Cahaya pucat dari monitor komputer adalah satu-satunya teman Lukas Weber saat jarum jam di dinding menunjukkan pukul enam sore tepat. Di Frankfurt, Feierabend adalah waktu yang sakral—saat di mana sebagian besar karyawan Meyer Tech bergegas menuju stasiun U-Bahn untuk kembali ke kehangatan rumah mereka. Namun, di lantai empat puluh dua, waktu seolah membeku dalam keheningan yang mahal.
Lukas menyesuaikan letak kacamata anti-radiasi yang sebenarnya hanya bagian dari kostum profesionalnya. Ia sedang mengatur workstation-nya, sebuah meja kayu ek minimalis yang menghadap langsung ke arah pintu kaca Hannah Meyer. Di permukaan, ia tampak sedang menyusun folder-folder digital rutin: jadwal penerbangan ke Munich, daftar inventaris kantor, dan korespondensi dengan firma hukum Herzog & Partner.
Namun, di bawah lapisan antarmuka sistem operasi yang sah, sebuah skrip bayangan sedang berjalan.
Lukas membagi perhatiannya dengan presisi seorang ahli bedah. Matanya secara berkala melirik ke arah Hannah melalui pantulan kaca jendela. Wanita itu masih di sana, duduk tegak di balik meja marmer hitamnya, dikelilingi oleh tumpukan berkas fisik dan tiga monitor yang menyala terang. Hannah Meyer tidak bekerja; dia sedang berperang dengan angka-angka.
Lukas mulai mencatat detail terkecil dalam buku catatan mentalnya. Hannah Meyer meminum air putih setiap tiga puluh menit. Ia akan memijat pelipis kirinya setiap kali membaca laporan keuangan yang tidak memuaskan. Ia tidak pernah meninggalkan tas tangannya di meja jika ia pergi ke toilet.
Ini adalah bagian dari protokol spionase yang diajarkan Sebastian: Kuasai manusianya, maka kau akan menguasai kuncinya.
Tiba-tiba, ponsel pribadi Lukas di saku celananya bergetar dua kali. Pola getaran yang pendek dan tajam. Lukas tidak segera mengambilnya. Ia menunggu selama tiga puluh detik, memastikan tidak ada CCTV yang mengarah langsung ke sudut layarnya, lalu dengan gerakan santai ia mengeluarkan ponsel itu.
Satu pesan terenkripsi muncul di layar:
> "Status: Die Brücke. Cari retakan di temboknya. Waktu tidak berpihak pada kita. — S."
>
Die Brücke. Jembatan. Itu adalah kode untuk sistem keamanan inti Meyer Tech, yang mereka sebut sebagai jembatan menuju data Neural-Core. Sebastian Koch mulai tidak sabar. Lukas bisa membayangkan wajah pria itu—gelap, penuh dendam, dan tidak akan ragu untuk membuang Lukas jika ia dianggap tidak berguna.
Lukas meletakkan ponselnya kembali dengan gerakan tenang, meski perutnya terasa mual. Ia kembali menatap layarnya, kali ini membuka denah arsitektur digital gedung Meyer Tech yang berhasil ia akses melalui kredensial asistennya.
"Denah kantor ini terlalu sempurna," gumam Lukas sangat pelan, hampir berupa bisikan di tengah desis pendingin ruangan.
Ia mempelajari setiap jengkal lantai empat puluh dua. Lokasi ruang server cadangan, jalur kabel fiber optik, hingga sistem ventilasi. Meyer Tech menggunakan sistem keamanan biometrik generasi terbaru yang dikombinasikan dengan pengenalan pola perilaku AI. Jika seseorang berjalan dengan cara yang tidak biasa di koridor setelah jam kantor, sistem akan otomatis mengunci pintu terdekat.
Lukas menyadari bahwa ia tidak bisa hanya mengandalkan teknologi. Ia harus mempelajari kebiasaan kerja Hannah untuk menemukan celah fisik.
"Herr Weber?"
Suara itu memecah konsentrasi Lukas seperti dentuman meriam di tengah perpustakaan. Ia tidak melompat, tidak juga menunjukkan keterkejutan yang berlebihan—pelatihan bertahun-tahun mencegahnya untuk bereaksi secara amatir. Ia hanya memutar kursinya dengan perlahan dan berdiri.
Hannah Meyer berdiri di ambang pintu kantornya. Jas abu-abunya sudah dilepas, menyisakan kemeja sutra putih yang kancing teratasnya kini terbuka sedikit. Rambutnya masih rapi, namun ada lingkaran hitam tipis di bawah matanya yang menandakan kelelahan yang luar biasa.
"Ya, Frau Meyer?"
"Kenapa Anda belum pulang? Jam kerja asisten biasanya berakhir lima belas menit yang lalu."
Lukas melirik jam dinding dengan ekspresi yang pura-pura terkejut. "Saya sedang memastikan sinkronisasi jadwal Anda untuk simposium di Berlin bulan depan, Frau Meyer. Ada beberapa tumpang tindih dengan rapat dewan komisaris."
Hannah berjalan mendekat, langkahnya tidak lagi sekuat tadi pagi, namun tetap memiliki wibawa yang melekat. Ia berhenti di depan meja Lukas, matanya menyapu sekilas ke arah monitor yang menyala. Lukas sudah lebih dulu menutup jendela denah bangunan dan menggantinya dengan kalender Outlook.
"Anda sangat teliti, Herr Weber. Mungkin terlalu teliti untuk seseorang yang baru bekerja satu hari," kata Hannah. Nadanya datar, sulit dibedakan apakah itu pujian atau kecurigaan.
"Ketelitian adalah satu-satunya cara saya bisa memberikan hasil yang Anda harapkan," jawab Lukas, menjaga nada suaranya tetap rendah dan menenangkan.
Hannah menghela napas panjang, sebuah suara yang terdengar sangat manusiawi untuk seorang CEO yang sering dijuluki 'Ratu Es Frankfurt'. Ia menyandarkan pinggulnya di tepi meja Lukas—sebuah gerakan yang tidak formal dan sangat di luar dugaannya.
"Apakah Anda tahu apa yang paling saya benci dari gedung ini?" tanya Hannah tiba-tiba, matanya menatap keluar jendela ke arah lampu-lampu kota yang mulai menyala di kejauhan.
Lukas terdiam sejenak, menimbang jawabannya. "Mungkin... keheningannya?"
Hannah menoleh, menatap Lukas dengan tatapan yang tajam namun lelah. "Tidak. Saya benci fakta bahwa di gedung ini, semua orang hanya melihat saya sebagai perpanjangan dari ambisi ayah saya. Mereka melihat angka, mereka melihat saham, tapi mereka tidak melihat risiko yang saya ambil setiap hari untuk menjaga agar ribuan orang di bawah saya tetap bisa makan."
Lukas merasakan denyut aneh di dadanya. Ini adalah retakan pertama dalam topeng Hannah Meyer. Sebuah obsesi yang berbeda mulai merayap di benak Lukas. Bukan hanya obsesi untuk mencuri data, tapi obsesi untuk memahami apa yang membuat wanita ini tetap berdiri tegak di bawah beban yang begitu berat.
"Orang-orang hanya melihat puncak gunung es, Frau Meyer. Mereka tidak tahu betapa kuatnya fondasi di bawahnya agar puncak itu tidak runtuh," kata Lukas. Ia tidak berbohong. Ia benar-benar melihat kekuatan itu pada Hannah.
Hannah terdiam, tampak sedikit terkejut dengan jawaban Lukas. Ia segera menegakkan tubuhnya, kembali ke mode profesionalnya yang kaku.
"Terima kasih atas dedikasi Anda malam ini, Herr Weber. Pulanglah. Saya tidak ingin asisten saya pingsan karena kelelahan di hari kedua."
"Baik, Frau Meyer. Apakah Anda membutuhkan sesuatu sebelum saya pergi?"
"Tidak. Saya akan di sini satu jam lagi. Pastikan Anda mengunci sistem workstation Anda."
Lukas mengangguk. Ia mengemasi tas kulitnya, memastikan skimmer dan perangkat lainnya aman di kantong tersembunyi. Saat ia berjalan menuju lift, ia bisa merasakan tatapan Hannah di punggungnya.
Begitu pintu lift tertutup dan ia sendirian di dalam kotak besi yang turun dengan cepat itu, Lukas segera mengeluarkan ponselnya. Jarinya menari di atas layar, mengetik balasan untuk Sebastian Koch.
> "Target stabil. Protokol keamanan Meyer Tech menggunakan AI perilaku. Terlalu berisiko untuk infiltrasi fisik langsung saat ini. Saya butuh lebih banyak waktu untuk memetakan rutinitas CEO. Jangan lakukan gerakan dari luar tanpa instruksi saya. — L."
>
Lukas tahu Sebastian tidak akan suka dengan balasan itu. Sebastian menginginkan hasil instan. Tapi Lukas bukan sekadar pion; ia tahu jika ia terburu-buru, Hannah akan meremukkannya tanpa ampun.
Ia melangkah keluar dari gedung Meyer Tech, disambut oleh udara malam Frankfurt yang dingin dan berbau hujan. Lukas berjalan menyusuri trotoar, melewati deretan toko mewah di Goethestrasse yang sudah tutup. Pikirannya tidak bisa lepas dari Hannah.
Obsesi adalah penyakit yang berbahaya dalam dunia spionase. Lukas tahu itu. Seharusnya ia hanya memikirkan celah di sistem keamanan, cara membobol Master Key, dan bagaimana cara menghancurkan Meyer Tech untuk memuaskan dendam Sebastian.
Namun, saat ia menoleh ke belakang dan melihat satu jendela di lantai empat puluh dua yang masih menyala terang di antara kegelapan langit malam, Lukas menyadari satu hal yang lebih berbahaya.
Ia tidak hanya mempelajari kebiasaan Hannah Meyer untuk mencari kelemahan. Ia mempelajarinya karena ia ingin tahu apa yang dirasakan wanita itu saat ia sendirian di atas sana. Ia ingin tahu seberapa berat beban yang dipikul bahu mungil itu.
Lukas Weber masuk ke dalam stasiun U-Bahn, menghilang di antara kerumunan orang asing. Di tangannya, ia memegang kunci menuju kehancuran Hannah. Namun di hatinya, ia mulai merasakan ketakutan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Ketakutan bahwa ia mungkin akan jatuh cinta pada wanita yang seharusnya ia hancurkan. Dan di dunia mereka, cinta adalah variabel yang paling sering menyebabkan sistem mengalami kegagalan total.