Keesokan harinya, di hari Minggu. Mino kembali bertemu dengan Arin tanpa sepengetahuanku. Mereka bertemu di sebuah café yang pernah kudatangi dengan Mino.
“Jadi kau rupanya,” ucap Arin sambil mengibaskan sebagian rambutnya ke belakang. “Aku bertanya-tanya siapa yang membeli soal itu dengan terburu-buru dan bukan dari kalangan anak sekolah pula,” Arin mendengus. Dia tersenyum puas, “ternyata kau rupanya,” lanjutnya terkekeh pelan seperti mengejek Mino.
“Kenapa? Memangnya ada larangan aku tidak boleh melakukannya?” balas Mino tak mau kalah. Dia duduk sambil melipat tangan dan menyilangkan kaki. Wajahnya tak kalah sengit dibandingkan Arin.
Arin masih menunjukkan senyum tipis yang memiliki arti lain di baliknya. “Tidak, aku hanya penasaran kenapa nilai kau jelek sekali bahkan setelah mendapatkan soal itu,” Arin berhenti sejenak, lalu memajukan badannya sambil meletakkan sebelah tangannya di samping mulutnya. “Apa soal itu untuk gadis angkuh yang selalu mengikutimu itu?” bisiknya lalu kembali menegakkan badannya.
Sebelumnya Mino tidak menunjukkan ekspresi apapun. Wajahnya tetap tenang dengan tatapan mata yang tajam hingga akhirnya Arin menyebutku. Meskipun bukan namaku, tapi Mino langsung mengerti dengan arah pembicaraan gadis yang tengah memprovokasinya itu.
“Tidak ada salahnya berbagi di antara sesama teman,” jawab Mino lalu menghirup minuman yang di pesannya. Yang pasti itu bukan kopi karena ia tidak suka kopi.
Ponsel Mino bergetar. Arin mengirimkan Mino sebuah foto melalui pesan teks. Mino mengusap layar ponselnya. Ia melihat siluet Pandi ketika mengambil aplop di antara rak buku. Bukan itu saja, Arin juga mengirimkan foto lain. Mino bisa melihat potret dirinya bersama seorang gadis. Tentu saja itu fotoku. Untungnya wajahku tidak terlihat karena waktu itu aku pura-pura membaca buku sehingga wajahku tertutupi buku yang sengaja kuangkat.
“Aku tidak mungkin jatuh sendiri, aku selalu menyimpan bukti setiap orang yang bertransaki denganku,” terang Arin. Tidak heran kenapa dia mempunyai fotoku dan juga Mino.
“Oh ya, sepertinya kemarin Jia melihat kita, dia bilang apa?” tanya Arin yang berubah penasaran.
Mino memasukkan ponselnya ke dalam saku. “Tentu saja kubilang kau sudah memergoki kami,” kata Mino berbohong, “lagi pula kau tidak akan menggunakan foto itu sekarang atau kau akan di keluarkan dari sekolah,” lanjut Mino. Ia kembali menghirup minumannya dengan santai.
Kata-kata Mino yang menohok membuat Arin sedikit terkejut. Raut wajah gadis itu berubah. “Sebenarnya Jia tidak akan rugi, dia tidak akan pernah di keluarkan dari sekolah,” Mino menghabiskan sisa minumannya dalam sekali tegukan. Mino berdiri lalu sedikit menunduk mendekatkan wajahnya pada Arin yang masih duduk di tempatnya.
“Kau hanya menggali lubang kau sendiri,” bisiknya tegas pada telinga Arin. Mino menepuk pundak Arin kemudian berlalu meinggalkan Arin yang masih termangu. Tangannya terkepal geram. Dia tidak percaya kalau justru ia mempermalukan dirinya sendiri. Seharusnya Arin tidak mengajak Mino bertemu karena anak laki-laki itu sangatlah acak dan sulit di tebak.
Begitu keluar dari café, Mino langsung menekan tombol panggil pada layar ponselnya.
“Hallo,” sapaku dari seberang.
“Kau dimana?” tanyanya.
“Di rumah,” jawabku singkat.
Mino langsung mengakhiri panggilan begitu mendengar jawabanku. Aku hanya bisa menyerngitkan kening tidak mengerti.
****
Ting Teng! Ting Teng!
Bi Ruri menekan tekan open pada kendali otomatis yang di tempel pada dinding tepat di samping pintu masuk. Rumah yang kutempati cukup canggih dilengkapi dengan sistem keamanan otomatis. Wajar saja mengingat betapa penting dan kayanya ayahku, Mister Han. Setidaknya dia tetap memberikan rumah yang bisa membuatku merasa aman dan nyaman. Rumahku tidak terlalu besar, tetapi cukup untuk ditinggali bertiga, aku, Bi Ruri dan juga Pak Andra. Interior rumahku tidak mewah, lebih banyak di d******i dengan perabotan kayu dan juga lantai marmer yang bermotifkan abstrak.
“Selamat sore bi,” sapa Mino ramah ketika Bi Ruri muncul dari balik pintu.
Mino sudah sering berkunjung ke rumahku. Bi Ruri langsung mempersilahkan Mino masuk dan menyuruhnya menungguku di ruang tamu yang juga tidak besar. Hanya ada satu buah sofa panjang dengan televisi yang menempel pada dinding di hadapannya.
Tidak lama. Aku keluar dari kamar begitu Bi Ruri memberi tahu kedatangan Mino.
“Hei, kenapa kau kesini?” kataku sedikit kaget karena baru saja ia menelpon dan menutup panggilan denganku begitu saja.
“Hanya mampir, kebetulan lewat,” jawabnya singkat.
Aku duduk di sampingnya. Lalu menyalakan televisi.
“Jia,” panggilnya. Mino mengambil remot lalu mematikan televisi.
Aku menoleh, tidak mengerti. Aku merasa sikapnya masih sama anehnya dengan kemarin. “Kenapa di matikan,” gerutuku sambil merebut kembali remot dari tangannya.
Mino tampak ingin menyampaikan sesuatu, tetapi mulutnya seperti kelu tak bisa bicara.
“Kenapa? Kau ingin bilang sesuatu?” kataku menebak Mino lalu kembali menghidupkan televisi. Acara yang kutonton adalah sebuah variety show traveller yang mengunjungi Kanada. Tiba-tiba saja aku rindu pada ibuku yang masih sibuk bekerja di sana.
Mino masih diam. Aku meliriknya sesekali. “Tidak jadi?” tanyaku lagi.
Mino menghempaskan badannya ke belakang. “Tidak, aku jadi lupa apa yang mau kubilang,” katanya.
Aku ikut menyandarkan punggungku ke belakang. Mino sudah seperti ini selama beberapa hari semenjak bertemu dengan Arin waktu itu. Aku masih belum tahu apa yang terjadi sebenarnya. Mino mempunyai banyak rahasia, auranya memang sangat misterius meskipun terkadang ia bisa bersikap hangat dan lembut, jadi aku tidak bisa menebak apapun. Terlebih lagi Arin bukanlah gadis biasa. Mungkin saja gadis itu mengetahui salah satu rahasia Mino. Tebakku dalam hati.
“Kalau tidak ada, pulanglah!” usirku pada Mino karena kesal. Tidak marah, nada bicaraku terdengar seperti bercanda.
Mino membelalak sambil menurunkan tangannya yang terangkat karena memainkan ponsel. “Apa?”
“Lagi pula tidak ada yang mau kau sampaikan padaku, mainlah di rumahmu, jangan di rumahku,” jawabku sambil melirik ponsel di tangannya.
Mino bangkit dari kursi. Tapi aku tidak menahannya seperti terakhir kali.
“Pulanglah! Aku tidak akan mengantarmu ke depan,” ucapku yang masih terfokus pada televisi. Nada suaraku datar. Seharusnya Mino merasakan bagaimana kesalnya aku padanya.
Begitu pula Mino, raut wajahnya tidak senang dengan sikapku yang juga sedikit berubah. Ia membenarkan poninya yang menutupi kening.
Mino tidak menatap mataku sebelum pergi. Ia benar-benar pulang begitu aku suruh pulang. Aku sempat meliriknya dengan kepala tertunduk ketika berjalan menuju pintu. Aku melihatnya menghilang di balik pintu. Aku menghela nafas. Tanganku terangkat mematikan televisi.
“Ouh, sikapnya benar-benar aneh. Dasar keras kepala!” gumamku sendiri yang terdengar kesal dengan sikap Mino. Suasana hatiku sudah buruk. Dan dia malah memperburuk karena tetap tidak mau memberitahuku.
Sebenarnya sepenting apa masalah itu sampai-sampai Mino begitu berat untuk memberitahuku. Bahkan ia sudah jauh-jauh datang ke rumahku.
Aku penasaran sampai mau gila. Hatiku membatin.
Baru saja aku ingin mengumpat di dalam hati. Tetapi sebuah panggilan menghentikanku. Aku mengambil ponsel dan melihat siapa yang mengganggunya.
“Jia,” panggilnya dari seberang sana.
“Kau jangan terkejut, cukup dengarkan saja,” katanya langsung menahanku agar tidak berbicara. Aku menurut.
“Arin ternyata tau kalau Pandi yang membeli berkas padanya waktu itu,” terangnya.
Mataku membesar ketika mendengar kalimat Mino yang terdengar serius dari balik sana.
****