Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Belum ada satupun keinginanku yang terwujud. Kecuali satu hal. Seorang anak laki-laki yang tengah memungut bekas permen karet di halaman depan dekat gerbang sekolah. Sambil mendengarkan musik melalui portable headset berwarna putih yang tersemat di kedua telinganya, tangan kanannya lihai menggunakan jepitan panjang dan memasukkan sisa permen karet yang lengket di jalan pada plastik di tangan kirinya. Sesekali ia melirik ke arahku. “Hei, jangan bermenung, kita juga harus memisahkan sampah di halaman belakang,” teriaknya.
Aku balas tersenyum sambil mengangkat plastik dan jepitan panjang di tangan. Kami sudah melakukan ini selama satu minggu penuh. Tapi ini lebih baik dibandingkan Geofani yang harus bertanggung jawab atas perbuatan yang tak pernah dilakukannya. Aku melihat Mino berjalan ke arahku. “Bagianku sudah selesai,” katanya sambil berlalu melewatiku.
Aku melihat plastik mino sudah dipenuhi sampah permen karet. Seharusnya sekolah menyediakan tempat sampah di dekat gerbang depan, karena banyak sekali sisa permen karet yang dibuang sembarangan mengingat siswa yang akan masuk sekolah tidak diperbolehkan mengunyah permen karet. Hal itu dianggap tidak sopan di sekolahku terlebih lagi jam pelajaran pertama akan segera dimulai.
Kini Mino bersiap menuju halaman belakang. Mengerjakan tugas selanjutnya. Aku terdiam menatap punggungnya, kembali teringat pertemuan pertama kami. Pelajaran Bu Hani, pulpen merah, salaf luka. Kalau kuingat-ingat lagi, semenjak kejadian di taman belakang sekolah waktu itu, Mino sudah tidak pernah lagi menyebut bahkan memanggil namaku. Ia lebih sering memanggilku dengan “Hei” atau lainnya. Aku memiringkan kepala, memutar bola mata, memikirkan sudah berapa lama ia tidak memanggil namaku.
“Jia..” Aku terkesiap ketika mendengar namaku. Ya. Mino memanggil namaku. Dia menyebut namaku. Baru saja aku akan menanyakan padanya kenapa tidak lagi memanggil namaku, tapi sekarang ia sudah memanggil namaku.
“Sampai kapan kau akan berdiri di sana?” teriak Mino sekali lagi. Kini jarak kami sudah cukup jauh. Ia tampak menyerngitkan kening, bayangan kami sudah hampir sepenuhnya hilang karena matahari sudah hampir mencapai puncaknya.
Aku segera berlari-lari kecil menyusulnya. Selain memungut sisa permen karet di halaman depan sekolah, kami juga ditugaskan untuk memisahkan sampah di belakang sekolah. Menurutku, meskipun sekolah ini mempunyai murid yang pintar dan juga cerdas, tetapi tidak satupun dari mereka yang mengerti akan kebersihan. Kalau kau berada di posisiku, kau akan merasa jijik melihat sampah-sampah bertumpuk tidak sesuai dengan jenisnya. Apakah mereka tidak pernah diajarkan untuk memilah sampah? Percuma saja sekolah di sekolah yang bagus jika hal sekecil ini tidak dilakukan. Sama saja dengan bersekolah tapi tak berpendidikan.
Aku dan Mino memakai masker dan sarung tangan karet. Tak lupa juga penjepit panjang agar tangan kami tidak menyentuh sampah secara langsung.
“Ouh, punggungku,” gumamku sambil meluruskan punggung setelah membungkuk cukup lama. Tanganku memukul-mukul ringan pundak bagian belakang, berharap rasa pegal yang kurasakan bisa hilang. Sesekali aku membetulkan posisi topi yang sudah basah karena keringat. Rambut bagian atasku ikut basah. Aku juga bisa merasakan aliran keringat yang meluncur turun di area punggung. Cuaca hari itu sangat terik, langit tampak berwarna biru terang tanpa adanya awan sedikitpun. Apakah suasana hatiku hari ini sebagus langit cerah itu? Aku tidak bisa berpikir jernih karena rasa gerah sudah melilit tubuhku. Mino tak jauh berbeda dariku. Baju bagian belakangnya sudah basah. Kini kami lebih mirip seorang kuli daripada anak sekolah. Tapi kuakui, aku tak merasa keberatan menjalankan semua hukuman ini, karena Mino selalu ada bersamaku.
“Kau yakin punggungmu tidak terluka setelah terjatuh waktu itu?” Mino bertanya sambil menahan tawanya. Rekaman diriku yang terpelesat pagi itu sepertinya melintas di benaknya.
“Apakah seharusnya aku pura-pura patah punggung saja waktu itu? Mungkin kita tidak akan disini sekarang.” Aku balik bertanya, membalas candaan Mino. Setelah satu jam berkutat dengan tumpukan sampah, akhirnya sampah itu sudah terpilah dengan benar. Kami istirahat sebentar sebelum akhirnya beranjak pergi menuju kantin sekolah.
Sekarang sudah jam istirahat kedua. Aku tidak yakin apakah masih banyak makanan tersisa di kantin, tetapi kami memaksakan diri untuk sekedar bertanya di sana.
Kantin tidak seramai ketika jam istirahat pertama. Hanya beberapa murid yang mengisi bangku kosong di meja makan kantin. Bisa jadi karena mereka mengerjakan tugas, melakukan penelitian di laboratorium, dan kegiatan lainnya, termasuk aku dan Mino yang melaksanakan pelayanan masyarakat.
Aku mengambil nampan. Berjalan pelan menyisiri tepi meja hidang. Satu per satu bibi pelayan memberikan kami nasi, lauk, dan juga sayuran. Aku lega karena makan siang kami hari itu tidak hanya sekedar tanda tanya.
“Ini mba, susunya juga,” salah satu bibi pelayan menyodorkan dua kotak s**u pisang kepadaku. Aku balas tersenyum mengucapkan terima kasih.
Kami duduk di bangku tengah yang dekat dengan jendela menghadap lapangan olahraga di luar sana. Aku melepaskan topi dan juga masker yang sudah kupakai dari tadi. Mino yang sudah melepas maskernya terdiam menatap wajahku. Sontak tanganku terangkat memegangi kedua pipi. “Ada yang salah dengan wajahku?” tanyaku.
“Wajah kau merah merona,” katanya singkat.
Aku meraba-raba wajahku. “Benarkah?” balasku agak salah tingkah. “Sepertinya karena cuaca yang sangat panas,” jelasku mencoba bersikap tidak peduli lalu mengambil suapan pertama. Namun anak lak-laki di depanku ini sepertinya tidak mendengar jawabanku. Ia tengah asyik menyuap nasi ke mulutnya tanpa henti.
Tiba-tiba saja suapan kami terhenti. Sebuah kotak persegi yang dilapisi kertas kado bergaris warna biru tua sudah berada di atas meja dekat nampan makan siang kami. Aku dan Mino serentak menoleh ke kanan. Mencari tahu pemilik tangan yang menyodorkan kotak itu.
Gadis yang mengenakan sweater rajut itu tampak malu-malu. “Terima kasih, karena kalian aku bisa kembali bersekolah, dan juga maafkan aku, karena aku kalian harus mengerjakan tugas pelayanan masyarakat itu,” ucapnya.
Hei. Gadis itu adalah Geofani. Mataku membesar begitu melihatnya yang kini sudah duduk sejajar dengan kami. Selain karena kami memang beda gedung untuk kelas kasta, semenjak kejadian di auditorium dua minggu yang lalu, aku belum melihat Geofani di sekolah. Bahkan setelah aku dan Mino berkeliling memungut sampah di sekolah, aku juga tidak menemukan wujudnya. Waktu itu aku sempat berpikir kalau Geofani memang sudah memutuskan untuk berhenti sekolah dan mulai menyalahkan diri sendiri kalau itu semua benar-benar terjadi karena kecerobohanku.
“Dan ini adalah bentuk terima kasih dan juga permintaan maafku pada kalian,” ia kembali menyodorkan kotak itu pada kami. Alisnya terangkat menyuruh kami untuk membuka kotak itu.
Tanganku terangkat, mengambil kotak itu lalu membukanya. Aku bisa melihat beberapa potongan coklat manis yang tersusun rapi di dalam sebuah kotak kaca. “Kau tidak perlu berterima kasih pada kami, karena ini memang bukan salahmu,” jelasku.
Aku kembali menutup tutup kotak itu dan beralih pada Geofani. “Kenapa kau tidak menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya kepada Mister Han? Kalau itu bukan perbuatanmu,” Aku menanyakan alasan kenapa gadis itu menerima perintah Mister Han begitu saja, hingga ia bersedia di berhentikan sementara dari sekolah.
Raut wajahnya berubah. Geofani menunduk setelah mendengar pertanyaanku. Aku memperhatikan kedua tangannya yang kembali memainkan kukunya. Sepertinya ia keberatan menjawab pertanyaanku. Dengan cepat aku menyikut Mino. Dia menoleh menatapku. Mengangkat bahu karena tidak tahu apa yang harus dilakukan. Kami berbicara melalui mata tanpa diketahui Geofani yang masih tertunduk.
“Hei, jangan bertanya seperti itu, pasti dia punya alasannya sendiri, tidak semua orang bisa membicarakannya dengan mudah,” Mino memecah suasana hening di antara kami dengan terbata-bata dan canggung, “kau bisa memberitahu Jia kapanpun kau mau, tidak perlu sekarang,” ucapnya pada Geofani sambil menepuk-nepuk pundaknya.
Kepala Geofani terangkat. Matanya bergantian menatap mataku dan Mino. Aku bisa melihat sedikit harapan dari binar matanya. Kedua sudut bibirku terangkat yang ikut dibalas olehnya.
Mino yang berada di antara kami mengambil sepotong coklat yang berada di dalam kotak. “Mmm….manis sekali,” Mino mengambil gigitan pertama, “sebenarnya aku tidak suka coklat, tapi aku akan memakannya untukmu,” katanya sambil memasukkan sepotong coklat lagi ke dalam mulut. Tidak lama kemudian keningnya berlipat. Lelehan coklat manis itu sepertinya menyakiti giginya. Aku dan Geofani hanya tertawa melihat tingkah Mino.
“Sebaiknya kau tidak mencuri coklatku lagi,” kataku sambil mengambil kotak coklat itu dari tangannya. Mino masih mengunyah sisa coklat di mulutnya. Sesekali ia meneguk air putih. Kami tertawa bersama.
****