalan mulus tanpa halangan. Tapi nihil. Permintaan gue tidak terkabul. Mungkin Dewi Fortuna sedang enggak berpihak sama gue yang tengil, hari ini bisa jadi hari gue yang paling s**l sedunia.
Hari pertama dan pagi ini, emosi gue sudah di uji. Sudah dipancing untuk keluar. Gue ngeliat anak perempuan di depan gue, rambutnya dikepang dua dan kacamatanya, cocok. Dia keliatan culun abis, gue heran bisa juga anak style kaya gini masuk ke SMA Gemilang.
"Kak, sorry gue terlambat," ujar salah satu murid perempuan itu dengan nafas yang ngos-ngosan.
Siang ini, harusnya dia tidak terlambat. Gue pandang dia dari atas ke bawah. Sepertinya dia abis berlari. Cukup kasihan, tapi peraturan tetap peraturan, dia harus dihukum.
"Maaf Kak, tadi gue ketiduran," jelasnya.
Gila! Batin gue, bisa-bisanya kasih alasan ketiduran, apa enggak ada alasan yang lebih elit? Gue sangat benci cewek yang teledor dan gak disiplin, dia pikir dia siapa? Katanya mau jadi anggota OSIS tapi gak bisa tepat waktu. Gue menghela nafas kasar dan menatap perempuan itu dengan tajam.
"Ini adalah hari pelantikan lo menjadi anggota OSIS, enggak seharusnya lo terlambat!" ujar gue.
Mata gue tetap menatap dia, dia tertunduk karena ucapan gue. Tapi gue ketua, dan dia akan menjadi calon OSIS. Bersikap lebih tegas adalah kewajiban gue.
"Nama lo siapa? Dan jangan pernah panggil gue kakak! Panggil gue Radja! Gue gak mau denger alasan apapun dari lo! Sekarang lo hormat di depan tiang bendera sampai jam pelantikan selesai!" pinta gue dengan nada bicara yang meninggi dan tegas.
"Nama gue Sheila." Kemudian ia menatap jam tangannya. "Radja, ini cuman terlambat satu menit, masa gitu aja dihukum? Yang adil dong!" ujar Sheila membela diri.
"Terlambat yah tetap terlambat! Sekarang pergi dan laksanakan hukuman lo!" tegas gue. Haha! Mampus biar gue kerjain sekalian. Siapa suruh terlambat di hari pelantikan? Sheila masih melongo.
"SEKARANG! CEPAT!" Sheila tersontak dengan bentakan gue, dia mendengus dan Sheila berbalik kesal.
Gue mau lihat seberapa kuat mental dia menjadi anggota OSIS. Jadi OSIS harus kuat mental, kalau digertak dikit udah mewek, sono balik ke kandungan mak lu aja!
"Ini sampai berapa jam, Radja?" tanya salah satu anggota OSIS yang setau gue namanya Elvina.
"Sampai pelantikan ini selesai, sekitar 2 jam lagi. Tepat saat bel istirahat berbunyi," jelas Radja.
"Gila ya lo, ini panas banget tau, nggak?" tanya Elvina.
Gue tersenyum tipis. "Tau, makanya gue suruh. Kalau enggak panas, buat apa gue suruh?" tanya Radja balik. Sudah seharusnya apa yang gak disiplin itu dilurusin.
"Ck! Kalau dia kenapa-kenapa jangan salahin gue oke? Ini tanggungjawab lo sebagai ketua OSIS!" jelas Elvina.
10 menit lagi pelantikan usai, mata gue kembali menatap perempuan itu. Ternyata dia masih kuat berdiri di sana. Sesekali ia melap keringat dia dengan punggung tangannya. Wajahnya cemberut manyun kedepan, sepertinya dia mulai lelah
"Radja, ini udah selesai. Mending lo samperin dia deh," ujar Elvina menunjuk ke arah Sheila.
Gue berdiri dari tempat duduk, Gue sih tadinya berniat untuk membuatnya ambruk, tapi sayang, dia cewek kuat. Baju seragamnya mulai basah berkeringat, rambutnya yang dikucir dua juga sudah mulai berantakan.
"Tahan juga ternyata." Gue sekarang berada di depan Sheila.
"Gue bukan lo, yang tega giniin orang. Ketua tapi kok enggak tau sikap yang sewajarnya," sindir Sheila yang kini berjalan menjauh dari tiang bendera. Dia menghentakkan kakinya kesal lalu meraih tasnya dan berbalik arah menjauh dari Radja, rupanya dia udah mulai nyerah gak mau lagi jadi OSIS. Tangan gue menarik Sheila sebelum menjauh.
"Gue kayak gini juga karena lo!" ujar gue tak mau kalah.
"Iya emang! Tapi ingat ya! Kesalahan gue dan hukuman ini tidak sepadan!" jelas Sheila lalu mengambil botol air minum di tasnya.
"Lo belagu juga ya." Gue bersedekap.
Sheila menutup botolnya tanpa menghiraukan perkataan gue. Wah, kurang ajar nih anak. Bisa-bisanya berani sama ketua OSIS, dia yang salah kenapa jadi gue yang disalahin sih.
"Kelakuan lo, enggak cocok jadi ketua." Sheila berlalu pergi menuju ruangan OSIS.
Gue tertawa hambar. "Cuma lo yang anggap gue gitu. Karena lo belum tau kelebihan gue. Jadi nggak usah sok tau tentang gue!"
Di balik sikap gue yang seperti ini di sana pula ada sebuah kelebihan yang bisa menutup kenakalan gue. Gue orangnya disiplin! Gue enggak suka orang yang telat! Apalagi ingkar janji. Dan dia, Sheila itu salah satu calon pengurus OSIS yang mau gue lantik. Awal aja udah telat, gimana nanti? Saat itulah gue merasa dia emang enggak cocok berada di posisi seorang OSIS, cara dia berbicaralah dan bersikap sungguh tidak etis untuk gue seorang ketua. Gue kembali ke ruangan OSIS, sudah ada beberapa anggota di sana. Mata mereka kembali tertuju pada gue termasuk Sheila.