DEJA VU

1194 Kata
Aku berjalan melewati lorong yang ramai dengan anak-anak yang tengah beristirahat. Langkahku bergerak dengan cepat mengabaikan semua orang yang sedang memperhatikan anak kasta tiga yang kini berada di gedung kasta satu. Terlebih lagi berada di lantai paling atas. Aku memasuki salah satu kelas dan bertanya pada anak laki-laki yang bergelut dekat pintu.            “Kau lihat Arin?” tanyaku tegas. Rasanya mukaku sudah merah padam karena amarahku sudah mencapai ubun-ubun.            Anak laki-laki itu memanyunkan mulutnya menunjuk Arin yang sedang memainkan ponsel di bangkunya. Aku menerobos masuk kelas dan menghampiri gadis yang sedang kucari itu. Ia tak menyadari kedatanganku karena sepasang earphone menggantung di kedua telinganya. Tanganku terangkat lalu mendarat tepat di belakang kepalanya. “Dasar menyebalkan,” seruku sambil memukulnya.            “Aauuu!” teriak Arin. Salah satu earphonnya terlepas dari telinga, terjatuh di lantai. Kepalanya tertunduk setelah terkena pukulanku. Dia bangkit lalu berbalik. “Aiiiish, siapa yang berani memukul kepalaku?” teriaknya lagi sambil memegangi kepala bagian belakang.            Aku masih berdiri di belakangnya dengan kedua tangan di pinggang. “Berhentilah mengganggu Mino!” perintahku.            Arin tak menghiraukan perintahku. Ia tak menjawab. Matanya membesar setelah melihatku. Dengan cepat kedua tangannya mengarah ke kepalaku. Tangannya leluasa mengacak dan menarik rambutku. “Kau siapa sampai berani memerintahku?” katanya sambil menggertakkan gigi.            Aku tidak mau kalah. Tanganku juga sudah berada di kepalanya. Menarik rambutnya seperti yang dilakukannya padaku. “Mari kita lihat siapa yang menang,” balasku bertekad.            Anak-anak yang lain tidak ada yang berani melerai kami. Yang satu anak kasta satu peringkat tertinggi dan satunya lagi anak nomor satu di sekolah. Mereka hanya sibuk mengambil potret diri kami yang berada di tengah-tengah kelas. Bahkan ada yang membuat taruhan siapa yang akan menang diantara kami. Anak-anak dari kelas lain juga turut berdatangan untuk menyaksikan pertengkaran kami karena waktu itu jam istirahat.            “Lepaskan selagi aku bicara baik-baik!” perintahku mengingatkan Arin yang tidak melepaskan cengkeramannya pada rambutku barang sedetikpun.            “Kau yang duluan!” balasnya tak mau kalah.            Aku justru semakin menarik rambutnya ke bawah. Kami sama-sama membungkuk dengan posisi tangan yang masih menempel di kepala masing-masing. Bahkan Arin melepaskan salah satu tangannya beralih memukul pipi sebelah kananku. Aku berteriak. Pipiku terasa kebas karena pukulannya yang keras. “Kubilang lepaskan!” teriaknya lagi.            Aku tidak bergeming. Justru membalas pukulannya. Mata dibalas mata. Gigi dibalas gigi. Seperti itulah ungkapan yang cocok untuk menggambarkan keadaanku dengan Arin saat itu. Begitu seterusnya. Tidak ada yang mau mengalah.            Sepertinya berita kami tersebar begitu cepat. Karena tidak lama setelahnya. Sepasang tangan lain mencoba menarik badanku ke belakang dan melepaskan cengraman tanganku dari kepala Arin. Akhirnya ada yang berusaha melerai kami. Pikirku sesaat. Tapi aku tak mau melepaskan sampai Arin ikut melepaskan. Aku tak tahu itu siapa, tapi kami mendorongnya ke meja samping hingga terbentur sudut meja.            “Kau pikir bisa semena-mena karena ada ayahmu disini, huh?” seru Arin. Aku semakin marah karena ia menyebut Mister Han. “Aku akan membongkar apa yang telah kau lakukan,” ancam Arin kali ini. Pikirnya mungkin aku akan melepaskannya jika melayangkan ancaman seperti itu. Yang ada justru aku semakin menarik kencang rambutnya.            “Lakukan saja! Aku tidak takut. Lagi pula tidak ada yang untung jika kau melakukannya,” balasku kembali mengancam. Nafasku menderu dengan cepat. Sepertinya energiku terkuras dengan cepat karena menahan Arin yang tak kalah kuat dariku.            Anak laki-laki yang terjatuh tadi kembali menarik badanku. “Hentikan!” teriaknya. Aku mengenali suaranya. Tanganku perlahan terlepas dari kepala Arin. “Kau juga!” teriaknya pada Arin. Kami berhenti.            