Baju sudah, skin care sudah, cobek dan panci pun sudah siap. Semua siap dalam satu tas besar, kesannya Raven seperti akan minggat dari rumah mewahnya.
"Biii, tolong bantu bawain dong Biii!" ucap Raven kepada pembantunya, Bi Minten.
"Iya Nooon, ini bibi naik."
Dengan jalan tergesa-gesa pembantunya naik ke atas dan membantu Raven membawa turun dan menaruh tas biru besar dan koper Raven di depan teras. Dia sudah siap untuk dijemput oleh salah satu teman sekelompoknya. Hampir setengah jam Raven menunggu di teras bersama bibi sambil mabar PUBG.
Raven adalah gadis tomboy, wajah dan tubuhnya cantik dan body goals sebenarnya dia tidak pintar merawat tubuh, hanya bermodal skincare dari mamanya yang dokter kecantikan, dan dia juga suka berolahraga basket, jadi tanpa disengaja dia memilik wajah dan tubuh yang bagus.
"Non, itu suara motor di depan jemputan non Raven?" tanya bibi.
Raven lalu keluar dan membuka pagar, seorang lelaki menaiki motor beat dan wajahnya tertutupi masker hitam. Tak jelas bagaimana wajahnya, laki-laki itu lalu membuka helmnya tanpa membuka masker.
"Maaf, apa ini benar rumahnya Raven Anatalia?" tanya lelaki itu.
"Oh iya benar. Kamu satu kelompok sama aku?" tanya Raven.
Lelaki itu mengangguk lalu turun dari motornya. Raven membuka pagar agar dia masuk. Sontak lelaki itu terkejut melihat koper besar dan satu tas biru, seperti mau minggat.
"Astaga, ini bawaan kamu segini banyak?" tanyanya.
Raven mengangguk, seketika dia juga bingung, bagaimana membawa semua ini di motor.
"Walah, ya aku enggak bisa bawanya."
"Bisa-bisa, sini coba aku aturnya."
Raven lalu mengambil kopernya dan menaruh di tengah dashboard motor, cukup masihan tapi ya gitu, beberapa bagian agak penyok.
"Allahuakbar, motorku!" Beberapa goresan putih terlihat jelas di dashboard motor karena bergesekan dengan koper Raven.
"Udah enggak papa, ntar motor buntutmu ini aku ganti, yang penting kita berangkat dulu. Ayo deh."
Temannya hanya bisa mendengus kesal mendengar Raven, mentang-mentang kaya raya semuanya bisa diganti dengan uang. Mau tak mau dia pasrah dan menuruti kemauannya daripada terlambat ke tempat KKN.
"Non hati-hati ya," ucap bibi.
Melihat penampilan bibi, awalnya temannya kira adalah ibunya, ternyata pembantunya.
"Iya Bi, daa." Raven melambaikan tangan dan naik ke motor beat yang kata dia buntut.
"Eh iya, nama kamu siapa ya? Aku belum hapal nama kalian semua," tanya Raven.
"Devan Daneswara."
"Oh, okei. Aku inget-inget ya ... Devan," ucap Raven.
Raven memang gadis yang tidak mudah mengingat apapun, bahkan nama desa tempat dia KKN saja lupa namanya. Dua jam perjalanan telah mereka tempuh, perjalanan dari Surabaya ke Pasuruan lumayan jauh bagi Raven, sepanjang perjalanan pun Raven mengeluh dan kesal karena punggungnya sakit. Dia juga tidak terbiasa naik motor jarak jauh. Berulang kali dia menepuk pundak Devan untuk menyuruhnya lebih cepat mengandarai motor, tapi Devan tidak mau karena takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
"Woi Van! Gas POL Van!" teriak Raven.
Devan masih saja cuek dan mengendarai di kecepatan 20km/jam. Apalagi dia menyetir di jalur kiri, dia hanya takut jika terjadi kecelakaan jika mengebut di jalanan, apalagi banyak kendaraan yang saling salip-salipan.
"WOI! Yaaampun. Kamu jalan kaya siput sumpah." Raven kesal dan menepuk pundak Devan.
"Berhenti-berhenti!" Raven protes dan meminta Devan menghentikan motornya, mau tak mau dia berhenti, daripada Raven ngomel lagi.
Raven lalu turun dari motor dan menyuruh Devan turun, dia mengambil alih, lalu menyetir motornya.
"Ven, Raven jangan ngebut lo ya."
Tapi Raven tidak peduli, dia gas pol sampi 70km/jam, Devan sampai mencengkram pundak Raven kuat-kuat. Dalam hatinya dia hanya bisa istighfar agar tidak kecelakaan. Perjalanan mereka sudah hampir dekat, mereka juga bertemu dengan Sabila dan Fredy teman satu kelompok mereka yang sedang berhenti di Indomaret membeli minuman. Mereka menggunakan kaus hijau yang sama bertuliskan KKN 101 pada punggung mereka.
"Stop dulu Ven, itu temen satu kelompok kita."
Raven lalu belok dan menuju indomaret, Fredy langsung menyapa Raven dan Devan dengan semangat, sebenarnya Raven tidak tau siapa nama kedua temannya sekelompok ini.
"We, akhirnya ketemu juga."
Fredy mengulurkan tangan dan menjabat tangan Raven.
"Aku Fredy," ucapnya sambil mengedipkan mata menggoda Raven. Sudah biasa Raven seperti ini, lawan jenisnya pasti tertarik karena kecantikan dan tubuh bagusnya.
"Gak tanya." Raven menyambut tangan Fredy dan tersenyum. Lalu beralih ke Sabila dan berkenalan dengannya.
"Barengan aja yuk ke desanya, daripada nanti nyasar," ucap Devan.
Dia lalu mengambil alih menyetir motor, daripada Raven mengebut di jalanan desa, bisa jadi dianggap tidak sopan. Raven hanya bisa mencoba bersabar dengan Devan.
"Kamu itu kalau jalan enggak bisa apa ya lebih cepet dikit? Tuh lihat! Fredy sama Sabila udah jauh sampai gak kelihatan!" protes Raven.
"Astagfirullah, kamu bisa diem enggak sih? Aku hafal kok jalannya, enggak usah ngebut nanti juga sampai tujuan." Devan mencoba membuat Raven mengerti, bahaya jika harus mengebut. Dengan pasrah Raven hanya bisa diam.
Setengah jam kemudian, barulah mereka sampai di desa Ketanireng, mereka langsung menuju rumah ibu Rumli pemilik rumah yang disewakan untuk tempat tinggal mereka. Rumahnya lumayan besar, terdapat dua rumah dalam satu pagar, rumah yang utama besar dan luas untuk mereka tinggal, sedangkan yang samping adalah rumah ibu Rumli yang akan ditinggalinya bersama suami dan anak tunggalnya.
Raven membantu Devan mengeluarkan koper dan tas lainnya lalu membawanya masuk ke dalam rumah.
"Wee ini dia pak ketua kita! Akhirnya datang juga!" ucap Fredy menertawakan, bagaimana tidak, memang motor yang dibawa oleh Devan sangatlah lamban.
"Iya gatau nih, dia itu lemot banget bawa motor."
Raven menggerutu kesal, lalu tak lama beberapa motor lainnya datang. Ada empat motor yang baru saja datang, mereka seperti pasukan yang siap tempur. Bagaimana tidak, semuanya berboncengan dan membawa tongkat pramuka. Sebenarnya tongkat pramuka itu entah apa gunanya, tapi mereka berinisiatif membawanya. Mereka dari Surabaya membawa tugas KKN untuk literasi, mereka membuat program untuk menyebarkan literasi dan kegemaran membaca kepada anak-anak. Raven duduk bersantai di sofa, sedangkan teman lainnya sibuk berkemas baju dan memasukkan ke dalam lemari.
"Kamu kenapa?" tanya Devan.
"Sakit punggungku gara-gara kamu sih lelet nyetirnya."
Devan hanya tertawa menanggapi Raven dan melepas masker hitamnya, tampak jelas kini wajah Devan yang tampan dan mempesona, apalagi tingginya diatas rata-rata, sekitar 180 cm dengan lesung pipit di pipi kirinya dan giginya yang gingsul menambah kesan manis pada wajahnya. Raven menatapnya sampai tak berkedip. Tapi untung saja Devan sedang sibuk memainkan handphonenya. Beberapa teman perempuannya juga diam-diam melirik Devan yang tampan. Memang pesona anak jurusan ilmu olahraga berbeda, tubuhnya atletis pula. Merasa diperhatikan, Devan menatap temannya satu-persatu.
"Kenapa? Ada yang salah?"
Semuanya teman perempuannya menggeleng lalu pergi masuk ke kamar berberes lagi, kecuali Raven yang terpaku di sofa tempat dia duduk di samping Devan. Rasanya bingung dan gugup untuk berpindah tempat.
"Eh, Rav. Coba deh lihat ini. Kira-kira cukup enggak ya bukunya buat anak-anak?" tanya Devan menunjukkan layar hanphonenya yang berisi gambar tumpukan buku yang akan dikirim dari universitas. Wajah Devan terlihat dekat sekali sampai napas Raven tercekat. Dia hanya mengangguk saja mengiyakan lalu bangkit menuju kamar.