Sudut bibirku melengkung ketika melihat Mino yang berjalan tak jauh di depan sana. Aku mempercepat langkah kaki menghampirinya. Sepertinya Mino tidak menyadari kedatanganku karena aku berusaha tidak menimbulkan suara. Aku berencana untuk mengusilinya. Ini kesempatan bagus.
Jarakku dengannya semakin tipis. Kini aku berada tepat di belakangnya, sebelah tanganku dengan cepat terangkat dan melingkarkannya di leher Mino lalu sedikit menariknya ke belakang, sedangkan tanganku satunya mengunci kepala Mino yang terjepit di antara kedua tanganku.
“Kena kau!” kataku sambil menunjukkan senyum kemenangan yang tak terlihat olehnya.
Sontak Mino langsung terbatuk karena merasa tercekik akibat ulahku.
“Rasakan! Tidak akan kulepaskan.”
Tangannya berusaha melepaskan tanganku yang semakin kuat. Kini dia menepuk-nepuk tanganku seperti memohon untuk melepaskan.
Aku tidak sadar dengan kekuatan tanganku. Setelah merasa puas, aku berbaik hati mulai merenggangkan tangan dan berakhir melepaskannya. Mino kembali terbatuk setelah tanganku terlepas, kedua tangannya memegangi leher.
“Hei, kau tidak apa-apa?” tanyaku tiba-tiba berubah panik setelah melihat mukanya yang memerah. Sepertinya aliran darahnya menjadi terhambat karena pitinganku yang cukup kuat. Seketika aku merasa bersalah terhadapnya.
“Maaf, aku tidak tahu kalau aku sekuat itu,” ujarku sambil menepuk pelan punggung Mino yang masih terbatuk-batuk. Aku menjadi takut kalau Mino menjadi kenapa-kenapa karena bercandaku yang berlebihan.
“Kena kau!” Raut wajah Mino seketika berubah. Tidak ada lagi mukanya yang memerah. Ia menunjukkan senyum picik yang menjadi andalannya, lalu berlari meninggalkanku.
Sialnya aku. s*****a makan tuan. Mino berbalik mengerjaiku. Dia benar-benar tidak mau mengalah. Aku mengutuk kesal. bisa-bisanya diriku yang kembali dikerjai oleh Mino.
Aku ikut berlari mengejar Mino. “Hei, jangan lari! Awas saja nanti kalau aku menangkapmu!” kataku mengancam agar Mino berhenti. Tapi ancamanku tidak menghentikannya yang semakin berlari dengan kencang. Saat itu juga bel pertama tanda pelajaran pertama akan dimulai berbunyi. Aku semakin mempercepat langkah kakiku agar segera sampai di kelas. Hari ini kami lewat gerbang utama sehingga membutuhkan waktu lebih untuk sampai di kelasku nan jauh di belakang sana.
“Da-dapat kau!” kataku terengah-engah ketika sampai di depan pintu kelas.
Mino diam berdiri tegak dengan kedua tangan berada di saku. Ia membelakangiku sambil menghadap meja, padahal dia sudah sampai lebih dulu sedangkan aku baru saja sampai di pintu. Aku mengatur nafas dengan sedikit terbungkuk. Tanganku menurunkan tas punggung lalu membawanya dengan satu tangan. Aku menghampiri Mino yang masih berdiri dengan posisi yang sama.
“Ada lagi,” katanya ketika mendengar langkah kakiku yang mendekat. Tapi aku tidak mendengarnya dengan jelas karena suasana kelas yang sudah mulai berisik.
“Apa? Kau bilang apa?”
“Amplopnya,” katanya.
Barulah aku mendengarnya dengan jelas dengan mataku yang tertuju pada amplop hitam yang berada di atas mejaku. Amplop itu ada lagi.
Baru saja tanganku akan meraih amplop itu untuk membukanya, tetapi tangan Mino lebih dulu meraihnya. Dia meletakkan tasnya dengan kasar di bangku lalu berjalan ke arah mimbar kecil di depan kelas. Tempat para guru biasanya berdiri sambil menjelaskan materi.
Mino memukul meja itu tiga kali. Suasana kelas seketika menjadi diam. Dirinya kini menjadi pusat perhatian seisi kelas.
“Apa ada dari kalian yang melihat siapa yang meletakkan amplop ini di meja Jia?” Suara Mino memenuhi langit-langit kelas.
Tidak ada jawaban. Mereka bahkan mengabaikan Mino dan kembali sibuk dengan kesibukan masing-masing. Lagi pula memang tidak ada waktu bagi mereka untuk bermain-main seperti ini. Tidak ada yang peduli satu sama lain. Bahkan amplop itu tetap ada di sana meskipun kelas sudah dipenuhi para murid yang berdatangan. Tidak ada yang tertarik dengan kehidupan anak lain. Mungkin itu yang paling cocok untuk menggambarkan situasi Mino yang masih berdiri di depan sana.
Sekejap mataku bertemu dengan sepasang mata yang juga menatapku. Hanya dia yang tidak sibuk dan memperhatikan Mino. Meskipun tidak lama kemudian anak perempuan itu kembali fokus pada buku yang terkambang di hadapannya. Firasatku tidak enak.
Mino sudah duduk di tempatnya. Ia meletakkan amplop itu di meja.
“Akan segera kucari tahu, kau tak usah khawatir,” pungkasnya datar.
Aku mengitari meja lalu duduk di bangku. “Tidak usah, biar aku saja. Surat ini kan ditujukan untukku. Lagi pula aku tidak akan terganggu hanya karena amplop jelek ini. Justru kau yang tampaknya lebih khawatir. Sudahlah, lupakan saja! Siapapun orangnya, dia benar-benar buruk dalam pemilihan warna.”
Aku memasukkan asal amplop hitam itu ke dalam laci tanpa membukanya. Kami saling menghibur satu sama lain, padahal jauh di lubuk hati paling dalam, kami saling mengkhawatirkan dan penasaran dengan siapa pengirim amplop misterius itu.
*****
Kami duduk di bangku lapangan seperti biasa. Tempat yang paling kusukai. Tidak hanya aku, kini Mino juga menyukai tempat itu. Mino menepati janjinya untuk membawa bekal makan siang. Dia juga membawakan untukku. Pada awalnya aku tidak yakin dengan rasanya karena Mino bilang Pandi yang memasak. Tapi aku tidak percaya tepat sebelum lidahku bersentuhan dengan gulungan mi yang lembut. Bahkan aku sudah mengejek Pandi. Aku bilang kalau menu ini adalah yang paling mudah. Ternyata aku salah. Spaghetti yang di buat Pandi sangat enak. Tidak pedas dan minya terasa sangat lembut.
“Aku tidak tahu kalau Pandi jago masak, beruntungnya kau!” ujarku memuji Pandi. Aku menyeruput mi tanpa henti. Merasa iri pada Mino.
“Masih banyak yang tak kau ketahui, apa ada hal yang kau tahu?” gumam Mino. Selalu saja terselip ejekan di setiap kalimatnya.
“Tentu ada,” jawabku ketus. Tidak setuju dengan Mino.
“Kenapa dijawab? Padahal aku bicara sendiri,”
“Mana ada bicara sendiri selantang itu, aku bisa mendengarnya dengan jelas,” pungkasku tidak mau kalah. “Oh ya,” aku teringat sesuatu sembari menelan sisa kunyahan mi yang masih memenuhi mulut. “Kau kenal dengan anak perempuan yang duduk paling depan?” tanyaku.
“Yang mana?” Mino balik bertanya. Wajar saja karena empat dari lima bangku paling depan diduduki oleh anak perempuan.
“Yang paling kiri, dekat pintu,”
“Hmm…” Mino memutar bola matanya, mencoba mengingat rupa anak perempuan yang kumaksud. “Dia kenapa? Aku tak terlalu ingat,” katanya tak peduli.
Tidak heran jika kami tidak mengenal ataupun tidak tahu nama teman sekelas. Tidak hanya Mino, mungkin anak-anak lain juga melakukan hal yang sama. Tidak banyak yang dapat mengingat setiap anak yang ada pada satu kelas yang sama. Meskipun diriku pengecualian. Sebenarnya aku juga tidak mengerti dengan hal itu. Bukankah hal yang wajar bagi setiap siswa untuk mengenal siapa saja teman sekelas mereka? Tapi sekolahku berbeda. Tidak ada hal seperti itu di sini. Anak kasta tiga mempunyai tujuan masing-masing. Entah itu ingin mendapatkan peringkat lebih tinggi, ingin mendapatkan makan siang sebagaimana mestinya di kantin, atau ingin wajahnya di pajang di majalah sekolah atau papan utama sekolah atau apalah itu. Sehingga tidak ada waktu bagi mereka untuk menjadi lebih dekat satu sama lain. Namun di balik semua itu, ada juga yang lebih memilih tidak peduli dengan semua yang terjadi.
“Tidak, hanya saja firasatku aneh ketika melihatnya tadi. Apa karena kami bertatapan secara mendadak, ya?” Aku menduga-duga untuk menghilangkan perasaan aneh yang kini kurasakan. Sebenarnya hatiku berkata kalau anak itu lebih mencurigakan. Tapi urung kusampaikan pada Mino. Aku akan bilang setelah semuanya sudah pasti. Kali ini aku harus berhati-hati jika ingin terlibat dengan seseorang. Aku tak ingin kejadian yang sama terulang kembali, seperti halnya Geofani.
Kotak bekal di tanganku sudah kosong. Begitu pula dengan Mino. Kami membereskan dan memasukkannya kembali ke dalam tas bekal yang di bawa Mino. Dia juga memberiku sebotol air putih.
Tiba-tiba saja aku tersedak ketika melihat seorang anak perempuan yang sudah menjadi topik pembicaraan kami siang itu. Dia melintas tak jauh dari posisi kami saat ini. Dengan cepat aku meletakkan botol di kursi, kemudian bangkit dari kursi. Aku berlari-lari kecil menghampirinya.
“Permisi,” sapaku dari belakangnya sambil menepuk pelan pundaknya.
Dia sedikit terkejut lalu menoleh ke belakang. Namun reaksinya di luar dugaanku. Dengan cepat ia kembali berbalik dan mempercepat langkahnya menjauh dariku. Aku bahkan tidak bisa memanggilnya karena tidak tahu siapa namanya. Tentu saja sikapnya lebih mengundang kecurigaan. Aku hendak menyusulnya tetapi Mino lebih dulu tiba di sampingku dan menahan lenganku.
“Kita urus nanti saja, bel sudah berbunyi,” katanya memperingatkan. Aku juga bisa mendengar suara bel. Mino menarik lenganku untuk kembali ke kelas meskipun kepalaku masih menghadap ke belakang memperhatikan anak perempuan itu yang sudah mulai menghilang dari pandanganku.
****