BERBALIK

1198 Kata
Masih dengan keyakinan yang sama, aku menduga kalau Friska adalah orang di balik amplop itu. “Apa?” Mino semakin bingung dengan apa yang baru saja kukatakan. Jelas saja karena Friska tidak terlihat seperti anak yang di bully meskipun kenyataan berkata sebaliknya. Dia tidak selemah yang dibayangkan. “Kita bukan superhero, kenapa dia harus minta bantuan padamu,” gumam Mino pelan. Aku tidak mendengarnya dengan jelas. Apakah itu pertanyaan atau hanya rutukan yang membuatnya kesal. Aku mengalihkan pandangan dari Friska. Kembali fokus pada apa yang kukerjakan. Masih ada waktu bagiku untuk menyalin tugas ini sebelum bel pertama berbunyi. “Tapi….,” fokusku terbagi karena tiba-tiba saja terpikirkan sesuatu yang hendak kutanyakan. “Kenapa dia bisa jadi kacungnya Elen?” tanyaku penasaran dengan tangan yang masih sibuk menulis. “Aku tidak tahu, Arin juga tidak tahu,” jawab Mino sambil mengangkat bahu. “Tapi setelah bertemu dengannya secara langsung membuatku jadi takut, dia lebih mengerikan dari Arin,” lanjut Mino sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Padahal di telingaku ia terdengar seperti mengejek. “Kau sudah bertemu dengannya? Kapan?” tanyaku penasaran. Berhenti sejenak. “Ada kemarin,” katanya singkat. Mino tidak memberi tahuku dimana dan bagaimana ia bisa bertemu dengan Elen. Apa dia mencoba menyembunyikan sesuatu lagi dariku? Huft! Berapa banyak lagi yang disembunyikan Mino? Dia tahu semuanya. Semuanya. Kupikir setelah berteman dengan Mino selama beberapa bulan belakangan ini membuatku mengenal anak laki-laki yang duduk di sampingku ini. Aku salah. Aku tidak mengenalnya dengan baik. Mister Han benar. Tiga atau empat bulan hanyalah angka. Waktu itu hanya singgah sebentar. Berlalu tanpa pamit. Bahkan aku masih sering terkejut dengan kelakuan aneh yang dilakukan Mino. “Dimana?” Aku kembali bertanya untuk memastikan apakah dia akan berbohong lagi padaku. Aku paling tidak suka dibohongi. Aku bisa menahan rasa sakit yang menyayat kulitku, tapi perasaan ketika dibohongi berbeda. Seseorang pasti akan merasa tidak dibutuhkan ketika mereka dibohongi oleh orang yang telah mereka percayai. Apakah kalian pernah merasakan itu? Aku pernah merasakannya sekali ketika Mino berbohong tentang Arin beberapa waktu lalu. Aku hanya berharap kali ini dia jujur padaku. “Kemarin aku tidak sengaja melihat mereka memarahi dan membentak Friska,” ungkap Mino. Aku sontak menoleh. Dia tak lagi berbohong padaku. Seketika sudut bibirku melengkung menunjukkan senyuman lega. “Kenapa kau tersenyum?” “Tidak, aku hanya suka padamu,” jawabku santai. Tidak peduli dengan tanggapannya. Lagipula kata-kata itu sudah biasa kuucapkan padanya. Seperti kalimat kau terlalu tampan, atau Mino yang memujiku cantik, atau apalah itu. Kata-kata itu seperti makanan kami sehari-hari. Tanpa canggung dan merasa aneh ketika mengucapkannya. “Oh? Kau tak cemburu lagi ya,” balasnya sambil ikut tersenyum. Aku pura-pura tidak menggubrisnya. Tepat ketika itu bel berbunyi. Tidak lama kemudian Bu Hani memasuki kelas. Beliau langsung menyuruh mengumpulkan tugas yang dikerjakan di rumah masing-masing. Untunglah aku selesai menyalin tepat waktu, kemudian langsung kuberikan pada teman di depan secara estafet. ***** Aku langsung menerobos masuk karena tidak ada yang menunggui di luar. Kenop pintu diputar dan pintu terhempas dengan keras membanting dinding sehingga membuat penghuni di dalamnya sontak terkejut. Seketika kakiku seperti menginjak lem di lantai karena tidak mau digerakkan. Aku terkesiap. Tidak hanya Mister Han dan Sekretaris Lin yang berada di dalam ruangan, tetapi seseorang yang rasanya pernah kukenal juga ada di sana. Duduk di sofa abu-abu yang terletak di tengah ruangan. “Apa yang membawamu kemari? Sampai-sampai kau membuka pintu dengan keras. Ada yang ingin kau sampaikan?” tanya Mister Han bersikap ramah padaku. Tuan Albert yang duduk bersamanya juga ikut menatap ke arahku menunggu jawaban. Siang itu aku pergi menuju ruangan Mister Han. Aku ingin bilang kalau aku tak akan berhenti sebelum semua yang kuinginkan terpenuhi. Egois memang. Tapi tidak ada salahnya menjadi orang jahat sekali saja. Semua ini kulakukan demi kebaikan. Pasti akan ada jalan lain untuk mereka nantinya. Aku ingin bilang kalau yang dikatakan Mister Han beberapa hari lalu tidak akan menghentikanku. Ketika melihat tidak melihat Sekretaris di luar ruangan Mister Han, kecurigaanku mulai meningkat hingga akhirnya aku membuka pintu dengan keras. Tetapi semua kata-kata yang telah kususun seketika berantakan setelah memasuki raungan. “Ooo…..hmmm…,” aku berkilah mencari alasan lain. Otakku bekerja dua kali lipat. Tidak mungkin kusampaikan sekarang karena ada ayah Mino duduk di sana. Pertanyaan lain turut menghampiriku. Apa yang dilakukan ayah Mino di sini? Bersama sekretarisnya pula. Semoga mereka bisa maklum melihat kedatanganku yang tiba-tiba ke ruangan direktur siang itu. “Maaf mengganggu, aku akan kembali nanti,” kataku singkat lalu membungkukkan sedikit badan sebelum akhirnya meninggalkan ruangan. Aku segera kembali menuju kelas. Mungkin saja Mino sedang bermain ponsel dibangkunya. Jikalau tidak, dia pasti tengah tertidur. Cuaca hari ini cukup panas. Siapapun akan merasa gerah dan menjadi lelah. Waktu yang pas untuk tidur. Benar saja. Dia tertidur di meja dengan beralaskan lengannya sendiri. Aku menggoyangkan sedikit badannya. “Hei!” kataku pelan. “Mino! bangunlah!” “Hmm?” Mino bergumam. Matanya semakin terpicing tidak mau bangun. “Hei, ayo bangun! Kau tahu ayahmu di sini?” Barulah matanya terbuka setelah mendengar pertanyaanku. Kepalanya terangkat. “Apa?” “Aku melihatnya di ruangan Mister Han,” terangku. Dia sama bingungnya denganku. Penasaran dan bertanya-tanya apa yang dilakukan Tuan Albert di sini. Mino mengeluarkan ponsel dari saku. Dia menekan tombol panggilan cepat yang langsung terhubung dengan seseorang seberang sana. “Kau mengantar ayah ke sekolah?” Mino langsung bertanya ketika seseorang di sana menjawab panggilannya. “Benarkah?” ulangnya. Aku hanya bisa mendengar Mino tanpa tahu balasan dari lawan bicaranya. “Baiklah. Segera beri tahu jika kau tahu sesuatu,” tegasnya sambil menutup panggilan. “Pandi?” tanyaku begitu Mino sudah menyimpan kembali ponselnya ke saku. Dia menggangguk. Mino bilang Pandi tidak tahu apa-apa karena sekarang dia berada di akademi. “Tadi aku juga lihat sekretarisnya,” kataku teringat sekretaris yang ikut duduk di samping Tuan Albert tadi. Bisa kupastikan kalau mereka membahas hal yang penting dan formal. Karena mereka sama-sama melibatkan sekretarisnya. Tapi apa? Aku tidak punya ide. Aku menghela nafas panjang. Bertambah sudah beban pikiranku. Terlalu banyak teka-teki yang harus kupecahkan. Datang bertubi-tubi tanpa ada penyelesaian. Belum selesai dengan masalah amplop hitam itu, hubungan Mister Han dan Tuan Albert menjadi misteri baru bagiku dan Mino. “Oh ya!” kataku. Tiba-tiba teringat amplop hitam yang kulemparkan ke laci beberapa hari lalu. Aku tidak sempat membukanya karena situasi kelas saat itu sangat ribut. Tanganku kembali merogoh laci meja, mencari potongan kertas tebal yang tak terlalu besar. “Kau cari sesuatu?” tanya Mino yang melihatku dari samping. “Surat,” jawabku masih sibuk mencari di laci. Padahal baru beberapa hari, tapi laciku sudah penuh dan berantakan. Aku juga tak habis pikir dari mana aku mendapatkan buku yang begitu banyak. Sedangkan tidak pernah k****a sekalipun. “Dapat,” seruku. Amplop itu terselip di antara dua buku tebal dan terjepit pada bagian belakang laci. Tanganku merobek bagian atas amplop lalu mengeluarkan secarik kertas yang dilipat menjadi dua bagian. [Aku akan membantumu] Keningku berkerut. Isi surat itu berbeda dengan yang sebelumnya. Seakan surat ini dikirim oleh orang yang berbeda. Tapi tidak ada petunjuk. Aku memutar pergelangan tangan untuk memperlihatkan tulisan di surat itu pada Mino. Mata kami bertemu, lalu beralih pada gadis yang duduk di pojokan paling depan yang kini juga sedang menatap ke arah kami. ******
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN