“Bentar, Za … Mas enggak salah dengar kan apa yang kamu bilang tadi? Kamu mau minta cerai?” tanya Dafi karena dia khawatir salah mendengar ucapan Zahwah.
“Mas Dafi enggak salah denger kok. Aku minta cerai. Aku sudah menemukan belahan jiwa yang selama ini hilang dan kini dia sudah kembali.” Zahwah tersenyum membayang wajah Arsen yang tampan.
Tidak semudah itu Zahwah bisa cerai dengan Dafi karena urusannya dengan Dafi belum selesai.
“Alasan kamu mau cerai karena mau menikah dengan mantan pacar kamu itu? Hm … kamu belum berhasil membuat Kania menjauh dari Mas.” Dafi melipat tangannya di d**a. “Kalau kita cerai sekarang terus Kania tahu soal itu, pasti dia balik ngejar Mas lagi seperti dulu. Kalau sampai terjadi, artinya perjanjian kita belum selesai.” Kali ini Dafi tersenyum penuh kemenangan. Dia tidak akan menceraikan Zahwah semudah itu. Akan ada banyak alasan yang digunakan Dafi untuk mempertahankan Zahwah di sisinya.
Zahwah merasa kesal pada Dafi karena tidak mau menceraikannya. Dia harus memikirkan bagaimana caranya agar Dafi mau menceraikannya. Haruskah dia membuat skandal bersama dengan Arsen? Rasanya tidak mungkin karena dia bisa merusak nama baik keluarga Adiwilaga dan dia akan berhadapan dengan Indra Adiwilaga jika itu terjadi. Zahwah menggelengkan kepalanya.
“Butuh waktu berapa lama untuk membuat Kania menjauh dari Mas Dafi?”
“Semua tergantung kamu, Za. Kalau Kania percaya sudah tidak ada kesempatan untuk dia bisa bersama Mas, dia pasti menjauh dengan sendirinya.”
Zahwah membayang sebanyak apa adegan mesra yang harus dia lakukan dengan Dafi di depan Kania. Setiap kali Dafi menciumnya saja perasaannya sudah pasti terlibat. Dia tidak mau sampai jatuh cinta pada Dafi.
Zahwah menghela napas. Dia pun mencoba cara lain. “Kalau aku balikin uang ke Mas Dafi, apa kita bisa bercerai?”
Dafi tidak perlu pikir panjang untuk menjawab pertanyaan Zahwah kali ini. “Tentu saja. Asal kamu kembalikan semua uang saya dalam waktu satu bulan. Saya sudah berbaik hati memberikan tenggat waktu ya. Jadi, silakan kamu pikirkan semuanya baik-baik. Jangan asal mengambil keputusan. Saya kasih kamu waktu satu minggu. Mau pilih bayar utang atau bertahan sampai kamu berhasil membuat Kania menjauh.” Dafi masih tetap berada di tempat duduknya.
Zahwah tetap harus berpikir matang-matang mana yang akan dia pilih. Dia tidak mau asal dalam mengambil keputusan karena berhubungan dengan masa depannya. Dengan siapa dia akan menghabiskan sisa waktu hidupnya dan hidup bahagia dengan pria itu nanti. “Selama aku berpikir, apa aku harus tetap menjalani kesepakatan untuk saling pendekatan seperti biasanya, Mas?”
“Harus, Za. Kita belum bercerai. Selama kita masih suami istri kamu harus menjalani semua yang sudah menjadi kesepakatan kita bersama. Akhir pekan nanti kita jalan seharian sesuai ide dari kamu. Pergi mal, makan siang bareng dan nonton. Apa perlu saya tambah satu aktivitas lagi yang harus kita lakukan?”
“Mas ada ide apa?”
“Cium bibir sebelum tidur.” Setelah mengatakan ini, Dafi tinggalkan Zahwah sendiri. Dia pun menuju ke kamar.
Zahwah tidak setuju dengan ide terakhir Dafi itu. Dia pun berteriak. “Aku enggak mau, Mas. Aku rela tidur sama Mas Dafi tiap hari asal jangan cium bibir setiap hari sebelum tidur.” Karena sudah pasti akan membuat hati Zahwah menjadi goyah dan bisa jatuh cinta pada Dafi. Dia pun menyusul Dafi ke kamar.
“Kenapa, Za? Bukannya dengan melakukan itu pendekatan kita akan semakin mudah? Ketika kita harus melakukan hubungan suami istri maka tidak akan terasa canggung lagi.”
“Mas, aku kan lagi minta cerai sama Mas Dafi, jangan mempersulit keadaanku sekarang.”
“Ok, Mas ngalah, terserah kamu mau melakukan apa. Mas mau tidur. Rasanya masih capek baru pulang dari Semarang dipaksa mikir berat kayak gini.” Dafi yang sudah berbaring di ranjang pun memejamkan matanya.
Zahwah terpaksa naik ke ranjang dan tidur bersama Dafi karena dia masih terikat perjanjian dengan pria itu. “Kapan aku bisa lepas dari mas Dafi ya?” Perempuan itu sangat menginginkan bercerai dengan Dafi. Hanya karena dia belum mencintai pria itu.
***
Pada hari Sabtu, Dafi dan Zahwah sudan berada di mal sejak pagi. Mungkin mal itu baru buka mereka sudah di sana. Zahwah merasa terpaksa mengikuti Dafi hari ini. Dia melangkah gontai karena malas mengikuti pria itu.
Dafi masuk ke sebuah toko lalu mengelilinginya. Zahwah hanya mengikuti Dafi ke mana pun dia berjalan. Saat Dafi memilih pakaian perempuan, Zahwah tidak banyak komentar. Hanya merasa aneh saja dia melihat pria itu memilih dress yang tergantung rapi.
“Coba ini, Za!” Dafi memberikan sebuah dress pada Zahwah.
“Buat apa ini, Mas?” Perempuan merasa heran menatap dress itu.
“Dicoba. Kalau cukup di badan kamu, bungkus saja. Mas yang bayar.” Dafi ingin membelikan pakaian untuk Zahwah.
“Coba sekarang, Mas?”
“Oh … kamu mau nyobain sekalian. Sebentar Mas pilih lagi buat kamu.” Dafi memilih baju lain.
Zahwah berusaha menolak pemberian dari Dafi. “Mas … sudah jangan milih-milih lagi. Satu ini sudah cukup, Mas.”
“Ya sudah kalau gitu kamu pilih sendiri aja. Pokoknya Mas yang bayar semuanya. Kamu enggak lupa kan sama kesepakatan kita, Za?” Dafi mengingatkan lagi.
Perempuan itu terpaksa menurut. “Ya sudah, Mas Dafi aja yang milih. Nanti aku yang coba.”
Karena diberikan kebebasan seperti itu, Dafi mengambil dress satu lagi dan setelan kemeja serta celana kain untuk Zahwah pakai nanti ketika proyek renovasi hotelnya sudah berjalan. “Kamu coba semua ini, kalau ada yang kebesaran atau kekecilan kamu tukar sendiri dengan model yang sama. Mas tunggu kamu di kursi itu.” Dafi biarkan Zahwah mencoba semua pakaian yang dia pilih.
Zahwah menerima semua pakaian dari Dafi lalu mencobanya di ruang ganti. “Kenapa semua baju pilihan mas Dafi ini bagus-bagus semua ya?” Komentar Zahwah saat mencoba semua pakaiannya. Pakaian yang dia coba ukurannya pas, tetapi celananya dia tukar dengan ukuran yang pas di bagian pinggangnya.
“Mas, aku sudah selesai nyobain semua baju ini dan yang kebesaran sudah aku ganti dengan ukuran yang pas buat aku.”
“Ok. Biar saya bayar semuanya.” Dafi mengambil semua pakaian itu dari tangan Zahwah lalu melangkah ke kasir untuk membayar semuanya. Setelah membayar dia pun mendekati Zahwah.
“Kita makan siang di sini aja ya, Za. Sekarang kita ke bioskop dulu buat cari tiket nonton.” Dafi membawa semua pakaian yang sudah dibeli.
Keduanya berjalan menuju bioskop. Di sana, Dafi minta Zahwah yang memilih film yang akan mereka tonton. Perempuan itu memilih dengan asal. Film apa yang akan segera tayang itu yang dia pilih. “Yang tayang jam 13.30 aja, biar habis makan siang bisa langsung nonton.”
“Ok.” Dafi setuju saja dan membayar tiket nonton film.
Setelah makan siang, mereka keluar dari bioskop itu menuju restoran tempat makan siang kali ini. Zahwah melihat sosok seseorang yang dia kenal dari kejauhan dan dia sedang berjalan ke arah Zahwah dan Dafi. Tiba-tiba saja, Zahwah menempel di belakang Dafi. Perempuan itu bersembunyi di balik tubuh tinggi Dafi.
Ketika sosok yang dia kenali itu mendekat, Zahwah menempelkan wajahnya di punggung Dafi. Dia tidak mau ketahuan oleh orang itu. Ketika orang itu melewatinya, Zahwah menunduk. Bagaimana pum caranya dia tidak boleh ketahuan.
Baru setelah orang itu menjauh, Zahwah memberanikan diri mengangkat kepalanya. Dia terus memperhatikan orang itu sampai menjauh. Dafi merasa heran melihat tingkah Zahwah yang bersembunyi di belakangnya.
“Habis lihat apa kamu, Za? Lihat hantu?”
“Bu-bukan, Mas, tapi yang lewat tadi itu mantan pacarku, Mas Arsen.”
Dafi bertanya lagi pada Zahwah karena khawatir pada salah orang. “Yang mana?”
“Yang duduk di kursi roda bareng cewek lain yang sama-sama duduk di kursi roda juga. Mereka kok keliatan dekat? Apa mereka pacaran?” Zahwah penasaran.
“Kalau bener mereka pacaran, artinya pacar kamu selingkuh dong? Eh … bukan gitu deh. Artinya kamu yang jadi selingkuhannya dia? Kan kamu baru ketemu lagi sama dia, Za? Gimana tuh perasaan kamu yang dijadikan selingkuhan? Kamu enggak marah, Za?” Dafi memperkeruh suasana.
Zahwah yang penasaran pun menarik tangan Dafi untuk mengikuti Arsen dan pasangannya dalam jarak aman. “Pokoknya jangan sampai ketahuan ya, Mas.” Zahwah mengingatkan Dafi.
“Kamu mau Mas bantu buat cari tahu hubungan mereka apa, Za?” Dafi menawarkan bantuan pada Zahwah agar perempuan itu tidak penasaran lagi.