Malam di Frankfurt seolah mencekik cakrawala dengan kabut tebal yang dingin, namun ketegangan di dalam apartemen Lukas Weber jauh lebih menyesakkan daripada udara di luar sana. Cahaya dari layar laptop miliknya memancar pucat, memahat garis-garis keras di wajahnya yang kini tampak lebih tua beberapa tahun dalam hitungan hari. Bau kopi yang hangus dan sisa-sisa aroma tembakau dari jalanan yang merayap masuk melalui celah jendela menciptakan atmosfer yang sarat akan kecemasan. Lukas duduk terpaku, menatap sebuah jendela percakapan terenkripsi yang baru saja berkedip, menampilkan nama yang paling ia hindari sekaligus ia takuti: Sebastian Koch. Jemari Lukas bergetar hebat di atas meja kayu yang permukaannya terasa kasar. Setiap detak jantungnya seolah bergema di ruangan yang sunyi itu, menjad

