Bab 23. Memberanikan Diri Jujur pada Dafi

1159 Kata
Arsen hanya menganggukan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Zahwah. Namun, perempuan itu masih belum yakin melihat sikap Arsen yang tampak tidak antusias saat dia bertanya tentang pernikahan. “Mas … mau kan nikah sama aku?” Zahwah bertanya lagi untuk meyakinkan jika Arsen memang mau menikah dengannya. Arsen menjawab dengan anggukan lagi lalu tersenyum. “Makan lagi yang banyak ya, Za.” Zahwah tersenyum. Kali ini dia yang meyakinkan dirinya sendiri jika Arsen mau menikah dengannya. “Iya, Mas, aku pasti makan banyak di sini.” Arsen terlihat sedang menatap Zahwah tetapi pria itu sedang memikirkan sesuatu. “Mas … kenapa? Kok diem?” tanya Zahwah sambil menggerakkan tangannya di depan mata pria itu. “Eh … enggak apa-apa. Cuma mikir kerjaan. Iya, Mas makan lagi.” Setelah makan siang, Arsen pamit kembali ke kantor pada Zahwah dengan alasan banyak pekerjaan. Zahwah setuju, dia pun pergi ke rumah Rena karena sudah tidak sabar untuk menceritakan pertemuannya dengan Arsen kali ini. Dia pikir hubungannya dengan Arsen pasti terus melangkah maju. Zahwah menuju rumah Rena dengan ojek. Tiba di rumah Rena, saat perempuan itu memuka pintu rumahnya, Zahwah langsung mendorongnya masuk sampai ke kamarnya Rena. Dia juga menutup pintu kamar itu karena sudah tidak sabar ingin mencurahkan perasaan bahagianya pada Rena. “Za … kamu enggak sabaran banget sih?” protes Rena. Gadis itu tidak terlalu berminat mendengar cerita tentang Arsen. Jujur, Rena benci Arsen karena menghilang tanpa kabar dan membuat Zahwah menunggu. Dan dia lebih benci lagi karena Zahwah memilih Arsen. Padahal dia sudah menikah dengan Dafi yang jauh lebih bertanggung jawab daripada Arsen. Jika Rena bertemu dengan Arsen saat ini, dia akan marah pada pria itu dan meluapkan kebenciannya pada pria pengecut itu. Rena masih menghargai Zahwah dengan berpura-pura penasaran dengan cerita tentang Arsen. “Aku mau nikah sama mas Arsen.” Zahwah terlihat sangat bahagia saat mengatakan itu pada Rena. “Apa? Kamu gila ya, Za? Terus itu mas Dafi mau kamu apain?” “Cerai dong, Sayang.” “Kamu gila kalau menceraikan mas Dafi. Kamu lupa siapa yang bayarin utang orang tua kamu? Kamu lupa siapa yang rela ngasih uang miliaran buat kamu renovasi hotel? Terus apa kontribusinya mas Arsen ke kamu? Dia cuma ngasih sakit hati aja tahu enggak kamu, Za? Tolong sadar dong, Za. Arsen itu sudah bukan siapa-siapa kamu lagi.” Rena bicara dengan hampir berteriak karena dia memang benar-benar kesal dan marah pada Zahwah. “Urusan aku sama mas Dafi itu kan sudah ada timbal baliknya, Rena. Dia bayarin utangku, aku bantu dia bikin Kania menjauhi dia. Bukannya impas?” Zahwah tidak mau disalahkan saat ini karena dia lebih memilih Arsen. “Tetap aja enggak bisa gitu, Za. Kamu tuh terlalu bucin sama mas Arsen sampai enggak bisa melihat dengan benar. Apa yang mas Arsen lakukan buat kamu sampai saat ini? Enggak ada. Usaha dia 0 besar! Kamu bodoh banget sih, Za.” Rena sampai kehabisan kata-kata untuk menasehati Zahwah. “Apa salahnya sih aku kalau balikan sama mas Arsen? Dari SMA aku tuh sudah cinta sama mas Arsen. Dia juga sudah janji mau nikah sama aku kan, Rena? Terus sekarang aku ketemu lagi sama mas Arsen dan mau hidup bahagia sama dia, kenapa kamu enggak dukung aku sama sekali?” “Kalau kamu mau aku dukung kamu nikah sama mas Arsen, suruh dia kembalikan semua uang mas Dafi buat lunasin semua utang orang tua kamu! Kalau dia bisa, aku akan dukung kamu nikah sama dia dan menceraikan mas Dafi!” “Kenapa sekarang urusannya jadi mas Arsen harus balikin uangnya mas Dafi?” “Iya. Kalau mas Arsen benar cinta sama kamu, harusnya dia mau bayarin semua utang kamu. Paling enggak dia akan usaha buat nyicil utang itu kalau dia enggak mampu. Terus kamu bandingkan sama mas Dafi. Punya hubungan apa kamu sama dia? Enggak ada, kan? Apa dia cinta sama kamu sebelum ini? Enggak juga, kan? Terus kenapa dia mau bayarin semua utang kamu terus mas Arsen enggak?” “Mas Dafi kan minta aku bikin Kania pergi.” “Tapi, dia enggak cinta sama kamu. Dia mau bayarin semua utang kamu. Kamu pikirkan semua itu, Za. Jangan asal memutuskan mau cerai dengan mas Dafi karena kamu pikir urusan kalian sudah selesai.” Zahwah terdiam sambil memikirkan ucapan Rena. Bagi Zahwah, Arsen tidak memikirkan soal utangnya pun tidak masalah. Yang penting mereka bisa balikan seperti dulu dan menikah dengan Arsen. Hanya itu yang dia mau. “Aku tanya mas Arsen sekarang, gimana?” “Coba aja, kalau dia mau bayarin semua utang kamu, aku coba buat dukung kalian.” “Ok. Aku telepon mas Arsen sekarang.” Di hadapan Rena, Zahwah menghubungi Arsen ke ponselnya. “Halo, Mas.” “Ya, Za. Kamu sudah sampai rumah?” “Iya, Mas. Mas, ada yang penting yang mau aku sampaikan ke Mas Arsen.” “Bisa kita bicara nanti, Za? Mas lagi banyak kerjaan ini.” “Enggak, Mas, harus sekarang.” Zahwah menatap Rena sambil bicara dengan Arsen. “Ok, kamu katakan dengan cepat. Mas akan dengerin kamu.” “Orang tuaku punya hutang 20 miliar di bank. Aku harus membayar semuanya karena mereka pergi entah ke mana. Utang itu sudah jatuh tempo. Mas bisa bantu aku buat bayarin utang mereka?” Zahwah dan Rena sama-sama penasaran dengan jawaban Arsen. “Bisa, tapi enggak bisa langsung dilunasi. Nanti pulang kerja Mas telepon kamu buat bahas utang itu ya. Enggak apa-apa kan, Za?” “Enggak apa-apa, Mas. Aku tunggu telepon Mas nanti.” Zahwah menutup panggilan telepon. Kini Zahwah merasa berada di atas angin karena Arsen mau membayar utang-utangnya. “See? Mas Arsen mau kok bayar utangku. Jadi, kamu harus dukung aku balikan dengan mas Arsen.” “Terserah kamu ada, Za. Apa pun keputusan kamu, aku harap itu sudah kamu pikirkan matang-matang.” Kini, Zahwah sudah siap untuk berkata jujur dengan Dafi. *** Dafi pulang dari Semarang membawa oleh-oleh makanan yang banyak buat Zahwah. Zahwah sampai heran menatap dua kardus oleh-oleh yang dibawakan Dafi untuknya. “Mas, banyak banget. Aku enggak bisa habisin semuanya sendirian,” protes Zahwah pada Dafi. “Kamu bagi buat teman kamu. Kamu sisakan mana yang bisa kamu makan.” “Baiklah. Makasih buat oleh-olehnya. Oh ya, Mas aku mau ngomong serius, bisa?” “Kamu tunggu di kamar. Mas mau mandi dan ganti pakaian dulu. Kita bicara setelah Mas selesai mandi.” Zahwah mengangguk. Dia akan menunggu Dafi di kamara sampai pria itu selesai mandi. Zahwah sudah nekat ingin kembali pada Arsen. Setelah Dafi mandi dan memakai piyama, pria itu duduk bersama Zahwah di sofa dan sudah siap mendengar apa yang akan Zahwah katakan padanya. “Aku langsung aja ya, Mas. Mantan pacar aku kembali. Kami sudah balikan. Rencananya aku mau nikah sama dia dan mau menceraikan Mas Dafi. Boleh kan, Mas?” Pertanyaan Zahwah menghujam jantung Dafi. Masih lelah karena pulang kerja, terus sekarang perempuan itu tiba-tiba minta cerai padanya padahal tugas dia menjauhkan Kania dari Dafi belum selesai. Apa yang ada dalam pikiran Zahwah?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN