PERTEMUAN

1234 Kata
Kata orang, seseorang tidak akan tumbuh menjadi pribadi yang kuat jika dia tidak melalui tantangan besar yang terjadi di luar dugaannya. Tak akan pernah tumbuh jika tak menjatuhkan air mata karena lelahnya menjalani hidup. Kata orang, Tuhan memberikan porsi yang sama pada setiap umatnya, dimana yang membedakan hanyalah bagaimana cara mereka menerima dan menghadapinya. Itulah mengapa seorang pemimpin harus adil terhadap umatnya.            Sebentar lagi usiaku sudah hampir menginjak enam belas tahun. Apakah ada anak gadis lain yang mendapatkan tantangan sebesar diriku? Kenapa aku merasa jikalau hanya aku yang mempunyai beban paling berat di dunia ini? Sungguh menyedihkan. Untuk siapakah aku berjuang sekarang? Terkadang pikiran itu sering kali lewat di benakku. Berulang-ulang seperti terus memperingatkan. Apakah dengan aku melakukan hal ini, diriku termasuk orang yang adil? Dan terkadang pula, aku merasa jijik pada diriku sendiri jika membayangkan perbuatan ayahku. Seseorang yang seharusnya aku hormati dan kagumi, berubah menjadi seseorang yang sangat ingin kuhancurkan. Orang-orang sudah pasti akan berpikir kalau aku benar-benar anak paling durhaka, tidak tahu untung atau apalah itu. Aku tidak peduli. Tetap akan kuselesaikan apa yang sudah dimulai.            Drrrt! Drrrt!            Panjang umur. Nama Mister Han muncul di layar ponselku. Aku sudah lama mengganti nama kontaknya menjadi Mister Han. Tanganku meletakkan pengering rambut yang sedari tadi kugunakan, lalu meraih ponsel di meja.            “Halo?”            “Segera bersiap-siap! Sebentar lagi Sekretaris Lin akan datang menjemputmu.” Perintah Mister Han dari seberang sana.            “Kena…” Panggilan terputus. Mister Han memutuskan panggilan sepihak. Bahkan aku tidak sempat menanyakan alasan dari perintahnya itu.            Tanganku kembali menekan tombol panggil. Suara panggilan terhubung terdengar tetapi tak ada jawaban. Aku bersungut-sungut menutup panggilan.            Hari sudah pukul tujuh malam. Aku sudah cukup lelah hari ini, bahkan sudah mandi dan berencana untuk tidur lebih awal. Tetapi semuanya gagal. Entah apa yang direncanakan oleh Mister Han malam ini.            Tit! Tit! Tit!            Aku mendengar suara klason dari luar. Tidak lama, Bi Ruri datang mengetuk pintu kamar.            “Sektertaris Lin sudah datang nak,” kata Bi Ruri memberi tahu.            “Bilang tunggu lima menit bi, aku ganti baju sebentar,” kataku sambil bermalas-malasan berjalan ke arah lemari. Bi Ruri mengangguk dan kembali menutup pintu. Aku sembarang mengambil celana jins hitam dan kaos oversize yang biasa kukenakan. Di bagian luar, aku menambahkan jaket kulit. Sengaja kupakai biar kesan yang kutunjukkan lebih liar dan keras kepala ketika berhadapan dengan Mister Han. Aku juga memakai topi karena malas menata rambut, meskipun sebenarnya rambutku tidak memerlukan perawatan rambut lebih. Tidak sampai lima menit, aku keluar kamar. Kulihat sekretaris Lin sedang duduk di ruang tamu dengan secangkir teh yang sudah disajikan Bi Ruri. Sebaiknya besok aku harus mengingatkan Bi Ruri untuk tidak usah menyajikan teh untuknya lagi jika datang.            Sekretaris Lin langsung bangkit ketika melihatku sudah berada di dekatnya. Dia langsung berjalan keluar rumah dan membukakan pintu mobil untukku. Terkadang sikapnya bisa sangat ramah terhadapku. Tidak jarang pula aku curiga dengan kelakuannya itu. Termasuk sekarang. Aku berpamitan pada Bi Ruri.            “Kita mau kemana?” tanyaku begitu mobil yang kami tumpangi sudah jauh meninggalkan rumah.            “Mister Han mengajakmu makan malam bersama,” jawab Sekretaris Lin dari balik stir kemudi. Seperti biasa, nada suaranya terdengar datar dengan tatapan yang fokus ke depan.            “Kenapa tidak bilang dari tadi? Padahal aku sudah makan,” balasku lagi menyesal tidak bertanya dari awal. “Kenapa repot-repot harus makan bersama pula, tidak seperti biasanya,” lanjutku melirik Sektetaris Lin melalui kaca kecil yang menggantung. Wanita yang tengah fokus mengemudi itu tidak menanggapiku. Lagi pula tidak ada yang bisa kulakukan selain menurut padanya.            