HEBOH

1189 Kata
Sekretaris Lin berjalan dengan cepat menuju ruangan Mister Han dengan sebuah ipad di tangan. Dia mengetuk pintu tiga kali lalu memutar knop pintu. Tampak Mister Han tengah fokus pada layar komputer di hadapannya. “Aku sudah memberi tahu pihak humas untuk memblokir situs yang menerbitkan artikel tentang video itu, tetapi penyebaran video itu tak dapat dihentikan karena sudah di salin hingga ribuan kali,” jelas Sekretaris Lin yang terdengar panik. Tidak lama kemudian, telepon di meja berbunyi silih berganti. Begitu pula dengan ponsel pribadi Mister Han yang sudah bergetar sedari tadi. Mister Han masih duduk diam dengan tatapan yang masih fokus membaca salah satu artikel. Raut wajahnya masih tenang tak menunjukkan reaksi terkejut apalagi panik. Seseorang yang sudah bergelut dengan dunia bisnis pasti sudah kebal terhadap berbagai tantangan yang menghadang. Tapi baru kali ini media dan berita begitu tertarik dengan kehidupan pribadi Mister Han. Terutama tentang putri semata wayangnya. Sebuah kalimat di artikel itu begitu menarik perhatiannya. [Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, seorang putri melakukan tindakan k*******n seperti ayahnya!] Ada lagi. [Putri simpanan Mister Han memberontak melalui tindakan k*******n sekolah] Mister Han tertawa. Itu adalah reaksi pertama yang ditunjukkannya semenjak berita pertama mencuat pagi ini. Siapa yang tidak menganggapnya tidak lucu? Apa kalian tidak mengganggap lucu? Bahkan menurutku berita itu juga lucu. Bisa-bisanya jurnalis itu memberitakan bahwa aku anak simpanan Mister Han. Yang benar saja. Tidak banyak yang tahu tentang seluk-beluk keluarga Mister Han. Seingatku ketika menonton wawancara lama Mister Han dengan beberapa media, ia mengatakan kalau putrinya tidak di Indonesia, melainkan di Kanada bersama sang ibu. Kalau tidak salah itu sekitar tujuh atau delapan tahun lalu, ketika sekolah ini mendapatkan penghargaan dari pemerintah sebagai sekolah dengan kurikulum terbaik. Setelah itu berita tentang kehebatan sekolah lebih menonjol menutupi kehidupan pribadinya. Hingga akhirnya pada hari ini. Sebuah video yang mengatakan bahwa aku adalah putri dari Mister Han yang melakukan tindakan k*******n setelah kembalinya dari Kanada. Tentu saja itu membangkitkan jiwa buas para jurnalis yang tampak seperti haus akan darah. Bagaimana bisa seseorang di dunia pendidikan telah gagal mendidik anaknya menjadi seorang anak teladan? Perasaanku bercampur dengan sedikit kesal karena berita itu bisa jadi menyakiti perasaan ibuku ketika membacanya dari negeri seberang sana. Ia juga pasti kecewa setelah melihat video itu. “Bagaimana dengan Jia?” tanya Mister Han setelah berhasil menghentikan tawanya. Untunglah ia masih mengkhawatirkanku. “Dia tetap datang ke sekolah seperti biasa, untunglah gerbang utama sudah di tutup lebih awal sehingga tidak ada reporter yang memaksa masuk,” jelas Sekretaris Lin. “Departemen Pendidikan Kota sudah mengirimkan surat resmi untuk mengusut kejadian ini Mister, tindakan apa yang sebaiknya kita lakukan?” Sekretaris Lin melanjutkan laporannya. Situasi sekarang semakin memanas. Banyak orang yang ingin tahu lebih banyak tentang diriku. “Laksanakan pembelajaran seperti biasa, tunda jam pelajaran selama satu jam. Segera panggil Jia ke ruanganku, lalu…” Kalimat Mister Han terpotong setelah mendengar beberapa keributan dari luar. Tidak lama kemudian, pintu ruangan terbuka.   Seorang pria mengenakan setelan jas hitam masuk. Dia adalah sekretaris lain Mister Han, tapi aku tak tahu namanya. “Maaf Mister, orang tua Elen memaksa ingin bertemu.” Belum selesai sekretaris itu meminta izin, justru sepasang suami istri sudah menginjakkan kedua kakinya di dalam ruangan. Mister Han mengangkat tangan memberi isyarat pada sekretaris itu untuk segera meninggalkan ruangan. Pria itu mengerti dan segera keluar. “Segera panggil Jia dan Elen ke ruangan!” perintah Mister Han sebelum menyambut kedatangan tamu yang tak diundang itu. Elen merupakan salah satu putri dari seorang pebisnis retail di kotaku. Keluarganya termasuk golongan elit yang berpengaruh. Video yang memperlihatkan putrinya dilempari roti bahkan di dorong tentu membuat mereka menjadi naik pitam dan meminta penjelasan pada Mister Han, selaku wali muridku dan juga pimpinan sekolah. ****            Suasana kelas ribut. Semua orang sibuk bercerita mengenai video itu. Wajahku sudah menghiasi ruang obrolan sekolah pagi itu. Setidaknya sudah hampir tiga puluh menit. Sepertinya para guru mengadakan rapat dadakan karena pelajaran pertama akan dimulai terlambat satu jam ke depan.            “Kau harus bersiap dengan segala kemungkinan yang ada,” kata Mino seperti bisa menerawang masa depan. “Kau yakin tak apa? Kemungkinan terburuk kau mungkin bisa saja di keluarkan dari sekolah,” Mino mulai khawatir padaku.            Dua hari yang lalu di bangku taman, ia juga menanyakan dan mengatakan hal yang sama.            “Kau yakin tak apa? Kau bisa saja di keluarkan jika situasi menjadi semakin buruk. Kenapa kau selalu mengambil jalan yang berbahaya?” Mino memberi alasan agar aku membatalkan permintaanku sebelumnya.            “Pastikan saja tidak ada wajah Friska di dalamnya,” pintaku. Mino mempunyai akses dengan akun situs komunitas sekolah. Permintaanku termasuk mudah baginya. Pada awalnya Mino menolak, karena kasus k*******n sekolah merupakan kasus sensitif. Aku juga pernah membaca artikel yang berkaitan dengan kasus ini. Hingga Departemen Pendidikan langsung turun tangan jika mendengar kasus ini mencuat ke publik. Itulah yang dikhawatirkan Mino. Ia takut jika konsekuensi yang kuterima nanti tidak adil. Apalagi latar belakangku yang bisa dikatakan putri dari seseorang yang berpengaruh di dunia pendidikan. Sudah pasti menjadi buah bibir bagi publik.            “Tapi..” Mino berat hati untuk membantuku.            “Waktu kita tidak banyak. Kita harus segera melakukan sesuatu agar semua ini cepat selesai. Aku hanya ingin ini berakhir dengan cepat,” jelasku. Berharap Mino memahami segala keluh-kesahku melalui tatapan mataku yang semakin dalam.            Setelah bujukanku yang memakan waktu cukup lama, akhirnya Mino setuju. Sampai pada hari ini. Berita ini menjadi sarapan umum bagi publik. Seluruh kota heboh. Video yang diunggah Mino hanya menampakkan wajahku dan juga wajah Ellen dan teman-temannya. Namun hal itu cukup untuk menunjukkan siapa pelaku dan siapa korban. Meskipun tidak ada yang tahu sampai Friska mau membuka mulut dan menjelaskan yang sebenarnya terjadi. Mino menepuk pundakku. Mataku berkedip satu kali. Dua kali. Membantu jiwaku kembali pada raga yang mematung di tempat duduk.      “Jika nanti keadaan semakin buruk, maafkan aku, terpaksa semuanya akan kulaporkan. Aku tak ingin kau menanggungnya sendiri.” Mino tak berhenti untuk menyelipkan kekhawatirannya pada setiap katanya yang terucap.            Aku menggeleng tidak setuju. “Berjanjilah satu hal. Jangan lakukan hal yang saling merugikan diri sendiri. Berjanjilah untuk selalu pikirkan dirimu lebih dulu! Aku juga akan seperti itu.” Aku mengacungkan jari kelingking, membuat kesepakatan dengan Mino.            Mino tak menjawab. Terpaksa aku mengangkat tangannya, lalu mengaitkan kelingkingku dengan kelingkingnya. “Janji, kunci, cap!”            “Kau sudah berjanji. Selalu ingat hal ini, oke?” pungkasku.            Mataku menangkap Sekretaris Lin yang sudah berdiri di depan kelas. Kehadirannya saja sudah membuatku merasa terpanggil meskipun ia tak mengeluarkan suara. Aku segera bangkit dengan pandangan yang beralih pada Mino.            “Hei, jangan menatapku seperti itu! Kau membuatku tampak menyedihkan,” kataku mencoba menghiburnya sambil memaksakan seulas senyum. Sejujurnya kekhawatiran Mino hanya membuang-buang energi. Aku hanya pergi ke ruangan Direktur. Hanya sebentar.            Aku mengangkat tangan lalu meletakkannya di dekat telinga. Memberi kode kalau aku akan menelponnya nanti. Lalu mengingatkannya dengan janji yang kubuat dengannya beberapa menit yang lalu. Mino menatapku dari bangkunya hingga wujudku sudah menghilang di balik pintu bersama Sekretaris Lin.            “Bukankah sudah kuperingatkan untuk tak lagi membuat masalah?” kata Sekretaris Lin di sampingku.            “Bukankah sudah kubilang kalau akan kulakukan semuanya agar tradisi gila ini terlihat oleh dunia?” balasku bernada angkuh tak mau kalah darinya. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN