Pagi di Frankfurt selalu dimulai dengan abu-abu yang seragam. Langit seolah menyatu dengan beton gedung-gedung di Mainzer Landstraße, menciptakan atmosfer yang menuntut produktivitas tanpa kompromi. Bagi Lukas Weber, hari kelima di Meyer Tech bukan lagi tentang adaptasi, melainkan tentang sinkronisasi. Ia harus menjadi bayangan yang bergerak tepat satu detik di belakang Hannah Meyer—cukup dekat untuk mengamati, namun cukup jauh agar tidak memicu alarm naluri wanita itu.
Lukas duduk di balik mejanya, jemarinya menari di atas layar sentuh yang menampilkan jadwal harian sang CEO. Di hadapannya, sebuah bagan digital yang kompleks mulai terbentuk. Ini bukan sekadar kalender kerja; ini adalah pemetaan perilaku.
08.00: Hannah tiba. Lift eksekutif terkunci selama transisi.
09.30: Rapat koordinasi teknis. Enkripsi jalur suara diaktifkan.
12.15: Makan siang di meja kerja. Pengiriman makanan diperiksa oleh detektor residu kimia.
15.00: Waktu kritis. Hannah biasanya meninggalkan ruangan selama sepuluh menit untuk meninjau laboratorium di Lantai 40.
Lukas mencatat sepuluh menit itu dengan tinta merah dalam benaknya. Sepuluh menit adalah keabadian bagi seorang ahli enkripsi, namun merupakan kedipan mata bagi sistem keamanan Meyer Tech yang menggunakan Rolling Code setiap enam puluh detik.
"Herr Weber, apakah berkas untuk presentasi dewan sudah siap?" suara Hannah terdengar melalui interkom, memecah keheningan koridor yang steril.
"Sudah di meja Anda dalam folder fisik berwarna biru, Frau Meyer. Sesuai preferensi Anda untuk tinjauan akhir sebelum digitalisasi," jawab Lukas dengan nada tenang yang terlatih.
Lukas berdiri, merapikan jasnya, dan membawa nampan kecil berisi segelas air mineral dengan suhu tepat 15 derajat Celsius—suhu yang ia pelajari adalah favorit Hannah untuk menjaga fokus. Ia melangkah masuk ke ruangan yang kini terasa seperti medan perang siber baginya.
Hannah sedang berdiri di balik meja marmernya, membolak-balik kertas dengan gerakan yang efisien. Ia tidak mendongak saat Lukas meletakkan air itu di sisi kanan mejanya, tepat di tempat yang selalu ia jangkau tanpa melihat.
"Anda belajar dengan cepat, Lukas," gumam Hannah, matanya masih terpaku pada grafik pertumbuhan laba. "Asisten sebelumnya selalu meletakkannya di sisi kiri, menghalangi jangkauan saya ke telepon."
"Observasi adalah bagian dari deskripsi pekerjaan saya, Frau Meyer," sahut Lukas. Ia berdiri diam, membiarkan matanya melakukan pemindaian cepat ke arah sudut meja Hannah. Di sana, tertanam sebuah sensor kecil berwarna hitam metalik—pembaca sidik jari yang terintegrasi dengan Master Key digital perusahaan.
Lukas tahu, untuk mendapatkan akses ke Neural-Core, ia tidak hanya butuh kode. Ia butuh pola biometrik Hannah.
"Bagaimana menurut Anda tentang protokol keamanan baru di Lantai 40?" tanya Hannah tiba-tiba, menutup folder birunya dan kini menatap Lukas dengan intensitas yang membuat napas Lukas sedikit tertahan.
Pertanyaan itu adalah jebakan. Lukas tahu itu. Sebagai asisten, ia seharusnya hanya peduli pada jadwal, bukan arsitektur keamanan. Namun, sebagai "Lukas Weber" yang cerdas dan ambisius, ia harus memberikan jawaban yang menunjukkan kompetensi tanpa terlihat mencurigakan.
"Secara administratif, sistem Double-Authentication yang Anda terapkan sangat efektif untuk mencegah kebocoran fisik, Frau Meyer," Lukas memulai, memilih kata-katanya seolah sedang berjalan di atas tali tipis. "Namun, dari sudut pandang efisiensi jadwal, transisi biometrik di gerbang utama laboratorium memakan waktu rata-rata empat puluh detik per orang. Jika ada keadaan darurat, protokol itu bisa menjadi hambatan."
Hannah menyipitkan mata. Ia menyandarkan punggungnya di kursi kulit ergonomisnya, menyilangkan kaki, dan mengetukkan jemarinya di atas meja. "Anda memperhatikan durasi transisi biometrik?"
"Saya memperhatikan segala sesuatu yang mempengaruhi efisiensi waktu Anda, Frau Meyer. Tugas saya adalah memastikan tidak ada detik yang terbuang sia-sia dalam hidup Anda."
Jawaban itu tampaknya memuaskan Hannah. Ia mengangguk pelan. "Ketajaman Anda menarik, Herr Weber. Teruslah mengamati. Saya butuh orang yang tidak hanya menjalankan perintah, tapi juga memahami mekanisme di baliknya."
Lukas membungkuk hormat dan keluar dari ruangan. Begitu pintu tertutup, ia merasakan keringat dingin di tengkuknya. Hannah Meyer bukan sekadar CEO yang sibuk; dia adalah predator yang sedang menguji apakah asisten barunya adalah alat yang berguna atau ancaman yang tersembunyi.
Kembali di mejanya, Lukas membuka terminal tersembunyi di dalam sistem operasinya. Ia mulai menyusun profil protokol keamanan Meyer Tech yang ia beri nama sandi Project Ghost.
Sistem itu tampak canggih, nyaris mustahil ditembus dari luar. Setiap data yang masuk dan keluar dienkripsi menggunakan algoritma kuantum yang berubah secara periodik. Namun, Lukas mencurigai satu hal: kerentanan selalu ada pada elemen manusia atau sistem warisan (legacy systems) yang belum sempat diperbarui.
Ia mulai memindai jaringan secara pasif, mencari sisa-sisa jejak digital dari departemen IT. Ia menemukan bahwa meskipun gerbang utama sangat kokoh, jalur pemeliharaan AC dan sistem ventilasi di Lantai 42 masih menggunakan protokol komunikasi analog yang bisa disadap jika ia memiliki perangkat yang tepat.
Pukul 15.02. Hannah keluar dari ruangannya menuju lift untuk kunjungan rutinnya ke laboratorium.
Lukas tidak membuang waktu. Dengan gerakan yang tampak natural seperti sedang membersihkan meja, ia mengeluarkan sebuah perangkat pemindai frekuensi radio kecil yang disembunyikan di dalam pulpennya. Ia mendekati meja Hannah, berpura-pura mengambil gelas air yang sudah kosong.
Tangannya bergerak dengan kecepatan kilat, melewatkan pulpen itu di atas sensor biometrik di meja Hannah. Perangkat itu bergetar halus—sinyal bahwa ia berhasil menangkap frekuensi pancaran sensor saat sedang dalam mode standby. Ini bukan kuncinya, tapi ini adalah sidik jari frekuensi dari perangkat tersebut. Langkah pertama untuk melakukan cloning nantinya.
"Sedang mencari sesuatu, Herr Weber?"
Lukas membeku. Suara itu bukan milik Hannah.
Ia berbalik perlahan, wajahnya tetap terkendali meskipun jantungnya berdentum keras. Di ambang pintu berdiri Marcus, kepala keamanan Meyer Tech—pria bertubuh tegap dengan mata yang selalu tampak seperti sedang menginterogasi tersangka pembunuhan.
"Hanya mengambil gelas Frau Meyer untuk diisi ulang, Herr Voss," jawab Lukas tenang, mengangkat gelas kristal itu sebagai bukti. "Beliau sangat menjaga hidrasi saat sedang di laboratorium."
Marcus Voss menatap Lukas selama beberapa detik yang terasa seperti satu jam. Ia berjalan mendekat, setiap langkah sepatunya terdengar seperti vonis hakim.
"Anda sangat berdedikasi," kata Marcus, suaranya berat dan penuh kecurigaan. "Pastikan dedikasi Anda tetap pada gelas-gelas itu, dan tidak menyentuh hal lain di meja ini. Frau Meyer sangat menjaga privasinya."
"Tentu saja. Saya sangat memahami protokol perusahaan," sahut Lukas, memberikan senyum profesional yang paling meyakinkan.
Marcus tidak membalas. Ia hanya berdiri di sana sampai Lukas benar-benar keluar dari ruangan dan menuju dapur kecil di ujung koridor. Di dalam dapur yang sunyi, Lukas menyandarkan punggungnya ke dinding dingin. Ia menarik napas dalam-dalam.
Retakan pertama telah terdeteksi, pikirnya. Marcus Voss adalah variabel yang tidak ia perhitungkan akan seketat ini.
Malam itu, Lukas kembali ke apartemennya yang minimalis di Bornheim. Ia tidak langsung beristirahat. Ia membuka laptop hitamnya yang terhubung ke jaringan gelap melalui lapisan VPN berlapis.
Ia mengirimkan laporan harian kepada Sebastian Koch.
> "Pola biometrik sedang dipetakan. Keamanan fisik dikelola oleh Marcus Voss—ancaman tinggi. Sistem utama menggunakan enkripsi kuantum, namun sistem pendukung (HVAC) memiliki celah analog. Butuh waktu untuk menyusup ke jalur pemeliharaan tanpa memicu AI perilaku. Berhenti menekan saya, atau kita berdua akan berakhir di penjara Federal."
>
Jawaban Sebastian datang dalam hitungan detik.
> "Voss hanyalah anjing penjaga. Cari cara untuk membuatnya buta. Aku ingin akses ke Vault dalam 14 hari, Lukas. Jangan membuatku mengingatkanmu tentang apa yang terjadi jika hutangmu tidak terbayar."
>
Lukas menutup laptopnya dengan keras. Ia berjalan menuju jendela, menatap ke arah pusat kota Frankfurt di mana logo Meyer Tech bersinar terang di puncak gedung pencakar langit.
Ia mulai menyadari bahwa ia tidak hanya mempelajari protokol keamanan. Ia sedang mempelajari bagaimana Hannah Meyer bernapas, bagaimana ia berpikir, dan bagaimana ia merasa kesepian di puncak kekuasaannya. Rutinitas Hannah yang kaku mulai terasa seperti sebuah sangkar kaca yang indah namun menyesakkan.
Ada sebuah pola yang Lukas temukan malam itu, sesuatu yang tidak ada dalam bagan digitalnya. Hannah Meyer selalu melihat ke arah foto lama di atas mejanya—foto ayahnya—setiap kali ia akan mengambil keputusan besar. Itu adalah pola emosional. Sebuah protokol manusia yang tidak bisa dienkripsi oleh mesin mana pun.
Lukas Weber menyadari, untuk menghancurkan Meyer Tech, ia harus menghancurkan Hannah Meyer. Namun, saat ia melihat bayangan dirinya di kaca jendela—seorang pria yang hidup dalam kebohongan dan pengkhianatan—ia bertanya-tanya: siapa yang sebenarnya akan hancur lebih dulu?
Ia kembali ke meja kerjanya di apartemen, mengambil pulpen pemindai frekuensi itu, dan mulai membedah data yang berhasil ia tangkap hari ini. Protokol telah ditetapkan. Pola telah dipetakan. Perburuan yang tak terlihat baru saja berpindah ke tahap yang lebih berbahaya.
Lukas tahu, di Meyer Tech, tidak ada tempat bagi kesalahan. Dan di hatinya yang mulai goyah, tidak ada lagi tempat untuk kembali.