Setelah melewati beberapa gedung yang menjulang tinggi, kami sampai. Sekretaris Lin menghentikan mobil tepat di depan pintu masuk sebuah restoran bernuansa jepang. Dia keluar dari mobil dan berjalan memutari mobil untuk membukakan pintu mobil untukku. Tapi langkahnya kalah cepat dari tanganku yang sudah lebih dulu menarik knop pintu mobil dan keluar. Akhirnya dia berjalan lebih dulu memimpin jalan. Aku mengikutinya dari belakang.            Aku bisa merasakan getaran dari ponselku yang berada di saku. Menandakan sebuah pesan teks baru saja masuk.            [Kau tidak akan percaya apa yang akan kau lihat sebentar lagi]            Aku menyerngitkan kening setelah membaca isi pesan yang dikirimkan Mino. Aku tidak langsung membalas pesannya karena aku dan Sekretaris Lin sudah sampai di depan ruangan VIP yang dipesan oleh Mister Han. Padahal kami bisa saja makan di meja biasa, tidak harus di ruangan tertutup seperti ini. Rutukku dalam hati.            Salah satu waiter yang menunggu di depan pintu menyambut kami dan membukakan pintu. Mataku membelalak melihat penghuni ruangan itu. Mataku bertemu dengan mata hitamnya. Seakan bertanya “apa yang kau lakukan di sini?”. Anak laki-laki itu mengangkat bahu, reaksinya tidak sama sepertiku. Akhirnya aku mengerti maksud dari pesan yang baru saja dikirim Mino. Ya. Itu Mino. Mister Han mengajak keluarga Mino untuk makan malam bersama. Tetapi aku hanya melihat Mino dan ayahnya. Jadi di ruangan itu hanya ada aku, Mister Han, Sekretaris Lin, Mino dan juga ayahnya. Sekilas aku melihat bangku kosong di samping ayahnya yang di isi sebuah tas. Barangkali tas itu milik ibu Mino yang sedang ke kamar kecil.            “Karena kalian sudah datang, mari kita makan,” ajak Mister Han. Beberapa makanan mulai disajikan di atas meja. Para waiters bergantian masuk ke ruangan membawakan menu yang berbeda-beda. Kini meja di hadapanku sudah penuh. Aku masih tidak tahu apa tujuan Mister Han mengumpulkan dua keluarga untuk makan malam bersama. Di pikiranku hanya terbersit satu hal. Jangan bilang kalau aku dan Mino akan dijodohkan? Dengan cepat aku menggeleng-gelengkan kepala mengusir pikiran itu jauh-jauh. Usiaku saja belum genap enam tahun. Selain itu, ini bukan lagi zaman siti nurbaya. Anak-anak zaman sekarang lebih bebas dan terbuka ketika menjalin hubungan. Mereka bisa menentukan pilihannya sendiri.            “Saya dengar anak saya berteman dekat dengan anak Tuan. Jia tidak mempunyai teman semenjak datang ke sini, jadi saya mau mengucapkan terima kasih pada Mino karena sudah mau berteman dengan Jia.” Mister Han memulai topik pembicaraan sambil bergantian manatapku, Mino dan berakhir dengan menatap ayah Mino, Tuan Albert.            “Jangan bicara seperti itu Tuan, justru saya merasa terhormat bisa diundang untuk makan malam seperti ini,” pungkas Tuan Albert. Dia terlihat sungkan setelah mendengar basa-basi Mister Han.             Aku menyuap satu potong dimsum ke dalam mulut. Pura-pura tidak peduli dengan percakapan dua orang dewasa di sampingku ini. Kaki Mino usil menendang kakiku di bawah meja.            “Apa?” kataku tanpa bersuara.            “Apa?” Mino meniru gaya bicara dan juga raut wajahku.            Mino langsung mengubah raut wajahnya ketika Mister Han kembali menyebut namanya. “Tidak Mister, saya juga suka berteman dengan Jia. Dia juga anak yang baik dan ramah,” balas Mino dengan senyuman yang tampak tidak tulus di mataku. Dia terdengar seperti mengejekku sambil sesekali melirik ke arahku. Mister Han terkekeh mendengar pujian Mino. Begitu pula dengan Tuan Albert yang duduk di seberangnya. Dia terlihat bangga dengan anaknya yang sangat pandai berkata-kata. “Pujianmu sedikit berlebihan,” pungkas Mister Han. Dia masih terkekeh. Tentu saja ia tidak percaya dengan pujian Mino. Dia tahu betul karakterku yang sangat berbanding terbalik dengan apa yang dikatakan oleh Mino. “Hmm, kau sangat pandai membual,” kataku masih lanjut menimpali pujian Mino. Begitulah pembicaraan kami berlanjut dengan gelak tawa hingga akhirnya makan malam keluarga itu berada pada ujungnya. Aku lega karena apa yang kupikirkan sebelum datang tadi tidak terjadi. Tidak ada percakapan yang mengarah ke arah perjodohan, tunangan dan segala macam. Aku tidak mau. Aku hanya ingin berteman seperti saat ini dengan Mino. Aku suka hubunganku yang sekarang.            ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN