Ruang sepi seringkali membuat seseorang mempunyai imajinasi liar dan berpikiran buruk. Suasana sunyi tak jarang menjadi kesempatan bagi seseorang untuk berbuat hal-hal aneh yang mencekam. Untunglah aku tidak termasuk ke dalam salah satu yang kusebutkan di atas. Tidak ada terbersit sedikitpun rasa takut atau cemas yang biasa dirasakan gadis lain di luar sana ketika melewati lorong panjang yang masih sepi di jam yang terbilang masih pagi ini.
Hari masih menunjukkan pukul enam pagi. Ayam baru saja berkokok satu kali. Matahari bahkan belum muncul untuk melebur uapan embun yang masih memenuhi jalan menghalangi jarak pandang. Tadi malam Mino mengirimkanku sebuah pesan teks. Menyuruhku datang ke perpustakaan sepagi ini. Entahlah mengapa, tetapi aku tetap saja menurut padanya karena dia selalu punya alasan akan hal itu.
Sesampaiku di depan pintu perpustakaan, tanganku terangkat untuk mendorong gagang pintu kaca itu. Di dalam perpustakaan sangat terang, hampir seluruh lampu menyala. Sangat berbeda dengan lorong yang kulewati tadi.
“Kau lama sekali,”
Sebuah suara membuatku terkesiap. Sontak tanganku langsung memegang d**a karena terkejut. Aku menghembuskan nafas lega setelah sempat tertahan selama beberapa detik. Siapa yang tidak terkejut jika tiba-tiba mendengar suara diruangan sepi seperti itu? Kalian pasti juga akan terkejut jika berada diposisiku. Ditambah lagi dengan suara Mino yang sedikit berat.
Kami menuju lantai dua dari perpustakaan. Gedung perpustakaan sekolah terdiri dari tiga lantai ditambah dengan rooftop yang bisa digunakan sebagai ruang baca terbuka. Gedung ini berdiri tepat di samping dekat dengan batas pagar yang langsung menghadap ke jalanan utama di depan. Ribuan buku tersusun pada setiap rak yang berjejer rapi.
Kini kami tiba di lantai tiga yang sudah lebih tinggi dari pagar pembatas.
“Kau sungguh membuatku kehilangan waktu tidur,” protesku. Pegangan tangan Mino melonggar hingga akhirnya tangannya terlepas dari tanganku. Aku bahkan tidak sadar jika sedari tadi dia memegang tanganku. “Kau tidak punya ide tempat lain? Kenapa harus di perpustakaan?”
“Hush!” Mino meletakkan jari telunjuk di bibir. Menyuruhku untuk tak lagi bersuara. Matanya mengarah pada sesuatu di bawah sana. Aku mengikuti arah pandangnya.
“Dia selalu datang lebih pagi dibandingkan yang lain,” kata Mino tanpa mengalihkan pandangannya.
“Sulit kupercaya kalau kau tahu dia akan datang sepagi ini,” pujiku takjup dengan kemapuan Mino. Sebenarnya aku tidak yakin juga dengan pujian yang baru saja kulontarkan. Karena menurutku memang tidak semua orang bisa mempunyai kemampuan seperti itu. Kemampuan yang kumaksud bukanlah indra keenam atau supranatural lainnya, melainkan koneksi dan informasi yang bisa didapatkannya dengan mudah. Apa menurut kalian Mino termasuk orang yang keren? Tapi harus kuakui dia memang mempunyai banyak mata dan telinga.
Kami melihat Friska baru saja keluar dari mobil. Bukan mobil pribadi seperti yang kami miliki, melainkan sebuah taksi kota. Bukankah kata Arin dia salah satu anak konglomerat?
“Taksi?” tanpa sadar aku malah mempertanyakan kendaraan yang dinaikinya. Tapi rasa penasaran itu tidak bertahan lama. Bisa saja dia mempunyai alasan sehingga mengharuskannya naik taksi kota untuk berangkat ke sekolah.
“Aku curiga kalau dia bukan salah satu dari kita,”
Aku menoleh menatap sinis pada Mino. Apa yang dimaksudnya bukan salah satu dari kita? “Hei!” seruku tidak setuju padanya. “Kata-katamu sedikit keterlaluan.”
Mino membalas tatapanku. “Eh, maaf, aku tidak sadar kata-kata itu keluar begitu saja,” balasnya.
“Bagaimana kau bisa tahu?” Aku lanjut bertanya.
“Arin,” jawabnya singkat.
“Dasar! Kenapa dia berbohong pada kita waktu itu,” gerutuku kesal karena mengira Arin berbohong waktu itu.
“Dia memang belum tahu waktu itu,” jelas Mino.
“Ya...ya….ya. Kau menghubunginya tiap malam ya, bahkan sekarang kau malah membelanya,” ledekku.
Mino terkekeh kecil mendengarku yang terlihat seperti anak lima tahun merajuk. “Hei, kenapa kau menjadi kesal seperti ini?” tanya Mino masih terkekeh.
Mulutku berkomat kamit balik menirunya tanpa menyadari kalau Friska sudah melewati gerbang utama sekolah.
“Ayo!” ajakku pada Mino untuk meninggalkan perpustakaan.
*****
Kami menunggu kedatangan Friska di depan pintu. Waktu terus berjalan. Jarum panjang baru saja bergerak melewati angka sepuluh. Kurang dari sepuluh menit lagi bel akan berbunyi. Satu-persatu anak-anak lain mulai berdatangan. Tetapi gadis yang kami tunggu belum juga tampak batang hidungnya. Entah apa yang dilakukannya, padahal dia sudah tiba semenjak hampir dari satu jam yang lalu. Tidak lama kemudian, gadis yang kami tunggu itupun muncul dari balik salah satu pilar di ujung lorong.
Mino menarik lenganku yang hendak menghampiri Friska di depan sana. Aku menoleh, Mino menggeleng pertanda ia melarangku untuk menghampiri Friska jika tidak mau fotoku kembali menjadi perbincangan hangat di ruang obrolan sekolah pagi itu. Bergantian mataku menatap Mino dan juga Friska yang semakin dekat dengan posisiku saat ini. Aku yakin dari jauh dia bisa melihat kami yang sedang menunggu kedatangannya.
Sudahlah. Tak jadi kulakukan niat awal yang ingin menanyai Friska tentang amplop dan secarik surat bodoh itu. Aku melangkah menuju kelas. Tepat saat itu bel pertama berbunyi. Kelas pertama siap dimulai.
Selama pelajaran otakku tidak bisa fokus. Meskipun guru yang masuk pagi itu adalah Pak Beni, guru Bahasa Inggris yang galak, tetap tidak bisa membuatku fokus mendengar sebuah cerita yang tengah dibacakan olehnya. Menurutku Bahasa inggris bukanlah pelajaran yang sulit karena aku fasih berbicara Bahasa inggris. Namun hal itu tidak menjamin nilaiku tinggi. Kalian pasti juga merasakannya pada nilai pelajaran Bahasa Indonesia yang merupakan Bahasa harian yang digunakan. Hal itu juga berlaku padaku dengan pelajaran Bahasa Inggris.
Pena yang sedari tadi terselip diantara jari manis dan jari tengahku tidak bergerak sama sekali. Halaman buku yang terkambang masih putih bersih hingga pelajaran berakhir.
“Kau sedang memikirkan apa?” Mino mengejutkanku dari samping walau sebenarnya aku tidak melamun, melainkan sedang berpikir.
“Ha?” aku bertanya balik.
Huft. Mino menghembuskan nafas. “Kalau kuperhatikan akhir-akhir ini kau sering melamun semenjak bertemu dengan Mister Han waktu itu,”
Aku memutar kepala menghadap ke arahnya sambil tersenyum simpul. Lagi dan lagi. Akhir-akhir ini pikiranku terlalu kalut karena memikirkan banyak hal.
“Aku tidak suka melihat kau menjadi lemah seperti ini,” bisiknya pelan, tapi suaranya masih bisa terdengar olehku. Matanya lamat-lamat menatap dalam ke arahku. Dia tulus mengatakan itu. Tidak ada yang lebih mengenal perangaiku melebihi Mino.
Kali ini aku tertawa ringan mendengar gumaman Mino. Kemudian bangkit menuju kantin untuk mendapatkan makanan yang sebenarnya tidak terlalu kuharapkan.
“Sayang sekali kau tidak membawa bekal hari ini, kita terpaksa harus berdiri lama supaya bisa makan,” kataku sambil berjalan pelan di lorong.
“Sengaja,” balasnya.
“Aku sudah tak terkejut lagi mendengar jawabanmu,” terangku terdengar santai.
Sesampai kami di kantin, aku langsung mengambil posisi berdiri di urutan paling belakang, masih ada sekitar lima belasan orang lagi di depanku.
“Terlalu lama, kita makan roti saja,” celetuk Mino yang berdiri di belakangku.
Aku berbalik. Bukan ide yang buruk mengingat waktu istirahat yang semakin berkurang. Setidaknya roti jauh lebih baik jika dibandingkan dengan nampan setengah kosong.
Kami keluar kantin dan belok kanan menuju kantin serba ada di sampingnya. Tapi Mino tiba-tiba memilih jalan berbeda. Dia menarik sikuku untuk mengikutinya mengitari gedung. Mengambil jalan berputar dengan melewati belakang gedung.
“Hei, jalan sa..,” kalimatku terhenti ketika melihat Elen dan teman-temannya yang sedang mempermainkan Friska dengan sebuah roti. Aku menepis tangan Mino dengan mata yang tetap terfokus pada Friska.
Friska hanya diam ketika ia disuruh memakan roti yang sudah dicelupkan ke dalam kari yang sudah dicampur dengan air. Dan parahnya dia menurut tanpa membantah. Sesekali Elen dan teman-temannya tertawa melihat raut wajah Friska yang terlihat seperti menahan rasa ingin muntah.
“Jangan menahanku kali ini. Seharusnya kau tidak membuatku melihat ini,” kataku pelan. “Oh ya,” aku berbalik sekali teringat sesuatu. “Jangan lupa mengangkat ponselmu dan merekam semua kejadian hari ini,” lanjutku mengingatkan pelan lalu berjalan mantap beberapa langkah ke depan hingga tawa Elen tak lagi terdengar. Barulah mereka menyadari kalau ada orang yang tengah memperhatikan kelakuan tidak manusiawi mereka.
“Hei!” teriakku.
Seketika aku menjadi pusat perhatian. Mino masih di belakang. Aku tidak tahu apa yang dilakukannya di belakang, tetapi aku berharap dia akan mengeluarkan ponselnya untuk merekam kejadian yang akan terjadi beberapa menit ke depan. Tidak mungkin Mino akan melewatkan kejadian yang akan terjadi beberapa menit ke depan.
****