Sekretaris Lin meletakkan secangkir teh di hadapanku. Di sinilah aku. Ruangan yang paling tidak ingin aku datangi.
“Datanglah ke ruanganku! Akan kujelaskan semuanya, kalau itu yang kau mau.” Kalimat Mister Han menghentikan langkah kakiku. Perlahan kaki ini mulai bergerak mengikuti Mister Han yang sudah lebih dulu berjalan di depan. Diikuti Sekretaris Lin di belakang. Meskipun tidak mau, tapi hati kecil ini terus berkata harus. Ada secuil rasa ingin tahuku yang berhasil mengalahkan egoku. Lagi pula situasi tadi memang butuh penjelasan. Meskipun kecil, aku berharap dapat mendengar kata tidak dari mulut orang yang duduk berhadapan denganku ini.
Ruangan itu tidak berubah. Masih seperti yang terakhir kali kulihat. Tapi satu yang paling menarik perhatianku adalah sebuah meja kerja tambahan di samping pintu masuk.
“Sepertinya ayah memiliki banyak pekerjaan ya? Sampai-sampai memiliki dua meja kerja,” ungkapku sembari melirik meja kerja berwarna hitam di sudut ruangan itu.
Mister Han terkekeh. Sekarang aku melirik ke arah Sekretaris Lin yang berdiri di samping ayahku.
“Bisa tinggalkan kami berdua? Ini masalah privasi,” pintaku tegas pada Sekretaris Lin.
Dia menoleh ke arah Mister Han yang dibalas anggukan kecil. Tanpa bantahan, Sekretaris Lin sudah menghilang dari ruangan itu. Menyisakanku dan juga Mister Han.
“Kapan ayah terakhir menghubungi ibu?” tanyaku was-was. Tiba-tiba saja aku teringat ibuku yang mungkin saja sedang bekerja tanpa henti di sana. Siang dan malam.
“Belum lama, mungkin sekitar tiga bulan yang lalu,”
Aku menyeringai. Pria baruh baya di depanku ini menyebut tiga bulan adalah waktu yang sebentar. “Itu berarti semenjak aku tiba di sini ya,” gumamku.
“Apa perlu aku sambungkan dengan ibu?” Aku menawarkan untuk melihat reaksi ayahku. Tapi usahaku tidak membuahkan hasil. Raut wajahnya tetap sama. Dia seperti bisa menerawang isi kepalaku.
“Apa ibumu tau apa yang kau lakukan di sini?” Sekali lagi, pertanyaan Mister Han kembali membuat jantungku tertusuk. Aku teringat janjiku pada ibu ketika ingin bersekolah di sini sambil menangis-nangis. Ibu tidak mengizinkan karena aku akan jauh darinya. Dan itu artinya dia akan sangat jarang bertemu dengan putri semata wayangnya ini. Jika dia tahu apa kulakukan di sini, dia mungkin akan sangat kecewa padaku.
Aku terdiam, lidahku kelu.
“Kau tak bisa menjawab, kan? Kecurigaanmu tidak ada gunanya,” sambung Mister Han. Dia malah membahas topik lain agar aku melupakan kecurigaanku tadi padanya.
“Cepat atau lambat akan kuberitahu semuanya,” kataku pelan sambil tertunduk. “Jadi ayah berhentilah sebelum kecurigaanku terbukti benar!” Tegasku kembali menatap matanya dengan tajam.
“Tentang apa? Kau yang malas-malasan belajar? Atau kau yang terlalu banyak bermain? Atau kau yang mulai punya perasaan pada temanmu itu? Atau kau yang berusaha menghancurkan sekolah ini? Terlalu banyak pilihan,” terang Mister Han sambil mengangkat bahu.
“Semuanya,” balasku ketus.
“Kau tahu kan? Kalau ibumu termasuk salah satu jajaran komisaris di yayasan ini, dia memberikan donasi besar di sini.” Mister Han berhenti sejenak. Dia mengambil nafas panjang lalu menyandarkan punggungnya ke belakang.
“Apa kau pernah memikirkan bagaimana nasib anak yang mati-matian untuk bisa bersekolah dengan mengandalkan donasi dari orang lain? Apa kau pernah membayangkan bagaimana nasib guru di sini jika sekolah ditutup? Mungkin semuanya tampak mudah sekaligus rumit bagimu, tapi terima saja. Ayah tidak berharap banyak. Cukup bersekolah dengan tenang sampai kau lulus. Kalau kau terus melakukan hal-hal aneh, tidak hanya ayah, tetapi para murid, guru, penjaga keamanan, pelayan kantin dan seluruh pekerja di sekolah ini bisa saja kehilangan pekerjaan,” jelas Mister Han panjang lebar. “Kau senang jika semua itu terjadi?”
Seketika pikiranku kosong. Sebuah tamparan bagiku. Perkataan Mister Han benar. Tidak pernah terpikirkan olehku sebelumnya. Apa aku terlalu egois karena tidak terima setelah mendapatkan perlakuan tidak adil?
Lidahku semakin kelu. Semua kecurigaanku tiba-tiba saja hilang. Hatiku terasa sakit ketika memikirkan ulang kalimat yang baru saja di sampaikan Mister Han. Dia ada benarnya. Semua ini tidak mudah. Semua ada konsekuensinya. Mungkin selama ini aku hanya memikirkan diriku sendiri. Apakah aku memang orang seegois ini?
Aku menghela nafas. Tidak bisa menjawab apa-apa. Lagipula aku sudah kalah sore itu. Apapun yang keluar dari mulutku tidak ada gunanya dan akan terdengar seperti alasan payah.
“Berhentilah menyuruh Sekretaris Lin mengawasiku dan juga Mino, karena aku tidak akan melakukan apapun lagi,” aku mengingatkan Mister Han sebelum meninggalkan ruangan.
*****
Aku menyusuri trotoar panjang di tepi jalanan yang mulai ramai oleh kendaraan. Kata-kata Mister Han tadi masih terngiang-ngiang di benakku. Aku kembali mengingat-ngingat tujuanku ketika hendak memulai semua ini. Kepercayaan diriku seketika hancur berkeping-keping. Aku juga tidak mau menjadi gadis kejam yang tega melakukan semua hal itu. Aku juga tak mau diingat sebagai gadis jahat karena telah melakukan hal buruk. Apakah sebaiknya aku berhenti saja? Berulang kali pikiran itu melintas. Tapi sosok Mino yang terus menyemangatiku terlihat seperti bertarung melenyapkan pikiran itu. Sebenarnya usahaku belum sejauh itu agar tradisi gila itu menghilang dari sekolah. Tapi waktuku sudah tak banyak. Sebentar lagi aku akan berada di tahun kedua. Sudah pasti aku tidak bisa melakukannya di tahun ketiga karena adanya pembelajaran lapang yang di terapkan sekolah. Itu akan lebih sulit bagiku.
Langit sore tak lagi indah. Tak ada warna orange dan juga percikan kemerahan yang sangat kusuka. Hanya warna abu-abu yang terlihat oleh mataku sejauh mata memandang. Gulungan awan hitam mulai terlihat memenuhi langit-langit. Perlahan dia menumpahkan setitik demi setitik air yang merupakan berkah bagi sebagian orang di luar sana. Seketika hatiku ikut menangis seiring dengan air hujan yang semakin deras. Aku merasa dia ikut merasakan kegundahan yang tengah kurasakan. Tidak biasanya aku seperti ini. Tapi ketika memikirkan bagaimana nasib orang lain yang tak bersalah membuatku menjadi sangat bersalah. Mereka bahkan tidak mengenalku untuk ikut merasakan kehancuran jika semua keinginanku berhasil. Benarkah jika kita boleh tersenyum di atas penderitaan orang lain? Apakah mereka tetap bisa disebut sebagai manusia?
Aku bisa merasakan aliran hangat di pipiku di balik dinginnya air hujan yang mengenai tubuhku. Aku tidak berlari untuk berteduh seperti yang dilakukan orang lain. Aku berhenti di tengah hujan. Menatap langit yang menangis. Sama halnya denganku. Berharap semua pikiran ini ikut jatuh menyatu dengan permukaan tanah. Tersembunyi dan tak pernah muncul lagi ke permukaan.
Baru kali ini aku setuju dengan kalimat yang pernah diucapkan Mino. Dia bilang kalau cuaca sama halnya dengan hati seseorang. Meskipun ia tidak suka dengan kalimat itu, tapi kini aku percaya. Tidak ada hal lain yang bisa menyembunyikan tangisan seseorang selain ikut menangis dengan hujan. Ini kali pertamaku menangis semenjak menginjakkan kaki di Indonesia. Selama ini aku selalu gagal menangis karena ada hal-hal yang bisa membuatku kembali percaya diri. Tapi kini aku tidak melihat siapapun. Apa karena Mino tidak ada di sampingku?
Langkah kakiku menuntunku untuk berjalan pulang. Air mataku sudah kering seperti halnya hujan yang mulai mereda menyisakan mata dan hidung yang merah. Rambutku sudah setengah kering. Ternyata tidak semua langit memiliki perasaan yang sama. Jalanan yang kulalui saat ini sepertinya tidak merasakan apa yang baru saja kurasakan. Kering dan tidak ada tumpahan air sedikitpun. Hanya saja kini langit berubah menjadi gelap. Bintang dan bulan bergantian untuk menunjukkan dirinya.
Tanpa sadar aku hampir sampai di rumah. Jarak yang jauh terasa sangat dekat karena ditemani oleh pikiran kalut yang terus mengikutiku.
“Jia!” Suara Mino membuatku mengangkat pandangan. Aku memaksakan seulas senyuman padanya. Mino memutuskan untuk menungguku di rumah setelah tidak bisa menemukanku dimanapun bahkan tempat yang biasa kami datangi.
“Kenapa kau tidak mengangkat panggilanku?” tanyanya pelan. Nada suaranya terdengar khawatir.
Aku merogoh saku untuk memeriksa ponsel. Layarnya hitam tak menyala. “Baterainya habis,” balasku pelan. Suaraku terdengar lemah.
Mino merangkul bahuku. Dia menuntunku untuk masuk ke rumah lebih dulu. “Kau dari mana saja? Terkena hujan dimana?” Ia heran bagaimana badanku bisa basah kuyup sedangkan di lingkungan rumahku tidak ada setetespun air hujan yang turun.
Bi Ruri langsung menyambut kami begitu pintu dibuka. Dia langsung memberikan handuk untuk menghangatkan tubuh. Dengan sigap Bi Ruri juga menyajikan teh hangat untuk diminum. Kemudian dia berlalu meninggalkanku dan Mino untuk menyiapkan air hangat untuk mandi.
“Apa yang terjadi?” Mino terlihat khawatir. Tangannya dengan cekatan melilitkan handuk di tubuhku.
“Mino,” panggilku.
“Hm?”
“Apa sebaiknya kita berhenti sampai di sini saja?”
*****