KILAU AWAL PENIPUAN
Gerimis tipis musim gugur membasuh kaca-kaca gedung pencakar langit di Bankenviertel, Frankfurt, menciptakan siluet abu-abu yang kaku dan mengintimidasi. Di lantai empat puluh dua Main Tower, pusat gravitasi Meyer Tech berada. Di sana, keheningan bukan berarti kedamaian; keheningan adalah tanda bahwa presisi sedang bekerja.
Lukas Weber berdiri di depan cermin toilet pria yang berlapis marmer Carrara. Ia merapikan simpul dasi sutra birunya untuk yang kelima kali dalam sepuluh menit. Di balik jas Hugo Boss yang pas di badannya, jantung Lukas berdegup dengan irama yang tidak sinkron dengan ketenangan wajahnya. Ia menarik napas panjang, membiarkan aroma maskulin dari parfum sandalwood-nya menenangkan saraf-sarafnya yang menegang.
Di saku dalam jasnya, sebuah benda kecil seukuran kuku ibu jari terasa seberat timah. Sebuah skimmer enkripsi. Hadiah perpisahan dari Sebastian Koch.
"Ingat, Lukas," suara Sebastian bergema di kepalanya, dingin dan penuh tuntutan seperti biasa. "Kau bukan asisten di sana. Kau adalah hantu. Hantu yang tidak meninggalkan jejak, tapi membawa pulang semua kunci kerajaan."
Lukas menatap pantulan dirinya. Mata birunya yang tajam tampak waspada, namun ia memaksa otot-otot wajahnya untuk rileks, membentuk topeng profesionalisme yang sempurna. Di Meyer Tech, satu keraguan kecil di matamu bisa berarti akhir dari segalanya. Jerman adalah negara yang mencintai aturan, dan Meyer Tech adalah kuil bagi aturan-aturan itu.
Ia melangkah keluar, sepatu pantofelnya mengetuk lantai granit dengan bunyi yang ritmis. Meja kerjanya terletak tepat di luar pintu ganda berbahan kayu ek gelap yang menuju ke kantor CEO. Ini adalah posisi strategis. Ia adalah gerbang utama, penyaring informasi, dan—tanpa diketahui siapa pun—predator di dalam sarang.
Pukul 07.55. Lima menit sebelum jadwal resmi dimulai.
Tiba-tiba, lift di ujung lorong berdenting. Pintu terbuka dengan suara desis yang halus. Seorang wanita melangkah keluar dengan kecepatan yang hanya dimiliki oleh mereka yang merasa memiliki waktu dan dunia.
Hannah Meyer.
Lukas segera berdiri tegak di balik mejanya. Ia telah melihat foto-fotonya di berbagai majalah bisnis seperti Handelsblatt dan Forbes, tapi melihatnya langsung memberikan efek yang berbeda. Hannah lebih tinggi dari yang ia bayangkan. Rambut pirang gelapnya ditarik ke belakang dalam sanggul yang begitu rapi hingga tidak ada satu helai pun yang berani memberontak. Ia mengenakan setelan jas abu-abu arang yang membalut tubuh rampingnya dengan otoritas yang tak terbantahkan.
"Guten Morgen, Frau Meyer," sapa Lukas dengan nada suara yang terkendali, sopan namun tidak merendah.
Hannah tidak berhenti. Langkah kakinya yang mengenakan heels hitam runcing tidak melambat satu milidetik pun. Ia hanya memberikan anggukan kecil—hampir tak kentara—sambil terus menatap lurus ke depan, ke arah pintu kantornya.
"Kopi hitam, tanpa gula, di meja saya dalam tiga menit, Herr Weber. Dan pastikan laporan kuartal dari divisi riset sudah ada di tablet saya sebelum saya duduk," suaranya tajam, jernih, dan sedingin udara Frankfurt di bulan Oktober.
"Sudah saya siapkan di meja Anda, Frau Meyer. Laporan itu sudah dikirimkan ke perangkat Anda dua menit yang lalu," jawab Lukas tenang.
Langkah Hannah terhenti tepat di depan pintu kantornya. Ia berbalik perlahan, menatap Lukas dengan sepasang mata cokelat gelap yang seolah bisa membedah kebohongan langsung dari sumsum tulang belakang. Ia terdiam selama beberapa detik, seolah sedang menilai apakah asisten baru ini hanya sekadar membual atau benar-benar efisien.
"Dua menit yang lalu?" Hannah mengulang kalimat itu dengan nada skeptis. Ia mengangkat pergelangan tangannya, melirik jam tangan Cartier miliknya. "Anda mulai bekerja lebih awal dari jam kontrak Anda, Herr Weber?"
"Ketepatan waktu adalah kerajinan para raja, Frau Meyer. Dan saya lebih suka menjadi pengrajin yang baik," Lukas membalas dengan senyum tipis yang sangat diperhitungkan.
Hannah tidak membalas senyum itu. Ia hanya mendengus pelan—sesuatu yang bisa diartikan sebagai pengakuan atau sekadar rasa tidak peduli—lalu menghilang di balik pintu kantornya yang menutup secara otomatis.
Lukas kembali duduk, namun tangannya sedikit gemetar saat ia menyentuh permukaan keyboard komputernya. Pertemuan pertama itu singkat, namun intensitas Hannah Meyer memberikan tekanan yang nyata. Wanita itu bukan sekadar bos yang haus kuasa; dia adalah mesin yang berfungsi penuh. Dan Lukas tahu, mesin yang sempurna jauh lebih sulit untuk disabotase daripada manusia yang penuh emosi.
Satu jam kemudian, suasana kantor mulai sibuk, namun di lantai eksekutif, semuanya tetap terjaga dalam frekuensi yang rendah. Lukas mulai menjalankan rutinitas asistennya: mengatur panggilan konferensi dengan investor di Zurich, membalas surat elektronik dari departemen hukum, dan memastikan jadwal makan siang Hannah tidak terganggu.
Namun, di sela-sela klik tetikusnya, Lukas sedang melakukan hal lain. Matanya secara berkala melirik ke arah pintu kantor Hannah yang terbuat dari kaca frosted. Ia mempelajari pola. Kapan Hannah berdiri, kapan ia menerima telepon pribadi, dan bagaimana ia berinteraksi dengan staf lainnya.
Ambisi dan kegelisahan berperang di dalam d**a Lukas. Ambisi untuk membuktikan pada Sebastian bahwa ia bisa melakukan ini, dan kegelisahan karena ia sadar bahwa ia sedang berdiri di atas bom waktu.
Ia teringat malam sebelumnya di sebuah bar remang-remang di dekat jembatan Eiserner Steg. Sebastian Koch telah menunggunya dengan segelas wiski dan tatapan penuh kebencian yang ditujukan pada gedung Meyer Tech yang terlihat di kejauhan.
"Meyer Tech seharusnya menjadi milikku, Lukas," bisik Sebastian malam itu. "Ayah Hannah mencurinya dariku dengan cara yang kotor. Sekarang, aku hanya mengambil kembali apa yang menjadi hakku. Jangan biarkan wajah cantik atau sikap dinginnya menipumu. Dia hanya seorang pencuri yang mengenakan mahkota."
Lukas tidak tahu apakah cerita Sebastian benar seutuhnya, tapi ia tidak punya pilihan. Sebastian adalah orang yang menariknya dari kubangan utang setelah kegagalan bisnis ayahnya. Lukas berutang nyawa pada pria itu, dan hari ini, cicilan pertamanya dimulai.
Sekitar pukul 11.00, interaksi kedua mereka terjadi. Telepon internal di meja Lukas berdering.
"Lukas, masuk sekarang."
Tanpa "Herr Weber". Tanpa basa-basi. Lukas merapikan jasnya, mengambil buku catatan digitalnya, dan melangkah masuk.
Kantor Hannah Meyer adalah manifestasi dari minimalisme Jerman. Tidak ada foto keluarga, tidak ada tanaman hias yang rimbun, hanya dinding kaca yang memperlihatkan pemandangan spektakuler sungai Main dan deretan bank raksasa. Hannah sedang berdiri di depan jendela, membelakangi pintu.
"Ada yang bisa saya bantu, Frau Meyer?"
Hannah berbalik. Kali ini, ekspresinya tidak lagi sedingin es, melainkan tampak terganggu. "Laporan riset yang Anda kirimkan... ada satu anomali di proyek Neural-Core. Data enkripsinya tidak sinkron dengan protokol keamanan kita. Apakah ada perubahan dari departemen IT yang tidak saya ketahui?"
Lukas merasakan lonjakan adrenalin. Proyek Neural-Core adalah apa yang diinginkan Sebastian. Itulah "Secret Files" yang sebenarnya.
"Saya akan segera memeriksanya dengan Herr Schmidt dari departemen IT, Frau Meyer. Apakah Anda ingin saya meminta mereka melakukan audit sistem?"
Hannah mendekat, langkahnya pelan namun penuh ancaman. Ia berdiri hanya beberapa jengkal dari Lukas. Aroma parfum citrus dan white musk yang segar tercium dari tubuhnya, kontras dengan aura otoritasnya yang berat.
"Tidak perlu audit besar-besaran untuk saat ini. Saya tidak ingin menimbulkan kepanikan yang tidak perlu di antara para pemegang saham," Hannah menatap mata Lukas dengan tajam. "Lakukan pemeriksaan secara diam-diam. Gunakan akses asisten Anda. Saya ingin tahu apakah ini hanya bug teknis atau ada upaya infiltrasi."
Lukas hampir tersedak oleh ironi kalimat itu. Infiltrasi. Dia sendiri adalah infiltrasi itu.
"Verstanden, Frau Meyer. Saya akan menanganinya secara pribadi," jawab Lukas dengan suara seserius mungkin.
"Bagus. Jangan mengecewakan saya, Herr Weber. Saya memilih Anda di antara ratusan kandidat karena catatan latar belakang Anda yang bersih dan referensi Anda yang luar biasa."
Lukas mengangguk, namun di dalam hatinya ia tertawa getir. Referensi luar biasa itu tentu saja dipalsukan oleh tim ahli Sebastian.
Saat Lukas berbalik untuk pergi, Hannah memanggilnya sekali lagi.
"Satu hal lagi, Lukas."
Lukas menoleh. Kali ini, Hannah Meyer sedang menatapnya dengan sesuatu yang menyerupai rasa ingin tahu yang tipis.
"Kenapa Anda selalu merapikan dasi Anda setiap kali masuk ke ruangan ini? Itu adalah tanda kegugupan atau tanda bahwa Anda sedang menyembunyikan sesuatu."
Darah Lukas seolah membeku. Ketajaman observasi Hannah Meyer benar-benar di luar perkiraannya.
"Mungkin hanya sedikit dari keduanya, Frau Meyer," Lukas menjawab dengan senyum miring yang terkesan jujur. "Berada di ruangan yang sama dengan Anda adalah tekanan tersendiri bagi siapa pun di gedung ini."
Hannah tidak tersenyum, tapi kilatan di matanya sedikit melembut. "Kembalilah bekerja."
Lukas melangkah keluar dengan perasaan yang jauh lebih berat daripada saat ia masuk. Kilau awal penipuan ini terasa begitu berkilauan, begitu indah di permukaan, namun ia tahu bahwa di bawahnya terdapat jurang yang dalam.
Ia duduk kembali di mejanya, membuka laptopnya, dan mulai mengetik kode akses ke sistem internal. Di layar monitornya, logo Meyer Tech berkedip tenang. Lukas menatap pintu kaca Hannah yang tertutup. Ia melihat bayangan wanita itu sedang kembali menekuni berkas-berkasnya.
Lukas menyentuh saku jasnya, merasakan kehadiran skimmer itu. Ia baru saja menyadari sesuatu yang sangat berbahaya. Hannah Meyer bukan hanya sekadar target. Dia adalah tantangan terbesar yang pernah ia hadapi. Dan di dunia spionase, tantangan sering kali menjadi awal dari sebuah obsesi yang menghancurkan.
Di luar, hujan di Frankfurt semakin deras, menyamarkan langkah-langkah kaki Lukas yang mulai masuk lebih jauh ke dalam labirin pengkhianatan. Penipuan ini baru saja dimulai, dan Lukas Weber baru saja menyadari bahwa ia mungkin tidak akan pernah bisa keluar darinya dengan tangan yang bersih.