PENYESALAN

1257 Kata
Sunyi. Mencekam. Langit-langit dipenuhi oleh ketegangan. Aku serasa memasuki sebuah jurang dalam dan membutuhkan akal sehat untuk bisa keluar dari sana ketika memasuki ruangan. Di dalam sudah duduk Mister Han, Elen dan kedua orang tuanya, dan juga seseorang berpakaian rapi di samping mereka. Entahlah, mungkin saja dia pengacara yang bersiap untuk memberikanku pelajaran dari balik jeruji besi.            Sekretaris Lin sudah duduk di samping Mister Han, sedangkan aku duduk di samping Sekretaris Lin. Posisiku saat ini duduk berhadapan dengan Ibu Elen.            Kali ini perasaanku lebih tenang karena aku sudah menduga hal ini akan terjadi. Emosiku juga lebih terkendali. Aku mencoba bersikap seperti tak terjadi apa-apa dan memasang raut wajah tak menyesal atas apa yang telah kulakukan.            “Sebenarnya bagaimana anda mengajarkan anak anda?” tuntut Ibu Elen meminta penjelasan.            Mister Han mencoba tersenyum simpul sebagai balasan.            “Maaf nyonya, saya mohon anda untuk tenang,” kata Sekretaris Lin.            Terkadang aku merasa kagum dengan Sekretaris Lin. Layaknya sekarang ini. Entah kenapa dia terlihat begitu keren. Tak hayal dia sudah bekerja selama sembilan tahun dengan ayahku. Bahkan tahun ini dia sudah memasuki kepala tiga, namun tetap setia membantu ayahku.            “Bisa kau jelaskan apa yang terjadi?” Sekretaris Lin bertanya padaku lebih dulu. Saat ini aku bertindak sebagai pelaku.            “Benar, semua benar seperti halnya yang ada di video. Aku melemparinya dengan roti bahkan juga mendorongnya,” jelasku tanpa menunjukkan rasa bersalah. Aku mengatakan apa adanya. Tak menambahi dan mengurangi. Lagi pula aku tidak ada niat untuk meminta maaf padanya.            Aku melirik Mister Han yang tengah menyimak penjelasanku. “Ada lagi?” potongnya setelah mendengarku terhenti sejenak. Kemudian beralih pada Elen karena tak ada lagi yang ingin kusampaikan. “Apa yang disampaikan oleh Jia benar?” Elen mengangguk iba. Dia memberikan reaksi berlebihan dengan sengaja memegang bahu yang kudorong kemarin. Ibunya bahkan bereaksi berlebihan. “Lihatlah kelakuan anak anda, bisa-bisanya dia membuat putri kesayanganku memiliki trauma seperti ini,” celoteh Ibu Elen mengelus pipi Elen lalu merangkulnya. Aku membuang muka sambil menghela nafas. Sungguh pertunjukan yang menyakitkan mata. Lebih baik kusarankan mereka untuk mengambil kelas akting. Kuakui aktingku lebih baik dibandingkan mereka. “Maaf Nyonya, saya di sini sebagai Pimpinan sekolah. Pihak Jia akan diwakili oleh Sekretaris Lin,” terang Mister Han. Untuk pertama kalinya aku merasa kagum pada Mister Han. Dia terlihat bijaksana ketika bertindak seprofesional itu. Aku tidak tahu siapa yang dibelanya saat ini, apakah putri semata wayangnya ini atau sekolah yang paling dicintainya itu. Apakah kecintaannya pada Yayasan yang sudah dibangun dengan keringatnya sendiri itu berhasil mengalahkan naluri seorang ayah terhadap putrinya? “Saya tidak mau tahu, saya ingin kasus ini segera diselesaikan dengan komite sekolah,” pinta Ibu Elen terdengar memaksa. “Sebelum itu, sebaiknya kita mendengar penjelasan dari Elen terlebih dulu,” tawar Mister Han ramah sebelum mengabulkan permintaan Ibu Elen. “Apa semua yang kita lihat di video benar adanya?” Elen mengangguk lalu menangis. Sandiwaranya benar-benar buruk pikirku. “Baiklah, kalau begitu kita lanjutkan pada komite sekolah.” Mister Han membuat keputusan. “Tapi Mister..” bantah Sekretaris Lin. Saat ini dia bertindak sebagai waliku yang sedang berusaha membuatku terlepas dari masalah ini. Ketika kasus ini dibawa hingga komite sekolah, maka Departemen Pendidikan sudah pasti terlibat. Di balik pembelaan Sekretaris Lin terhadapku, dia tetap mengkhawatirkan nama baik sekolah. “Jia tidak mungkin melakukan hal itu tanpa sebab.” Sekretaris Lin memberi alasan untuk bernegosiasi. “Buat apa alasan? Jelas-jelas anak anda terlihat seperti preman seperti ini, mengapa masih butuh alasan,” balas Ibu Elen. Dia tidak berniat untuk bernegosiasi karena terus saja menyudutkanku. “Kita selesaikan saja pada rapat Komite sekolah,” tutupnya. Ibu Elen merangkul putrinya lalu bangkit meninggalkan ruangan tanpa menunggu keputusan dari Mister Han. Aku masih duduk di sana. Tidak banyak berbicara apalagi memberi sanggahan. Ponselku berdering memecah diam. “Hallo,” sapaku ramah. [Hallo. Apa yang terjadi nak?] Aku sekilas menatap Mister Han dan Sekretaris Lin, kemudian memutar duduk agak membelakangi mereka. “Maafkan aku bu, telah membuatmu kecewa,” kataku pelan sambil tertunduk. Mister Han dan Sekretaris Lin masih duduk di tempat yang sama dan ikut mendengar percakapanku dengan seseorang di balik layar. “Jangan!” aku berseru spontan, “kenapa ibu jauh-jauh harus kemari? Aku tidak apa-apa, jangan khawatir.” [Bagaimana bisa ibu tidak khawatir. Ibu dengar kasusmu akan segera ditangani Departemen Pendidikan. Bagaimana dengan ayahmu?] “Benarkah? Secepat itukah beritanya sudah sampai di sana? Hebat sekali!” Aku pura-pura tak mendengar pertanyaan ibu tentang Mister Han. Aku tidak mau memujinya secara langsung di hadapannya. [Ini bukan waktunya untuk bercanda nak, sebaiknya kau siapkan diri. Ibu akan menyiapkan kepulanganmu ke Kanada.]            “Jangan bu!” pekikku lagi. Aku baru saja berteriak panik tidak setuju dengan keputusan ibuku dari seberang sana. Belum waktunya pulang. Saat ini aku harus menghadapi masalah ini sampai selesai.            “Hmm.. Semua akan baik-baik saja, aku tetap bisa bersekolah di sini hingga lulus. Sudah kubilang ibu tidak perlu khawatir. Bu, kututup panggilannya ya, akan kuhubungi lagi nanti,” sambungku kemudian menekan tombol merah pada layar mengakhiri panggilan.            “Siapa yang bisa menjamin kau tetap bisa bersekolah di sini?” celetuk Mister Han. Dia menyimak setiap kata-kata yang kuucapkan.            “Hm?” Aku bingung mau menjawab apa.            “Jangan berharap padaku. Aku tak bisa menjamin kau tetap bisa bersekolah di sini. Sebagai gantinya, kau bisa memikirkan saran dari ibumu tadi,”            Keningku berkerut. Kenapa Mister Han bisa tahu apa yang di sampaikan oleh ibuku tadi?            “Ibumu sudah menghubungiku pagi tadi sekali. Dan menurutku itu keputusan yang bagus,” kata Mister Han. Dia tersenyum dengan matanya ke arahku.            Ternyata Mister Han sengaja membiarkan Ibu Elen untuk membawa kasus ini ke Komite Sekolah. Apakah supaya aku bisa segera meninggalkan kota ini? Supaya aku tak lagi mengusik ketenangan di sekolahnya? Sejujurnya aku mengakui bahwa sekolah ini menjadi heboh dan masuk perbincangan semenjak aku pindah ke sekolah ini. Padahal aku tak pernah meminta penyambutan yang begitu heboh dan bertahan lama seperti ini, tapi sepertinya situasi tak pernah berpihak padaku.            “Kembalilah ke kelas! Sebaiknya kau menyiapkan diri!” pesan Mister Han. “Sekretaris Lin akan memberitahumu ketika rapat akan dilaksanakan,” lanjutnya lalu bangkit berbalik menuju meja kerjanya.            Aku bersungut-sungut bangkit dan meninggalkan ruangan. Aku bahkan menghempaskan pintu dengan keras. Kesal berpadu perasaan marah memenuhi ruang hatiku. Aku kembali ke kelas. Pak Beni tengah bercerita di depan kelas. Tanpa izin ataupun permisi. Aku memasuki kelas tanpa memperhatikan reaksi orang lain.            “Hei, apa yang kau lakukan? Kau tidak tahu kelas sedang berlangsung?” teriak Pak Beni dari depan. Aktivitas pembelajaran langsung berhenti dan semua perhatian penghuni kelas tertuju padaku.            Aku mengabaikan Pak Beni, lalu bergegas mengemasi buku dan juga alat tulis di meja. Mino mencoba menghentikanku, tapi tak juga kuhentikan. “Jia!” panggilnya.            Aku mengangkat pandangan menatapnya. Tatapannya bertanya apa yang sedang terjadi? Kau mau kemana?” Aku memberinya sebuah smirk lalu kembali berjalan ke luar.            Mino tak mau kalah. Dia juga mengemasi barang-barangnya dan segera menyusulku. Tentu saja tindakannya semakin membuat Pak Beni marah besar. Tapi aku tak tahu bagaimana kelanjutan pembelajaran di kelas.            “Jia!” Mino kembali bersorak memanggil namaku. “Kau mau kemana? Bukankah kau sudah menduga hal ini terjadi? Kenapa kau tampak kesal sekali?”            Aku menepis tangan Mino yang mencoba menahan kepergianku. Mino mencoba menahan lenganku beberapa kali, sebanyak itu pula aku menepis tangannya. Akhirnya Mino berhenti.            “Makanya aku tidak pernah menyetujui apapun yang ingin kau lakukan karena hal seperti ini selalu terjadi setelahnya,” pungkas Mino berhenti mengejarku.            Aku berhenti. Berbalik dan menatap tajam padanya.            “Kau menyesal?” tanyaku. “Apa kau menyesal karena telah membantuku?” ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN