TAKE and GIVE

1604 Kata
Tangan Mino berhenti. Dia meletakkan kedua tangannya di atas paha. “Kau ada masalah? Sebenarnya kau tadi dari mana? Tiba-tiba punya pikiran seperti itu,” Aku menggeleng. Aku tidak bilang kalau aku bersama ayahku tadi. “Tidak, hanya saja…. tiba-tiba aku kepikiran….. Sudahlah. Aku akan cerita besok,” aku menoleh padanya. “Kau pulanglah! Sudah malam.” Mino menghela nafas. Dia tidak memaksaku untuk menceritakan kejadian yang terjadi hari ini. “Terima kasih,” kataku ketika Mino sudah berdiri. Sikapnya yang seperti ini sering kali membuatku merasa bersyukur. Dia seolah mengerti dengan apa yang aku mau, apa yang harus aku katakan, bahkan mengetahui hal yang tengah aku sembunyikan. Mungkin karena dia dibesarkan oleh keluarga yang keras dan penuh dengan kecurigaan, sehingga dia memiliki insting yang kuat. Kalau kata orang-orang, Mino peka dengan segala situasi dan keadaan. “Rasanya aku sudah bilang ratusan hingga ribuan kali, jangan berterima kasih padaku. Aku tidak melakukan ini untuk mendengar kalimat itu darimu,” Mino mengingatkan. Memang benar dia selalu melarangku mengucapkan terima kasih. Dia bilang kata itu membuatnya jadi memiliki hutang budi terhadap seseorang. Tetapi aku tak pernah menurut padanya. Aku tidak tahu kata lain yang bisa aku ucapkan untuknya. Sudut bibirku melengkung. Aku masih memaksakan mata agar tetap terbuka. Mungkin karena menangis dan terkena air hujan tadi, kini mataku perih ketika dibuka. “Baiklah, aku pulang, segera istrirahat!” Mino menasehatiku seperti orang tua. Aku mengangguk sambil tersenyum ke arahnya. Aku tetap duduk di sana hingga dirinya hilang di balik pintu. Setelah itu barulah aku ke kamar untuk membersihkan diri dan tidur. Bi Ruri juga sudah menyiapkan obat-obatan di atas meja kecil di kamarku. Lengkap dengan secangkir air putih. Anehnya, aku langsung tertidur ketika kepalaku menempel di bantal. Sedangkan pikiranku masih sibuk berkeliaran tak jelas. Jiwa dan ragaku sudah sangat lelah untuk terus berlarut pada hal-hal yang belum pasti. Sesuatu yang sulit untuk diputuskan bagiku. ***** Keesokan paginya, Mino dan Pandi datang lebih awal untuk menjemputku. Aku pun sudah bersiap lebih awal karena Mino sudah mengirim pesan teks tadi. “Hei, kau yakin tetap mau masuk hari ini? Wajahmu sangat pucat,” Mino menilik raut wajahku dan kulit wajahku yang terlihat pucat pasi. Aku meletakkan punggung tangan di dahi. Memeriksa suhu tubuh. Mino juga ikut meletakkan punggung tangannya di dahiku. Badanku tidak panas. Obat yang diberikan Bu Ruri cukup manjur karena panas badanku sudah turun dari semalam. “Aku baik-baik saja,” bantahku. Tetap memaksa untuk berangkat. “Aku tidak mau menggendongmu jika tiba-tiba kau pingsan ya,” Mino masih sempat bercanda. Dia mencairkan suasana pagi itu sebelum berangkat sekolah. Pandi yang juga berdiri di sampingnya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat Mino. Kami berpamitan pada Bi Ruri yang mengantar hingga pintu. Dia juga melambaikan tangan tepat sebelum mobil meninggalkan halaman rumah. “Kita mampir ke apotek terdekat saja nanti sebentar, aku jadi ikutan cemas melihat wajahmu yang pucat,” Pandi mengusulkan dari balik stir kemudi. Sesekali dia melirikku dari cermin kecil yang menggantung. Aku tak terlalu memperhatikannya. Mataku terpejam. “Kalian tunggu di sini!” Pandi keluar begitu sampai di depan sebuah apotek dua puluh empat jam. Kepalaku tidak pusing. Aku hanya merasa tidak bertenaga dan selera makanku hilang. “Kau