LOVE and HATE

1641 Kata
“Tidak bisakah kau membukanya dengan pelan?” protesku karena seseorang tiba-tiba saja menyibak tirai dengan kasar hingga ring gantungannya menimbulkan bunyi yang sedikit melengking di ruangan yang sunyi itu. Aku sontak langsung terbangun dan duduk untuk melihat siapa yang datang. Aku menatapnya sinis dan tak menyambutnya dengan ramah, “hei, kenapa kau ke sini?” tanyaku pada Arin yang tengah berdiri mantap di depanku sambil melipat tangan di d**a. “Enaknya jadi orang nomor satu di sekolah ini,” ujarnya. “Kenapa kau ke sini?” aku bertanya untuk kedua kalinya dengan mulut yang terkatup kesal. “Iseng. Aku dengar kau sakit, makanya aku datang. Aku teman yang baik, kan?” Ia menarik kursi lalu duduk di atasnya. “Untuk mengingatkan kalau kau berhutang padaku,” jelasnya. “Apa yang kau bicarakan?” “Makanya jangan seenaknya menyuruhku begitu saja, sepertinya karma itu berlaku dengan cepat,” lanjut Arin. “Oo… masalah itu,” aku teringat kalau kemarin sudah menyuruhnya melakukan hal yang sia-sia, “kalau begitu aku minta maaf, sudah, kan?” Terangku. Aku malas untuk berdebat dengan Arin hari itu. “Apa yang mau kau tunjukkan?” tanyanya teringat akan hal yang kujanjikan padanya kemarin. “Tidak ada,” jawabku singkat membohonginya. Sebenarnya aku ingin menunjukkan sebuah foto yang pernah kuambil ketika memergoki Arin pertama kali waktu di gedung tua di belakang minimarket itu. Tujuanku hanya satu, agar dia mau membantuku. Namun tak jadi kutunjukkan karena tujuanku sekarang sudah berubah. Lebih tepatnya aku yang kini sudah berubah pikiran. “Kau tahu mino menghubungiku?” kata Arin tiba-tiba. “Apa?” sebelah alisku terangkat. Tak menyangka jika Mino benar-benar menghubungi gadis sombong di depanku ini. “Kenapa dia menghubungimu?” “Kau ingin tahu alasannya?” Matanya yang centil seketika bertemu dengan mataku yang menunjukkan kalau aku ingin tahu alasan kenapa Mino menghubunginya. “Pergilah sana jika ingin bermain-main. Aku tidak ada waktu untukmu,” balasku ketus. Aku menyadari jikalau dia memanfaatkan rasa ingin tahuku. “Apa yang akan kau berikan jika aku memberitahumu?” Arin bernegosiasi. Dia memang paling jago jika sudah menyangkut hal itu. “Apa? Apa yang kau mau?” “Tak banyak. Cukup tunjukkan saja apa yang ingin kau tunjukkan padaku tadi,” Aku menghela nafas, mengalah darinya, lalu berkata, “Baiklah,” “Dia minta bantuanku untuk mencari tahu seseorang,” ungkap Arin. “Siapa?” tanyaku tidak sabar. “Anak kelasmu, Friska Antony,” “Jadi namanya Friska Antony? Apa yang kau dapatkan tentangnya?” tanyaku lagi. Kali ini terlihat lebih antusias. Aku sudah mengerti arah pembicaraannya. “Ya… tidak banyak. Setauku dia jadi kacung Elen, anak kasta satu kelas C, tapi jangan salah paham dulu. Bukan karena dia miskin, justru dia anak salah satu konglomerat,” “Terus?” “Aku tidak tahu alasan pastinya,” tutup Arin. Aku berdecak sambil kembali berbaring. Dia baru saja membatalkan k*****s yang sudah kunantikan dari tadi. “Sekarang tunjukkan!” pintanya. “Karena sudah kuberitahu kau informasi penting,” lanjutnya memberikanku alasan. Baiklah. Karena aku juga termasuk orang yang menepati janji, aku mengirimkannya sebuah foto lama yang kuambil. Arin segera memeriksa ponsel begitu mendapatkan notifikasi sebuah pesan masuk. “Dari mana kau mendapatkan foto-foto ini?” Arin mengintrogasi. Karena tak banyak yang tahu tempat biasa dia menjual soal-soal ujian. “Tak penting darimana aku mendapatkannya, yang jelas sudah kuberikan padamu,” Arin memanyunkan bibirnya tak memaksaku untuk memberitahunya. Lagi pula, kalau pun dia tahu aku memotretnya secara langsung, toh tidak akan ada yang berubah karena aku sudah terlanjur mengetahui hampir semua rahasianya. Setidaknya itulah yang kusimpulkan waktu itu. Bukannya panik, dia tampak tersenyum ketika melihat foto dirinya yang tertangkap basah itu. Padahal itu bisa saja membuatnya dikeluarkan dari sekolah. Selain itu, aku juga mengiriminya sebuah foto ketika ia memukulku karena salah paham tentang video dirinya yang sedang merokok tersebar di komunitas online. “Kau sudah hapus fotonya kan? Jangan coba-coba untuk mengancamku lagi dengan foto ini.” Arin memastikan bahwa aku tak lagi mempunyai foto itu. Selayaknya barter. Aku mendapatkan informasi darinya dan dia mendapatkan foto yang bisa membahayakannya. “Aku selalu penasaran dengan hal ini, biarkan aku bertanya satu hal,” pinta Arin terdengar memaksa. “Kau…. Sebenarnya apa rencanamu dengan foto-foto ini? Begitu pula dengan soal ujian itu, apa yang akan kau lakukan dengan Mino?” tanyanya bertubi-tubi. “Kau yakin pertanyaanmu satu hal? Aku rasa lebih. Lagi pula kita tidak sedekat itu untuk membicarakan apalagi bercerita rahasia masing-masing,” tolakku mentah-mentah padanya. Tepat saat itu bel berbunyi. “Pergilah! Aku mau tidur!” aku menyuruhnya untuk meninggalkan ruang kesehatan tanpa memperhatikan reaksinya. Aku memejamkan mata dan menarik selimut menutupi badan hingga leher. ***** Pagi-pagi sekali aku sudah berangkat sekolah. Hari itu aku diantar oleh Pak Andra. Kalau kuingat-ingat lagi, sudah lama aku tidak berangkat dengan Pak Andra karena selalu dijemput-antar oleh Mino dan Pandi. Seolah-olah Pandi sudah menjadi sopir pribadiku saking seringnya dia menjemputku.            Aku mengintip wajah Pak Andra yang sudah mulai berkerut dari balik kaca kecil yang menggantung.            “Kenapa nak?” tanya Pak Andra menyadariku yang tampak seperti mengawasinya.            “Tidak pak, hanya saja hatiku sedang senang hari ini,” jawabku sambil menampilkan senyum terbaikku pada Pak Andra. Aku merasa baru saja melepas rindu pada sosok yang sudah lama tak kujumpai. Padahal kami satu rumah, masih sempat sesekali bertemu, tetap saja aku akan selalu merindukan momen-momen hangat seperti pagi itu.            “Sekolahnya gimana nak?” tanya Pak Anda.            Aku bingung akan menjawab pertanyaan Pak Andra seperti apa. Kehidupan sekolahku tidak bisa dikatakan senang karena terlalu banyak hal yang tidak kusukai darinya. Tapi aku juga tidak bisa bilang jika kehidupan sekolahku buruk karena aku suka ketika bersama Mino.            Aku menghembuskan nafas pelan. “Ya.. Seperti itulah pak, biasa saja,” jelasku sambil menyerngitkan hidung.            “Di tempat lesnya juga baik-baik saja kan? Tidak ada masalah, bukan?” Pak Andra lanjut bertanya ketika mobil kami melewati tempat sebuah tempat les yang pernah aku jadikan sebagai alasan waktu itu.            Aku sedikit terkesiap. Terkejut dengan pertanyaan Pak Anda. Sekilas mataku juga melihat gedung tempat les yang kini sudah jauh tertinggal di belakang.            “Haha, iya pak, tidak ada masalah,” jawabku dengan nada tenang sambil memaksakan seulas senyuman.            “Baguslah jika seperti itu nak, bapak ikut senang mendengarnya,” tutup Pak Andra menyudahi percakapan kami pagi itu.            Aku tersenyum paksa sebagai balasan terhadap tanggapan Pak Andra. Untunglah Pak Andra tidak terlalu banyak mencampuri kegiatan sehari-hari yang kulakukan. Namun aku juga merasa tidak enak karena telah membohonginya. Padahal aku sudah menganggap Pak Andra sebagai keluarga sendiri, melebihi rasa percayaku pada ayahku sendiri.            “Nanti bapak jemput atau tidak nak?” Pak Andra bertanya sebelum aku turun dari mobil. Ia memastikan apakah sepulang sekolah aku akan pergi dengan Mino atau langsung pulang.            Aku menggeleng. “Tidak usah pak, nanti aku akan pergi dengan Mino,” balasku. Kemudian langsung keluar mobil. Aku tetap berdiri di tempat memandangi mobil Pak Andra hingga menghilang di persimpangan. Setelah mataku tak lagi menangkap sebuah mobil sedan hitam yang biasa kunaiki, barulah aku merubah posisi lalu berjalan menuju kelas.            “Jia!” sapa Mino sedikit berteriak. Posisinya masih jauh di depanku. Kami baru bertemu di lorong menuju kelas. Aku lewat gerbang utama, sedangkan dia lewat g**g belakang, sehingga kami berpapasan tepat di depan pintu masuk kelas.            “Kenapa kau masih lewat sana? Bukankah kita sudah janji untuk lewat depan?” tanyaku acuh tak acuh.            “Seingatku kita tidak pernah janji, lagi pula lewat sana lebih dekat,”            “Bukan karena kau bertemu dengan Arin?” tanyaku lagi sedikit curiga padanya. Tanganku menurunkan tas punggung yang menggantung di sebelah bahu, kemudian meletakkannya di atas meja.            “Hei, apa yang kau bicarakan? Tidak seperti itu, aku bahkan belum bertemu dengannya,” jelas Mino dengan tenang. Tidak seperti diriku yang sudah pasti akan menggebu-gebu jika diserang dengan pertanyaan seperti itu. Sepertinya dia takut jikalau aku akan salah paham lagi terhadapnya dan juga Arin.            Mino menarik kursi dengan santai, lalu ia duduk di atasnya. “Tentang anak yang kau tanyakan terakhir kali, namanya Friska Antony. Aku dengar dia jadi kacungnya anak kasta satu, padahal dia juga kaya,” terang Mino. Dia berkata jujur. Berbeda dengan terakhir kali yang dilakukannya.            Ekspresiku tidak terkejut ketika Mino menyampaikan informasi itu dan ia menangkap raut wajahku yang hanya memberikan reaksi datar.            “Kenapa dengan raut wajahmu? Kau sudah tahu?”            “Hm. Aku sudah tahu,”            “Bagaimana bisa?”            “Entahlah, bagaimana bisa, ya?” Aku pura-pura bingung. “Mungkin tidak sengaja menguping pembicaraan anak lain ketika lewat,” lanjutku asal.            “Kau mau aku percaya itu? Arin?” Mino mencoba menebak sambil memicingkan sebelah matanya penuh selidik terhadapku. “Kau sudah punya teman baru rupanya,” ejeknya padaku. Dia mulai lagi. Bukannya aku tidak mau berteman dengan Arin. Hanya saja situasi kami saat ini membuat kami sulit untuk berteman seperti persahabatan yang biasa di elu-elukan orang lain. Hubungan kami lebih istimewa dari itu. Kalau aku bisa bilang, hubungan kami lebih seperti love and hate. Aku tidak bisa membencinya karena aku yakin suatu saat nanti pasti akan membutuhkan bantuannya. Sebaliknya, aku juga tidak bisa menyukainya karena gadis itu terlalu menyebalkan.            “Sepertinya bukan dia yang mengirimkan amplop itu,” katanya dengan nada suara sedikit berbisik.            Aku menyerngitkan kening. Tanganku berhenti menulis. Sedari tadi aku menyalin tugas sastra Indonesia punya Mino. Meskipun aku tidak yakin jika tugas itu dikerjakannya sendiri. Kini aku menoleh ke arahnya.            “Apa maksudmu?”            “Tidak ada alasan baginya untuk melakukan itu, lagipula kita tidak pernah terlibat dengannya, jadi ya…. Tidak mungkin dia,” jelasnya.            “Bagaimana kalau itu memang dia?” pemikiranku berbeda dengan Mino. Aku tetap yakin jika pengirim surat itu adalah Friska.            Mino balik menyerngitkan kening meminta penjelasanku.            “Aku yakin dia meminta bantuan pada kita melalui surat itu,” kataku dengan nada serius. Mataku menatap tajam seorang gadis yang baru saja datang dan duduk di bangkunya, Friska Antony.            ******
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN