Pagi, lima belas Juli, hari ujian pertama dimulai.
Guru yang mengawas ujian hari itu adalah Bu Hani yang kini tengah membagikan lembar soal dan ujian satu persatu.
Aku melihat lembar soal yang ada di hadapanku. Aku sudah hapal dengan halaman pertamanya, lalu membalik lembar kedua. Aku melirik Mino sekilas yang terpaku melihat soal ujiannya. Sepertinya ia bersenang-senang karena kami sudah mendapatkan bocoran soal sebelumnya. Lebih tepatnya mencuri soal ujian.
Mino balik membalas lirikanku. Sesekali memperhatikan Bu Hani yang mengitari kelas. Takut kami ketahuan dan berujung di keluarkan dari kelas. Otakku memang tidak pintar, tapi aku bisa mengingat setiap jawaban dari soal yang kini menjadi beban bagi anak-anak lain-lain. Setidaknya aku harus tahu diri.
Aku melemparkan secarik kertas ke paha Mino. Bukan kunci jawaban, hanya memanggilnya agar menoleh ke arahku. Mulutku berkomat-kamit menyuruhnya untuk menjawab salah pada beberapa soal. Kami akan di curigai jika mendapatkan nilai sempurna pada setiap ujian. Sangat mustahil rasanya bagi seorang anak nakal dan banyak masalah tiba-tiba menjadi anak paling pintar dalam semalam.
Aku sengaja menjawab salah pada beberapa soal. Aku memperkirakan jawaban yang benar hanya setengah. Sesuai dengan nilai yang biasa kudapatkan. Aku juga tidak mau menyalip anak-anak tingkat atas yang sudah belajar keras untuk mendapatkan nilai tinggi, sedangkan aku hanya membolak-bolik buku tidak jelas.
Bel berbunyi. Pertanda ujian telah selesai. Tidak ada satu murid pun yang boleh berdiri hingga Bu Hani mengumpulkan lembar jawaban, merapikan hingga keluar dari kelas. Itu peraturan dari sekolah untuk menghindari kecurangan-kecurangan yang akan terjadi. Meskipun jelas aku dan Mino sudah curi start lebih dahulu. Tapi siapa yang tahu?
Kami diberikan waktu istirahat sepuluh menit sebelum ujian kedua. Kami tidak cemas sama sekali. Bukan karena sudah belajar semalam suntuk tapi karena sudah tahu soal apa yang akan diujikan lengkap dengan jawabannya. Aku dan Mino tidak keluar dari kelas, hanya berdiam diri di kelas bersama anak-anak lain yang sibuk menghapal catatan masing-masing.
Aku mengambil sebotol air mineral dari dalam tas. Tanganku memutar membuka tutup botol. Namun, tangan Mino lebih cepat menyambar botol yang sudah kubuka lalu meneguknya sekali. Aku terdiam tidak bisa berkata-kata. Percuma aku menunjukkan wajah kesal karena ia sibuk dengan game ponsel di tangannya.
Aku bersungut-sungut merebut kembali botol yang disodorkan Mino padaku.
“Bisa bilang terima kasih tidak?” aku menceramahi Mino.
Waktu istirahat sudah berakhir. Kali ini guru lain masuk untuk mengawasi ujian selanjutnya. Sastra Indonesia. Pelajaran yang paling sulit bagiku dan juga yang paling banyak kenangan bersamanya.
Aku dan Mino melakukan hal yang sama selama satu minggu ujian berlangsung. Sengaja menjawab salah pada beberapa soal. Aku pikir Mino juga melakukan hal yang sama denganku. Tapi lihatlah. Sekarang namanya berada di peringkat paling bawah. Nomor terakhir.
“Bukankah kau ingin wajahmu di pajang di halaman depan majalah sekolah?” sindirku pada Mino yang mengangkat bahu tak peduli. Teringat ucapannya sewaktu di mobil. “Kau sengaja melakukannya, kan?” tuduhku lagi sambil melihat papan pengumuman nilai ujian. Hasil ujian kami langsung keluar setelah lima hari ujian terakhir diadakan. Setelah salah satu petugas menempel hasilnya pada papan mading, anak-anak lain langsung berlarian untuk melihat hasil kerja keras mereka. Tentu ini tidak berlaku bagi anak kelas kasta satu. Mereka akan di beritahukan melalui amplop masing-masing satu hari sebelum penempalan hasil ujian di mading. Sehingga mereka tidak perlu berdesak-desakan seperti yang kulakukan dengan Mino sekarang.
Sebenarnya anak-anak selain kasta satu sudah dapat memprediksi hasil apa yang akan mereka dapatkan. Hanya saja mereka ingin memastikan mereka tidak berada di peringkat akhir. Karena ini bisa menyulitkan proses administrasi, ataupun pelayanan sekolah yang didapatkan. Tapi anak laki-laki di sampingku ini tampaknya tidak peduli. Ia hanya bisa menggaruk keningnya yang tidak gatal.
“Aku hanya mengikutimu,” jawab Mino. Ia bahkan menyalahkanku.
“Tapi aku tidak menyuruh pada semua soal,” bisikku membela diri. “Sepertinya kau tidak akan pernah mendapatkan makan siang lagi,” ejekku pada Mino, lalu meninggalkan papan mading yang masih dipenuhi anak-anak lain yang sibuk mencari nama mereka.
“Aku tinggal bawa bekal besok, tak masalah,” gumam Mino yang masih bisa kudengar sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia menyusulku di belakang.
****
Pandi menghentikan mobil tidak jauh dari gerbang utama. Pandi turun dari mobil bersamaan dengan Mino, lalu memutari mobilnya untuk berdiri di samping majikannya itu.
“Mari bekerja keras, oke?” kata Pandi dengan mengatupkan kedua bibirnya. Tangannya sedikit mencengkram pundak Mino. “Kau tak tau apa yang kualami karena peringkatmu,” gerutu Pandi menyudahi. Pandi satu-satunya pengawal yang bisa bersikap seperti itu pada majikannya.
Mino mengelakkan tangan Pandi. “Kenapa? Memangnya apa yang kau alami? Tubuhmu tampak baik-baik saja, tidak cacat sedikitpun,” balas Mino sambil mengarahkan tangannya mengikuti tubuh jangkung Pandi. Ayah Mino tidak mungkin memukuli pengawal yang paling disukai anaknya. Tidak akan pernah.
Pandi menggeram yang langsung di hentikan Mino sambil bercanda. “Baiklah, aku mengerti. Dasar bawel!” ujar Mino. “Pulanglah, jangan menjemputku nanti,” lanjut Mino sambil meninggalkan Pandi yang masih berdiri di tempatnya.
Seorang gadis tiba-tiba menghadang langkah Mino. Tas samping yang disandangnya terjatuh dari bahu karena langkahnya yang terhenti. Untung tasnya tidak langsung jatuh ke lantai karena tangannya yang masuk saku. Hari itu Mino membawa tabletnya. Sepertinya ia ingin main game di layar yang lebih besar.
“Minggir,” kata Mino dingin pada Arin yang sudah berdiri di depannya sambil melipat tangan di d**a.
Pandi yang hendak pergi, kembali berbalik melihat Mino dan Arin.
“Dia pengawalmu?” tanya Arin dengan melirik ke arah Pandi yang belum masuk mobil. Mino mengikuti arah pandang Arin. Sorot matanya berubah tajam.
“Hei! jangan menatapku seperti itu. Kau membuatku takut,” ujar Arin bersikap manja, “sepertinya aku pernah melihat pengawalmu sebelumnya,” lanjut Arin pura-pura salah tingkah setelah melihat tatapan tajam Mino.
Pak Andra memarkirkan mobil tepat di belakang mobil Mino. Aku melihat Pandi yang sedang memperhatikan Mino dan Arin dari kejauhan. Aku menghampiri Pandi. “Pandi hallo,” sapaku ramah ketika melewati Pandi. Pria yang mengenakan setelan hitam itu tidak menjawabku karena sapaanku yang tiba-tiba dan pergi begitu saja.
Arin dan Mino berhenti bicara ketika aku mendekati mereka. Aku bisa merasakan suasana tegang di antaranya.
Arin menaikkan posisi tas Mino kembali ke pundaknya lalu mendekatkan kepalanya ke telinga Mino. “Sepertinya di perpustakaan,” bisik Arin. Lalu gadis itu meninggalkan aku dan Mino sambil melemparkan senyum licik yang paling kubenci. Aku membuang muka, menoleh menilik ekspresi Mino yang terlihat serius.
“Kenapa? Apa terjadi sesuatu?” tanyaku penasaran. Sorot mata Mino langsung berubah ketika menatapku. Kini matanya terlihat seperti tersenyum ramah karena kedatanganku.
“Ayo! Sebentar lagi gerbang akan di tutup,” ajaknya.
Aku tau dia menyembunyikan sesuatu. Tapi apa?
****