bisa izin hari ini, tidak perlu memaksakan diri jika tidak enak badan,” ungkap Mino sekali lagi. Dia sudah bertanya kesekian kalinya pagi itu. Bawelnya kambuh. “Aku sudah bilang kalau aku baik-baik saja, kan? Aku paling tau dengan kondisi tubuhku. Jangan khawatirkan aku,” “Bagaimana bisa aku tidak khawatir ketika melihat kondisimu seperti ini, wajah pucat dan tak bersemangat,” Mino berhenti untuk menarik nafas panjang. Dia mulai mengomel panjang melihatku yang tidak peduli dengan perhatiannya. Pandi sudah kembali dari apotek. Baru saja dia masuk mobil dan langsung menyodorkan sebungkus plastik obat padaku. Tidak aku yang menerima, tapi Mino yang menyambut obat itu. Pandi kembali menginjak pedal gas dan mobilpun melaju. “Bangunlah!” Mino membuka satu per satu obat dalam plastik. Dia juga membukakan tutup botol air minum. “Jangan keras kepala!” Mino menarik tanganku lalu mengambangkan telapak tanganku yang terkepal. Dia meletakkan empat pil obat di atasnya, sedangkan tanganku yang satunya dipaksa untuk mencengkram botol minum. Pandi menurunkan kami di depan gedung utama. Mobilnya langsung melaju begitu kami turun. Mino menyamakan langkah kakinya dengan langkahku yang pelan. “Aku tidak akan bertanya, tapi aku akan menunggu sampai waktu kau mau bercerita,” ujar Mino. Sama halnya dengan yang pernah kulakukan. Kinipun Mino penuh selidik terhadapku. Ya. Sikapku membuatnya bersikap seperti itu. “Cerita apa? Kau yang saling bertukar pesan dengan Arin? atau tentang aku yang cemburu padanya?” Aku mengelak sembarang memilih topik. Raut wajahku masih datar. “Oh ya? Tentu aku senang kalau kau cemburu padanya itu benar, tapi yang penting sekarang adalah…….. Sebaiknya kau tidur saja di ruang kesehatan.” Mino merangkul bahuku ke arahnya. Mengalihkan langkahku menuju ruang kesehatan. “Astaga! Dasar bawel!” rutukku pelan. Aku menurut. Lagi pula pelajaran hari ini olahraga. Keadaanku yang sakit seperti ini ada baiknya juga karena aku bisa membolos. Tidak hanya olahraga, tapi semua pelajaran. “Aku akan memberitahu guru di setiap jam pelajaran. Jadi tidur saja dengan nyaman, akan aku bangunkan ketika jam pelajaran terakhir selesai,” pesan Mino. Dia menarik selimut menutupi setengah badanku, kamudian menarik tirai yang menutupi ranjang yang aku tempati. “Jangan coba-coba berpikir untuk pergi kemana-mana! Mengerti, kan?” Mino mengintip dari balik tirai. Aku membalasnya dengan senyuman picik sambil bercanda. “Baiklah, aku mengerti. Siapa yang akan percaya kalau kau orang yang cerewet seperti sekarang ini,” balasku mengomelinya. Kali ini dia benar-benar pergi. Aku mendengar pintu yang ditutup dari luar. Aku mencoba memejamkan mata. Satu menit. Dua menit. Aku sudah melayang-layang entah dimana, suatu tempat di bawah alam sadarku. ***** Saku Mino bergetar karena ponselnya berbunyi. Sebuah pesan teks masuk. [Ini yang kau minta] Sebuah pesan masuk dari Arin. Gadis itu sudah menemukan sesuatu tentang gadis yang dimintanya kemarin. Mino meminta bantuan Arin bukan tanpa alasan. Ia tahu Arin mempunyai banyak informasi tentang murid-murid yang lainnya. Tidak hanya dari kasta satu saja, munkgin dia tahu informasi semua murid di sekolah kami. Jadi permintaan Mino termasuk mudah bagi Arin. Ia tidak tahu pasti bagaimana cara Arin untuk mendapatkan informasi itu, tapi pekerjaannya yang tidak biasa bisa menjadi salah satu alasan. [Temui aku di kantin] Mino berjalan menuju kantin. Dia duduk di sembarang bangku yang kosong. Tidak lama kemudian, seorang gadis centil nan angkuh sudah duduk di hadapannya. “Mana?” pinta Mino. “Belikan aku minuman dulu, baru kuberitahu,” balas Arin manja. Mino menatap tajam Arin. “Berikan saja selagi aku meminta dengan baik,” ucap Mino. Nada suaranya terdengar lebih dingin dibandingkan gunung es di Antartika. “Bukankah seharusnya kau yang meminta baik-baik padaku?” balas Arin kesal. “Sepertinya kau harus belajar tata krama,” sambung Arin menggurui Mino. “Haha. Lihatlah siapa yang bicara,” ejek Mino. Arin tidak menggubris ejekan Mino. Ia mulai mencodongkan sedikit badannya ke arah Mino. Jari telunjukknya ikut terangkat untuk menyuruh Mino mengikutinya. “Aku tidak tahu keluarganya siapa, tap…” “Aku tidak minta kau ca…..” potong Mino. “Jangan memotongku!” Arin kembali memotong kalimat Mino sambil memperingatkannya. “Namanya Friska Antony, orang-orang bilang dia dari keluarga kaya. Tapi aku tak mencari tahu sejauh itu. Kalau memang rumor itu benar, sayangnya kehidupan sekolahnya tak seindah kehidupannya di rumah.” Arin berhenti sejenak sembari mengirimkan sebuah foto pada Mino. Mino menerima sebuah foto gadis yang tengah disuruh mengikatkan tali sepatu beberapa gadis lainnya. “Dia jadi kacung untuk anak kasta satu kelas C, Elen” lanjut Arin. Ia menegakkan punggungnya. Kembali duduk dengan posisi yang benar. Arin melipat tangan di d**a. “Memangnya dia kenapa? Dia berbuat salah padamu?” lanjut Arin bertanya penasaran. “Yang lain?” “Kudengar dia juga pernah dihajar,” sambung Arin tanpa menunjukkan belas kasihan sedikitpun ketika mengucapkan kalimat yang baru saja keluar dari mulutnya. “Dihajar?” Mino menyerngitkan kening. “Hmm.” Arin mengangguk-ngangguk. “Setauku dia dulu pernah kalah taruhan, makannya seperti itu. Tapi aku yakin tidak hanya karena itu. Pasti Elen punya rahasia tentang Friska. Coba saja kau pikir? Mana mungkin gadis secantik dan sekaya itu mau menjadi kacung Elen jika bukan karena ancaman. Pasti ada sesuatu yang begitu besar,” jelas Arin panjang lebar sambil terkekeh. Mungkin ia membayangkan betapa bodohnya Friska. Radar detektifnya baru saja aktif. Pantas saja dia menyimpan banyak informasi tentang siapa saja di sekolah ini. “Hei, kau tidak merasa bersalah ketika menceritakan semua itu?” ucap Mino, tiba-tiba saja dia merasa iba pada Friska terlepas dari apapun itu. “Kenapa harus merasa bersalah? Tidak ada hubungannya denganku,” balas Arin tidak peduli. “Sudahlah, terserah kau saja. Pokoknya terima kasih,” balas Mino pura-pura tidak mendengar Arin. Kemudian dia bangkit. “Kau mau kemana?” tanya Arin menyerngitkan kening. Padahal dia belum selesai berbicara. “Ke tempat Jia,” jawab Mino singkat. Kerutan di kening Arin semakin berlipat mendengar jawaban Mino. Ia juga baru menyadari kalau Mino tak bersama denganku. Pemandangan yang tidak biasa bagi Arin yang selalu melihatku selalu bersama dengan Mino ketika di sekolah. “Di mana?” tanya Arin reflek. “Ruang kesehatan,” balas Mino kembali singkat. Arin segera merubah raut wajahnya kembali angkuh. “Aku tidak melakukan ini dengan gratis. Kau pasti tahu tidak ada yang namanya gratis di kamusku. Lain kali traktir aku makan sebagai balasannya,” kata Arin dengan ketus. Mino menunjukkan senyumannya yang mengambang sebagai balasan. Dia tidak berencana untuk menolak. Ia juga mengerti dengan aturan take and give. Tapi akan di pikirkannya nanti. Sekarang dia harus ke ruang kesehatan untuk melihat keadaanku yang tertidur di sana. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN