“Jia!” bisik Mino di telingaku dengan mencondongkan sedikit badannya ke arahku. Mataku tak lepas dari seorang anak perempuan yang duduk di depan sana. Posisiku saat ini sangat pas untuk mengawasinya dari jauh. Sepertinya dia menyadari jikalau aku tengah memperhatikannya. Dia terlihat sedikit canggung.
Kali ini Mino menyikut sikuku, barulah aku tersadar. Entah apa yang kupikirkan waktu itu, tiba-tiba saja aku berdiri ketika kelas sangat sunyi karena memperhatikan Bu Hani yang tengah mengajar sastra Bahasa Indonesia. Bu Hani berhenti menjelaskan. Semua murid menoleh ke arahku mengikuti arah pandang Bu Hani.
“Kau mau bertanya?” tanya Bu Hani. Dia meletakkan buku yang sedari tadi dipegangnya di atas meja mimbar.
“Tidak bu, aku ingin permisi ke kamar kecil sebentar,” alasanku. Aku tidak tahu hubungan apa yang kumiliki dengan pelajaran Bu Hani, tetapi aku selalu was-was ketika pelajaran di mulai. Khawatir jikalau sesuatu yang tak terduga akan terjadi.
“Silakan!” Bu Hani mengizinkan. Aku segera keluar dari kelas.
“Hei, kau mau kemana?” teriak Mino tanpa suara. Aku mengabaikan pertanyaannya. Lagi pula dia tidak bisa menyusulku karena biasanya Bu Hani tidak memberi izin untuk dua murid keluar secara bersamaan.
Aku menekan tombol panggil dengan cepat.
“Hallo,” sapa gadis di seberang sana dengan nada suara yang terdengar malas.
“Temui aku di gedung belakang, ada sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu, datang sekarang atau tamat riwayatmu,” perintahku sekaligus mengancam agar Arin segera menemuiku di tempat yang sudah kutentukan.
“Hei, ema……”
Aku memutuskan panggilan sepihak. Langkahku semakin cepat.
Bruk!
Aku terhuyung-huyung ke belakang ketika badanku menabrak seseorang yang berlawanan arah dari balik salah satu pilar di ujung lorong. Ponselnya terhempas ke lantai. Sontak tanganku memegangi pelipis yang sepertinya sedikit terbentur dengan bahu orang itu.
“Apa yang kau lakukan di tengah jam pelajaran?” Sekretaris Lin bertanya sambil menyerngitkan keningnya. Heran sekaligus curiga melihatku yang berada di luar kelas.
Raut wajahku terlihat terkejut. Pupil mataku bergetar. Aku merasa seperti maling yang gagal melarikan diri. Aku tidak bisa menjawab ke kamar kecil karena itu bukan jalurnya. Lagi pula entah apa yang dilakukan Sekretaris Lin di gedung belakang ini, ini lebih menimbulkan kecurigaan bagiku. Apa jangan-jangan dia mengawasiku selama dua puluh empat jam penuh? Batinku bersuara. Aku tau jika Mister Han menyuruh Sekretaris Lin untuk mengawasiku, tetapi aku tidak tahu kalau Sekretaris Lin akan seagresif ini.
Tidak sampai di situ saja. Kini mataku membelalak setelah melihat siapa yang muncul dari balik Sekretaris Lin.
“Ayah?” Aku reflek memanggil Mister Han dengan sebutan ayah karena tidak percaya dengan apa yang kulihat. Apa yang dilakukan pimpinan sekolah di gedung belakang yang jelek ini?
“Kenapa ayah juga ada di sini?”
Aku bergantian menatap Mister Han dan juga Sekretaris Lin. Situasi berbalik. Justru raut wajah Sekretaris Lin lah yang menunjukkan reaksi seperti maling yang baru saja ketangkap basah karena gagal melarikan diri. Panik dan juga terlihat khawatir.
Berbeda dengan Sekretarisnya, Mister Han tidak menunjukkan reaksi apapun. Raut wajah sendunya tetap datar dan tenang. Dia menautkan kedua tangannya ke belakang lalu berjalan mendekatiku. Kini Sekretaris Lin sudah berada di belakangnya.
“Kembalilah ke kelas!” bisik Mister Han memberi perintah padaku.
Aku menghela nafas sambil meletakkan sebelah tangan di pinggang lalu memalingkan wajah dari Mister Han. Kenapa dia mengusirku?
Mataku kembali menatap Mister Han. “Aku bertanya kenapa ayah di sini? Apa yang dilakukan orang yang paling kuhormati ini di sini?”
“Apa aku tidak boleh berkeliling di sekolah yang kubangun sendiri?” Mister Han balik menyerangku dengan pertanyaannya.
Aku menarik nafas panjang. Sepertinya darahku sudah memuncak, memenuhi ubun-ubun. Mister Han selalu pandai membolak-balikkan topik pembicaraan.
Aku menatap tajam mata ayahku. “Ini tidak seperti yang kupikirkan bukan? Tidak kan?” tanyaku. Aku berharap pria baruh baya di hadapanku ini berkata tidak.
“Kenapa ayah diam saja? Tidak kan?” Aku mengulangi pertanyaan yang sama. Barangkali ayahku tidak mengerti arah dari maksud yang kubicarakan.
“Sudahlah! Jangan dipikirkan,” ujarnya sambil meletakkan tangannya di pundakku.
Dengan cepat tanganku menepis tangannya. Seketika itu juga ponselku berbunyi. Memecah ketengangan di antara kami. Sepertinya Arin sudah berada di tempat itu. Menungguku yang tak juga datang. Aku memungut ponselku di lantai, kemudian berbalik mengabaikan Mister Han yang kini tengah tersenyum ke arahku. Sekilas aku juga menatap tajam ke arah Sekretaris Lin di belakang yang diam tak bersuara sebelum meninggalkan mereka di sana.
“Hm, kita bertemu nanti saja sepulang sekolah, aku akan kirimkan alamatnya nanti, maaf.” Aku langsung menutup panggilan Arin sembali berjalan kembali ke kelas.
*****
Drrt! Drrt!
Ponsel Mino berdering. Ia dengan hati-hati mengeluarkan ponsel karena jam pelajaran belum berakhir. Masih ada waktu lima belas menit lagi hingga bel berbunyi.
[Hei, tolong bilang sama anak yang selalu bersamamu itu jangan seenaknya menyuruhku, aku sudah sangat sibuk]
Mino menoleh ke arah bangku kosong di sampingnya setelah membaca pesan teks dari Arin.
[Kau dimana?]
[Di dekat gedung belakang]
Mino mematikan layar ponselnya. Waktu terasa sangat lambat. Sebenarnya ia sudah mulai khawatir dengan apa yang kulakukan di luar sana karena aku sudah agak lama berada di luar.
Tiga menit menjelang berberbunyi. Mino mulai mengemasi barang-barangnya dan juga barang-barangku yang masih berserakan di meja. Dia sudah mamasang ancang-ancang untuk segera bangkit ketika bel berbunyi. Tepat saat itu juga.
Kring! Kring!
Suara bel panjang berbunyi. Mino bergegas bangkit. Tangannya dengan cepat meraih tasnya dan juga tasku di sebelah, kemudian ia berjalan keluar kelas. Bu Hani tampak kaget karena ia belum menutup buku pelajaran hari itu. Tetapi Mino mungkin sudah berada di luar gedung karena ia berlari begitu cepat meninggalkan kelas.
Mino sampai di tempat yang dikatakan oleh Arin. Tidak ada siapa-siapa di sana. Ia memutar otak, memikirkan tempat yang mungkin saja kudatangi. Kini dia berada di lapangan. Ia memindai setiap bangku yang ada. Ia tidak melihat anak perempuan yang tengah dicarinya.
[Nomor yang anda…]
Mino kembali memanggil nomor yang sama berulang. Tak ada jawaban dari seberang sana. Nomor ponselku tidak aktif. Aku tidak tahu kalau ponselku kehabisan baterai waktu itu.
Mino memutuskan untuk menghubungi Arin dan menunggunya di gerbang utama.
“Astaga! hariku sudah sangat melelahkan, kenapa kalian berdua sangat sibuk mencariku hari ini?” pungkas Arin sambil berkacak pinggang begitu ia tiba di samping Mino. Anak laki-laki itu sudah berdiri di sana.
“Kenapa Jia memintamu untuk bertemu?”
“Yaaa… mana aku tau, lagi pula kami tidak jadi bertemu. Anak itu seenaknya saja menyuruhku kembali setelah aku tiba di sana. Ouh! Dasar menyebalkan!” umpat Arin geram mengingat kebodohannya yang mau saja kuperintah tadi.
Arin memperbaiki raut wajahnya. Kembali terlihat jutek. “Jangan salah paham dulu, Aku datang bukan karena patuh padanya, tapi karena dia mengancamku, makanya aku datang. Tapi yaa…”
“Mengancam?” Mino menyerngitkan keningnya. Barangkali ia bingung dengan tindakan apa lagi yang akan kulakukan. Dia tahu betul jikalau aku tidak terlalu pandai untuk menahan emosi. Khawatir aku akan melakukan hal-hal aneh yang bisa saja merugikanku.
“Kenapa kau mencarinya? Apa jangan-jangan…….dia mencampakkanmu?” Arin menyeringai.
Mino tidak menanggapi ejekan Arin. “Bantu aku cari tahu tentang gadis ini!” pinta Mino tiba-tiba seraya mengirimkan Arin sebuah foto.
“Aku tidak mau! Tadi dia, sekarang kau ikut pula,” Arin mulai kesal.
“Kali ini aku minta tolong padamu. Aku yakin permintaanku ini sangat mudah bagimu,”
Arin memeriksa ponselnya. Menemukan sebuah foto gadis yang baru dikirimkan Mino. “Hm…..Akan kulakukan jika kau mau jadi pacarku,” tawar Arin. Ia tidak mau melakukannya dengan sia-sia.
“Apa?” Mino terkekeh. Jika Mino normal pasti dia tidak akan menolak gadis secantik Arin. Tetapi Mino menganggap dirinya tidak normal. Tentu saja dia menolak Arin mentah-mentah.
“Hei, jangan mimpi! Lakukan saja diam-diam jika kau tidak ingin mendengar namamu di pengumuman besok siang,” tutup Mino berbalik meninggalkan Arin yang mematung setelah mendengar ancaman Mino. Ia terpaksa menurut. Sungguh hari yang buruk baginya karena mendapatkan ancaman dua kali.
*****