Malam di Frankfurt selalu terasa seperti sirkuit elektronik yang menyala tanpa henti. Dari jendela lantai empat puluh dua, gedung-gedung pencakar langit terlihat seperti barisan server raksasa yang saling bertukar data dalam kesunyian yang mahal. Lukas Weber berdiri di koridor yang sepi, mematikan lampu senter kecilnya saat ia mendengar langkah kaki petugas keamanan berbelok di ujung lorong jauh. Ia telah menunggu momen ini selama berhari-hari, sebuah celah di mana jadwal patroli Marcus Voss mengalami sinkronisasi ulang selama lima menit. Lukas melangkah cepat menuju sebuah pintu kecil yang tersembunyi di balik panel dekoratif kayu ek di dekat lift logistik. Secara resmi, ruangan ini hanyalah gudang penyimpanan untuk sistem tata udara cadangan. Namun, berdasarkan diagram lama yang ia pela