Barulah aku bisa melihatnya ketika aku menengakkan badan. Mino menarik badanku menjauh meninggalkan kelas. Aku melihat Arin hanya terdiam. Ia juga tampak kehabisan nafas setelah bertengkar denganku. Ia masih sempat membentakku tepat sebelum aku dan Mino menghilang di balik pintu.            Aku memperhatikan tangan Mino yang menggenggam tanganku selama perjalanan keluar gedung. Dia mengajakku menuju bangku lapangan belakang. Tempat yang kusukai dari sekolah ini. Aku hanya diam tak bicara. Keadaanku seperti anak kecil lima tahun yang baru saja dimarahi ibunya karena bertengkar dengan teman bermain.            Rambutku sangat berantakan. Seragamku juga kusut tak berbentuk. Lebih parahnya, kini pipi kananku sudah membiru. Sedikit sakit bagiku ketika membuka mulut. Sudut bibirku juga mengeluarkan sedikit darah.            “Tunggu di sini!” Mino menyuruhku menunggu begitu kami sampai. Aku menggangguk patuh duduk di bangku sesuai instruksi Mino. Dia berlari meninggalkanku menuju suatu tempat.            Tanpa perlu menunggu waktu lama. Kini Mino kembali berlari ke arahku. Aku merasa dejavu karena ini bukan pertama kalinya Mino berlari ke arahku seperti yang ia lakukan kini. Aku teringat kejadian lama waktu ia juga berjalan menghampiriku untuk memberikan salaf luka pada saat pertengkaranku dulu yang juga dengan Arin.            Dia menarik nafas panjang setelah tiba di hadapanku, lalu duduk tepat di sampingku.            “Tidakkah kau lari begitu cepat? Kau bisa menjadi atlet trek lapang,” saranku bercanda.            “Kau masih bisa bercanda?” katanya. Ia mengusap pipi kananku dengan batu es yang sudah dimasukkan ke dalam kantong kecil. Entah dari mana dia mendapatkannya. Yang kurasakan saat itu hanyalah perih ketika kantong itu menempel di pipiku.            “Aaa,” desisku kesakitan. Aku memicingkan sebelah mata. “Biar aku saja,” pintaku mengambil alih kantong es yang semula berada di tangan Mino.            Sekilas aku melihat siku Mino memar dan tergores. Sepertinya ia terluka terkena meja atau apalah yang tajam ketika aku mendorongnya tadi. “Hei, kau juga terluka,” kataku menyadari tangannya yang terluka. Suaraku terdengan khawatir.            Mino mengikuti arah pandangku pada lengannya. “Aku juga terluka rupanya,” jawabnya tidak peduli. “Lagian kenapa kau suka sekali mencari masalah dengan Arin?”            “Tidak. Hanya saja aku merasa tidak adil dengan kelakuannya padamu,” jawabku tak mau disalahkan. Aku menghela nafas sambil menyandarkan punggungku. Sesekali aku menyerngitkan dahi karena rasa sakit dari pipi kananku.            “Lihatlah! kau benar-benar terlihat berantakan sekarang,” Mino menoleh menatapku. “Padahal kau tak perlu melakukannya,” lanjutnya.            “Hei, jangan berkata seperti itu,” rengekku tidak setuju dengan Mino. “Aku melakukannya karena ingin. Aku sungguh muak melihatnya,” umpatku memberi sembarang alasan. “Setidaknya aku sudah memberinya pelajaran,” sambungku puas dengan apa yang telah kulakukan. Meskipun tidak ada pemenang diantara pertengkaranku dan Arin.            “Dasar pencari perhatian,” ejek Mino padaku. Ia mengarahkan ponselnya padaku.            Krek! Krek!            Ia mengambil foto diriku, usil mengerjaiku. Aku hanya pasrah pada kelakuan acak Mino. Baru saja ia bersikap perhatian padaku. Lima detik kemudian ia sudah berubah menjadi anak usil yang senang mengerjaiku. “Kau senang membuat onar karena ayahmu ketua yayasan sekolah?” Mino terkekeh dengan candaannya sendiri.             Aku melirik sinis setelah ia menyebutkan Mister Han. Raut wajahku berubah tajam berbalik menatapnya. Ia berhenti terkekeh. “Baiklah, baiklah. Aku mengerti, aku berhenti.” Ia berhenti menggodaku setelah menyadari suasana hatiku bisa menjadi buruk jika menyangkut Mister Han.            “Pergilah ke rumah sakit, sepertinya ada masalah dengan emosimu,” lanjutnya menggodaku. Ia lebih terdengar seperti mengguruiku. Mino paling suka melihat ekspresi kesalku. Entah mengapa.            “Kau mau menemaniku?” balasku menanggapi candaan Mino.            “Tidak, aku tak mau,” tolaknya mantap tanpa ragu.            “Cih. Aku juga tidak mau, aku hanya iseng mengajakmu,” balasku tak mau kalah sambil tertawa yang tertahan.            Mino bangkit. Sudah saatnya kembali ke kelas. Waktu istirahat tidak tersisa banyak.            “Ayo!” ajaknya. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN