HITAM

1231 Kata
Kalian pernah mendengar ungkapan kacang lupa akan kulitnya? Ya. Tapi aku merasa jikalau ungkapan itu tidak cocok sama sekali dengan kejadian yang kualami. Dimanakah letak aku, sebagai seorang anak, yang melupakan perjuangan dan kasih sayang seorang ayah? Tak bisa kutemukan hingga hari ini. Hanya saja aku bersyukur karena terlahir dari keluarga yang berada sedari lahir. Orang bilang aku anak yang terlahir dengan sendok emas, meskipun aku tak pernah bangga dengan ungkapan itu semenjak menginjakkan kaki di sekolah ayahku. Mungkin kini orang-orang lebih banyak menyebutku anak tak tahu diri jika melihat apa yang kulakukan untuk ayahku.            Drrt! Drrt!            Ponselku bergetar di saku. Aku menopang kepala dengan lengan yang bertumpu di meja. Sebentar lagi jam olahraga akan dimulai, tetapi aku malas untuk berganti baju.            “Hei, kenapa kau menelfon?” teriakku setelah melihat nama yang tertera di layar. Aku mengalihkan pandangan yang sedari tadi melihat ke luar jendela ke arah Mino di sampingku. Dia sudah tak ada di sana. Tanganku mengusap layar menjawab panggilan.            “Cepat keluar! Kelas akan segera dimulai.” Mino mengingatkan, sepertinya dia sudah berada di luar lapangan.            “Bilang saja aku sakit,” aku beralasan. Cuaca yang semakin panas menjadi salah satu alasanku untuk malas mengikuti kelas olahraga. Aku merutuki jadwal belajar kelasku yang mendapatkan kelas olahraga di siang hari dan di lapangan terbuka. Padahal sekolahku ini memiliki lapangan olahraga tertutup. Sangat menyebalkan ketika membandingkan fasilitas yang selalu berbeda bagi anak kasta tiga.            “Tidak mau,” tutup Mino.            Hampir saja aku menyumpahi Mino karena menutup telfon tiba-tiba. Dengan berat hati, aku bangkit untuk segera berganti pakaian. Tidak lama, aku sudah berada di sisi lapangan. Aku melihat anak kelasku tengah berlari mengelilingi lapangan. Mino yang melihat kedatanganku langsung menarik tanganku masuk barisan sebelum guru olahragaku melihat dan memberi hukuman karena datang terlambat.            “Dasar pemalas!” ungkap Mino yang berlari di sampingku. Dia tahu jika aku tak terlalu suka berlari.            “Kau sengaja, kan?” curigaku pada Mino.            “Lemaskan tanganmu dan juga atur nafas dengan benar!” Mino memperagakan gerakan ringan memutar tangan ke depan dan ke belakang. Dia mengalihkan topik pembicaraan. Percuma jika aku lanjutkan. Aku hanya bisa mengomel tak jelas.            Rambutku basah karena keringat. Jantungku berdetak lebih cepat dengan nafas yang masih berderu cepat. Jam olahraga sudah berakhir. Meskipun tidak lama, tetapi ini cukup menguras banyak tenaga dan energi.            Kami duduk di salah satu bangku di pinggir lapangan. Mino menyodorkan sebotol air botol kemasan yang tutupnya sudah terbuka. Tanganku segera terangkat menerima botol itu. Aku meneguknya sekali. “Ouh, segarnya,” kataku lega. Nafasku mulai teratur. Mino juga memberiku beberapa tisu untuk mengeringkan keringat yang memenuhi dahi dan pelipis. Bisa dibilang dia perhatian dengan hal-hal kecil. Aku suka dengan sikapnya yang seperti itu. “Kau mau ke kantin? Sebentar lagi jam istirhat,” ajak Mino. “Temani aku ke kelas sebentar, ponselku ketinggalan.” Mino mengangguk. Sangat jarang dia menolak permintaanku. Aku mengambil ponsel di dalam tas. Sekilas mataku menangkap sebuah amplop hitam yang terselip di antara dua buku di laci. Tanganku reflek menarik amplop itu karena sangat menarik perhatian. Yang kuingat adalah amplop itu bukan milikku. “Itu apa?” tanya Mino yang berdiri di dekatku. Tidak banyak murid yang ada di kelas. Kalaupun ada, mereka tidak tertarik denganku apalagi Mino. Aku mengangkat bahu lalu membuka perekat amplop. Di dalamnya ada sebuah surat. [Aku akan membongkar kecuranganmu!] Itu sebuah ancaman. Mino merampas surat itu dari tanganku. Memastikan siapa pengirim dari surat itu. Tetapi tak ada tanda-tanda yang menunjukkan siapa pengirimnya. Tiba-tiba saja satu nama terlintas di benakku. Mino menatapku. Mungkin saja ia memikirkan nama yang sama denganku. “Dia tak mungkin menggunakan cara kekanakan seperti ini,” bantahku menyangkal pikiranku sendiri. Mino membenarkan. Tapi siapa lagi yang tahu tentang kejadian ini selain Arin? Gadis angkuh yang baru saja membuat memar pipiku. Hampir saja aku kembali menemui Arin. Tetapi Mino menahanku. Tidak ada bukti yang menunjukkan kalau itu Arin. Lebih baik menunggu. Kali ini aku menurut pada Mino. Namun, situasi berkata lain. Aku melihat Arin duduk di salah satu meja kantin. Tidak sendiri, ia bersama dua gadis lain yang selalu mengikutinya. Aku menyikut Mino mengarahkan pandangannya pada Arin. “Kita duduk di sana!” Aku mengajaknya setelah nampan kami terisi nasi dan lauk. “Oooo. Lihat siapa ini?” kata Arin dengan nada sedikit menyindir. Aku tidak menjawab. “Hei kalian, duduklah di kursi lain! Ada yang ingin kubicarakan dengannya,” aku menyuruh dua teman Arin untuk pindah karena tidak cukup tempat untukku dan Mino jika mereka tetap duduk di sana. Mereka melirik Arin yang dibalasnya dengan anggukan kecil. Setelah mereka pindah, barulah aku dan Mino bisa duduk.            “Apa yang membawa kalian duduk di sini?” tanyanya sinis. Dia tak lagi menyuap makanannya.            Aku masih santai menyuap beberapa sendok nasi yang ada di nampanku. Mino yang usil justru mengambil lauk yang ada di nampan Arin tanpa izin. Jelas lauknya lebih banyak dari kami, tidak ada salahnya meminta satu.            “Seharusnya aku yang bilang begitu, kenapa kau kekanak-kananan sekali?” balasku masih santai.            “Boleh aku bertanya padamu?” Arin mengabaikan pertanyaanku. Dia mendekatkan kepalanya kepada kami yang masih asyik menyuap nasi ke dalam mulut. Raut wajahnya berubah menjadi centil dan mengecilkan volume suaranya.            “Kau suka pada Mino? kenapa selalu menempelinya?” tanyanya serius.            “Hm,” jawabku singkat tak peduli. Mino tersedak mendengar jawabanku, lalu ia terkekeh ringan.            “Cih, dasar menyebalkan!” Arin bersungut-sungut karena aku tidak mengambil umpannya. Dia kembali menegakkan dan menyandarkan badanku. Tak lupa ia juga melipat tangan di d**a.            “Berhentilah bermain-main denganku!” Aku kembali memperingatkan Arin.            “Kenapa? Aku suka bermain denganmu, hanya orang bodoh yang tidak mau berteman dengan anak ketua yayasan di sini,” balasnya memancing emosiku. Sepertinya dia sudah tahu cara membuatku kesal, yaitu ketika dia membawa-bawa nama Mister Han dalam pembicaraan. “Aku akan terus bermain denganmu, bertemanlah denganku!” pintanya sambil menunjukkan ekspresi polos.             “Aiiih,” geramku. Sangat menyebalkan bagiku melihat reaksinya yang seperti itu. Ingin rasanya tanganku kembali menjambak rambut blondenya itu.            “Oh ya, tadi kau bilang apa? Kekanakan? Aku?” tanya Arin sambil menunjuk dirinya sendiri. “Kapan?” lanjutnya mencoba mengingat-ngingat kelakuannya.            Aku yang sudah muak melihat kepolosan palsu Arin bangkit. “Hei, ayo pergi! Perutku sudah kenyang, bisa-bisa aku memuntahkan makanan yang baru saja kumakan jika terus duduk di sini,” ajakku pada Mino yang tak banyak berbicara dari tadi. Sudah menjadi kebiasannya baginya tidak mencampuri ketika aku berbicara dengan siapapun lawan bicaraku, hanya saja dia selalu ada di sampingku. Aku menganggapkan sebagai saksi nyata dari segala perbuatanku. Lucu memang. Apa kalian juga menganggapnya lucu?            “Mino, jangan lupa angkat panggilanku!” teriak Arin menggoda Mino sambil memberi isyarat dengan tangannya. Khawatir anak laki-laki yang dipanggilnya itu tidak mendengar karena sudah cukup berjalan cukup jauh dari posisinya.            “Sepertinya Arin tidak mengerti dengan arah pembicaraan kita tadi,” kata Mino berbicara sendiri sambil meletakkan nampan kotor di meja. Dia mencari kemungkinan lain dari siapa pengirim surat yang kami temukan tadi.            “Kau tampaknya sangat menikmati, ya?” sindirku pada Mino. “Jangan lupa angkat panggilannya,” kataku datar lalu berjalan lebih dulu ke luar gedung.            “Hei, kenapa kau jadi dingin?” Mino menyusulku yang berjalan cepat. “Jangan bilang kau cemburu?” tebak Mino sambil terkekeh.            “Siapa bilang,” sangkalku berjalan lebih cepat dari langkahnya.            “Ayolah.” Mino menggodaku dengan memainkan rambutku atau memukul pelan pundakku. Dirinya masih saja terkekeh melihat reaksiku. ******
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN