Ketangkap Basah

1179 Kata
Aku tidak berselera melahap makan siang yang ada di nampan. Tidak ada sesuatu yang bisa dimakan. Nasi putih dan sedikit warna hijau sayuran. Aku dan Mino mendapatkan makanan paling terakhir. Sebenarnya aku bisa mendapatkan lebih banyak, tapi aku memilih untuk antri paling belakang bersama Mino karena ia peringkat akhir. Ya. Seperti itulah tradisi gila yang ada di sekolahku. “Bukankah kau bilang akan bawa bekal?” tanyaku sambil mengaduk-ngaduk nasi dan kuah sayur. Teringat gumaman Mino kemarin. Aku mengangkat pandanganku dari nampan karena Mino tidak bersuara. Ia termenung dengan sendok yang masih terjepit di antara dua jarinya. “Hei.” Aku memukul nampannya tiga kali dengan sendok hingga ia tersadar. Tidak biasanya Mino bermenung. Ini sudah kedua kalinya hari itu. Bahkan hari itu belum sepenuhnya berakhir. Sepertinya ada yang mengganggu pikirannya.   “Kau kenapa? Apa karena Arin tadi pagi? Sebenarnya apa yang kalian bicarakan?” tanyaku bertubi-tubi. Raut wajahku menunjukkan kalau aku khawatir bercampur penasaran. Mino tidak menjawab. Ia menyuapi nasinya dengan cepat. “Besok akan kubawakan,” katanya tidak jelas. “Memagnya itu yang penting sekarang?” balasku tak terima. Mino malah mengalihkan pertanyaanku. Mulutnya penuh dengan nasi yang belum ditelannya. “Cepat habiskan nasimu, pekerjaan kita masih belum selesai, masih ada dua puluh jam lagi,” katanya sambil memukul-mukul nampanku. “DUA PULUH JAM LAGI,” tegasnya lagi. Mino bangkit dari kursi menyudahi makan siangnya. Aku terheran-heran melihat perubahan suasana hatinya. Sepersekian detik. Aku tidak tahu kalau ia juga punya pesona seperti itu. Aku terburu-buru menyuap nasiku yang tidak banyak. Sengaja aku ambil sedikit karena tadinya tidak berselera makan. “Hei, tunggu aku,” sorakku pada Mino yang sudah meletakkan nampannya dan berjalan ke luar kantin. “Aih, dia selalu terburu-buru,” gumamku sendiri berusaha menelan nasi yang sepertinya susah payah untuk diterima lambungku. Aku menghela nafas. Meneguk air putih, lalu ikut bangkit untuk meletakkan nampan kotor pada tempat yang telah disediakan. *****            Matahari sudah naik hampir segalah. Hari menunjukkan pukul delapan lewat sepuluh menit. Aku terlambat lagi datang ke sekolah. Aku meninju pelan pundakku yang terasa pegal. Memutar lengan ke depan dan ke belakang. Badanku terasa sangat lelah karena melakukan tugas pelayanan masyarakat seharian kemarin, seorang diri. Kemarin pertama kalinya Mino tidak menemaniku. Tidak ada di sampingku. Dia bilang ada sesuatu yang harus di urus. [Nanti aku pulang duluan.]  Mino menulis kalimat itu di kertas lalu meletakkannya di mejaku. Kami tidak bisa bersuara karena guru yang mengajar waktu itu galak. Suara nafas saja hampir tidak terdengar. Aku menyerngitkan kening. Sedikit kesal karena aku harus membersihkan ruangan kelas seorang diri sepulang sekolah, namun juga dibuat bertanya-tanya apa yang akan dilakukan Mino setelah ini. Aku tidak bertanya lebih jauh walaupun sebenarnya aku benar-benar ingin tahu. Sikapnya hari itu menjadi aneh semenjak mengobrol dengan Arin pada paginya. Jadi aku memutuskan untuk membiarkannya pergi. Bahkan Mino langsung berangkat meninggalkan tepat setelah bel berbunyi, tanpa memberiku waktu untuk bertanya.            Aku berpamitan pada Pak Andra sebelum turun dari mobil. Aku menunggu mobil Pak Andra hilang di persimpangan depan sana. Baru saja aku akan melangkah dan mengalihkan pandangan, wajahku yang sebelumnya tampak lesu berganti guratan senyum ketika melihat punggung anak laki-laki yang sangat kukenali. Dengan senyuman yang mulai mengambang, aku melangkahkan kaki ke arah Mino. Belum sampai separuh jalan, tiba-tiba aku bisa melihat seroang gadis dari balik punggung Mino. Ya. Itu Arin. Aku berhenti.            Rasa penasaranku yang tinggi membuatku bersembunyi di balik dinding sebelum memasuki jalan setapak yang biasa kulalui. Sialnya kakiku tidak sengaja menendang sebuah batu hingga menimbulkan suara. Mino dan Arin menoleh. Untunglah aku dapat segera bersembunyi. Aku mengatur nafas pelan agar tidak menimbulkan suara. Lagaku sudah seperti mata-mata yang dikirim oleh Korea Utara untuk Korea Selatan. Hanya saja kali ini aku tidak mempunyai pistol. Aku mencoba mendengarkan apa yang mereka bicarakan, tapi sekarabg aku tidak bisa mendengar apapun. Tiba-tiba saja dari arah berlawanan denganku, sebuah tangan bergerak cepat membalikkan badanku dan membungkam mulutku lalu menghempaskan badanku ke dinding cukup keras. Nafasku tercekat. Apa yang terjadi barusan? Aku tidak bisa berteriak meminta bantuan dengan mata yang terpejam. Aku membuka mata pelan. Pupil mataku membesar. Begitu pula dengan pemilik tangan yang masih membungkam mulutku. Posisiku kali ini sangat dekat dengannya. Wajah kami hanya dipisahkan jarak dua puluh senti saja. “Mino,” mataku seolah berbicara memanggil namanya yang sama terkejutnya denganku. Mino melepaskan tangannya. Aku terbatuk mencoba mengambil nafas sebanyak yang kubisa. “Kau tak apa?” tanyanya khawatir sambil memegangi badanku yang terbungkuk. Sepertinya Mino tidak mengira aku akan datang melewati jalan itu, karena kemarin kami sudah bilang akan datang melewati gerbang utama, meskipun tidak janji. Seharusnya Mino sudah sadar karena diriku yang masih belum datang di jam segitu. Justru aku lebih curiga padanya. Apa yang dilakukannya dengan Arin di sana? Pada jam pelajaran pertama pula. Sungguh membuatku bertanya-tanya. Aku masih terbatuk sambil memegangi d**a. “Kau benar-benar punya bakat jadi preman,” kataku pelan dengan posisi masih bungkuk. Tidak menatap wajahnya. “Kenapa kau berdiri di sana?” Mino malah menyalahkanku, “mencurigakan,” desisnya. “Apa?” kepalaku terangkat. Aku membenarkan posisiku yang kini sudah berdiri tegak. “Mencurigakan?” ulangku tidak percaya. “Bukankah seharusnya aku yang curiga padamu?” Aku mendengus kesal. Sebelah tanganku berada di pinggang. Mencoba tampak lebih percaya diri. Sementara Mino terdiam membelakangiku tak menjawab. “Ada yang kau sembunyikan, kan?” tanyaku curiga. Jelas sekali ada yang di sembunyikan Mino dariku. “Beri tahu aku!” “Beritahu apa? Tak ada, aku tak menyembunyikan apapun darimu,” Mino membantah. Wajahnya terlihat seperti maling yang ketangkap basah. Ia berjalan melewatiku. Berusaha menghindari pertanyaanku. Aku menahan lengan Mino. “Kita sudah berjanji akan memberi tahu sama lain, bukan?” Aku mengingatkan Mino semisal ia lupa. “Kau bilang akan memberitahuku apapun yang terjadi, dan aku pasti juga akan memberi tahumu jika sesuatu terjadi padaku, apa kau lupa kalau kau pernah bilang seperti itu?” Mino tetap tak menjawab. Aku menatapnya penuh harap tetap menunggu jawaban dari Mino. “Hei nak, apa yang kalian lakukan di sana? Kembalilah ke kelas, pelajaran sudah di mulai dari tadi,” salah satu petugas kebersihan yang lewat menegur kami. Untunglah Mino selamat dari kecurigaanku. Kami melirik satu sama lain lalu berjalan menuju kelas. Tidak ada percakapan selama perjalanan di lorong. Aku masih menunggu Mino untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dengan Arin. Sesekali aku mencuri pandang padanya. Raut wajahnya terlihat cemas dan sedang memikirkan sesuatu. “Kau tahu sikapmu aneh semenjak kemarin?” kataku. “Perasaanmu saja,” jawabnya singkat. Mino masih saja tak mau memberi tahuku apa yang terjadi. Apa Arin mengancam Mino? Apa mungkin gadis itu tahu kelemahan Mino? Berbagai pertanyaan itu melintas di pikiranku seperti papan berjalan. Aku benar-benar tidak dapat menebak satu pun. Entah apa yang kumakan sebelumnya sampai-sampai otakku menjadi buntu. Tak bisa berpikir jernih. Aku berhenti. “Aku hanya khawatir, kalau sesuatu yang buruk terjadi padamu, sama halnya dengan Geofani,” ucapku pelan sambil tertunduk. “Jadi,” aku berhenti sejenak, mengangkat kepala, “kau bisa beri tahu aku, entah itu baik atau buruk.  Aku pasti akan membantu sebanyak yang bisa kulakukan,” tambahku. Mino berbalik menatapku. Dengan mulut yang tetap terkunci rapat. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN