Tanpa menunggu persetujuan Zahwah, Dafi sudah menyusul pasangan Arsen dan istrinya. Dia menghentikan pasangan itu lalu berhenti di hadapannya. Dafi memperhatikan istri Arsen untuk mencari sesuatu yang bisa dia tanya-tanya pada mereka. Pria itu melihat istrinya Arsen memakai scarft di lehernya. Dafi pun berinisiatif untuk bertanya soal scarft tersebut.
“Permisi, Mbak sama Mas, maaf nih kalau saya ganggu. Saya mau tanya sesuatu. Gini istri saya kan lagi ngidam. Dia lihat scarft yang dipakai Mbaknya ini bagus. Dia juga pengen punya kalau boleh saya tahu scarft Mbaknya ini beli di mana?” Dafi sudah melupakan rasa malunya di hapadan Asren dan istrinya demi Zahwah. “Oh ya, nama saya Dafi, istri saya lagi nunggu di sana.” Dafi tidak menunjukkan di mana Zahwah menunggu.
Tiba-tiba saja Arsen menoleh ke kanan dan kiri untuk mencari sosok istri dari Dafi, tetapi dia tidak menemukan siapa pun. Dia pun tersenyum pada Dafi. “Mas Dafi kenalkan saya Arsen dan ini Arumi.” Arsen menunjuk pada istrinya.
“Mas Arsen dan Mbak Arumi ya? Oh ya, kalau boleh tahu Mas dan Mbaknya ini pacaran ya?”
Arumi tertawa, tetapi dia menutup mulutnya. “Emang kami masih keliatan semuda itu ya? Saya istrinya mas Arsen.” Arumi mengenalkan dirinya dengan percaya diri di hadapan Dafi.
Dafi terkesiap mendengar penjelasan dari Arumi. “Suami istri? Kalian kelihatan mesra sekali. Saya sampai ngiri. Jadi, Mbak Arumi beli scarftnya di mana?” Dafi kembali ke pertanyaanya yang awal.
“Yang ini? Beli di Singapura.” Arumi memberitahu Dafi nama toko tempat dia membeli scarft. Perempuan itu memang berasal dari keluarga kaya sehingga Arsen tidak perlu repot membiayai hidup istrinya walaupun gajinya sebagai arsitek di perusahaan orang tua Dika juga cukup besar dan bisa membiayai Arumi.
“Oh beli di sana?” Dafi menganggukkan kepalanya.
Tiba-tiba saja Zahwah sudah berada di sampingnya Dafi. Dia menyenggol lengan suaminya. Dafi pun menoleh pada Zahwah. Perempuan itu diam seribu bahasa.
“Eh, Sayang, kamu di sini? Ini Mas sudah tanya sama mbak Arumi soal scarftnya. Dia ini istrinya mas Arsen. Kamu kenalan dulu dong sama mereka.” Dafi menarik tangan Zahwah agar menyalami Arsen dan Arumi.
Saat Zahwah mengulurkan tangannya pada Arsen, pria itu tampak terkejut. Dia tidak menyangka secepat itu Zahwah mengetahui statusnya. Sementara dia tidak yakin jika Dafi memang suami Zahwah. Pria itu menatap Zahwah dengan penuh tanda tanya.
“Zahwah.” Dia tidak memberikan senyuman pada Dafi.
“Arsen.”
Zahwah pun menyalami Arumi dan menyebutkan namanya di hadapan istri dari Arsen itu. Zahwah sudah ditampar oleh kenyataan bahwa pria yang dia cintai sudah memiliki istri. Semua impian dan harapannya pupus sudah. Dia sudah kehilangan minat untuk menikah dengan Arsen. Dia akan mengakhiri hubungannya dengan pria itu nanti melalui pesan chat. Tidak mau merusak keharmonisan hubungan suami istri itu.
Setelah kepergian Arsen dengan istrinya itu, Zahwah berdiam diri. Ketika dia makan bersama Dafi di mal itu, Zahwah hanya diam. Pikirannya berkelana saat makan sehingga Dafi harus menyadarkannya dari lamunan.
“Za!”
“Eh, iya, Mas. Ada apa?”
“Ayo makan! Apa kamu enggak laper?” Dafi sadar terjadi sesuatu pada perempuan itu dan penyebabnya adalah Arsen.
“Aku makan kok, Mas.” Zahwah menyendokkan makanan ke mulutnya. Namun, hanya dua sendoknya dia sudah melamun lagi.
Dafi menggelengkan kepalanya melihat Zahwah kali ini. Dia sudah selesai makan dan merapikan sendoknya. “Kamu mau pulang apa nonton?”
“Nonton aja, Mas. Tiketnya sudah dibeli, sayang kalau enggak dipake nonton.” Zahwah memaksakan sebuah senyuman di bibirnya.
“Sama tiket bioskop kamu sayang, masa sama aku enggak,” guman Dafi yang didengar oleh Zahwah, tetapi perempuan itu tidak mempedulikannya. “Kamu yakin mau nonton? Kalau kamu mau pulang, ayo kita pulang.” Jika Zahwah sudah merasa tidak nyaman dan membutuhkan istirahat di rumah, dia pasti akan mengantarkannya.
Zahwah menggeleng.
Mereka pun meninggalkan restoran lalu menuju bioskop. Dafi berjalan mengikuti langkah Zahwah yang perlahan menuju bioskop. Tiba di sana, Dafi membeli air minum untuk teman menonton. Dia tidak membeli camilan karena masih kenyang dan khawatir akan jadi mubazir.
Pria itu mengajak Zahwah masuk studio dan duduk di tempat mereka. Ketika ruangan menjadi gelap dan film sudah mulai tayang air mata Zahwah mengalir di kedua pipinya. Perempuan itu sedang menangisi kebodohannya sendiri. Setelah sekian lama menunggu Arsen dan pria itu tak kunjung datang, harusnya dia curiga jika pria itu sudah menikah dan melupakannya. Sangat tidak pantas dia menjalin hubungan dengan pria yang sudah beristri.
Zahwah mengutuk dirinya sendiri yang sudah bermain api dengan Arsen dan hampir merusak rumah tangga Arsen dengan Arumi. Dia pun teringat pada Dika yang sengaja merahasiakan keberadaan Arsen karena tidak mau Zahwah merasa sakit hati. Dia pun teringat pada ucapan Rena yang selalu memarahinya untuk tidak memilih Arsen dan lebih baik bersama Dafi. Ternyata ini semua adalah jawaban dari ucapan mereka. Zahwah menyesal. Harusnya dia mendengarkan Dika dan Rena. Tidak perlu mengikuti rasa penasarannya karena semua itu semu dan bisa membuatnya sakit hati. Ya saat ini Zahwah merasakan sakit hati yang amat dalam karena kesalahannya sendiri.
Ketika film berakhir, mata Zahwah sudah kelihatan bengkak karena menangis. Selama menonton Dafi tidak menyadari jika perempuan itu menangis. Dia pun mengusap kedua pipi Zahwah lalu tersenyum.
“Sudah puas nangisnya? Sekarang kita pulang ya.” Dafi mengulurkan tangannya pada Zahwah.
Selama perjalan menuju parkiran, Zahwah bergelayut manja di lengan Dafi. Dafi sama sekali tidak merasa Risih saat Zahwah bergantung padanya.
Di perjalanan menuju ke apartemen, Zahwah tertidur dan baru terbangun ketika mereka sudah tiba di parkiran apartemen.
Dafi dan Zahwah berjalan menuju unit apartemen mereka dalam diam.
Tiba di apartemen, Zahwah langsung menuju dapur. Perempuan itu ingin memasak sesuatu karena dia merasa lapar. Tadi siang dia hanya makan sedikit di restoran. Dafi yang merasa khawatir pada Zahwah pun mengikutinya ke dapur.
“Kamu mandi aja dulu, biar Mas yang masakin. Mau mi instan rebus pakai telur, kan?”
Zahwah mengangguk. “Iya, Mas, tolong tambah sayur sama cabe rawit yang banyak ya!” Perempuan kalau sedih atau stress biasanya membutuhkan makannan yang pedas untuk melampiaskan perasannya.
Perempuan itu pun masuk ke kamarnya dan mandi. Agak lama Zahwah mandi kali ini karena ketika dia teringat pada Arsen dia akan menangis lagi. Setelah berpakaian Zahwah menuju meja makan.
“Makasih ya, Mas sudah masakin aku.” Dafi menunggu Zahwah di meja makan.
“Sama-sama. Kalau kurang pedes tambah aja cabe rawitnya sendiri ya. Mas mau mandi.” Dafi berjalan menuju kamarnya. Sepertinya malam ini dia harus memesan makanan via online. Dan junk food sepertinya makanan yang pas buat mereka makan malam ini.
Sebelum mandi, Dafi memesan pizza dan burger untuk makan malam. Minumnya dia pilih air mineral agar tidak terlalu merasa bersalah makan junk food malam ini.
Benar saja, ketika Zahwah melihat pizza dan burger nafsu makannya bertambah. Dia habiskan semua pizza dan burger yang dipesan oleh Dafi setelah membaginya untuk pria itu.
Selesai makan, keduanya tidak langsung tidur, melainkan menonton TV bersama sambil menunggu makanan itu dicerna dengan baik.
“Kenapa aku enggak sadar ya Mas kalau mas Arsen enggak datang lagi itu karena dia sudah menikah dengan perempuan lain.” Zahwah masih menyalahkan dirinya sendiri.
“Ya … kamu enggak tahu. Wajarlah kalau kamu masih ngarep.”
“Misalnya mantan pacar Mas Dafi tiba-tiba datang lagi, Mas mau ngapain?”
Dafi tiba-tiba membayangkan Amelia datang pada saat dia sudah bercerai dengan suaminya. Saat ini dia mungkin berkata. “Aku enggak akan balikan sama dia.” Namun, kenyataannya nanti bisa berbeda lagi.
“Kenapa Mas enggak mau balikan?” Zahwah merasa penasaran.
“Kan sudah ada kamu. Kamu berhak hidup bahagia dan Mas akan membahagiakan kamu.”
Zahwah merasa Dafi sangat menghargainya. Apa pun yang pernah dia lakukan, Dafi tidak pernah marah padanya, tetapi perasaan sakit hatinya Zahwah itu juga minta disembuhkan. Dengan berani Zahwah duduk di pangkuan Dafi lalu dengan sengaja dan pikiran yang sadar dia menutup mata lalu mencium bibir Dafi dengan lembut. Ternyata, giarah dalam diri Zahwah pun bangkit dan dia pun mencium bibir Dafi dengan rakus. Bahkan kedua tangannya mulai melepas kancing piyama yang dikenakan Dafi.
Dafi terkesiap. Dia tahu apa yang diminta Zahwah pada saat ini. Namun, dia tidak mau Zahwah menyesali keputusan sesaatnya hanya karena merasa sakit hati pada Arsen. Dia pun menahan lengan Zahwah dan menarik tubuhnya ke belakang. “Kamu yakin setelah ini enggak akan menyesal?”
Zahwah mengangguk.
Dafi yang merasa mendapat persetujuan dari Zahwah memindahkan tubuh Zahwah lalu bangkit dari sofa kemudian dia gendong Zahwah menuju kamar mereka. Apa yang akan mereka lakukan malam ini adalah awal dari apa yang diminta Indra pada mereka.