Suara teriakanku membuat Elen berhenti tertawa. Ia melihatku dengan tatapan tidak senang. Mungkin dia berfikir siapa yang berani mengganggu kesenangannya saat itu. Begitu pula dengan tiga orang temannya dan Friska yang kini ikut menatap ke arahku.
Langkahku mantap menghampiri mereka. Jarakku dengan Friska semakin tipis. Dua langkah. Satu langkah. Begitu sampai, tanganku dengan cepat merampas roti yang berada di tangan Friska lalu melemparkannya dengan keras pada wajah Elen. Roti itu menghantam pipi tembemnya dengan mata yang terpejam. Belum sempat ia membuka mata, kini kedua tanganku kembali mendorong kedua bahunya ke belakang hingga ia terhuyung-huyung ke belakang.
Ketiga teman Elen dengan sigap segera menangkap dan membantu Elen berdiri tegak. Mereka hendak membalas dengan menjambak rambutku, tapi segera kugagalkan setelah kutendang salah satu kakinya. Salah satu gadis dengan rambut yang di kepang itu langsung terduduk meringis kesakitan setelah terkena tendanganku.
“Ooo, jadi ini yang katanya anak nomor satu di sekolah ini? Kau pikir aku takut, huh? Hanya karena kau anak kepala yayasan di sini? Iya?” Elen balas berteriak setelah berhasil bangkit. Suaranya tak kalah tinggi dari suaraku. Ia menantangku. Mungkin ia ingin melihat seberapa berani aku dengannya. Sudah pasti dia juga sudah mendengar pertengkaranku dengan Arin yang tidak terjadi sekali.
“Terserahmu! Aku tidak memaksa kau harus takut padaku, kau bisa lakukan sesuka hati,” balasku sambil mengangkat kedua bahu acuh tak acuh. Aku mencoba untuk lebih tenang. Kali ini nada suaraku sedikit merendah.
Elen menyeringai setelah mendengar balasanku yang juga menantangnya. Kalau dilihat-lihat lagi, badannya memang agak lebih besar dibandingkan ukurang tubuhku. Belum lagi jika ketiga temannya itu ikut mengeroyokku. Sudah pasti aku akan kalah.
“Kau pikir kau siapa? Berani-beraninya ikut campur urusanku.” Suara Friska justru membuatku lebih terkejut. Bukankan sekarang aku sedang berusaha untuk membantunya? Tapi lihatlah, dia tetap berada di pihak Elen. Aku sekilas melihat raut wajah Elen yang menunjukkan senyum kemenangan.
“Kau tidak lihat aku sedang membantumu?” balasku pada Friska. Barangkali ia salah paham denganku. Berfikir jika aku akan sama dengan Elen karena raut wajahnya menunjukkan kalau ia tidak senang bercampur kesal.
“Seenaknya saja ikut campur urusan orang lain,” kata Friska. Kemudian ia meninggalkanku begitu saja bersama Elen dan teman-temannya. Situasiku terlihat seperti rusa yang akan diterkam oleh sekawanan singa. Lemah tak berdaya. Tapi akan kutunjukkan kalau aku adalah harimau dan menunjukkan siapa penguasa alam liar sebenarnya diantara kami. Dengan terpaksa aku harus menggunakan alasan sebagai anak nomor satu di sekolah ini agar bisa segera meninggalkan Elen dan menyusul Friska.
“Aku tidak tahu apa urusan kalian dengan Friska. Tapi kuperingatkan untuk pertama dan terakhir kalinya. Akan kupastikan kalian menyesal dengan kejadian hari ini,” ancamku pada sekumpulan gadis di hadapanku ini, lalu berbalik menyusul Friska.
Aku tidak melihat Mino ketika berbalik. Entah sejak kapan dia meninggalkanku begitu saja. Sia-sia aku menyuruhnya untuk merekam kejadian ini. Tapi tak hiraukan. Kini aku berlari mencari Friska yang sudah menghilang dari pandanganku.
Untunglah aku masih bisa melihat punggungnya dari kejauhan yang berjalan menyusuri tepi lapangan. Langkah kaki kupercepat hingga akhirnya tiada jarak yang memisahkan kami. Tanganku terangkat menyentuh bahunya lalu memaksanya berbalik menghadapku. Tapi dia menepis tanganku tetap menolak untuk berbicara dan masih terus berjalan mengabaikanku.
“Hanya karena ayahmu sopir taksi, kau mau diperlakukan tidak adil oleh Elen?” Akhirnya lidahku melepaskan diri dari belenggunya. Mengeluarkan kata-kata yang seharusnya tak kuucapkan.
Friska berhenti. Akupun ikut berhenti di belakangnya. Angin berhembus siang itu. Tidak hujan dan tidak panas. Pertanda apa yang diberikan warna langit padaku siang itu? Seketika suasana menjadi canggung dan sunyi.
Aku sebenarnya tidak bermaksud untuk menyinggung masalah keluarga karena tidak semua orang senang dan bangga ketika menceritakannya. Aku hanya asal bicara agar Friska mau mendengarkanku. Tapi tak kusangka, celotehanku berhasil membuatnya terpaku ke tanah seperti saat ini. Apakah semua yang dilakukannya kini berkaitan dengan fakta yang sebenarnya kalau ia bukanlah seorang anak dari konglomerat?
“Apa salahnya menjadi seorang sopir taksi?” lanjutku kembali menebar umpan pada Friska. Jikalau dugaanku benar, seharusnya ini sudah cukup membuatnya untuk membuka mulut.
“Diam! Tutup mulutmu!” kata Friska geram dengan mulut terkatup. Dia berhasil menggigit umpanku. Dugaanku benar.
Friska berbalik. “Kau tidak tahu apa-apa tentangku, jadi jangan asal bicara!” Nada suaranya terdengar ketus meskipun bergetar.
“Seperti yang kau bilang, aku memang tidak tahu apa-apa, jadi aku akan bertanya padamu,” aku menarik nafas sekali lalu menghembuskannya pelan. “Kenapa kau berbohong tentang latar belakangmu? Apa kau malu mempunyai seorang ayah sopir taksi?”
Pertanyaanku kali ini sepertinya berhasil membuat istana yang selama ini dibangunnya runtuh tak berbentuk. Tamengnya hancur. Tetesan pertama air matanya jatuh membasahi pipi.
“Orang sepertimu tidak akan pernah mengerti dengan apa yang kurasakan. Kau tak mengenalku karena kita berbeda. Jangan menatapku seperti itu! Jangan pernah merasa iba padaku, dan jangan lagi tiba-tiba muncul berlagak seolah kau seorang pahlawan di sini. Aku paling benci dengan semua itu.”
“Lalu? Aku harus diam saja ketika melihatmu diperlakukan seperti tadi?”
“Bukankah kalian selalu memandang rendah golongan kami? Aku tak butuh bantuanmu,”
“Jaga ucapanmu! Apa hebatnya menjadi anak orang kaya? Aku sama sepertimu, hanya murid biasa,”
“Aku terlalu muak melihatmu bersikap sok adil,” tutup Friska kemudian berlalu mengikuti hembusan angin meninggalkanku di sana.
Aku tidak mengerti dengan jalan pikir Friska. Aku tidak memintanya berterima kasih padaku. Hanya sebuah kejelasan. Amplop hitam yang awalnya menjadi alasan utamaku untuk mendekatinya seketika terlupakan.
****
Aku menekan tombol panggil sambil berjalan kembali menuju kelas.
[Nomor yang anda tuju……]
Aku menutup panggilan. “Kemana lagi dia?” batinku bersuara. Setelah berjalan beberapa langkah, aku urungkan untuk kembali ke kelas. Kubelokkan langkahku menuju bangku di tepi lapangan. Bisa di bilang, bangku itu kini menjadi basecamp tempatku dan Mino untuk berbagi cerita, membuat rencana atau hanya sekedar menciptakan gelak tawa. Tempat itu juga menjadi saksi bisu dari awal mula pertemuanku dan Mino. Suka dan duka.
Aku berdiri tak jauh dari Mino. Kuperhatikan dia tengah sibuk dengan ponsel di tangannya. Ah, dia pasti bermain game lagi. Percuma saja kupanggil dari sini karena sepasang earphone menggantung di kedua telinganya.
“Dar!”
Aku mengejutkannya dari belakang berharap dia akan terlompat karena teriakanku. Tapi reaksinya sangat tak lucu. Tak menunjukkan pemandangan yang kuharapkan.
“Reaksi macam itu? sama sekali tidak lucu,” rutukku pada Mino lalu duduk di sampingnya.
Mino menurunkan ponsel. Mengalihkan pandangan padaku. “Aku bisa mendengar suara langkahmu,” katanya memberi alasan sambil terkekeh pelan.
“Sekarang kau suka sekali mengabaikan panggilanku, ya?” tanyaku. “Sepertinya panggilan Arin lebih penting,” lanjutku.
“Hei, mau sampai kapan rasa cemburu kau ini bertahan? Lama sekali,” ejeknya menggodaku.
Aku tersenyum pelan membalas candaan Mino. “Kau melakukan yang kusuruh tadi kan? Tiba-tiba saja menghilang begitu saja meninggalkanku di sana.”
Mino terdiam. “Jangan bilang kau…” tanyaku berubah panik. Tentu saja begitu, karena aku membutuhkan rekaman itu.
Lagi dan lagi. Mino terkekeh melihat reaksiku. Aku memukul pelan lengannya. “Sudah, sudah,” katanya sambil mengaduh. Padahal pukulanku tidak sekeras itu. “Kau tenang saja, semua sudah kulakukan sesuai dengan perintah,” jelas Mino.
“Hei, ayo kita lakukan?”
“Apa?” Mata Mino membesar sedikit kikuk dengan ajakanku. “Lakukan apa?” tanyanya lagi. Sepertinya dia salah tangkap dengan maksudku.
Aku kembali memukul bahunya untuk menyadarkannya dari pikiran kotor. “Ouh! Dasar m***m!”
“Jadi?” tanyanya lagi memastikan apa maksudku.
“Video itu, unggahlah di situs komunitas sekolah,” usulku.
*****