Waktu istirahat masih tersisa dua puluh menit lagi. Mino melewatkan makan siang dan menyempatkan melihat kondisiku di ruang kesehatan. Dia juga tak lupa untuk membawakanku sesuatu untuk dimakan.
“Aku bilang roti isi kacang merah. Kau tuli atau bodoh, huh?”
Mino mendengar suara bentakan seorang gadis dari kejauhan. Dia mengikuti dari mana suara itu berasal. Sebuah pemandangan yang sangat tidak enak dilihat. Dia melihat Friska dan juga empat gadis lainnya di sana. Ia tengah menyaksikan sebuah pertunjukan dimana seorang gadis dengan gaya rambut dikepang sedang melempari Friska dengan roti isi coklat.
Mino tidak melewatkan momen. Ia mengeluarkan ponsel lalu mengarahkan ponselnya ke arah mereka.
Cekrek! Cekrek!
Suara kamera Mino terdengar begitu keras hingga menghentikan gerak tangan gadis dengan rambut yang dikepang itu. Friska dan tiga gadis lainnya ikut menoleh ke arahnya.
“Maaf, aku mengganggu ya?” katanya sambil kembali menurunkan ponsel lalu memasukkannya ke dalam saku.
“Lanjutkan saja!” Mino berpura-pura pamit meninggalkan para gadis itu.
“Hei,” teriak salah satu gadis. Sepertinya itu Elen, nama gadis yang dibilang Arin beberapa menit yang lalu. Mino tidak menduga dia akan dihadapkan pada situasi ini. Secepat ini.
Mino tanpa ragu menghampiri para gadis itu. Ia merasa Elen baru saja memanggilnya untuk mendekat, meskipun gadis itu tak menyebutkan namanya. Mino membantu membersihkan remahan roti yang memenuhi kepala Friska. Namun, Friska segera menepis tangan Mino.
Mino terdiam sambil menatap tajam ke arah Friska. “Kenapa kalian membuang-buang makanan? Padahal sangat sulit bagiku untuk mendapatkan makanan ini,” ujar Mino terdengar santai.
“Kau siapa?” tanya Elen terdengar tidak bersahabat.
Meskipun Mino sering bersamaku. Tidak banyak yang mengenalnya. Termasuk Elen. Beberapa fotoku yang tersebar jarang ada Mino di dalamnya. Mungkin karena itulah Elen tidak mengenali Mino.
“Kau dari kasta mana? Berani sekali,” kata Elen menantang.
“Siapa peduli aku dari kasta berapa, memangnya kau yang membayar uang sekolahku? Dan….kenapa pula aku harus lapor padamu?” balas Mino tidak mau kalah.
Elen tampak semakin kesal. Dia sudah cukup kesal karena Friska tidak memenuhi permintaannya dengan benar. Sekarang Mino datang mengganggu pelampiasannya.
“Hei, lain kali jangan menyuruh orang lain untuk membelikan roti untuk kalian, apa gunanya punya kaki sendiri.” Mino menasehati dengan jari telunjuk terangkat dan menunjuk kaki Elen dan temannya satu persatu.
“Pergilah! Aku juga bisa memukul wanita,” ancam Mino sambil memutar-mutar pergelangan tangannya. “Bagaimana? Mau kubalaskan untukmu?” tanya Mino pada Friska. Gadis itu tidak menjawab dan memalingkan wajahnya dari Mino.
Teeeeeet!
Suara bel berbunyi. Situasi berpihak pada Elen dan teman-temannya. Mino selalu menepati kata-katanya. Jika ia bilang bisa memukul wanita, ia tak akan segan untuk melakukannya.
Mino menurunkan tangan. “Kalian tidak dengar bel? Kelas kalian jauh di depan sana, kurasa lebih cepat pergi lebih baik,” sindir Mino mengusir Elen dan teman-temannya secara perlahan.
Elen berdecak kesal. Ia dan teman-temannya segera meninggalkan Mino dan Friska di sana. Begitu pula dengan Friska yang ikut meninggalkan Mino setelah Elen tak lagi terlihat dalam pandangannya.
“Bukankah seharusnya kau bilang terima kasih?” tanya Mino. Ia menghentikan langkah Friska yang hendak pergi begitu saja.
“Aku tidak pernah meminta bantuanmu,” balasnya ketus kemudian berbalik.
“Kenapa kau tidak melawan?” Mino balik bertanya. “Dari yang kulihat kau bisa saja melawan,” sambungnya.
“Bukan urusanmu,” jawab Friska sinis. Dia kembali membalikkan badan, lalu berjalan meninggalkan Mino yang masih tetap diam berdiri di tempat.
******
Aku benar-benar terlelap hingga tidak menyadari jikalau matahari sudah mulai tumbang di luar sana.
Mino menyingkap tirai, kemudian ia memanggil lembut namaku. Sayup-sayup aku bisa mendengar suaranya di telingaku. Perlahan mataku mulai terbuka. Sesekali aku mengedipkan mata sambil mengumpulkan segenap jiwaku untuk segera bangun. Sepasang mata yang menatap hangat ke arahku terasa seakan menyambut kedatanganku.
“Bangunlah! Jam pelajaran sudah berakhir,” katanya.
Aku menguap sekali. Padahal aku sudah tidur seharian. Setidaknya itulah yang kuingat. Mino membantuku untuk duduk. Dia benar-benar memperlakukanku seperti seseorang yang sedang sakit parah. Tangannya tanpa izin menyentuh dahiku. Memeriksa apakah suhu tubuhku sudah kembali normal.
Aku tersenyum ringan. “Aku tidak percaya kalau kau benar-benar membangunkanku sekarang, ketika semua sudah pada pulang,” gumamku. Suaraku sedikit parau.
“Hm. Karena aku tipe orang yang menepati perkataan,” ucapnya bangga dengan diri sendiri. Aku mengiyakan, malas untuk berdebat dengannya.
Aku menyibak selimut lalu memasang sepatu. Tanganku reflek merapikan rambutku yang sedikit berantakan. Sepertinya aku benar-benar terlelap. Tidak heran sekarang badanku sudah terasa jauh lebih baik. Meskipun pikiranku tidak.
“Mino,” panggilku pelan. Kami berjalan menyusuri lorong keluar gedung menuju gerbang depan. Pandi sudah menunggu kami di sana.
“Hm?”
“Mengenai perkataanku kemarin, sebenarnya kemarin aku bertemu dengan ayahku,” ungkapku berkata jujur pada Mino. Cepat atau lambat pasti akan kuceritakan juga padanya. Jadi tidak ada gunanya juga menunda apalagi menutupinya. Kepada siapa lagi aku dapat berbagi keluh kesah seperti ini jika bukan padanya.
“Benarkah? Pantas saja aku tidak dapat menemukanmu. Aku lupa kalau kau anak Mister Han,” katanya sambil terkekeh.
“Sebenarnya aku tidak berniat untuk menemuinya, tapi yaa…. Begitu. Tiba-tiba saja,”
“Mister Han bilang sesuatu?”
“Dia bilang kalau sebaiknya kita berhenti sampai di sini saja,” aku berhenti. Begitu pula dengan langkahku. Kini aku sedikit memutar badan menghadap ke arah Mino yang juga melakukan hal yang sama denganku. Kini kami saling berhadapan.
“Setelah kupikir-pikir lagi, memang tidak ada untungnya. Tidak… kita hanya akan menyakiti orang-orang yang tidak bersalah, Aku tidak pernah terpikirkan hal itu sebelumnya, tapi perkataan ayah kemarin terdengar sangat benar di telingaku,” sambungku.
“Berhenti? Kita saja belum mulai, kenapa berhenti?” Mino mematahkan keinginanku. “Lagi pula kau bukan wonderwoman dan aku bukan superman. Kita tidak sehebat itu sampai bisa membuat kekacauan yang begitu besar,” Mino berhenti sejenak. “Bukankah sudah pernah kubilang? Jangan memikirkan hal-hal yang belum terjadi, makanya kau jadi sakit seperti ini. Pikirkan saja apa yang akan kau lakukan nanti,” lanjutnya menyindirku. “Dasar pelupa!” omelnya lalu berjalan mendahuluiku.
“Memangnya kita akan melakukan apa?” tanyaku mengabaikan candaan Mino.
“Kenapa bertanya padaku? Kau yang lebih tahu,” balasnya sambil mengangkat bahu.
“Aku saja tidak tahu,” gumamku pelan tidak jelas.
Mino berbalik kembali berjalan ke arahku yang masih berdiri di posisi yang sama. “Kita pikirkan besok saja! Masih ada hari esok,” katanya. Kemudian dia mendorong bahuku agar tak lagi terdiam di sana seperti orang bodoh yang kebingungan.
“Banyak berpikir seperti ini sangat tidak cocok denganmu,” ejeknya.
Setiap candaan yang keluar dari mulutnya selalu saja terdengar seperti ejekan bagiku. Tetapi tak apa. Aku suka. Wajar saja jika Mino berkata seperti itu padaku mengingat sikapku yang berbeda selama dua hari belakangan, karena aku turut merasakannya.
“Kau…. Tak ada yang mau kau bilang padaku?” tanyaku mengubah topik pembicaraan.
“Tentang apa?”
“Arin bilang kau menghubunginya,” celetukku asal.
Tangan Mino terlepas dari bahuku. Dia maju selangkah untuk berada di hadapanku. “Bagaimana kau bisa tahu?” tanyanya heran sekaligus was-was.
“Ya… bagaimana lagi, tentu saja dari Arin,” jawabku santai. Aku terkekeh karena melihat ekspresi Mino yang kebingungan tetapi sorot matanya tajam penuh selidik terhadapku.
“Hei, jangan menatapku seperti itu, kau membuatku takut,” kataku menggodanya. Lalu berjalan lebih dulu meninggalkannya.
“Kau bertemu dengannya kapan?” tanya Mino masih penasaran.
“Ada. Tidak harus bertemu, lewat pesan teks juga bisa,” balasku tak mau kalah. Aku mempercepat langkah kaki agar tak lagi dihujani berbagai pertanyaan darinya.
******